MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 290.


Suster Devi langsung mengantarkan makanan dan obat yang di perintahkan Tantri kepada-nya.


"Tok-tok-tok-tok!" pintu di ketuk Suster Devi. Sebelum masuk kedalam kamar Risya.


"Masuk!" sahut Risya dari dalam dan melihat Suster tersebut membuka pintu dengan tersenyum kepada Risya.


"Maaf Bu saya ingin memberikan makanan yang di berikan Bu Tantri!" ucap Suster Devi yang masih berdiri di depan pintu.


"Masuklah!" titah Risya.


Suster itu mengangguk dan langsung masuk. Meletakkan makanan itu di atas nakas.


"Silahkan di makan Bu!" ucap Suster Devi dengan tersenyum ramah.


"Nanti saja. Saya belum lapar," sahut Risya yang memang belum merasa lapar sama sekali.


"Tapi Bu. Saya di perintahkan untuk melihat Bu Risya makan dan harus minum obat!" ucap Suster tersebut.


Risya menghela napasnya dan langsung mengambil makanan itu dengan duduk di pinggir ranjang. Dia malas harus berdebat dengan sang mama nanti. Jadi lebih baik dia makan.


"Kamu benar-benar akan menunggu saya makan?" tanya Risya melihat Suster Devi masih berdiri di dekat ranjang.


"Iya Bu," jawab Devi.


"Seperti tidak punya pekerjaan," desis Risya yang langsung makan dengan cepat dan makan juga dengan terpaksa karena di pantai oleh Suster tersebut.


"Kamu siapanya Arga?" tahta Risya di tengah makannya tanpa melihat ke arah Suster tersebut.


"Maksudnya Bu?" tanya Suster Devi dengan wajah bingungnya.


"Kamu pasti hanya berkedok Suster kan dan saya tidak tau kamu siapa Arga dan kenapa kalian harus di rumahku," ucap Risya yang memang pertanyaan itu belum ada jawabannya sampai detik ini.


"Kenapa diam? Katakan apa hubungan kamu dengan Arga?" tanya Risya mengangkat kepalanya dan dengan serius bertanya pada Suster tersebut.


"Saya tidak bisa menjelaskannya Bu dan ibu juga akan tau nanti," jawab Suster itu yang membuat Risya mengkerutkan dahinya.


"Sudah kuduga dia pasti ada sesuatu dengan Arga dan bukan Suster. Jika dia memang Suster seharusnya menjawab saja. Jika dia Suster. Lalu kenapa jawabannya seperti itu. Seperti ada sesuatu antara hubungannya dengan Arga," batin Risya dengan wajahnya yang penuh selidik melihat wanita yang di dekatnya itu yang sejak tadi tersenyum yang mengandung arti.


"Non Risya. Makanlah! kenapa tidak di lanjutkan?" tanya Suster Devi ketika melihat tatapan Risya hanya fokus padanya.


"Saya sudah tidak selera makan," jawab Risya menghentikan makannya dengan tiba-tiba. Moodnya tiba-tiba saja berubah membuat Risya tampak kesal.


"Baiklah kalau memang makannya sudah tidak ingin lagi. Tetapi sebaiknya Bu Risya minum obatnya," ucap Devi dengan menyarankan.


Risya yang berdecak kesal. Langsung mengambil obat tersebut dan meminumnya dengan cepat dan Devin tersenyum melihatnya.


"Kamu sudah puas?" tanya Risya dengan wajah kesalnya.


"Saya hanya menjalankan perintah. Dan sekarang tugas saya sudah selesai. Kalau begitu saya permisi," ucap Suster Devi yang mengambil nampan tersebut yang berisi piring dan obat-obat yang di bawanya.


"Permisi Bu!" ucap Suster yang menundukkan kepalanya dan langsung keluar dari ruangan itu.


Risya menghela napasnya dengan kasar kedepan.


"Untuk apa sih mama harus membuat mereka untuk berada di sini. Mama tidak punya pekerjaan apa," umpat Risya dengan wajah kesalnya. Mungkin karena melihat Devi dengan sikap Devi yang sejak tadi kerjanya senyum-senyum saja tidak menentu yang membuat Risya semakin kesal.


***********


"Untuk apa kau kemari?" tanya Risya yang langsung bawaannya kesal ketika berhadapan dengan Arga.


"Aku ingin bicara padamu," jawab Arga.


"Mau bicara apa? Kita berdua tidak ada urusan apa-apa," sahut Risya dengan menegaskan yang tidak ingin membuka komunikasi antara dirinya dan Arga.


"Banyak yang harus kita bicarakan dan kita punya urusan," tegas Arga.


"Risya aku dan kamu adalah pasangan....."


"Cukup!" sahut Risya yang langsung memotong kalimat Arga yang belum selesai.


"Kamu jangan melanjutkan kata-kata yang membuat kepalaku sakit. Aku tidak tau apa keuntungan kamu harus mengakuinya sebagai istrimu, sama seperti mama yang mengatakan aku sudah menikah denganmu dengan semua orang yang mengatakan hal yang sama," ucap Risya.


"Tetapi hal itu adalah kenyataan Risya!" tegas Arga dengan penuh penekanan.


"Diam!" sentak Risya dengan memegang kepalanya dengan ke-2 tangannya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat sakit.


"Kamu sebaiknya keluar dari sini dan jangan berada dirumahku. Aku bukan istrimu dan kamu memiliki keluarga lagi. Jadi jangan melakukan drama di depanku!" tegas Risya yang tidak menerima kenyataan jika dirinya sudah menikah.


Kepalanya juga mendadak begitu sakit dan rasa sakit itu baru pertama kali di alaminya ketika keluar dari rumah sakit. Dokter mengatakan Risya hanya lupa sementara dan itu efek koma dan tidak akan terjadi hal serius atau mengalami rasa sakit apa-apa. Walau memaksa untuk mengingat.


Namun di luar dugaan. Jika tiba-tiba kepalanya terasa sakit sampai mantanya berkaca-kaca menahan rasa sakit.


"Kamu baik-baik saja Risya!" lirih Arga yang langsung panik dengan melihat keadaan istrinya yang seperti itu.


"Keluar dari sini!" usir Risya yang mendorong Arga untuk keluar dari depan pintu kamarnya agar dia bisa menutup kamar.


Arga harus mengalah karena tidak tega melihat kondisi Risya yang sangat kesakitan dan begitu Arga menjauh dari depan pintu Risya langsung menutup pintu kamar dengan kuat. Wajah Arga terlihat begitu panik dan tidak tau harus melakukan apa-apa lagi.


"Bagaimana caraku untuk menyelesaikan masalah kita Risya. Jika keadaan kamu saja seperti ini. Risya jika hanya aku yang berusaha maka kamu tidak akan pernah mengingat apapun. Jadi aku mohon untuk kamu yang sadar Risya dan berusaha untuk mengingat. Jika aku suamimu dan ada anak kita yang sangat menunggumu," batin Arga dengan wajah senduhnya.


Semakin hari bukannya ada kemajuan tentang istrinya dan malah istrinya semakin parah keadaannya.


"Arga!" tegur Tantri yang tiba-tiba datang dan melihat Arga yang masih berdiri di depan pintu kamar Risya.


"Mah!" sahut Arga dengan menghela napasnya.


"Kamu kenapa?" tanya Tantri.


"Dan bagaimana Risya?"


"Tidak ada hasil sama saja dan tiba-tiba Risya juga mengalami sakit kepala dan aku khawatir terjadi sesuatu padanya," ucap Arga dengan wajah yang penuh kegelisahan.


"Kamu jangan khawatir. Besok kita bawa Risya ke Dokter dan semoga tidak terjadi apa-apa padanyanya," ucap Tantri.


"Iya mah. Aku juga berharap Risya tidak apa-apa," sahut Arga.


"Ya sudah kamu sebaiknya istirahat dan jangan terlalu memikirkan Risya. Kita beri saja Risya waktu," ucap Tantri yang memberi semangat menantunya itu.


"Iya mah," sahut Arga dengan mengangguk-angguk kepalanya.


Bersambung