
Azril yang sedang menyapu halaman mambantu tetehnya yang sedang sakit, sebelum dirinya berangkat sekolah Azril selalu merapikan rumah dulu. Saat Try datang karena ingin menepati janji pada Andre, pagi-pagi sekali Try sampai di rumah Elisa sebelum berangkat ke rumah sakit.
Azril yang mempersilakan Try masuk untuk mengecek kondisi Elisa, berada di depan pintu kamarnya, karena tidak ada jawaban apapun dari Elisa. Membuat Azril dan Try bertanya-tanya, akhirnya Azril berinisiatif untuk membuka pintu kamarnya, hingga ia menemukan tetehnya sudah ada di lantai tak sadarkan diri.
"Dibuka saja zril, kalau tidak di kunci. Takut teteh kamu ada apa-apa di dalam!" Ujar try yang memberikan saran.
"Iya, Mas" Ucap Azril yang menuruti apa yang di katakan Try.
Tangan Azril yang bersiap untuk masuk kedalam ruangan, sebelum membukanya Azril minta izin lagi.
"Teh, kami masuknya. Karena teteh nggak ada jawaban sih" Ucap Azril yang langsung membuka pintu.
...Ceklik!...
"MasyAllah Teteh?!" Ucap Azril yang langsung kaget berlari menuju tetehnya yang sudah terkapar di lantai, dengan mulut yang sudah berbusa.
Try juga kaget, langsung mengecek kondisi Elisa denyut nadinya dan jantung melemah.
"Zril, angkat tetehmu kita bawa kerumah sakit sekarang" Ujar Try yang panik seketika, Try takut terjadi sesuatu pada Elisa bisa-bisa dia akan di penggal oleh Andre jika dia tahu.
"Iya, Mas!" Ucap Azril yang langsung mengendong Elisa.
"Sini aku bantu gendong tetehmu zril" Ucap Try ingin membantu, tapi Azril sendirian juga kuat mengendong tetehnya itu.
Gila nih anak, kuat juga mengendong kakaknya. Wajar jika Andre pernah di buat cemburu, oleh Azril, dia emang cool banget jadi cowok. Gerutu Try yang dalam benaknya.
"Bu Eni tolong jaga rumah, aku mau bawa teteh ke rumah sakit" Ucap Azril yang kalang kabut, Try malah sudah membukakan pintu mobilnya.
Mereka langsung pergi dengan cepat, membawa Elisa ke rumah sakit. Di dalam perjalanan Azril yang selalu memanggil nama Elisa, itu yang terus menerus dengan suara panik dan gemetaran.
"Teh, teteh ... Jangan nakutin azril dong, teteh bangun ya" Ucap Azril yang sudah frustasi.
"Azril tenangkan dirimu, tetehmu pasti akan baik-baik saja. Kamu yang tenangnya, kok malah macet sih. Lampu merah lagi?" Ucap Try yang melihat antrian di simpang begitu padat.
"Gak bisa nunggu nih mas, teteh sudah kayak gini. Udah gak ada respon dari tadi, kita harus segera sampai di rumah sakit" Ucap Azril yang sudah gak sabar.
"Gimana caranya zril, lampu merah nih!" Ucap Try yang tidak tahu harus bagaimana lagi.
Azril mengeluarkan hp miliknya, lalu melacak kode sandi lampu merah, yang akan di lalui mobil Try untuk menuju rumah sakit.
"Sudah mas, kita tancap gas cuman ada waktu 10 menit untuk lampunya merah lagi. Kita harus cepat melaju, jangan berhenti karena sudah ku akses kodenya" Ucap Azril.
Try syok mendengar hal itu, Azril yang dia tahu hanya suka main game. Tapi, ternyata Azril malah bisa mengotak-atik sistem program kode, melihat lampu hijau hanya pada jalur yang akan di tempuh oleh mobil Try saja.
"Luar biasa, adiknya Elisa" Ucap Try yang takjub dengan kemampuan Azril itu .
^^^🌹NEW YORK, ISTANA ANDRILOS^^^
Disana mereka sudah berkumpul seluruh, dengan keluarga dari ANDRILOS, termasuk orang tua Elisa yang juga sekarang ada di sana. Andre yang datang dengan kedua ayah dan paman Markus, itu membuat semua lega karena mereka semua selamat.
Melihat hal itu semua turut bahagia, kecuali Andre yang dari perjalanan pulang ke istana ANDRILOS itu dia selalu tidak tenang, kepikiran terus dengan Elisa.
Dari jauh saat mobil-mobil itu sudah terparkir di halaman, Monika dengan antusias langsung menghampiri mobil mereka, Arafif yang keluar dengan Brandon. Lalu di susul Andre, dan Aoda yang keluar dari mobil Limosin mewah.
"Pah, kalian selamat. Syukurlah" Monika langsung memeluk suaminya.
"Alhamdulillah, pak Arafif anda baik-baik saja" ucap pak Yusman yang ikut senang.
"Iya, kami selamat berkat Andre" Ucap Markus yang memperjelaskan.
"Terimakasih yah Andre, tapi apa yang kau lakukan selama ini" Tanya Sean, anak dari Markus yang sangat penasaran.
Andre tidak menjawab apapun yang di katakan oleh Sean, melihat raut wajah Andre yang agak aneh, membuat Sean binggung. Semua yang melihat ekspresi wajah Andre juga bertanya-tanya, ada apa dengan Andre.
"Andre, apakah kamu baik-baik nak?" Tanya Brandon, yang menepuk pundak Andre pelan.
"Entahlah, Daddy. Dari tadi aku sangat gelisah, aku tidak tenang" Ucap Andre matanya sudah naik-turun.
"Iya, dari tadi kami perhatikan kamu memang sangat gelisah, ada apa nak? Apa yang kau pikirkan" Tanya Brandon.
"Aku kepikiran Elisa!" Ucap Andre spontan, semua yang mendengar hal itu malah ketawa kecuali orang tua Elisa, yang juga merasa apa yang di rasakan andre saat ini.
"Hahaha, dasar kamu ini baru juga beberapa hari tidak ketemu sama Elisa, sudah mulai kangen aja yah" ucap Monika yang memukul dadah bidang Andre.
"Putraku, ini kayak suka sekali yah dengan Elisa" sambung Brandon, Monika agak kebinggungan dengan apa yang di katakan Brandon.
"Tuan Brandon, Andre bukannya suka. Emang dia itu pemuja Istrinya" Ucap Darren, yang ikut senang menggoda Andre.
"Maaf, aku tinggal sebentar" Ucap Andre yang langsung meninggal kerumunan, ia menghampiri Aoda.
"Ada apa! Tidak biasa anak itu seperti ini, agak aneh" Ucap Arafif yang mulai curiga.
"Kamu bener, Pah coba kamu tanya" sambung Monika.
"Firasat Andre itu tidak pernah salah, dia anak yang cukup peka. Pasti dia merasakan sesuatu pada Elisa, bahkan kepekaan dia melebih firasat orang tua Elisa" Ucap Arafif.
Andre yang menghampiri Aoda yang berdiri agak jauh dari keluarga, masih di depan halaman.
ANDRE : AODA! Mana hp ku.
AODA : Ini tuan.
Aoda memberikan hp Andre, lalu langsung mundur lagi. Glenn datang membungkuk kan badan tanda memberi hormat, tapi glenn masih diam karena Andre akan menelfon.
"Tidak ada, Tuan" ujar glenn yang memang tidak dapat info apapun dari BEN yang ada di indonesia.
"Baiklah, biar kucari sendiri" ujar andre yang mulai agak tidak tenang.
Arafif langsung menghampiri putranya, yang terlihat sekarang tidak begitu tenang, Andre yang biasanya selalu bersikap tenang. Walau apapun yang terjadi, tapi jika itu menyangkut kepentingan orang-orang yang dia sangat sayangi, selalu akan kelabakan jadi Arafif ingin mencari tahu.
"Ada apa nak, apakah ada masalah yang serius?" Ucap Arafif yang ikut khawatir.
"Aku kepikiran Elisa, Pah" Ucap Andre yang mematikan panggilan.
"Kau ingin pulang, sebelum penobatan mu?" Tanya Arafif yang melihat wajah putra yang begitu sangat menyedihkan.
"Boleh?!" Tanya Andre penuh harapan.
"Pergilah, papah yang akan urus di sini" Ucap Arafif, itu di dengar oleh Brandon.
"Tidak perlu! Kalian kembali saja ke Indonesia, yang di sini biar aku yang urus dengan Markus. Arafif, kau pulang bersama mereka. Aku akan tenang jika kamu yang mengantarkan mereka pulang, soal ANDRILOS kami yang akan menangani ya" Ucap Brandon.
"Itu bener, mungkin kalian juga lelah setelah ditawan oleh Zenus. Jadi kalian pulanglah, Andre sepertinya sudah tidak kuat berlama-lama di sini" sambung Markus.
"Terimakasih dad, paman. Pah, ayo kita pulang sekarang" Ucap Andre yang mengajak.
"Baiklah, jika itu keinginan mu nak. Kami akan ikuti permintaan mu, ayo Monika, Bu Siti dan pak Yusman. Kita siap-siap untuk kembali ke Indonesia, Glenn telfon zet kami" Ucap Arafif yang bergantian bicara.
^^^🕛30 menit kemudian...^^^
Glenn datang untuk memberi tahu jika persiapan sudah siap, pesawat juga sudah datang. Jadi tinggal pergi ke tempat landasan, istana ANDRILOS memang lengkap ada halaman untuk lepas landas pesawat sendiri.
"Itu pesawatnya?" Tanya Yusman yang takjub saat melihat benda besi itu, pesawat pribadi milik keluarga ANDRILOS yang super cepat dan canggih, terlihat sangat mewah.
"Iya, Ayah" Ucap Andre yang masih bisa tenang saat melihat mertuanya itu, sambil membantu ayah mertua jalan mengunakan tongkat.
Berada di dalam pesawat, Monika duduk bersebelahan dengan suaminya Arafif. Siti dengan suaminya Yusman, hanya Andre yang sendiri dengan wajah yang tampak sekali gelisah yah.
"Pah! Aku juga merasakan ada yang aneh sama kelakuan anak itu, semenjak kita keluar dan bertemu tadi di istana ANDRILOS, dia juga sudah tampak gelisah" Ucap Monika yang langsung menatap Andre, sedang melihat indahnya awan-awan.
"Iya, dari tadi andre memang sudah gelisah, dia bilang selalu khawatir dengan Elisa. Entahlah? apa yang dirasakan, kayaknya andre tidak bisa jauh dari Elisa" Ucap Arafif yang juga melihat andre terlihat tidak bisa tenang itu.
"Apakah terjadi sesuatu sama Elisa pah?" tanya monika yang khawatir.
"Jangan doain yang enggak-enggak, kita doain semoga mereka baik-baik saja di Indonesia" Arafif yang menegur istrinya berkata yang tidak baik.
"Saya juga jadi gak tenang Bu, kalau kayak gini. Jadi ikutan kepikiran, si teteh dan adek di rumah" sambung bu Siti yang dari tadi hanya mendengarkan percakapan Arafif dan Monika.
"Tuh kan mah, kamu sih ngomong sembarangan aja, bikin panik Bu Siti kan" Ucap Arafif.
"Iya maaf pah, bu siti dan pak yusman jangan mikir yang nggak-nggak dulu, ini hanya kepikiran khawatiran saya saja, kalian tahukan jika saya punya penyakit paranoid, habis lihat muka ekspresi Andre begitu jadi saya ikutan khawatir" monika yang membela dirinya, agar siti juga yusman agak tenang.
^^^🏥 INDONESIA, RUMAH SAKIT^^^
Terlihat Try yang sedang sibuk menangani Elisa langsung, di ruangan lantai atas kelas khusus, VVIP. Sedangkan Junlion yang mengantikan posisi Try, karena saat ini kondisi Elisa malah jadi kritis tingkat 3. Makin panik, Try di buat kalang kabut dengan kondisi penurunan Elisa itu.
"Gawat, jika begini aku benar-benar akan di penggal oleh Andre. Elisa kenapa kamu tega melakukan ini padaku? saat Andre tidak ada."
"Try, loh udah selesai" tanya Jun yang masuk keruangan.
"Jangan banyak tanya kau, Elisa sekarang jadi tambah kritis tahu. Kamu ngerti soal tes DNA kan, tolong cek darah Elisa di ruangan LAB sana" ujar Try yang sangat panik.
"OKE! mana?" tanya jun yang menanyakan darah yang akan di tes.
Junlion langsung pergi meninggalkan ruangan itu, Azril yang jadi tidak berangkat ke sekolah gara-gara tetehnya masuk rumah sakit.
Try yang keluar ingin tahu apa saja yang di makan dan minum Elisa, pokoknya makanan yang masuk ke dalam tubuh Elisa.
"Azril, kamu tahu tidak apa yang di makan dan minum, teteh kamu selama periode dia sakit?"
"Teteh kenapa, dia baik-baik saja kan mas" ujar azril yang panik.
"Zril, tetehmu akan baik-baik saja jika kamu jawab apa yang aku tanyakan tadi, secara terbuka tidak ada yang kau sembunyikan atau terlewatkan" ujar Try yang menegaskan.
"Hari minggu pagi itu, teteh ngeluh katanya tidak enak badan, teteh minta di ambilkan obat. Terus, dia makan bubur ayam yang ku beli di sekitar lingkungan rumah, siangnya bu eni yang siapkan makanan, terus malamnya azril bikin sup bayam sama nasi. Terus hari senin, pagi azril bikin bubur dengan sayur asam, siangnya bu eni yang masak, terus malamnya azril bikinin teteh, nasi kepal. Soal minumnya, selalu teh hangat dan air putih hangat. Sudah mas Try itu saja yang aku tahu, soal apa yang di masak bu eni, azril kurang tahu"
"Lalu dia pernah minum obat apa saja, semenjak dia sakit?" tanya Try masih merasa ada yang mengganjal.
" Hmph? obat asam lambung itu juga ada di kotak obat milik mas andre, terus obat masuk angin itu juga ada di kotak obat. Oh! kemarin malam azril ke apotek beli obat turun panas, karena dua hari itu demamnya ngga turun-turun panasnya, jadi aku beli obat di apotek"
"Apa mereknya?"
"Nggak tahu, tapi azril sempat foto sebelum di minum sama teteh"
"Mana fotonya?"
Azril memperlihatkan foto obatnya, dan baru sadar jika obat yang di beli dengan yang di minum tetehnya, tadi malam cukup berbeda. Mungkin semalam, karena panik dan khawatir azril jadi teledor ngasih obat ke tetehnya.
BERSAMBUNG ...
Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...
Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.
Senin 7 Maret 2022.