Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
8. Cari Alasan.


Berada di ruang tengah di sana terlihat orang tua Andre yang sedang bersiap akan sarapan pagi, Jam menujukan pukul 7 pagi Azril dan orang tuanya baru keluar dari kamar mereka.


Melihat Besannya sudah rapi itu membuat pertanyaan bagi Monika. " Loh Bu Siti - pak Yusman ini mau pada kemana?" Tanyanya dengan penuh rasa penasaran.


" Bu Monika terimakasih untuk beberapa hari ini telah membolehkan kami menginap, sekarang kami mau pamit pulang!, saya titip putri kami Elisa" Ucap Bu Siti, dan pak yusman yang ada di kursi roda hanya tersenyum sambil di dorong oleh Azril putranya.


" Pulang? Emang mau pulang kemana?" Ucap pak Arafif.


" Ya ke kontrakan pak" Jawab Bu Siti tanpa ragu, mengatakannya.


" Bu Siti pak Yusman gimana kalo kalian tinggal di sini saja, dari pada tinggal di kontrakan" Saran Bu Monika.


" Atau mau tinggal di rumah Andre, mau kan Bu- Pak, nanti Andre akan antar kalian kesana" Sambungan Arafif.


" Kami gak mau ngerepotin keluarga pak Arafif lagi, saya sudah berterima kasih sekali karena sudah mau di bebankan oleh putri kami disini" Ucap Bu Siti.


" Ngerepotin apasih kan kita kelurga, kalo Bu Siti nggak nyaman tinggal disini benar yang di katakan suami saya itu, kalian bisa tinggal di rumah Andre" Ucap Monika.


Disisi lain di kamar terlihat Elisa yang baru selesai merapikan pakaian dan perlengkapan Andre, pada akhirnya cuman bawa satu koper ukuran besar, berisi sangat padat sekali Andre juga dilarang pakai baju rapi.


Setelah sadar jika Andre memakai kemeja khas mau berangkat ke rumah sakit. " Kok pake baju itu?" Melihat Andre seperti musuh.


" Kenapa emang yah, ada yang salah gitu!" Tanya Andre yang menatap tubuhnya dari bawa ke atas


" Ya iyalah pak, itu bisa buat orang curiga dong!" Ucap Elisa yang kesel.


" Terus mau pakai yang mana?" Ucap Andre.


" Bukanya baju anda banyak, kenapa harus pakai yang itu sih cari yang lain sana." Ujar Elisa yang langsung bangkit dari jongkoknya.


" Yang mana? cariin lah fashion yang baik nona Elisa yang bijak" Ucap Andre


" Nah itu kaos panjang aja tuh, nanti luarannya paket jaket" Saran Elisa yang saat ini menunjuk pada baju biasa milik Andre yang masih di atas ranjang yang tadi sempat mau di bawa tapi tidak jadi.


" Okey" Ucap Andre lepas pakaian lagi.


" Aah- " Teriak Elisa saat sedikit melihat ABS otot perut Andre.


" Apa sih bikin aku kaget aja" Ucap Andre yang tidak jadi membuka baju.


" Lagian kalo mau lepas baju itu di sana kek, ngapain di depan Elisa suka banget mancing-mancing nih!" Ucap Elisa yang kesal.


" Lagian kamu yang terlalu terpaku dan terpesona liat aku" Ucap Andre yang lagi-lagi mengode dan menggoda Elisa.


" Bodoh ah, udah sana ganti bajunya di dalem kamer mandi" Ucap Elisa yang sudah wajah merah karena malu dan kesel.


" Kenapa selalu aku yang di salahkan, lagian aku kaya gini kan karena nggak mau meninggalkan dia. Sebenarnya aku gak tega ninggalin wanita yang baru saja ku nikahi tapi malah dia yang tega mengusirku, Hemmm... Nasib badan tak beruntung" Eluhan Andre sambil masuk kamar mandi, Elisa hanya bisa tersenyum saja mendengar Eluhan Dumalan andre.


" PAK ANDRE, udah belum gantinya?" Teriak Elisa.


" Baru juga masuk udah di panggil saja" Jawab Andre dari dalam kamar mandi.


Lalu setelah selesai Andre keluar. " Ada apa?" Tanya Andre.


" Nih bawa kopernya" Ucap Elisa, yang menyuruh Andre untuk membawa koper ke bawa.


" Yah-yah Baiklah, aku bawa" Ucapnya sambil wajahnya ia tekuk.


" Pak Andre, paspor dan dompet anda sudah kebawa?" Tanya elisa mengingatkan.


" Ah--- aku lupa soal itu" Ucap Andre sambil tepok jidat.


" Bawa benda-benda kebutuhan anda sendiri saja lupa, tapi malah berniat mau bawa Elisa gimana kalo anda juga lupa jika anda sudah menikah denganku" Ucap Elisa sambil mengambil dompet.


" Hemm- kalo soal itu kaya gak akan lupa" Ucap Andre dengan senyuman genit yang menawan.


" Kenapa emangnya kok bisa gak lupa" Ucap elisa yang penasaran.


" Karena kamu sudah terukir dalam hatiku dan terekam sangat jelas dalam memori otakku" Ujar Andre yang suka sekali membuat gombalan maut yah.


" Lebay ah- bisa aja bikin elisa klepek-klepek yah" Ucap Elisa yang saat ini mengambil tas kecil milik Andre.


Tak lama setelah itu akhirnya mereka turun dengan Andre membawa kopernya disana masih ada orang tua yang sedang sibuk berdebat.


" Nah tuh anaknya baru pada keluar" Ucap arafif yang melihat Andre dan Elisa turun ke bawa.


" Kebetulan sekali Andre- Elisa, bujuk orang tua kalian ini buat tinggal di sini atau antar dia kerumah kamu sayang" Rajukan Monika pada putranya.


" Itu loh sayang, yang ada di pinggir jalan yang dekor estetika Eropa yang dulu pernah kamu kabur kesana waktu kamu ngambek mau minta adik" Ucap Monika mengingat masa kecil Andre yang ngambek dan kabur.


" Ouh yang itu!-, betul juga saran dari mamah. Tapi Andre tidak berniat untuk memberikan rumah itu kepada ibu- ayah"


" Kamu ini gak kasihan sama ibu-ayah kamu masa harus tinggal dikontrakan itu" ucap Monika.


" Lalu kamu berikan rumah yang mana?" Tanya arafif, karena waktu itu Andre pernah bertanya kepada orang tua elisa untuk meminta mereka buat tinggal di salah satu rumah Andre.


" Emangnya berapa rumah yang anda miliki pak Andre?" Ucap Elisa yang mengatakan itu dengan penuh penasaran.


Monika tidak terima karena panggilan itu membuat Monika menaikkan suara. " PAK? Elisa kamu masih manggil PAK sama Andre!" Nada Monika yang membuat Elisa kaget.


" Eh! emang harus manggil apa mah?" Ucap Elisa polos, Andre hanya senyum tipis.


" Kalian sudah menikah loh, masa iya kamu masih manggil Andre dengan sebutan PAK!, Elisa sayang Andre sekarang bukan atasan kamu lagi. Manggil agak mersahlah seperti sayang kek cinta kek atau apa gitu yang sekiranya menujukan kalian itu pasangan. Gimana kalo orang salah paham dan mengira kalian bukan suami istri, dan mereka bisa saja bikin macem-macem kan, mamah gak mau itu terjadi" Ucap kekhawatiran Monika.


Andre medehem. " Khemm--- Mah, Andre gak masalah atau memaksakan Elisa harus manggil apa pada Andre, panggilan seperti itu juga tidak masalah, tapi jika Elisa manggilnya kaya mamah ke Andre itu terdengar geli juga kalo Elisa yang mengatakan kata-kata itu, lagi pula aku akan menunggu ucapan pak itu bisa berubah jadi kata panggilan sayang" Ucap Andre membela istrinya.


" Dasar kamu ini, pokoknya mamah gak mau tahu kamu harus ubah panggilan kalian mulai hari ini juga titik" Ucap Monika menekan.


" Eh? panggil apa nih?" Ucap Elisa yang syok.


" Mah, jangan paksa Elisa melakukan hal itu berikan Elisa sedikit waktu buat adaptasi dengan lingkungan barunya, nggak harus selalu instan semua butuh proses" Ucap Andre menjelaskan.


" Hehe iya mah, Elisa manggil mamah papah aja butuh waktu dan proses" Sambungan Elisa.


" Okey, mamah maafkan kali ini tapi inget yah Elisa, kamu harus ganti nama panggilannya nanti" Ucap Monika.


" Iya" Jawab Elisa tertekan.


" Teh Bagaimana kalo teteh manggil yang sama seperti nama di kontak teteh itu" ucap Azril membantu meringankan.


" Nama kontak?"


" Iya, bukankah teteh menamai kontak mas Andre dengan kontak gantengnya Imamku" Ucap Azril.


" eh? bagaimana kamu bisa tahu?"


Andre hanya tersenyum geli. " Sudahlah ini sudah siang nanti kita bisa telat"


" Telat, emang kalian mau kemana?"


" Emm, " Elisa langsung melotot kepada andre


" Anu-- mah ngater ibu-ayah pulang" Sambung Elisa kembali.


" Kok gerakan kalian mencurigakan sih!" Ucap Monika.


(" Aduh mampus, Alesan apa nih? putar pikirkan cari alasan sealami mungkin. Ouh aku punya ide") dumal dalam benak pikiran Elisa.


" Itu koper besar buat apa?" Tanya Monika saat melihat koper silver milik Andre.


" Ouh ini- Ah! iya mah Elisa lupa bawa barang Elisa yang masih ketinggalan di rumah jadi Elisa pinjam koper miliknya suami gantengku ini buat bawa barangnya" Ucap Elisa yang mencari alasan.


" Emang masih banyak?" Tanya Monika penasaran, tapi tetep curiga.


" Loh teh bukannya barang---aaa" Azril angkat bicara tapi ia langsung di bungkam karena tangan Elisa sudah aktif mencubit Azril.


" Iya mah masih banyak, yuk. Pah - Mah kami pergi dulu ngater ibu-ayah pulang." ucap Elisa.


" Yasudah kalian ati-ati dijalan" Jawab Arafif.


" Nggak mau sarapan dulu!" tanya Monika.


" Nggak usah mah, lagian nanti di jalan bisa cari makan" Jawab Elisa.


" Nih bawa bekal saja, ngga usah kalian harus nunggu, Bi ija tolong kamu siap kan bekal buat sarapan Bu Siti dan pak yusman dan putranya" Ucap Monika.


Bersambung.....


Terimakasih atas kunjungan Anda kecerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.


Senin 13 September 2021.