
Zacky dan Kevin mendatangi ruangan Andre di rumah sakit, karena tak bisa tenang dengan siapa yang selalu meneror Andre sampai detik ini, 3 hari yang lalu saat Andre di rumah mertua ya ada yang mengirimkan paket isinya boneka kuda yang di tasnya ada pisau yang tertancap dengan warna darah dimana-mana.
"Jadi ada orang yang mengirimi mu ini, apakah ini orang yang sama dengan pengiriman sebelum ya? coba kamu cek ada nama pengirim ya tidak?" tanya Zacky yang penasaran.
"Itu dia. Aku binggung yah, karena nggak ada nama pengirim ya kak, makanya aku tidak tahu siapa yang mengirim ya dan dari mana ini muncul." ucap Andre yang sangat frustasi saat ini.
"Yaelah paman, jika ada nama pengirim ya pasti aja akan langsung ketahuan dong nantinya, gimana sih!" sambung Kevin.
"Iya juga ya, begonya aku ini. Terus sekarang kamu mau gimana? apakah kamu ingin menelusuri ya secara langsung," tanya Zacky yang sangat penasaran.
"Aku tidak tahu, jika aku menemukan beberapa bukti saja. Mungkin aku bisa mengurusnya sendiri, tanpa harus menyulitkan orang lainnya atau melibatkan orang lain yang tidak bersalah. Tapi, sayang ya saat ini aku tak bisa menemukan bukti apapun, jadi tidak tahu harus bagaimana untuk mengatakannya." ucap Andre yang binggung.
"Benar juga, apa lagi sekarang semua anggota bodyguard mu sebagai besar sedang terluka, jadi tak ada yang bisa buat mereka mencari tahu. Aoda dan Glenn saat ini masih terluka parah, Ben dia masih terlalu muda." ucap Zacky yang kebinggungan dengan hal tersebut.
"Biar aku yang pergi," tiba-tiba saja suara itu terdengar dari balik pintu, terlihat Elisa yang baru datang untuk membawakan makan siang untuk Andre.
"Elisa?" Andre kaget, saat mendengar hal itu, Elisa mendekati Andre dan Zacky yang sendang bertukar pikiran itu.
"Biar aku yang selidiki, dengan beberapa orang. Aku cukup lihai kok, dan juga pintar. Asal kamu izin kan saja aku akan pergi." ucap Elisa yang sangat antusias.
"Nggak, aku tidak akan izin kamu untuk melakukan itu. Jangan macam-macam kamu, ini bukan permainan Elisa." ucap Andre yang sewot.
"Tidak akan ada yang mengetahui ya, aku yang akan—" Elisa yang ngotot mau membantu Andre.
"NGGAK BOLEH! Ngerti gak sih, udah kamu gak usah ikut campur. Diam saja di rumah, jangan ikut terlibat masalah ini. Biar aku selesai kan ini, bahaya Elisa. Jangan buat aku tambah khawatir," ucap Andre yang menaikan suaranya.
"Elisa yang di katakan Andre ada benarnya, kamu di rumah saja. Mengawasi pergerakan orang-orang yang di sekitar, jangan sampai kamu juga jadi korban selanjutnya. Sudah cukup, saat kamu keracunan waktu itu, udah buat Andre kalang kabut. Jangan tambah masalah lebih rumit yah" ucap Zacky yang jadi penengah.
"Udah Elisa kamu sama aku di rumah, kan bisa menyelamatkan paman dengan hanya butuh kamu ikutin ucapan paman Andre." ucap Kevin yang meletakan tangannya di atas Elisa.
Elisa, pulang kerumah orang tuanya membanting tubuh di sofa yang saat ini Azril sedang sibuk mengoperasikan leptopnya. Melihat tetehnya pulang kerumah mukanya bete dan kesel, Azril menatap tajam wajah teteh ya.
"Kenapa teh, pulang-pulang mukanya kok di tekuk gitu. Mas Andre gak pulang lagi?" tebak Azril yang sudah tahu sikap tetehnya yang sedang bete itu.
"Nggak apa-apa!" Elisa terlihat banget sangat kesel sekali.
"Kalau gak apa-apa, nggak mungkin kayak gini pulang-pulang muka jutek, gak ngucapin salam pas masuk. Terus ngomong ya nada kesel gitu, pasti ada apa-apa nih? coba katakan," tebakan Azril yang selalu tepat.
Elisa langsung bangkit lagi dari sofa, duduk dengan tegap menantang adiknya. "Kita harus segera tangkap orang ya hidup-hidup. Mas lama-lama udah jadi kayak bang Toyib. Walau aku tahu dia kerja di RS, tapi kan dia jadi jarang pulang zrillll" rengekan Elisa pada adiknya, ya dia hanya bisa tukar pikiran dengan adiknya kau sama ibu pasti akan banyak di ceramahi.
"Ada apa lagi, masih ada yang ngirimin paket aneh yah?" lagi-lagi tebakan Azril tepat.
"Iya, kok kamu tahu. Aku jadi curiga sekeligus sangat penasaran, dengan hal itu." ucap Elisa yang semangat sekali.
"Hmm, coba teteh pikirkan lagi kira-kira siapa yang teteh curigai" ucap Azril yang kepikiran.
"Aku gak kepikiran siapa orangnya, bukankah setiap sudut RS di pasang kamera ya zril. Coba kamu bisa tidak lacak orang ya dari sini, ayo zril. Teteh sangat geram banget nih," ucap Elisa yang sangat kesal.
"Kodenya teh, tahu gak?" ucap Azril yang tanya pada tetehnya.
"Mana teteh ngarti, tanya mas mu sana!" ucap Elisa yang memberikan hp ya untuk Azril menelfon kakak iparnya.
"Ah! Azril inget teh, sudah jangan tanya mas, pasti lagi sibuk. Jawaban pasti juga gak tahu, karena yang mengendalikan cctv monitor kan bukan mas Andre, jadi tak ada guna juga tanya." ucap Azril.
Langsung mencari saklar cctv RS, dengan sangat fokus adik Elisa ini dengan leptopnya.
"Gimana zril ketemu gak?" tanya Elisa.
"Bentar, kemungkinan besar orang RS juga ikut terlibat dalam masalah kamera cctv ini teh, karena bagaimana mungkin sebegitu ketatnya penjagaan, kenapa ada yang kirim paket tanpa ketahuan. Itu aneh teh!" ucap Azril yang jadi kepikiran.
"Coba kamu cek dulu zril kalau bisa. Aku juga penasaran, jangan ambil kesimpulan sendiri dulu." ucap Elisa yang menyuruh Adiknya fokus kembali.
"Oke, sudah masuk Id akun masuk. Kata sandi ya? apakah teteh tahu?" tanya Azril saat melihat kolom password.
"Nggak, coba tanggal lahir mamah, atau tanggal berdiri rumah sakit. Bentar ya, aku cari di hp ada kartu KK." ucap Elisa yang mencari foto kk.
"Nih zril coba, kamu ketik angka aja." sambung elisa setelah ketemu foto kk.
"Kok salah teh, coba yang lainnya ada gak?" ucap Azril yang meminta teteh untuk cari password lainya.
"Iya yah, coba tanggal ya papah? eh jangan tanggal berdirinya RS... Kok salah lagi, hmmm- apa yah."
"Gitu ya zril, aduh... Apa yah, coba nomer hari jadian mamah dan papah, gk mungkin deh....Apa ya, ayo berfikir Elisa... Aaaah, aku tahu zril, coba ulang tahun mas Andre... Jangan, terlalu muda di tebak... Zril, coba 011230. Ketik seperti itu." ucap Elisa yang keinget sesuatu.
"Nomer apa teh, kok aku rada curiga ya" ucap Azril yang tidak yakin.
"Iya di coba saja dulu siapa tahu bener, cepet zril. Bismillahirrahmanirrahim bisa kebuka." ucap Elisa yang berharap karena itu adalah kesempatan terakhir.
Akhirnya kebuka password tersebut, Elisa sangat senang. Azril tidak tahu itu nomer apa tapi ikut senang saja karena bisa kebuka, tetehnya memeluk adiknya sangat Erat.
"Cepat zril masuk, cari seluruh tempat" ucap Elisa yang sangat penasaran dan sangat antusias.
"Itu nomer apa sih teh, kok bisa kebuka?" tanya Azril yang masih sangat penasaran, dengan nomer tersebut.
"Ouh, itu tadi aku kepikiran untuk menggabungkan tanggal lahir mas Andre, Mamah dan Papah. Tanggal 1 kan mas Andre, 12 mamah dan terakhir yang 30 itu papah." ucap Elisa yang asal berfikir soal itu.
"Simpel sekali ya, kok bisa kode ini di jadiin password, papah itu kadang aku gak faham sama beliau" ucap Azril yang sibuk mencari informasi di leptopnya.
"Hmm- papah itu orang yang cinta keluarga, walau di luar dia itu tidak terlihat peduli. Tapi beliau seperti ayah, yang diam-diam melindungi keluarga." ucap Elisa yang tahu kebiasaan Arafif.
Azril yang langsung disibukkan dengan pencarian semua cctv di rumah sakit, setelah menemukan semua lokasinya. Azriel membuka satu persatu tempat-tempat tersebut, tapi tidak ada yang aneh disana. Kecuali satu tempat, yaitu jam lokasinya agak aneh karena berbeda 5 hingga 10 menit.
"Gimana zril bisa, ketemu gak?" ucap Elisa yang sangat penasaran.
"Bisa teh, kok ada yang aneh di sini?" ucap Azril yang merasa ada yang ganjil.
"Aneh gimana dek," ucap Elisa.
"Eh? tunggu, ini kok di loncat waktunya, lihat ini" ucap Azril yang membalikkan rekaman video ya, karena melihat ada yang tidak beres, Azril menujukan ada yang aneh di lokasi.
"Apa yang aneh si dek?" Elisa tidak menemukan ada yang aneh di sana.
"Lihat ini teh, di sini tadi 9.30. Tapi kenapa di sini malah langsung 9. 40, kan aneh?" ucap Azril yang menemukan beberapa bukti ganjil.
"Eh iya ya, kok bisa?" ucap Elisa yang binggung.
"Fiixs teh, dia bener-bener orang dalam, nggak mungkin dia orang luar. Karena dia tahu semua lokasi cctv dan pengendali monitornya. Jika itu bukan orang dalam lalu siapa lagi." ucap Azril yang sudah yakin akan hal tersebut.
"Terus gimana nih zril," Elisa yang ingin mencari pelakunya segara mungkin.
"Coba aku lacak di cctv ruangan mas Andre ya?" Azril mulai memasuki id password cctv lainnya, yang tidak tergabung di cctv umum.
"Iya coba zril." Elisa mulai tegang karena masalahnya semakin meruncing sekarang.
Tapi lagi-lagi kamera itu malah mati saat detik-detik orang itu datang, menambah kecurigaan azril dengan hal tersebut.
"Kok gak ada juga ya, nih orang hebat juga pasti dia sudah tahu jika mas Andre pasang kamera pengawas." ujar Azril.
"Lah terus gimana?"
"Hmm, aku juga kurang tahu. Ouh! Aku ingat, tenang saja Teh, kita pasti akan menemukan orangnya. Hidup atau mati, kita lacak pakai akun milikku saja." ucap Azril dengan senyuman devilnya.
Tak lama Azril masuk ke id akun milik ya, ternyata tanpa sepengetahuan siapapun kecuali Ben. Azril telah memasang kamera pribadi secara rahasia, atau diam-diam di tempat tanpa pengawasan cctv lainya.
"Binggo. Berhasil menemukan keberadaan mu, orang misterius." ucap Azril yang memiliki potensi untuk menemukannya.
"Bagaimana caranya kamu melakukan ya, ketemu langsung begitu?" Elisa keheranan.
"Aku ingat, jika aku dan Ben pernah memasang kamera pribadi yang ku pasang di pot bunga, di dekat ruangan mas Andre tanpa sepengetahuan siapapun, hanya aku dan Ben yang tahu tempat-tempatnya, kami juga yang memasang di setiap tempat tidak dijangkau," ucap Azril yang menjelaskan.
"Kamu pinter dek, simpan dulu ini. Nanti kalau mas pulang kita tunjukkan itu padanya, agar dia juga tahu siapa pelakunya, tapi sebelum itu kita buka dulu aku penasaran siapa sih biangnya."
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...
Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...
Kamis 7 April 2022.