Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
110. Mertua Datang.


Sehari setelah kejadian di pulau malam itu, Elisa dirundung kemalangan yang sangat tak bisa ia ungkapkan dalam kata-kata walau dia Istri dari seorang pria bernama Andre Azzam Arafif, tapi tak bisa ia pungkiri jika suaminya cukup banyak yang menyukainya, malam setelah kejadian itu semua kariyawan kompak ingin segara kembali ke kota.


"Dokter Andre kami ingin kembali sekarang bisa tidak!" Kariyawati 1


"Iya dok, kami ingat belum beberes koper" Kariyawati 2


Jadi semua pekerja menginap lagi di kapal, hanya Elisa, Andre dan para pelayan istana Monarfi yang tidak ikut naik kapal pesiar, karena Elisa mabuk perjalanan laut makanya Andre langsung memesan seseorang untuk mendatangkan pesawat terbang pribadi miliknya ke pulau.


"Kamu mau kemana?" Tanya Andre yang melihat Elisa sibuk merapikan barangnya.


"Mau ikut mereka lah, tapi apakah aku masih di terima" Ucap Elisa khawatir.


"Kamu ingin menghindari mereka? kita bisa pakai kendaraan lainya" Tawar Andre yang melihat wajah Elisa yang sudah muram lesu.


"Hah! maksudnya?" Ucap Elisa binggung dengan ucapan Andre.


"Sayang aku tahu ini sulit, aku minta maaf yah gara-gara aku jadi seperti ini. Aku tidak tahu jika akan berakibat secara seluruh begini, ketakutanmu sekarang menjadi kenyataan. Maafin yah" Ucap Andre yang langsung mengecup kening Elisa dengan lembut.


"Sudahlah, toh mereka hanya dapat melakukannya karena aku bawahanmu tidak berefek padamu" Ucap Elisa yang merasa cukup tegas dengan resiko yang harus ia hadapi saat ini.


(Seharusnya aku berfikir seperti ini sebelumnya, aku ini tak bisa berbuat apa-apa untuk melindunginya, maafkan aku sayang) Dumal Andre penuh penyesalan.


"Tak ada guna juga menghindari mereka, jika kamu pecat mereka baru itu namanya aman, tapi karena mereka semua pekerja kamu pasti akan sulit kamu mencari gantinya, yah walau kamu bisa mencari dengan orang lain tapi itu pasti butuh waktu lama. Jika ditambah setiap hari kamu bertemu dengan mereka, apa yang direspon dari wajah-wajah baru. Lagi pula cepat atau lambat hubungan kita juga akan terungkap, aku juga tahu kamu pasti sudah lelah kan jika harus bermain petak umpat seperti ini, sekarang kamu bisa lega hubungan kita tak akan disembunyikan lagi" Ucap Elisa yang menatap Andre yang sekarang sudah duduk diranjang.


"Iya juga sih, tapi aku bisa kok melepaskan mereka demi kamu" Ucap Andre yang menyepelekan masalah tersebut.


"Jangan konyol, mungkin menurutmu itu tindakan efektif dan tidak masalah bagimu, karena harus merugi. Tapi coba kamu pikirkan jika kamu pecat mereka, yang paling merasa di rugikan disini adalah mereka. Sedangkan mencari pekerjaan sekarang sangat sulit, dan mereka pasti akan sangat membencimu. Tapi mereka akan semakin lebih-lebih membenciku, karena mereka pikir aku telah mengadu dan mengendalikan mu" Ucap Elisa yang menjelaskan.


"Tapi sayang, aku tidak mungkin membuat kamu terlihat tidak baik seperti itu. Aku sangat menyesal telah membuat mu begini" Ucap Andre yang sudah kacau.


"Mas Andre, bagi mu itu baik. Tapi bukan itu jalannya, biarkan saja mereka berkata apa tentang ku, aku anggap mereka sedang iri padaku. Kapan kapal yah tiba, aku akan segera kesana" Ucap Elisa langsung mengalihkan pembicaraan.


"Kapal ya sudah jalan, setengah jam yang lalu. Kita naik pesawat saja, kamu mabuk perjalanan laut" Andre yang langsung pergi.


"Kok jadi dia yang sewot, seharusnya disini aku dong yang marah! Galakkan si pelaku dari pada korban, aneh" Dumal Elisa yang Kebingungan dengan sikap Andre.


Keesokan paginya, karena Elisa sudah berjanji dengan Rudi untuk membantu membeli oleh-oleh untuk di bawa ke Indonesia, Elisa juga sudah minta kartu id ATM yang sama seperti pekerjaan lainya pada Andre tapi itu gagal, Andre tak memberikannya malah ia menyuruh untuk gunakan kartu card gold saja.


^^^~ ISTANA MONARFI^^^


Dikamar tidur mereka, Elisa yang terlihat sudah rapi sibuk membereskan kasur sedang Andre ada di kamar mandi, tak lama Andre keluar melihat istrinya sudah pakaian rapi dan sangat cantik.


"Mau kemana?" Tanya Andre yang baru buka pintu kamar mandi.


"Mas, aku mau pergi ngater mas Rudi beli oleh-oleh, kamu hari ini jadwalnya mau kemana?" Tanya Elisa yang merapikan tasnya.


"Kok gak bilang?" Ucap Andre yang baru kelar mandi di kamar mereka.


"Eh! semalam Elisa bilang loh, terus kamu jawab Iya" Ujar Elisa sambil memakai lipstik.


"Ouh! Aku lupa, kamu tadi minta kartu ATM id kan" Ucap Andre yang mengingat.


"Iya, aku minta itu ke kamu tapi gak boleh" Ujar Elisa yang langsung berbalik badan melihat suaminya hanya pakai handuk saja untuk menutupi bagian bawahnya.


"Udah pake yang black card, atau yang gold saja itu ada di dompet kamu ambil aja" Ucap Andre yang menujuk dompet di atas laci.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi, hari ini jadwal kamu kemana?" Tanya Elisa.


"Ada penutupan di universitas, pamitan sama semua pemateri yah sudah mau bergabung dengan kita" Ucap Andre seraya jalan menuju ruang ganti.


Terlihat sikap semua pekerja RS pada Elisa semua dingin, ya walaupun sejak dulu mereka tidak menyukai elisa tapi ini lebih-lebih, semenjak kejadian malam itu Elisa dikeluarkan dari grup chat dan dikeluarkan dari grup-grup perkumpulan lainnya, tatapan mereka pun semakin membenci Elisa dan itu semakin jelas diperlihatkan oleh mereka.


Perkumpulan semua para pekerja untuk membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Indonesia, Tri dan dokter lainnya berada di gedung lain untuk mengadakan reunian atau penutupan bagi para dokter yang sudah berpartisipasi dalam pelatihan, sedangkan para pekerja mereka sibuk-sibuknya dengan masing-masing urusan ada yang beres dan ada juga yang masih sibuk belanja untuk keperluan dia bawa pulang, Elisa dan Rudi berada di sebuah tempat minimarket yang ada ada disana, Elisa sedang sibuk mencari cemilan di rak atas Rudi malah sibuk mengecek handphone yang dari tadi pagi sudah ramai karena grup chat.


"Gila mereka kok sampai seperti ini sih, ini namanya pembullyan. Elisa coba kau lihat ini, kamu cek grup deh!" Ucap Rudi yang menyuruh Elisa membuka hpnya.


"Emang ada apa di HPmu Mas, kok sampai kamu kesel kayak gitu" ujar elisa yang tidak tau apapun.


"Coba kamu cek handphone-mu, lihat grup kelas atau grup kumpulan lainnya" ujar rudi yang menyuruh elisa untuk mengeceknya.


"Ada hal menarik apa sih? bikin aku penasaran saja" ujar elisa yang mengambil hp di saku baju.


"Mereka itu pasti masih sulit mempercayai aku sebagai istri SAH dokter kesayangan mereka, emang kenapa mereka harus membicarakanku" elisa yang kebingungan karena sepertinya elisa baru saja di keluarkan.


"Iya mungkin, mereka pasti masih syok dengan kejadian malam itu, atau mereka sangat tidak percaya jika kau melakukan hal semacam itu saat di pulau" ujar rudi yang mengingatnya.


"Apa salahnya, diakan suamiku! akan terlihat aneh jika dia melakukan dengan wanita lainkan, mereka saja yang terlalu baperan, emang apa masalahnya Andre itu milikku" ujar elisa yang membela dirinya sendiri.


"Tapi semua orang tidak kan tidak menganggapnya seperti itu, lihat bahkan ada yang mengatakan jika kamu sengaja menggoda Andre, bahkan ada juga mengatakan kamu itu murahan dan munafik, sok-sokan membicarakan soal harga diri padahal kamu sendiri sama jallangg ya seperti wanita yang di bawa Bagas dan Luky, ada juga yang mengatakan jika cewek yang di sebut jablayy olehmu itu lebih baik dari pada kamu, sudahlah coba kamu baca sendiri di grup! tahu kalau kamu itu istrinya wajarlah kalau mereka sedang bergunjing tentang dirimu" Ujar Rudi yang saat ini mengscroll grup chatnya.


"Apa salahku pada mereka, hingga separah itu masalahnya bagi mereka, sampai mengataiku begitu kejam" Elisa yang semakin geram dengan hal itu tapi sayangnya Elisa tak bisa memberikan komentar apapun.


"Ya jelaslah itu sudah menjadi masalah, saat Andre di kabarkan tunangan saja sudah banyak yang membicarakan, apa lagi saat tahu Andre menikahimu secara diam-diam seperti itu, tentu saja menjadi masalah sebelum Andre jadi suamimu, kan dia cukup populer di kalangan kaum wanita" Penjelasan Rudi yang masih sibuk pala-pilih barang.


"Kayaknya aku dikeluarkan dari grup deh? lihat nih tidak ada chat masuk sama sekali, masih kosong melompong seperti ini" Elisa menunjukkan layar hpnya.


"Wah! benar bahkan Yayah dan Reza juga sepertinya dikeluarkan nih! gara-gara mereka membela mu" Ujar Rudi yang memperlihatkan lagi hpnya.


"Ya sudah biarkan saja mas, kamu jangan komentar apapun tetap didalam grup untuk memantau pembicaraan mereka, toh waktu akan berlalu dengan cepat" Ucap Elisa sok tegar dan bijak padahal dalam hatinya sangat kesal.


Tiba-tiba suara deringan yang sangat nyaring terdengar dari tas Elisa, ternyata itu handphone Elisa yang berbunyi tertera nama mamah mertua.


"Aaduh~ gawat, mamah kayak dengar gosip ini gak yah, bisa berabe nih urusanya" kekhawatiran elisa.


"Kenapa lis, kamu sakit?" Tanya Rudi yang khawatir.


" Nggak mas, ini hp aku bunyi" jawab Elisa ada rasa takut dan khawatir dalam benaknya.


"Ada apa? jangan ngagetin gitu dong! ya kamu tinggal angkat, emang dari siapa. Suamimu?" Tebak Rudi yang tak menoleh fokus pada rak-rak di sampingnya.


"Ini itu panggilan yang sangat serius, saking seriusnya aku sampai keringat dingin untuk mengakat panggilannya lho mas, tu tu tu liat. Nelfon lagi kan, aduh~ gimana ini? aku angkat gak yah?" Ucap Elisa begitu sangat panik dengan panggilan tersebut.


"Ya ammpun lisa-lisa, ku pikir panggilan dari siapa, coba kamu angkat siapa tahu itu hal yang penting. Itu mamahmu juga, gak boleh loh mengabaikan panggilan orang tua, durhaka kamu nanti. Walaupun dia mamah mertuamu tapi kamukan menikah dengan anaknya sudah jadi tanggung jawabmu sebagai anak" Penjelasan Rudi membuat Elisa memantapkan dirinya untuk mencoba mengakat panggilan.


"Aaduh~ kok aku jadi deg-degan ya" Ujar Elisa masih mencoba menyakinkan hatinya.


"Udah cepat angkat jangan kebanyakan mikir yang nggak-nggak deh! Elisa cepetan" Ujar Rudi yang maksa Elisa agar cepat mengakat panggilan dari mamah mertuanya.


"Walaikumsalam, halo mah ... Eh? mas Andre. Tapi Elisa lagi sama temen di luar ... Iya bukan sama Mas Andre ... Mas Andre lagi ngadain rapat penutupan sama para dokter pemateri ... Iya ini Elisa lagi keluar iya agak jauh dari gedung dimana mas Andre berada... mas Andre juga sama temen-temennya... iya nggak sama Mas Andre... Emangnya kenapa sih mah... apa!!! yang benar mama udah nyampe bandara, sekarang? ya udah- ya udah Elisa kesana buat jemput mamah dan papah yah... Iya Elisa kesana sekarang sama Mas Andre... Oke! iya udah Mamah sama papah di sana dulu tunggu Elisa sama Mas Andre datang ya... kalian kok nggak bilang-bilang sih kalau mau ke sini... Ya udah ya udah elisa tutup panggilannya... Assalamualaikum"


"Gimana lis, ada masalah apa? kok kamu kayak panik banget" Tanya Rudi yang juga sangat khawatir.


"Nganu mas, itu- aduh~, gimana jelaskannya, gini mas. Mamah dan Papah sudah ada di bandara katanya mereka minta di jemput, Mas Rudi nggak apa-apa kan aku nggak nemenin belanja-belanja yah" Ujar Elisa yang kalang kabut.


"Ya udah sana cepat pergi, kamu tunggu apa lagi, aku nggak apa-apa, kamu pergi aja sekarang" ucap rudi yang menyuruh elisa cepat pergi.


"Maaf yah Mas aku tinggal" ucap elisa merasa nggak enak sama Rudi.


"Iya nggak apa-apa, kamu sama siapa kesananya. Ajak suamimu sana, cepet cari Andre dimana?" ujar rudi yang malah ikut-ikutan panik.


"Iya-iya ini lagi aku coba untuk menelpon dia dulu, aduh kok malah gak tersambung-sambung sih" Ucap Elisa kesal sekali.


"Hp-nya enggak aktif mungkin atau dia lagi sibuk banget atau kamu yang lupa nge-charge HPnya Andre-lis?" Tebak Rudi yang sekarang sudah hafal karena saking seringnya elisa curhat kecerobohan Andre.


"Nggak lah! aku gak pernah lupa buat charge hp dia, lagi pula tuh orang jarang megang hp, suka di tergeletak begitu saja nyebelin banget orang kalau lagi masalah penting kayak gini hp-nya susah banget di hubungin"


" Lis, coba kamu nelpon Kevin atau Tri Rohman deh! atau Kamu punya nomornya siapa gitu buat dihubungin" saran rudi yang masuk akal.


"Ya udah, ini aku lagi coba mau nelpon dokter Tri" ujar elisa yang menekan tombol nama Dokter try.


"Halo Dokter Tri... Maaf sudah menganggu... apakah masih lama rapatnya... ouh! udah kelar sekarang... terus kalian lagi ada di mana ngadain pertemuannya... di mana itu yah... oh di gedung 5 lantai 7, ada Mas Andre nggak... Ya udah iya, dok tolong bilangin sama Mas Andre buat tunggu aku di depan gedung gitu... hah! harus yah aku kesana... yaudah iya-iya" jawab panggilan elisa.


BERSAMBUNG...


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.


Rabu 12 Januari 2022