
Monika yang baru pulang dari reunian temen-temen geng yah, setalah sekian lama. Arafif yang sedang duduk di sofa sambil menikmati secangkir teh hangat di temani tv berita melihat istrinya pulang dengan wajah muram dan marah.
"Kenapa mah kok pulang dari kumpul-kumpul sama temen geng, mukanya di tekuk gitu?" ucap arafif yang melihat istrinya sedang marah.
"Kesel deh, coba pah pembahasan mereka itu bikin mamah kesel aja. Emosi aja, jadi kesal sendiri mamah tuh" ucap Monika yang mukanya bete.
"Emang gimana?" tanya Arafif yang ingin menjadi pendengar bagi istrinya.
"Mereka pada pamer menantu, mamah jadi agak gimana gitu"
"Mamah kan sekarang sudah punya menantu, ya mamah pamerin lagi"
"Mereka juga pamerin cucu Pah" ucap Monika yang mulai cemberut.
"Sabar mah, nanti juga punya banyak cucu kok, asal mamah mau sabar " ujar Arafif yang menenangkan istrinya.
"Mau sabar sampai kapan pah, kita sudah tua gini takut gak ketemu gimana, takut umur kita gak nyampe gimana pah" kekhawatiran Monika.
"Insyaallah kita pasti akan ketemu sama semua cucu kita, sampai mereka besar"
"Aamiiin yarobalalamin, kita doa yang baik-baik saja dulu yah pah. Semoga kita di berikan banyak kebahagia tahun ini ya Pah, mamah udah ngebet nih pengen lihat cucu kita"
"Aamiin Yarobalalamin yah mah, semoga saja kita di berikan kesempatan untuk melihat mereka yah mah" ucap arafif juga penuh harapan.
"Iya pah. Hmmm, tapi udah setengah tahun, kok Elisa dan Andre belum ada kabar-kabar ya itu yah pah? jangan-jangan mereka ada apa-apa lagi"
"Maksudnya mamah apa?" Arafif agak kebinggungan dengan apa yang di katanya oleh Monika.
"Yah, mamah takut jika Elisa atau Andre tidak—" belum sempat melanjutkan ucapnya, Monika langsung di hentikan.
"Ssssttt... Gak boleh ah- doain anak kayak gitu, kita doain yang baik-baik saja"
"Aiya Pah, maaf" ucap Monika yang khilaf.
"Sabar mah, emang yah anak dibuat dari tepung. Kan gak mungkin dibuat sehari langsung jadi, banyak melalui proses"
"Tapi Pah, tetangga kita anaknya baru aja nikah bulan lalu sekarang lagi hamil tuh, tapi Elisa kok lama banget"
"Mamah ini kayak gak pernah dapat omongan itu aja, inget gak waktu kita pertama nikah. Mereka kira kita nikah cepet, pikiran mereka jelek kan sama kita, dikira kamu hamil di luar nikah lah apa lah, udahlah mah. Kalau kamu terus aja ladeni omongan orang, gak akan ada selesai ya"
"Emang papah gak mau gitu punya cucu pah?" sindir Monika.
"Mau, tapi ya gimana lagi. Toh, belom di kasih kan, lagian ada Try dan anak-anaknya, kita hanya butuh sabar" ucap Arafif.
"Tapi mereka bukan cucu kandung kita!" ucap Monika yang langsung menatap Arafif.
Seandainya kamu tahu Monika, Andre juga bukan anak kandung kita. Tapi, Andre tidak mempermasalahkan hal itu. Dia malah menjaga rahasia ini, karena tidak mau kamu sampai ambruk. Dalam hati Arafif.
"Besok, mamah akan antar Elisa ke dokter kandungan kenalan mamah" ucap Monika yang sudah punya niatan.
"Mau ngapain? ngajak Elisa kesana?" ucap arafif yang saat ini heran dengan pemikiran pandangan Monika.
"Cek kandungan Elisa lah, dia itu subur atau tidak" ucap Monika.
"Hah! mah, kita gak punya hak soal itu. Biarkan Andre dan Elisa menjalaninya kehidupan rumah tangga mereka, kamu sudah jangan terlalu banyak ikut campur urusan itu, kalau kamu gak mau Andre sampai keluar dari rumah ini" ucap Arafif memperingati istrinya.
"Tapi, mamah gemes pah. Lihat mereka itu enjoy aja, gak iri sama sekali sama temen-temen yang sudah punya anak bahkan ada anak dari mereka udah mau masuk TK dan SD"
"Mungkin mereka mau menikmati kehidupan sehari-hari sebelum memiliki itu mah, lagian mereka itu masih proses PDKT, udahlah kita serahkan saja sama mereka"
"Papah gak akan ngerti perasaan mamah itu gimana, mamah itu udah pengen banget lihat Andre kecil" ucap Monika yang mulai jengkel kepada suaminya.
"Nggak ngerti gimana maksudnya?" ucap arafif yang mulai kebingungan juga.
"Sudahlah, mamah capek" bangkit dari sofa lalu berjalan dengan sangat keras hentakan kaki yang begitu keras.
"Lah kok malah dia yang marah sama aku, dasar Monika ada aja yang membuat dia panik dan khawatir" ucap arafif yang hanya bisa geleng-geleng kepala.
Keesokan paginya, Elisa yang baru saja mengantar suaminya masuk mobil untuk berangkat kerja, langsung di hadang oleh Monika yang susah siap.
Monika sudah mengaitkan tanganya ke punggung Elisa. "Aaadduuuh... Mamah, bikin kaget" ujar elisa yang di kejutkan oleh mertuanya itu.
"Sayang kamu hari ini gak sibuk kan?"ujar monika yang ingin mengajak elisa ke dokter kenalannya.
"Kenapa emangnya mah?" tanya elisa yang kebinggungan dengan sikap mama yang agak mencurigakan.
"Ikut mamah yuk!"
"Kemana mah?"
"Udah ikut aja, nanti kamu akan tahu"
"Elisa ganti baju dulu yah"
"Udah mandi kan?"
"Yausahlah, tadi mau sholat subuh elisa udah mandi, kenapa emangnya mah? elisa bau lagi yah" tanya elisa pada monika.
"Nggak apa-apa, mamah hanya tanya doang sama kamu, syukur kalau kamu sudah sholat mah" ujar monika yang sangat senang.
Tak lama mobil yang di kendarai oleh pak sofyan datang dari arah garasi, mobil yang biasa di gunakan oleh arafif.
"Nyonya, mau berangkat sekarang" tanya sofyan yang baru keluar dari mobil.
"Ya iya dong sofyan, masa tahun depan, lama lagi dong aku menunggunya," ujar monika yang agak kesal dengan pertanyaan sofyan tersebut.
"Emang kita mau ke mana sih mah, papah gak ikut? terus kenapa elisa juga harus ikut, elisa juga belum ganti baju ini" ujar elisa yang penuh dengan tanda tanya.
Dalam perjalanan, elisa masih saja dengan penuh pertanyaan di benaknya. Karena monika sangat tertutup sekali, enggan memberi tahu akan kemana mereka pergi.
"Mah, sebenarnya kita mau kemana sih? maah, jangan diem aja dong! kasih tahu elisa" ujar elisa yang sekarang ingin sekali tahu kemana tujuan mereka.
"Nanti juga akan tahu, jika kita sudah sampai di tujuan" ujar monika, terus mengulang jawaban yang sama, apapun yang di tanyakan oleh elisa tetap selalu menjawaban yang sama.
Sesampainya di sebuah klinik bersalin ibu dan anak, elisa baru faham dan mengerti apa tujuan dari monika sebenarnya, jika dia di periksa sekarang, maka akan ketahuan jika dia masih tersegel, atau masih perawan. Elisa mulai panik dan kebinggungan ia khawatir akan hal itu, lalu bagaimana ia akan menjelaskan hal itu pada mertuanya, pokoknya pikiran elisa saat ini kacau balau, tak tahu harus bagaimana.
"Mah, kok kita kesini sih. Kita mau ngapain?" saat masih di dalam mobil Elisa enggan untuk keluar dari dalam.
"Periksa lah elisa, masa mau nongkrong, kamu ini gimana sih, pernyataan kamu bikin mamah heran" ucap Monika yang sudah membuka pintu.
Gawat aku gak bawa hp lagi, gimana coba bisa lolos dari mamah, tahu begini aku tadi pikirkan rencana, gimana kalau mamah tahu jika aku... Aku gak bisa membayangkan gimana nanti mamah akan bereaksi, yah Allah tolong hambahmu ini. Dalam benak hati Elisa yang sudah kalang kabut.
"Ayo sayang kita keluar," ucap Monika yang menyuruh Elisa untuk segara keluar.
"I..iya mah.... Aduuuh!" ucap Elisa yang ragu-ragu.
Berjalan sambil di tarik oleh Monika memasuki halaman rumah tersebut, Elisa yang dalam hatinya terus membaca ayat-ayat Allah, agar ada ke ajaiban dan seperti Tuhan mendengar suara hati Elisa dan doa-doa Elisa.
Ternyata ada sang penyelamat datang, Andre ternyata tidak berangkat ke rumah sakit meluangkan waktunya untuk datang ke tempat tersebut, membuat monika dan Elisa kaget.
"Loh Andre, kok kamu sudah ada di sini? Kapan kamu datang?" ucap Monika yang kaget saat melihat Andre sedang mengobrol dengan seorang wanita.
"Mamah sendiri ngapain di sini, itu sebenarnya jadi pertanyaan Andre kan" ucap Andre yang pura-pura kaget, padahal dia sudah tahu jika Monika punya rencana akan datang kesini.
"Tentu saja ada perlu, sama Dokter di klinik ini. Kamu sendiri ngapain di sini?" Monika malah tanya balik.
"Iya, karena karina ini temanku. Aku datang karena ingin mengunjungi dia" ucap andre yang menjelaskan.
"Lah, bukannya ini klinikknya kenalan papahmu yah? Hj, Oppi" ucap Monika yang kebinggungan.
"Benar buk, ini klinik mamah saya. Tapi, sudah lama mamah tiada" ucap Karina.
"Innailahirojiun, kapan itu" Monika kaget syok mendengar hal itu.
"Sudah lama, ada 7 tahun ini" jawab Karina.
"Begitu rupanya, aku tidak tahu. Jika beliau sudah wafat, maafkan saya" ucap monika yang sangat sedih.
"Tidak apa-apa! Lagian mamah juga sudah lama tiada" ucap Karina.
"Lalu sekarang kamu tinggal dengan siapa di sini?" tanya Monika.
"Sama suami dan anak-anak, "jawab Karina.
"Ouh begitu!"
"Silakan masuk, kita ngobrol ya di dalam saja" tawar Karina.
"Tidak usah Karin, kamu lanjutkan saja sarapan dengan anak-anak mu, kami juga akan pamit pulang, maaf telah menggangu waktumu" ucap Andre.
"Eh tapi sayang, Mama masih ada urusan sama Dokter karina" ucap monika.
"Urusan apa mah, mamah mau pasang gigi palsu. Biar bisa makan daging?" ucap Andre yang menggoda mamahnya.
"Kamu ini, bercanda mulu" sambil memukul putranya.
"Ouh, Andre kamu tak mau mengenal dua wanita ini padaku?" ucap Karina.
"Iya, yang ini mamahku dan di sebelahnya adalah istriku" ucap Andre mengenal kedua wanita di hadapannya.
"Salam kenal tante, saya Karina teman satu kampus Andre, aku karina ayunengtrias" ucap Karina mengenalkan dirinya.
"Kamu anak dokter Oppi"
"Iya, saya anak tunggal. Jadi, hanya satu-satunya" ucap Karina.
" Ouh begitu yah"
"Saya Karina, dan anda siapa? istrinya Andre" tanya Karina.
"Elisa Nurhaliza" ucap Elisa sambil menerima uluran tangan, untuk jabat tangan.
"Ouh yah! Karina apakah kamu sama kayak mamahmu dokter oppi? Hmmm maksudnya, apakah kamu spesialis kandungan juga?" ucap Monika.
"Ouh! kebetulan saya dokter specialis gigi tante jadi..." belum sempat melanjutkan Monika sudah frustasi.
"Yah, sia-sia aku jauh-jauh datang kesini, sayang kita pindah saja yuk! cari dokter kandungan lainnya" ucap monika menarik tangan Elisa.
"Eeeeh tapi mah,?" wajah Elisa yang minta tolong pada suaminya.
"Udah ayo, kamu yang nurut sama mamah. Terimakasih yah Karina, kami pamit!" ucap monika yang menarik tangan Elisa.
"Karin saya pamit ya, maaf gangguan yah"
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...
Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...
Kamis 19 Mei 2022