Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
96. Hukuman Bagi Suamiku.


Rudi cukup takjub dengan semua yang di berikan Andre saat ini, gaji dia saat bekerja di Rumah sakit selama 3 tahun saja tidak sebesar ATM yang di beri Andre saat ini, hingga membuat Rudi menerima kartu gemetar.


" Wah! apa ini Lis, kamu gak tau soal ini" Ucap Rudi yang menanyakan kepastian kepada Elisa sang istri.


" Aku Nggak tahu apa-apa soal rencana ini, maskusay gak bilang-bilang kalo mau ngasih ATM kaya gini" Ucap Elisa yang tidak mau ada yang tahu.


Junlion Sudah sampai di barisan dimana Elisa dan Rudi berada, mereka yang duduk berdampingan membuat kaget si Junlion karena kartu ATM yang dia pegang hanya tinggal satu atas nama Rudi saja, itu buat binggung.


" Loh, kok kurang 1. Gadis obat kamu kaya gak ada deh, apa mungkin ke selip sama yang lainya atau Andre lupa bikin buat kamu?" Ucap Junlion yang heran sendiri.


" Yaudah gak apa-apa dokter Jun, toh dia akan kasih sendiri nantinya" Ucap Elisa yang saat ini dengan senyuman di bibirnya.


" Iya, semua dapat tapi cuman punya Rudi saja nih!" Ucap Junlion sambil memberikan kartunya.


" Iya gak apa-apa, emang aku gak di bikinin sama dianya, adanya punya Hilda. Kan aku penganti si Hilda mungkin pikir dokter Andre begitu" Ucap Elisa.


" Iya sih, nanti aku tanya deh sama Andre" Ucap Junlion, sambil berjalan mendekati modium.


" Woy Dre, Luh bikin berapa atm-nya" Ucap Junlion yang sudah sampai di modium.


" Kenapa emangnya? kurang yah" Tebak Andre tidak punya pikiran jika Elisa yang tidak kebagian.


" Iya kurang 1 orang" Ucap Junlion yang langsung menatap Andre.


" Siapa?" Tanya Andre yang mengingatkan semua dalam draf saat pembuatan kartu ATM, seingatnya hanya Elisa yang tidak ia masukan dalam draf.


" Itu gadis obat" Ucapnya Sambil menatap Elisa.


" Eh? maksudnya" Ucap Andre Kebingungan dengan apa yang dikatakan Junlion.


" Itu siapa sih namanya, ouh El-lisa" Ujar Junlion yang belum juga hafal nama Elisa.


" Ouh, diakan sebagai pengganti Hilda jadi tidak ada kartunya" Jawab Andre yang menatap Elisa.


" Luh kok malah kayak gitu sih, kata gak pilih kasih, terus ini apa!" Protes Junlion.


" Dia akan dapat khusus dari ku Jun, tidak usah khawatir" Jawab Andre memperjelas.


" Ouh, yaudah" Ucap Junlion.


" Yang sudah terima soal, jangan di kerjakan dulu akan ada waktunya. Mau itu staf obat atau dokter


^^^~ISTANA MONARFI^^^


Setelah pulang dari pelatihan, Elisa selesai mandi dan Andre juga baru keluar dari ruang ganti mereka sambil menunggu makan malam selesai jadi berbaring dulu di sofa, Andre yang sibuk dengan ponselnya dan Elisa malah cari-cari kesempatan.


Naik ke atas sofa saat Andre sedang bersantai di sofa, bersandar di lengan sofa kaki ia luruskan tangan sibuk main hp, Elisa naik di tubuh Andre setelah selesai merapikan rambut.


" Aaahhh- nyamannya" Ucap Elisa yang kepala di letakkan di dada bidang Andre hingga bisa mendengar detak jantung Andre sampai jelas.


" Apa yang nyaman, kamu suka banget sih tidur di atas tubuhku sayang!" Ucap Andre yang matanya masih fokus di layar hp.


" Kenapa! kamu keberatan yah, kalo aku baringkan di tubuh kamu" Ucap Elisa menatap Andre.


" Nggak, silakan lah pergunakan sesukamu" Andre tak mau berdebat dengan elisa jadi cuman bisa pasrah aja deh.


Tak lama, seorang pelayan datang mengetuk pintu kamar mereka.


...Tok tok tok...


" iya buka saja, nggak di kunci" Jawab Elisa yang saat ini menoleh ke arah pintu.


Click-- Rrrrrrtttt


Pelayan itu yang langsung membuka matanya melongo kaget, langsung buru-buru menunduk wajahnya tak mu melihat lebih jauh atau lebih jelas lagi untuk apa yang di lihatnya sekilas.


" Tuan-Nona, makan malam sudah hampir siap. Apakah mau di bawa ke sini?" Tanya si pelayan dengan menahan diri.


" Gimana sayang kamu mau makan malam di kamar atau turun ke bawa?" Tanya Andre meletakkan hp di meja dekat sofa.


" Hemm di bawa aja, nanti bisa pilih sesuatu yang enak" Ucap Elisa sambil menatap wajah pelayan itu yang merah.


" Kamu sudah dengar itu, dia mau makan di bawa jadi kalian siap kan saja makan malam di ruang makan" Ucap Andre memperjelas.


" Baik tuan-nona, saya undur diri" Ucapnya sekilas buru-buru ingin segera menutup pintu.


" Iya terima kasih yah, Jeje" Ucap Elisa dengan senyum di bibirnya tipis.


" Iya nona sama-sama" Ucap Jeje.


" Sepertinya kamu lebih hafal semua nama pelayan di istana ini, dari pada aku sayang" Ucap Andre sambil menyelipkan rambut Elisa.


" Memang kamu gak hafal semuanya,


padahal mereka bekerja untukmu loh" Ujar Elisa yang saat ini menatap suaminya.


" Nggak cuman orang-orang yang dekat saja denganku seperti nenek Marlina dan pak Calder dan pak Jepri di penakaran kuda" Jawab Andre dengan senyuman tipis.


" Cih, jangan kayak gitu dong mas, pilih kasih deh" Protes Elisa.


" Hehehe nanti deh aku hafal, satu persatu aku juga gak mau kalah dari kamu yang sudah hafal mereka padahal kami baru 4 hari tinggal di sini" ucap Andre.


" Bagus itu"


" Sayang, yuk kita makan malam, mereka pasti sudah menunggu di bawa.


" Kok gak mau, lah tadi kamu yang minta kan, emang kamu gak lapar lagi sayang" Ujar andre.


" Lapar sih, cuman..." Ujar Elisa terdiam sambil tangan aktif menyusup masuk ke sela-sela baju Andre.


" Terus, kenapa gak mau!" Ucap Andre yang masih diam saja dengan kenakalan tangan istrinya itu.


" Di bawa kesini saja gimana, aku jadi malas jalan mas" Ucap Elisa, berhasil membuka 1 kancing baju.


" Mau mas gendong?" tawar Andre yang menggiurkan itu.


" Hehehe mau dong, mau banget" ucap Elisa yang semangat.


" Yaudah, lepasin dulu mas bangun nih!" Ucap Andre yang memang tidak bisa bergerak sama sekali saat ini, walau tubuh Elisa kecil tapi Elisa cukup berat.


" Iya!" Elisa bangkit, mempersilahkan Andre bangun dulu, dan berdiri.


" Mau didepan atau dibelakang" Ucap Andre yang menawar diri.


" Depan, kalo belakang aku gak bisa liat wajah kamu" Ucap Elisa sudah bangkit dan berdiri di sofa.


" Yaudah sini" Ucap Andre yang mengulurkan kedua tangan yah, tapi Elisa malah langsung nemplok seperti anak kecil yang di gendong bapaknya.


Melingkar kedua tangan di leher Andre, kedua tangan Elisa yang mempererat pelukannya, tangan Andre hanya menopang pantat Elisa di bawa.


Mereka keluar, menuruni selangka demi langkah anak tangga para pelayan yang disana hanya terdiam sambil menunduk tak ada yang berani menaikkan kepala mereka untuk menonton saat mereka turun, hanya Marlina dan Calder yang saat ini berjalan mendekati mereka.


" Nona, apakah anda masih sakit? aku dengar anda sedang sakit perut?" Tanya Marlina.


" Eh nenek, aku memang masih sakit makanya mas Andre mengendong ku, Hemm apakah ini melanggar peraturan yah?" Ucap Elisa sambil menatap wajah nenek Marlina.


" Tidak, silakan duduk" Ucap Marlina mempersilahkan mereka duduk di kursi yang saat ini sudah siap dengan berbagai hidangan.


" Tuan-Nona, silakan menikmati hidangan yah" Ucap si pelayan.


" Semoga kalian menyukai yah" Sambung pelayan lainnya.


" Iya terima kasih, sayang duduk disini" Ucap Andre yang menarik kursi.


" Gak mau, aku kaya gini saja" ujar Elisa yang lagi manja banget.


" Susah lah aku buat makan, kalo kayak gini posisinya" ujar Andre yang kesulitan untuk duduk.


" Ini itu hukuman buat kamu, karena kamu udah bohongin aku" Ujar Elisa sambil menarik hidung Andre.


" eh? salahku apa coba" Ujar Andre yang Kebingungan.


" Masih nggk mau ngaku, atau pura-pura ngga inget, coba kamu punya salah apa sama Elisa di ingat" ucap Elisa yang saat ini menekan dagu Andre.


" Apa? soal liburan jalan-jalan itu" Tebak Andre.


" Iya, kamu bilang mau ngajak aku jalan-jalan tapi buktinya apa coba, sampai detik ini kamu gak ngajak aku jalan-jalan" Ucap Elisa jengkel.


" Iya sabar dong, aku masih banyak kerjaan lagian tadi masih ada ujian" ucap Andre.


" Tututu, nyebelin banget sih kamu, selalu dengan alasan yang sama" Ucap Elisa yang kesel.


" Iya udah, kita makan dulu yah. Cepat turun" Ucap Andre.


" Nggak mau" semakin erat saja pelukan Elisa melingkar di leher Andre, mengalungkan kedua tangan di sana.


" Terus gimana aku mau makan coba, terus kamu juga gimana makanya" ujar Andre.


" Ya tinggal makan aja susah banget"


" Ya susah lah kalo kamu kaya gini sayang"


" Aku gak mau turun, terserah kamu mau nolakku atau apalah, aku akan tetep kayak gini"


" Hufffs Baiklah, Entah kamu lagi kenapa, kok manja banget sih" ujar Andre yang sangat frustasi.


" Kamu juga biasa gitu" Decak Elisa pada Andre.


" Itu karena aku--" ujar Elisa yang memotong ucapan Andre.


" Sudah cepat makan, aku lapar"


" Lah katanya tadi kamu gak mau makan!"


" Itu kan tadi, sekarang udah liat makanannya jadi lapar"


" Ampun deh kamu ini" Andre heran sendiri.


" Yeeehhh!" ucap Elisa senang.


BERSAMBUNG...


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya


Rabu 29 Desember 2021