Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
114. Kamu Belum Dewasa.


Akhirnya acara malam itu selesai juga, seharian ini Andre yang disibukkan dengan para tamu undangan hingga membuat dia mondar-mandir, menyalami banyak tamu undangan yang datang. Elisa juga sibuk, dengan para tamu mamah. Mamah seakan-akan bangga memperkenalkan Elisa pada keluarga Kerajaan ANDRILOS, yah! Nama Marga Andre, yang seharusnya ia sandang dinama belakang, hanya saja karena Arafif dan Monika tak mau putranya, terlalu terbebani dengan nama besar itu, jadi hanya Andre satu-satunya tak menyandang nama ANDRILOS.


Malam hari ini setelah selesai acara, Andre yang baru kelar mandi, Elisa yang saat ini santai-santai di atas kasur. Kaki diluruskan, tangan sibuk membalas semua chat pesan yang masuk, semua temen-temen Elisa mengucapkan selamat padanya.


"Kamu pasti lelah ya, seharian harus pakai baju berat. Maaf ya sayang! Mamah terlalu menekanmu, untuk pakai baju agak terbuka seperti tadi, kamu gak apa-apa kan" Ucap Andre yang khawatir jika istri itu merasa tersinggung.


"Hmm-, bukan hanya itu" Elisa, manatap lekat suaminya.


Yah! Andre sekarang hanya dibalut dengan handuk saja, untuk menutupi bagian bawa ya. Terlihat semakin jelas gundukan-gundukan menonjol ditubuh Andre, dengan kulit putih bersih, dan sangat halus, tak ada urat atau jalan darah yang warnah hijau keluar.


Meletakan hp, Elisa tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat pemandangan indah di depan matanya, karena jarang sekali Elisa melihat hal itu. Selama menikah dengan Andre, ia tak pernah melihat suaminya keluar hanya pakai handuk saja, saat keluar dari kamar mandi, selalu dengan baju piyama putih tebal menutupi bentuk otot dan tubuhnya.


"Apa sayang!" Jawab lembut, Andre akan masuk kamar ganti.


"Mas, sini dong! Elisa, boleh minta transferan gak?" Ujar Elisa melemah, seperti hp yang tak di charger.


"Transfer apa?" Andre melenggangkan kaki ya ke pintu ruang ganti.


"Energi dong! Elisa tepar banget nih, butuh yang seger-seger, untuk membangun stamina yah" Ucap Elisa, nyali mulai bangkit.


Mengerutkan alisnya, karena bingung. "Hah! Caranya?" Andre menatap istrinya, yang saat ini tengkurap sambil kepalanya bertumpu pada kedua tangan.


"Kamu sini, mendekat" Ucap Elisa dengan mode mata genit, Andre kebingungan dengan sikap aneh yang ditunjukan itu.


Tanpa pikir lagi, dengan langkah kaki Andre yang panjang, langsung sampai di mana Elisa berada. "Gimana?"


Elisa bangun, bertumpu pada kedua lutut, agar dirinya sejajar dengan tinggi badan Andre. Mode tangan jahilnya mulai aktif, tak tahan hanya dengan melihat gundukan-gundukan itu. Tangan Elisa mulai menempelkan hingga berani meremas dada Andre, dan lengan.


Andre hanya diam, dengan apa yang sedang dilakukan Elisa, menatap setiap aksi nakal yang diperbuat oleh Elisa tersebut, dengan tatapan mata yang sayu.


Sekarang tangan Elisa sudah mulai bener-bener nakal, tangan itu menurun ke bawah. Hingga melewati gundukan 6 kotak diperut, tangan Elisa sudah hampir sampai ke tujuan. Untuk membuka handuk yang membelit pinggang suaminya, tapi sayang. Tangan kekar itu menarik kedua tangan Elisa ke atas, dengan tatapan tajam terarah untuknya.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya ketus dan sinis, dengan penuh kelembutan.


"Emang nggak boleh?" Elisa menatap manja, penuh dengan tatapan genit.


"Iya, boleh sih. Tapi gak sekarang!" Jawab Andre terbata-bata.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa, hanya saja aku belum siap!"


"Kapan kamu siap?"


"Ya kapan-kapan"


"Kapan-kapan yah, itu kapan?"


"Nanti kalo kamu, sudah baligh"


Ucapan Andre yang menahan tangan Elisa, membuat ia terdiam sejak, memikirkan apa yang dikatakan Andre.


"Hah? Aku sudah baligh tahu! Pada usia 10 tahun, aku sudah mens. Hemm-- apa mungkin, mas Andre sendiri yang belum baligh. Jadi itu yah, hmm- gak bisa berdiri ya" Ucap Elisa yang mata terarah menatap kebawah, yang tertutup handuk.


"Huss- kamu ini, kok jadi bahas itu" Andre langsung melepas tangan Elisa.


"Kenapa?, kan kita sama-sama udah dewasa" Elisa memeluk Andre.


"Hmm, sudah sana tidur gih. Aku mau ganti baju. Terus mau keluar, nemuin tamu" Ujar Andre melepaskan pelukan Elisa itu.


"Kapan! sekarang?"


"Iya" Ucap Andre yang langsung masuk ke dalam kamar ganti.


Tak lama Andre keluar dari sana, pakai baju panjang polos warna biru muda, celana kolor panjang.


"Kamu mau kemana?" Tanya Elisa menatap suaminya yang baru kelar ganti baju.


"Di bilang mau nemuin tamu"


"Sekarang, jadi Elisa ditinggal?"


"Mau ikut" Tawar Andre yang tahu jika istri ini lagi mode aktif sedang manja.


"Mau, Elisa mau ikut"


"Yaudah, turun sini!"


"Tapi, Elisa capek"


Merebahkan tubuh di ranjang. "Yaudah, kalau kamu capek, kamu istirahat saja duluan. Karena mas mau nemuin tamu dulu, setelah itu mas juga akan tidur"


"Mmmm- Elisa nggak mau ditinggal"


"Kalau kamu mau ikut, ya turun sini"


"Gendong Napa, kakiku capek. Karena seharian pakai sepatu hak tinggi, berjam-jam lagi"


"Ya Allah, iya deh. Mau depan apa belakang" Tawar Andre sambil jalan mendekati elisa.


"Belakang!" Dengan senang, Elisa langsung bangkit bersiap-siap mau digendong.


Setelah Elisa sudah berada dipunggung Andre, mereka keluar bersama-sama.


"Tumben kamu gak tidur, udah lewat jam 9" Tanya Andre pada Elisa.


"Aku gak bisa tidur, kalau gak ada kamu disampingku" Rayuan maut Elisa telah dilancarkan, demi MP alisa Malam Pertama mereka.


"Hemm, sejak kapan kamu pandai merayu gitu. Di ajarin siapa? Rudi yah, atau Kevin?" Ujar Andre yang menebak-nebak.


"Sendirilah. Mas, boleh ya sekali saja. Elisa nyicipin itu! Dikit aja, nggak apa-apa kok"


"Apa?"


"Itu ya, yang kamu punya"


Andre mendecak kesal. "Jangan mengada-ada Elisa! Emang apa yang aku punya?"


"Sakit tahu"


"Kok kamu yang bilang gitu, lagian jarang loh. Cewek yang minta duluan"


"Iya, cuman kamu! Sudah lupakan ambisius mu itu" Ucap Andre yang berjalan dengan santai menuju anak tangga.


"Ayolah mas. Kita sempurna ibadah, buat apa dong! Kamu nikahin aku. Cuman buat jadi panjang, atau sebagai tameng kamu agar para cewek-cewek fansgirl kamu berkurang"


"Bukan gitu, aku emang belum siap! Lagian masih banyak yang ingin aku lakukan denganmu" Ujar Andre menjelaskan, jujur sebenarnya ingin tapi Andre tak mau buru-buru.


"Apa! Lagian kita hanya bisa ngobrol saat di dalam kamar doang, selebihnya kamu gak ada romantis ya. Cuek aja sama aku, hmm- kayak yah kamu gak bener-bener sayang sama aku. Sayangmu cuman dimulut, iya kan"


"Udah jangan bahas itu, kita hampir sampai di ruang tengah. Kita bicarakan lagi, kamu diem"


(Kok ada yah, pria yang tahan. Biasanya cowok langsung bernaffsu jika dirangsangg sekali, menurut google juga, seoarang pria nggak akan bisa menahan, jika digoda. Oke! akan ku coba nanti, ini hanya permulaan doang) Dalam benak Elisa bertanya-tanya dengan suaminya.


Karena sudah sampai di ruang tengah yang di mana semua orang sudah ada di sana, keluarga besar dari ANDRILOS.


Pelan-pelan Andre menurunkan Elisa, dari punggung. " Eh, semua belum pada tidur? sudah malam gini. Ini ada apa yah, ramainya" Ucap Elisa yang baru diturunkan Andre.


Semua yang melihat Elisa yang baru turun dari punggung Andre, ibu hanya bisa menutup wajahnya melihat putrinya itu, Monika dan Arafif hanya tersenyum tipis, sedangkan yang lainnya. Kaget, karena Andre yang mereka kenal yang selalu cuek, jaga jarak dengan wanita, ternyata bisa begitu lembut dan romantis.


Walau dibilang oleh Elisa tidak romantis, karena Andre tipe yang jarang untuk mengungkapkan isi hatinya. Tapi ia lakukan dengan tindakannya, itulah yang membuat semua orang itu kaget dengan perubahan sikap Andre yang secara drastis.


"We, Elisa kamu gak punya kaki yah? Atau kakimu putus, hingga harus paman mengendong mu" Kevin angkat bicara, dengan kemesraan Andre dan Elisa itu.


"Kenapa? kamu cemburu, bilang dong!" Saut Elisa, nada jutek.


Elisa dan Kevin itu, kalau bertemu seperti air dan minyak. Bawaannya pasti berantem, tapi ada kalahnya bisa akur.


"Iyalah, dia kan pamanku. Aku ngga terima jika pamanku kau jadikan kuda-kudaan begitu" Protes Kevin yang tidak mau terima.


"Masa, kamu cemburu sama masku. Diakan punyaku, awas minggir" Elisa yang mengusir Kevin dari samping mamah Monika.


"Ih, dasar ya datang-datang langsung ngusir" ucap Kevin yang tidak terima.


"Hahaha, kalian ini kalo udah ketemu jadi satu begini, sudah kayak kucing sama anjing, berantem melulu" ujar Zacky yang ketawa, saat melihat kedua jika dipersatukan malah suka berdebat.


"Maafkan putri saya. Teteh! Nggak sopan kayak gitu, duduk di sini sama ibu" ucap ibu siti yang menarik tangan putrinya.


"Tapi Bu, dia—" belum sempat Elisa menjelaskan sudah di potong oleh seorang wanita yang 5 tahun lebih muda dari Monika.


"Elisa, kamu seusia dengan putra ku?" suara yang begitu sangat lembut, tapi tidak terlalu fasih berbahasa indonesia.


"Nggak mom, beda 1 tahun. Aku lebih tua darinya" saut Kevin yang menjawab pertanyaan Mommynya dengan cepat.


"Kalau merasa lebih tua, minggir dong! Ngalah sama aku, mau duduk di sebelah mamah, cepat minggir" ucap Elisa menarik tangan Kevin.


"Yeh, aku duluan tahu yang duduk di sini, cari tempat lain saja sana"


"Iih, pelit banget sih, awas dong! Aku mau duduk, minggir gak" ucap Elisa yang sangat kekanak-kanakan.


"Nggak mau"


"Kevin, jangan gitu. Kamu geser ini, kasihan Elisa tuh" ucap Mommy.


"Mom aku duluan yang duduk di sini, kok mommy malah belain dia"


"Haduh anak-anak ini, kok gak ada yang ngalah sih"


"ELISA NURHALIZA, " Suara dentuman keras terdengar.


"Diem kan lu, saat denger suara paman" ucap Kevin berbisik pada Elisa.


"Gara-gara kamu tahu ngga" Elisa malah sewot, karena kena aura marah Andre.


"Hemm, kalo paman sudah buka mulut, jadi kamu diem!" ucap Kevin meledek.


"KEVIN CLARLOSEN, kau juga diem. Kalian sudah sama-sama dewasa, bisa tidak menghargai semua orang disini. ELISA, kemari. Kamu dengar tidak, aku tidak suka mengulang perkataanku"


Ucapannya bikin bulu kuduk merinding, yah Andre sudah sangat marah saat ini, tapi hanya menaikan nada suaranya saja.


Kevin dan Elisa langsung diam, semua yang nonton hanya bisa menahan tawa.


"Iya, aku kesana"


"Udah sana tuh, kamu dipanggil paman, kamu takutkan" ledek Kevin pada elisa.


"Kau sendiri juga takut" ucap Elisa sambil tangannya mau mukul Kevin.


"ELISA, KAMU DENGAR AKU ATAU TIDAK! CEPAT KEMARI" Geram Andre yang menekankan.


"Iya" Elisa melemah suara, murung.


"Maafkan Andre bu, karena telah menaikan nada suara pada Elisa" ujar Andre yang memohon pengampunan dari ibu mertuanya.


Ibu siti juga memaklumi itu, karena ia sadar jika putrinya sendiri yang sudah keterlaluan. "Tidak apa-apa nak, Elisa memang sudah keterlaluan"


Elisa berjalan mendekati kursi, yang di mana ibunya duduk, bersebelahan dengan Andre.


"Apa-apa tadi, kamu tidak menghargai orang yang lebih tua. Setidaknya kamu hormati mereka, aku tahu kamu akrab dengan Kevin. Jangan lakukan itu lagi, aku tidak suka" ucap Andre berbisik pada Elisa setelah duduk di sampingnya.


"Yang dikatakan nak Andre ada benarnya, ibu nggak pernah ngajarin kayak gitu kan teh" ujar ibu siti yang juga menegur Elisa dengan suara kecil.


Elisa tak berani berkomentar apapun, mulutnya seakan terkunci rapat-rapat. Tak ada lagi bantahan, ia sadar jika dia memang salah.


BERSAMBUNG...


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.


Senin 17 Januari 2022