Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
16. Rencana Mengirim Elisa.


Di dalam suasana mobil arafif yang akan pulang dari tempat perkumpulan dokter di kota yang setiap bulannya di agendakan, arafif malah melamunkan bukan khawatir soal rapat dokter itu atau masalah-masalah yang di hadapi para dokter tapi malah kepikiran soal Elisa dan monika.


(" Bagaimana kehidupan Rumah tangga putraku akan bahagia jika seperti ini jadinya, kasihan Elisa pasti tertekan sekali di rumah, apakah dia akan baik-baik saja yah di rumah meninggalkan dia dengan monika?") Dalam lamunan arafif masih sempat memikirkan andre dan menantunya itu.


Dari kaca spion pak Sofyan yang tadinya fokus ke jalan malah langsung membuka pembicaraan.


" Ada apa masalah apa pak di rapat tadi, sampai membuat anda sampai kepikiran begitu! " Tanya pak Sofyan.


" Aaah! saya bukan lagi memikirkan soal rapat, malah lagi kepikiran sama menantuku, kasihan juga Elisa. Belum juga genap dia 1 Minggu tinggal di rumah kami, ada aja masalah datang dari yang di tinggal andre ke new york, terus monika yang terus nuntut elisa, aduh~ jadi nggak tega. Saya jadi merasa bersalah dan nyesel bawa anak orang menderita." Ucap frustasi arafif.


" Ha-ha-ha 😁 sabar pak, nyonya itu hanya ingin neng Elisa itu lebih peduli sama den Andre, karena mungkin di kira si neng Elisa itu nggak tulus sayang sama den Andre makanya begitu jadinya, apa lagi den Andre dan neng nuntut-nurut saja orangnya" Ucap pak Sofyan.


" Elisa pasti ngeluh nggak pak Sofyan, saat di dalam mobil atau kapanpun gitu pernah cerita gitu atau nggak sengaja denger" Ujar arafif yang sangat penasaran.


" Hahaha iya sih pak tapi neng Elisa kan lagi beradaptasi dengan lingkungan dikeluarga anda jadi butuh waktu juga untuk neng Elis buat memahami seisinya." Ucap Sofyan yang menenangkan arafif.


" Bener juga yang dikatakan anda pak Sofyan, aku harus bisa memberikan penjelasan pada Elisa terkait ini" Ucap arafif.


" Ini sebuah saran masukan saja sih pak gimana kalo pak arafif telfon den Andre buat jemput neng Elisa, itu akan bagus bagi hubungan mereka kalo mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama akan ada hal baik juga" Ucap pak Sofyan.


" Iya juga yah pak, tapi gimana caranya buat bujuk Elisa untuk nyusul Andre kesana?" Tanya arafif sambil berfikir keras.


" Lah neng Elisa juga anaknya penurut, bapak tinggal bilangin secara pelan-pelan, terus bilang mau sampai kapan neng Elisa di gituin sama nyonya, nah pasti neng Elisa akan berfikir tuh" Ucap pak Sofyan.


" Hemm --nggak tahu deh pak atau aku juga telepon Andre aja buat jemput Elisa"


" Wah itu ide bagus, atau suruh aja den bagus buat omongin baik-baik ke neng Elisa biar den andre aja yang bujuk neng Elisa buat kesana!"


"Masalahnya putraku itu sangat mirip sekali denganku tidak pandai untuk membujuk orang dan tipe suami takut istri 🤦, atau seandainya Elisa itu barang yang bisa ku kirim aja dia kaya paket! Eh?! Paket, Kayanya aku punya ide deh pak" Ucap arafif baru ke inget masalah itu.


" Lah kenapa nggak bicara baik-baik saja pak sama neng Elisa ya?" Ucap sofyan.


" Aduh pak Sofyan masalahnya Elisa ini keras kepala dia nggak akan pergi walau aku sudah bujuk dia, mau saya juga menghibur elisa tapi aku gak pandai buat hibur jadi satu-satunya yah kirim Elisa ke new York"


" Yoh dibilangin baik-baik, kalau dibilangin sama anda mungkin akan nurut kaya den Andre" Ujar pak Sofyan.


" Nanti aku coba buat ngomongin, kalo itu gak berhasil pake rencana B kirim dia secara diam-diam ke new York, terus suruh orang buat jemput Elisa di bandara atau nelpon Andre."


" Iya begitu saja pak saya lebih setuju itu " Ucap pak Sofyan.


" Ada hal lainnya juga yang saya khawatirkan yaitu gimana kalau andre juga lagi sibuk, terus aku juga gak tahu Andre tinggal dimana sekarang?" Ucap arafif baru nyadar.


" Yok pak arafif hubungan dahulu aja den Andre tanya toh" Ucap pak Sofyan.


" Sebelum itu saya mau bikin elisa paspor dulu, katanya elisa nggak punya paspor jadi harus dibikin" Ucap pak arafif.


" Ya pak bener di bikin dulu, terus kalo udah jadi nanti tinggal kirim neng Elisa ke sana.


Keesokan paginya Arafif, sedang sibuk dari pagi sudah mengurus berkas-berkas untuk mendaftarkan Elisa buat paspor itu memicu kecurigaan Monica terhadap suaminya, yang seperti menyembunyikan sesuatu di belakang monika, jadi monika terusan saja diikuti kemanapun arafif pergi, sampai ke tempat dimana pembuatan paspor.


Sesampainya di sana Monica tidak mau melewatkan kesempatan untuk memergoki suaminya itu dan ingin menanyakan langsung apa yang sedang di lakukan suaminya di tempat tersebut.


Monika dengan nada suara khas yang cempreng. " Papah! Apa yang sedang kamu lakukan di tempat ini?" Tanya monika yang matanya sudah hampir keluar karena melototi suaminya.


" Monica kenapa kok bisa kamu juga ada disini, jangan-jangan kamu mengikutiku?" Tebak arafif yang kaget bercampur aduk bingung mau cari alasan apa!


" Tentu saja karena aku mencurigai kamu yang bersikap aneh sejak pagi subuh, gerak-gerikmu itu membuat aku khawatir, jadi apa yang sedang kamu lakukan di sini, sudah ketahuan olehku kamu gak boleh banyak ngeles apa lagi, bohongin aku cepat katakan terus terang" Ucap sewot monika.


" Mah tahan dulu emosimu itu, malu di lihat orang!" Dengan suara menggelegar, beberapa orang menatap mereka.


" Kamu lebih mementingkan malu dibandingkan..." Ucapan monika terhenti karena arafif menutup mulut monika dengan tangannya.


" Stop... Ateng dulu yah jangan ngomong apa-apa dulu nanti papah jelaskan, ini papah mau bikin paspor?" Ujar arafif menujukan kertas pendaftaran.


" Nggak bisa papah lepas tangan gitu aja karena ini masih hak dan tanggung jawab papah, karena ini amanah dari orang tuanya sebelum di berikan" Kadang ucapan arafif sulit di mengerti oleh monika.


" Hah? Maksudnya apa sih pah" Tanya monika kebingungan.


" Iya papah kan sudah janji akan jadikan dia anak kita masa papah nggak bisa tanggung jawab sama ucapan papah sendiri"


" Emang itu paspor buat siapa kenapa papah yang harus bikinin, bukannya papah iyu punya paspor sendiri yah baru bikin yang baru di rumah, apakah harus diganti lagi?" Ucap monika kebingungan.


" Mamah ini buat menantu kita si Elisa, kasihan dia kalo kamu suruh dia nelfon Andre tapi kamu juga ingin dia nyusul tapi gimana dia pergi kesana kalo gak ada paspor kan!" Ucap arafif menjelaskan.


" Ada bener juga ucapan papah, jadi papah setuju kalo Elisa nyusul Andre ke new York." ujar antusias monika.


" Iya mah, papah ingin hubungan Andre sama Elisa semakin erat biar nggak ada jarak walau pun jauh nantinya" Penjelasan arafif.


" Papah akhirnya bisa sependapat sama pemikiran mamah"


" Iya ada saat kita punya hal yang sama untuk di lakukan"


" Jadi kapan papah akan kirim elisa ke new York."


" Setelah paspor jadi"


" Jadi Mama juga harus punya rencana untuk keperluan Elisa kesana, apa yah biar mamah pikirkan dulu "


" Iya sekarang papah mau daftar dulu mamah tunggu papah di sana" Ucap arafif menujukan kursi kosong.


" Aku tahu papa pasti akan setuju kalau aku membuat ide ini" Dumal Monika.


Beberapa menit kemudian arafif menghampiri istrinya lagi. " Gimana apakah sudah jadi?"


" Sebentar lagi, sedang di proses"


" Ouhke! Pah gimana kalo kita juga ngadain acara syukuran sekalian resepsi dan ngundu mantu kita disana?" Ide lain yang di pikiran Monika yang sama sekali tidak terpikirkan oleh otak jenius arafif yang sudah tua itu.


" Eh? Ide bagus mah itu papah juga sependapat dan sangat setuju banget sama rencana mamah, tapi kita harus nanya dulu ke Elisa apakah dia mau pergi ke sana atau tidak, lalu apakah dia juga mau ngadain hal seperti perayaan itu di sana?" Ucap arafif sempat memikirkan dan sangat khawatir.


" Yah pah kita paksa saja, usaha kita itu gak akan menyia-nyiakan, ayolah pah bantuin mamah kalo ini berhasil kan kita akan segera punya cucu dari Elisa dan Andre" Ucap monika yang sudah membayangkan berlalu jauh.


" Nanti kalau nggak bilang lagi sama Andre nanti akan di salahin dan Andre bisa marah lagi sama kamu, lebih baik kamu tanya dulu sama Andre mau sekalian satu sesi di sana atau gimana! jangan nentuin itu sendiri nanti yang ada malah kayak pernikahan lagi" Ucap arafif menyinggung soal persiapan pernikahan yang gagal semuanya"


" Papah jangan ingatkan Mama soal itu, aku tahu aku salah maka aku sangat bersalah sama Elisa. Mama jadi sedih nih, Mama ingin menebus semuanya sama Elisa dan Andre."


" Jadi ini alasan Mama terus aja gangguin Elisa karena Mama ingin Elisa itu pergi ke new York untuk hiburan Andre disana begitu"


" Papah Emang pinter banget, Mama juga pengen cepet-cepet gendong Andre kecil. Mamah udah gak sabat buat punya cucu jadi Mama pengen cepet-cepet elisa itu hamil dan berojolin cucu Mama, pengen Elisa itu nggak usah nunda-nunda gitu."


" Ya kalo begitu mamah harus ngomong sama andre nggak usah nunda karena harusnya putra kita yang usaha kan, papah juga pengen cepet-cepet liat baby anak kita selucu apa dia gabungan gadis pemberani sama cowok pendiam yang cuek kaya putra kita itu." Ujar Arafif yang juga jadi membayangkan masa depan cucu mereka.


" Iya juga sih pah yaudah kalau gitu kita request sama mereka cucu pertama harus cewek, atau bila perlu program hamil saja kah kaya waktu kita dulu pah" Ucap Monika.


" Makanya kita nanya dulu sama mereka, sabar mah kita urus ini dulu baru kita lanjutkan"


Bersambung.....


Terimakasih atas kunjungan Anda kecerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.


Rabu 22 September 2021.