
Setelah sarapan itu Andre mengantar adik ipar ya ke sekolah karena sudah waktunya Azril berangkat. Selama perjalan itu, mereka membahas banyak hal, soal rencana untuk menyembuhkan si Ben, gimanapun caranya.
"Mas Andre, nanti akan ku beritahu lagi rencana cadangannya setelah pulang sekolah, itu juga kalau ketemu ide lainnya. Kalau nggak! Nanti maukan kita pikirkan sama-sama." ucap Azril yang akan keluar dari dalam mobil.
"Oke, kamu hati-hati ya." ucap Andre yang mengatakan itu pada adiknya.
"Eh, apakah tidak kebalik, seharusnya aku yang bilang begitu pada Mas Andre," ucap Azril yang membuat Andre salah tingkah.
"Ouh iya yah. Yaudah maafkan, saya ulangi. Azril selamat belajar, jika ada apa-apa kabari yah" ucap Andre yang menerima uluran tangan Azril yang minta salaman itu. Azril mencium punggung tangan Andre.
"Iya, Mas Andre juga hati-hati juga mengemudi mobilnya jangan melamun yah." Peringatan dari adik iparnya.
"Baiklah, terimakasih batas perhatiannya." ucap Andre yang langsung jalan menuju rumah sakit.
Sesampainya di sana, Andre merasa ada yang aneh akhir-akhir ini pengawalnya semakin berkurang saja. Aoda juga jarang menghubungi Andre, terakhir setelah menemukan Ben di London. Lalu Glenn ada di sini, dia juga sering tidak terlihat karena sibuk penyelidikan dengan Zacky.
"Tunggu dulu kok perasaan ku gak enak. Kenapa, semakin hari kok pengawal ku semakin berkurang saja yah, pada kemana nih orang. Perasaan aku tidak memerintahkan kepada siapa, kecuali Zacky dan Glenn. Walau ku bilang jangan terlalu menonjolkan diri, tapi semuanya tampak ada yang berbeda dari formasinya." Gerutu Andre saat melihat sekeliling rumah sakit.
"Andre... Lu ngapain si, kayak orang binggung. Datang-datang planga- plongo gitu, mikirin gue ya" ucap Junlion yang menyenderkan tangannya di punggung Andre.
"Aku masih normal Jun, Ngapain aku memikirkan kamu. Bagaimana dengan bangsal 7 yang waktu itu, ibu itu mau di operasi?" Tanya Andre.
"Wah, Andre-andre. Bahasanya selalu saja kerajaan, masih pagi juga lu ini membosankan tahu gak, kalau ngomong itu yang lainnya gitu jangan soal kerjaan melulu." ucap Jun yang ngambek.
"Hmm, baiklah aku ganti pertanyaan. Apakah kamu rujuk sama Selena? atau Irene? Jadi kamu mau pilih yang mana du antara mereka, atau dua-duanya kamu nikahi lagi?" ucap Andre yang ikutin cara Jun kalau lagi kepo.
"Wah mulai nih, kumat lagi... Daaah, aku mau ngecek bangsal lainnya" ucap Junlion yang langsung kabur.
"Eh, Jun kamu belum jawab kok malah pergi. Jawab dulu kamu pilih yang mana?" ucap Andre yang suara agak keras.
"Bodo amet, terserah kau saja deh! ngomong apa?" ucap Jun yang langsung pergi.
"Bangsal 7 gimana?" ucap Andre yang menanyakan kembali pada Jun.
"Belum ku bujuk, kau saja yang bujuk. Kamukan idola semua ibu-ibu, bye-bye aku kabur dulu" ucap Junlion yang langsung pergi menjauh dari Andre.
"Dasar Junlion, jika bahas soal sendiri malah kabur." gerutu Andre yang kesel tapi yah gimana lagi temennya emang gitu.
"Ada apa paman, Junlion mau kemana?" Kevin yang datang dari belakang mengangetkan Andre.
"Biarkan dia, emang aneh tuh anak. Gimana soal Ben, ada kemajuan?" ucap Andre yang tanya pada Kevin.
"Tentu saja, tapi sepertinya agak aneh dengan sikapnya. Aku kan jelaskan, sambil jalan saja paman." ucap Kevin, mereka akan pergi menuju lantai atas.
Andre mendatangi Ben yang saat ini sedang duduk di dekat jendela dengan kursi rodanya.
"Apa yang sedang kamu lakukan Ben, kamu ingin keluar untuk jalan-jalan dan menghirup udara segar!" tanya Andre, seraya mendekati Ben. Jawaban dari Ben hanya diam, bibirnya mulai bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Baiklah, aku akan mengajakmu jalan-jalan. Apakah aku sudah makan? Kamu ingin makan apa?" seperjalanan Andre terus saja mengajak mengobrol Ben, hingga sampai di halaman lingkungan rumah sakit.
"Ttt..Ttt..tuan..." suara Ben terbatah-batah, karena menarik nafasnya terlalu lama.
Andre sangat senang. "Huh? Tadi kamu memanggil ku?" ucap Andre yang menatap tajam.
Ben menundukkan kepalanya, seraya menganggukkan kepalanya pelan-pelan. "Panggil aku sekali lagi, aku tak mendengar dengan jelas." ucap Andre yang masih tidak percaya jika Ben akhirnya mau membuka suara.
"Tuan, apa... Boleh... Saya... Minta, benda itu kembali?" ucap Ben yang terbatah-batah.
Andre tersenyum lebar mendengar hal itu, langsung memeluk Ben dengan sangat senang sekali karena ada titik terang bagi Ben sembuh. Ben kebinggungan sekaligus kaget dengan sikap tuannya tersebut, tapi Ben memeluk Andre kembali.
"Tadi kau minta apa padaku?" setelah melepaskan pelukannya.
"Ben..da yang kem..arin, yang an..da minta." ucap Ben yang terbatah-batah.
"Katakan untuk apa, kamu memintanya?" tanya Andre yang begitu ingin tahu.
"Main, saya... ingin... main." suara Ben yang masih terbatas.
"Baiklah, aku akan memberikan benda itu kembali, dengan satu syarat. Bisakah kamu memberitahuku siapa yang memberikan benda ini padamu," ucap Andre yang mengikuti rencana adik iparnya.
"Saya, tidak tahu" jawab Ben yang memang belum sempat kenakalan dengan Azril.
"Jika kamu bertemu dengannya lagi, kamu harus tanya namanya. Faham?" ucap Andre yang ingin Ben mengikuti rencana yang telah di buat Azril.
Ben mengangguk kelapanya pelan-pelan, tanda dia mengerti dan menerima perintah. Tak lama, Ben mulai main game kembali, setelah di antar oleh Andre ke halaman. Lalu meminta seseorang untuk menjaga Ben dari jauh, karena Andre ingin mengurus sesuatu yang mencurigakan lainnya.
Di sisi lain, rumah kediaman Bu Siti yang sekarang ribut-ribut karena pak Yusman sedang mengadakan acara sosial, membagikan sedekah karena panen ikan ya sukses besar.
"Teh, mau kemana?" tanya Bu Siti saat melihat putrinya sudah rapi dengan tas jinjing isi kotak makan Andre.
"Nganu Bu, ngaterin makan siang buat Mas. Nanti dia gak makan, Elisa ke rumah sakit dulu ya bu" ucap Elisa yang akan pergi, kebetulan adiknya juga pulang.
"Assalamualaikum..." ucap salam Azril yang baru datang.
"Walaikumsalam" jawab kompak semua orang yang ada di sana.
"Lah dek, tadi kamu berangkat sama Mas Andre kok pulangnya bawa motor?" tanya Elisa yang kebingungan.
"Tadi pagi sudah Azril bilang kan, jika motor Azril lagi di bawa di bengkel dan akan di ambil nanti pulang sekolah Teh, lupa yah" ucap jawab Azril yang menjelaskan.
"Iya-iya teteh lupa, kan teteh juga mana tahu," ucap Elisa.
"Yasudahlah, sekarang Teteh mau kemana?" tanya Azril yang melihat tetehnya sudah siap-siap ingin pergi.
"Yaudah, Azril anter. Yuk naik, sampai tujuan di jamin aman kalau berangkat sama Azril," ucap Azril yang langsung menawarkan diri dengan semangat.
Tanpa pikir panjang, Azril langsung saja memakaikan helem ke tetehnya. " Bu, Azril sama teteh pergi dulu yah... Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, ati-ati zril" ucap Bu Siti.
Sesampainya di rumah sakit, Elisa dan Azril beda tujuan. "Kamu ngapain masih mengikuti teteh, kamu mau kemana?" tanya Elisa binggung.
"Ge–er banget si teh, siapa lagi yang ngikutin teteh. Orang Azril mau ke taman di belakang itu, teteh lama kan di sini, yaudah biarkan Azril mau main game di sana" ucap Azril yang langsung pergi ke taman, dengan jalan yang sangat cool, tangan ia masukan ke saku celana dan tangan satunya menenteng sebuah tas karton.
"Anak itu aneh banget sih, sudahlah." ucap Elisa yang langsung melanjutkan perjalanan, beberapa orang menyapa Elisa yang sudah tahu siapa Elisa sebenarnya.
Sesampainya di halaman dimana Ben saat ini sedang asik main game, wajahnya terlihat membaik karena sudah bisa tersenyum dengan sangat mudah. Azril melihat dari jauh terdiam sejenak sebelum menghampiri Ben.
"Sepertinya kamu sangat menyukainya?" ujar Azril yang berjalan mendekati Ben.
Ben kaget, lalu melihat sumber suara dengan senang saat melihat Azril. "Bagaimana, kau senang?" tanya Azril kembali.
Ben langsung memberikan gamemot itu pada Azril. "Kenapa? Kenapa kau langsung menyodorkan ini kepada ku, kau ingin memberikan ini lagi kepadaku?" tanya Azril.
Ben hanya menganggukkan kepalanya, Azril langsung mengambil kembali. "Milikmu... Itu.. sudah...level 5." ucap Ben yang terbatah-batah.
"Hah? sudah level 5, cepat sekali. Aku butuh 1 Minggu untuk sampai tahap level 3, sedangkan kau dalam waktu singkat sudah berhasil level 5. Kamu sepertinya berbakat yah, tolong ajari aku?" ucap Azril yang langsung duduk di kursi.
Ben menganggukkan kepala dengan wajah secerah mentari pagi, lalu Azril memberikan tas karton itu pada Ben.
"Bukalah, ini baru untukmu. Ku belikan secara khusus, sebagai hadiah pertemuan kita. Ey, jangan kamu menolaknya. Di dalamnya ada no kontak ku, kau bisa menghubungi ku kapanpun kau mau, bahkan kita bisa main game online secara visual walau jarak jauh, dengan komunikasi dalam game. Keren kan, jadi ambil ini" Azril menjelaskan dengan sangat detail.
Ben sangat senang dengan benda di tanganya itu, jenis benda yang jadi favorit bagi kalangan remaja. Game online, itu di mulai Ben mengajari Azril dengan sangat baik. Ben juga banyak bicara dan bercanda gurau dengan Azril, di sisi lain di atas balkon teras atas terlihat Andre yang sedang berdiri sambil melihat Azril dan Ben.
"Jadi ini maksudnya?" ucap Elisa yang melihat Azril yang sangat akrab sekali dengan Ben.
"Apa?" Andre melihat Elisa yang saat ini melipat tanganya seperti sedang marah.
"Kamu memanfaatkan adikku!" ucap Elisa yang tidak terima.
"Siapa yang telah memanfaatkan adikmu sih, orang Azril ingin membantu ku" ucap pembela Andre.
"Hmph! Pantesan saja Azril tadi sangat semangat sekali untuk mengantarkan diriku. Jadi ini tujuannya!" ucap Elisa yang agak kesal.
"Hah? Azril sendiri kok yang—" belum sempat melanjutkan ucapan sudah di potong oleh Elisa.
"Lalu apa gunanya ada Kevin di sini, suruh dia pulang sana" ucap Elisa yang menatap sinis pada Kevin.
"Woy, Elisa aku bisa dengar tahu" ucap Kevin yang saat ini sedang duduk dengan Zacky.
"Lagian gak ada gunakan kamu ada di sini, toh nyusahin aku" ucap Elisa yang jutek.
"Wah, kejamnya kau Elisa... Sakit hatiku, telah kau campak aku." ucap Kevin seraya memegangi dadanya.
"Lebay kau. Kalau begitu setelah Ben sembuh apakah dia akan mengatakan semua ya," ucap Elisa yang jengkel dengan Kevin.
"Entahlah, makanya kita berdoa saja. Karena kita belum tahu siapa dalang yang telah melakukan hal ini pada kita," ucap Andre yang sangat penasaran dengan seseorang yang sangat misterius.
Kembali pada Azril dan Ben yang sedang asik sedang main game online, sisi lainnya ada seseorang yang memperhatikan Ben dan Azril hingga melihat Andre dan lainnya, iya seperti sedang mengawasi pergerakan Andre saat ini. Berkomunikasi lewat earphone di telinganya, entah siapa dia.
"Ouhnya kamu bilang katanya game ini si rampas, boleh aku tahu tidak siapa yang telah mengambil gamemot ini darimu?" ucap Azril yang ingin memancing Ben, karena si rasa Ben sudah agak nyaman mengobrol dengannya.
"Pemilik rumah sakit, dia tuanku?" ucap Ben yang sudah tidak canggung lagi biara dengan Azril.
"Aku tidak tahu, jadi katakan siapa namanya?" ucap Azril yang terus saja berusaha untuk membuat Ben bicara.
"Dokter Andre! Itu namanya, apakah kamu bukan orang jahatkan?"
"Hahahaha, dasar kau ini. Jika kamu katakan begitu, atau bertanya begitu jelas dia akan bilang aku bukan orang jahat, untungnya kamu mengobrol dengan ku. Jika bicara dengan orang asing kamu harus hati-hati, aku termasuk orang asing" ucap Azril yang menjelaskan.
"Begitukah? lalu apakah kamu—" ucapan Kevin terhenti karena rasa takutnya mulai muncul kembali.
"Jangan khawatir, aku anak baik-baik kok" ucap Azril yang masih di fokus main game.
"Lalu, siapa namamu?" ucap Ben yang menatap ke arah Azril yang sendang fokus main game itu, azril tersenyum tipis.
Bagus, dia sudah masuk pertanyaan inti. gerutu dalam hati Azril yang sesuaikan dengan alurnya.
"Kau ingin tahu namaku, Ah- iya kita belum kenalannya, walau sudah lama kita mengobrol malah belum sempat kenalan," ucap Azril yang pura-pura lupa dengan hal itu.
Azril mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ben, dengan tatapan teduh dan sayunya. "Kenalkan, namaku... Azril, selebihnya jangan kamu tanyakan. Biar itu jadi bahan untuk pertemuan kita selanjutnya, Ah- aku lupa memberi tahuku, selama seminggu kedepan aku ada ujian. Jadi mungkin aku tidak datang, karena fokus mau ujian. Aku akan datang lagi sambil duet lagi main game denganmu, kau maukan kolaborasi denganku?" Ucap Azril dengan senyuman mengembang.
Ben juga tampak sangatlah senang. "Baiklah, aku akan menunggu mu, janji ya kau akan datang saat Minggu." ucap Ben.
"Pria sejati tak akan mengikari janji yang sudah di ucapkan, karena janji pria sejati adalah hutang seumur hidup. Tos sebagai bukti janji kita, gumpalan tangan mu, kita tos alah anak geng" ucap azril yang mengepal tangannya lalu ia sodorkan ke arah Ben. Ben juga menerima tos itu.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...
Kita akan berjumpa lagi di EPISODE SELANJUTNYA. BYE...
Jumat 1 April 2022.