Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
183. Terbang Ke Luar Negeri.


Berada di ruangan Rudi, Elisa duduk di kursi tunggu. Di samping ya, ada Kevin dan sisi lainnya ada Rudi. Kevin sangat fokus mengobati luka Elisa dengan sangat hati-hati, karena luka yang di miliki Elisa cukup dalam sayatannya.


"Aduuhh–, pelan-pelan Kevin. Itu, sangat sakit tahu!" ucap Elisa yang meringis kesakitan karena hal tersebut.


"Yah, makanya kamu diem. Jangan banyak gerak, kan jadi sakit. Elisa sepertinya lukamu ini akan membekas, karena terlalu dalam sayatannya? Paman, pasti sedih nih!" ucap Kevin yang sangat khawatir.


"Benarkah? Yaudah tidak apa-apa, mungkin ini sudah takdir ya aku punya codet. Lagian ini bukan sekali dua kali kok, ada bekas di tubuhku. Dulu aku pernah, jatuh dari pohon rambutan. 4 jahitan di jidat nih bekasnya masih ada. Pas kecil aku nakal, di suruh ngaji sama ayah malah main layangan di sawah. Jadi kena pukul kayu kecil sama ayah, walau sekali tapi membekas di punggung, terus aku pernah jatuh dari sepeda motor, waktu SMP. Lutut aku banyak bekas luka, jadi tambah satu koleksi lagi gak masalah."


"Terus, gimana jika Andre tahu kamu punya banyak bekas luka begitu? dia gak akan kabur!" sambung Rudi yang menyambar.


"Hmph, dia... Kayaknya gak akan mungkin deh! karena bekas luka dia lebih banyak, di punggung dan di kepala bahkan kayak di area lainnya juga pasti banyak, karena aku gak pernah lihat secara full body. Kalau di kamar dia hanya pakai piyama dan handuk, bahkan celana pendek pun aku jarang melihatnya, kalau kepergok dia ganti pakaian saja, aku baru bisa lihat pemandangan."


"Emang ya? kamu belum... Begituan, sama Andre?" tanya Rudi yang berbisik.


"Heh! begituan gimana maksudnya mas?" Elisa kebinggungan dengan apa yang di katakan Rudi, Elisa memang masih cukup polos.


"Iya itu, begitu!" ucap Rudi membuat tanda petik dengan dua jarinya.


"Elisa gak faham, apa sih?" mengerutkan keningnya, Karen tidak memahami ya.


"Hubungan intimm, antara suami dan istri. Untuk program berkembang biak, kamu belum melakukan ya elisa?" ucap Kevin yang menyahutinya, dengan penjelasan secara ilmiah.


"Bocah nakal, kenapa kamu perjelas. Gimana ada yang dengar nanti?" ucap Rudi yang kesal dengan apa yang di lontarkan Kevin, yang terang-terangan nyeplok.


"Katanya sudah jadi ayah 4 anak, kok ngomong gitu aja susah banget" ucap Kevin yang menyindir.


"Kan aku jaga image, masa iya harus di perjelas" ucap Rudi yang kesel.


"Iya, iya." Ucap Kevin yang kembali fokus membersihkan luka Elisa.


"Gimana? kamu sudah begituan sama dia" tanya Rudi yang penasaran dengan hal tersebut, tapi gak mau menggali terlalu dalam juga sih, karena Rudi tahu batasnya untuk bertanya masalah pribadi.


"Hmmm, gimana jawabnya. Aku binggung mas," ucap Elisa yang binggung dan malu mengakuinya. Bahwa dirinya masih belum mampu menjadi istri yang sempurna, apa lagi melakukan ibadah berdua di bawa selimut itu.


"Tinggal kamu jawab! Sudah dan Belum aja, apa susahnya sih. Elisa" ucap Kevin yang menyeletuk.


"Hmph, be–belum!" ujar Elisa yang ragu untuk mengatakan ya.


"Heeeh!!!" Kevin dan Rudi kompak kaget, dengan apa yang di katakan Elisa tersebut.


"Serius, kamu... Jadi-jadi kamu, masih segelan dan masih ada label merek ya gitu?" ucap Rudi yang syok dengan hal itu.


"Apa lagi sih mas aku gak faham, bahasa dewasaamu itu!" ucap Elisa yang kurang mengerti.


"Dia bilang segelan artinya kamu masih berstatus perawan, dan bermerek artinya kamu masih belum di apa-apain. Faham sampai sini?" ujar Kevin yang menjelaskan dengan detail.


"Ouh, gitu!" ucap Elisa yang manggut-manggut saja, tanda di mengerti. Walau di otak muter-muter kayak sinyal off.


"Terus waktu kamu kiss di pulau itu, otodidak atau gimana?" ucap Rudi yang mengingat kejadian saat mereka semua liburan di pulang milik Andre.


"Hehehe, itu namanya refleksi tubuh akibat keseringan nonton drakor, jadi aku aplikasi aja ke nyata. Kalau soal lebih serius, jujur aku juga gak faham. Tahu teori tidak tahu cara praktek, jadi..." ucap Elisa yang saat ini agak binggung dengan apa yang harus ia katakan selangkanya.


"Mau mencoba denganku Elisa?" ucap Kevin yang menatap dengan tatapan sangat intens.


Kevin di tabok Rudi karena ngomong sembarangan. "Boca sialan, main nyoba-nyoba. Emang Elisa apaan, cari istrimu sendiri sana. Kamu gak takut di sembur sama pamanmu?" ucap Rudi yang tahu jika Kevin ini terlalu menghormati pamannya Andre.


"Heh, iya... Gak jadi deh! Aku takut sama paman Andre, kalau dia marah bisa 7 turunan gak kelar-kelar malah hidupku yang kelar" ucap Kevin dengan ketawa ngakak, karena teringat kalau Andre sudah ceramah, dan pidato saat kevin membuat salah. Bisa lama banget selesai ya, walau Andre tidak ringan tangan tapi ucapnya selalu ampuh membuat kevin tunduk.


"Yaudah, soal itu emang masalah ku yang belum bisa jadi istri yang baik untuk melayani suami. Tapi, aku sudah berusaha semaksimal mungkin, walau dia kadang tergoda tapi... Lah kok malah jadi bahas itu sih, udah ah! Lanjut, ini gimana lukaku?" ucap elisa yang mengalihkan pembicaraan.


"Ouh iya sampai lupakan, sini" ucap Kevin yang kembali fokus ke luka Elisa.


"Kevin pakai ini untuk menutupi lukanya biar tidak ada debu yang masuk," ucap Rudi yang mengambil plester besar.


"Iya Terimakasih!"


"Eli, gimana ceritanya kok bisa seperti ini? kamu beneran di culik atau Andre yang di culik" tanya Rudi yang sangat penasaran.


"Panjang banget mas kalau aku ceritakan," ucap Elisa yang mengatakan dengan sangat energik.


"Yaudah kamu katakan inti ya saja, jangan panjang-panjang" ucap Rudi yang saat ini sangat penasaran.


Elisa menceritakan semuanya pada Rudi, hingga kematian Junlion itu bagaimana bisa terjadi, Elisa yang sebelumnya agak melupakan sedikit jadi teringat lagi. Elisa menceritakan juga dengan sesegukan, tak bisa menahan tangisnya.


"Begitu mas ceritanya aku juga gak mengerti akan hal tersebut. Tapi, dokter Jun malah mengorbankan dirinya" ucap Elisa yang telah selesai bercerita.


"Jadi Junlion mengorbankan dirinya untuk melindungi Andre begitu maksudnya, terus kenapa si Juno itu ingin sekali membunuh Andre? Apakah ada alasannya" tanya Rudi yang sangat penasaran.


"Iya bisa di bilang begitu, dia menginginkan ANDRILOS" jawab Elisa.


"Elisa kamu jangan banyak ngomong, lukamu ini dekat dengan leher, jadi jangan terus menoleh ke sana!" ucap Kevin yang agak cemburu dengan Elisa dan Rudi.


"Ya elah! Kamu kok masih aja cemburu, Andre aja gak cemburu sama aku, kok malah kamu yang sensi sama aku sih!" ucap Rudi yang faham sama sikap Kevin itu.


"Nggak kok! Itu perasaan kamu saja, aku baik-baik saja. Nggak cemburu sama kalian, aku katakan memang sesuai dengan apa yang harus aku katakan" pembela diri.


^^^Pukul, 15.00^^^


^^^RUMAH SAKIT, DI LOBI^^^


Elisa yang saat ini sedang menunggu adiknya membawa pesenan yang dia minta, untuk mengatakan pada asisten rumah tangga di rumah Arafif, agar menyiapkan pakaian ganti untuk mereka. Elisa memutus untuk menginap juga di rumah sakit untuk menemani suaminya, jadi ia membutuhkan baju ganti.


"Nih teh, pesenan teteh! Sudah lengkap ada baju mas Andre 2 set, sama baju ganti buat teteh 4 set. Kok banyakan punya teteh ketimbang mas Andre, emang teteh mau menginap di rumah sakit berapa hari?" tanya Azril.


"Iya, karena besok Azril masih ada ulangan dan tugas kelompok sama temen! Jadi, gak bisa temenin teteh di sini. Hmph! mas Andre gimana teh, dia baik-baik saja kan?" tanya Azril yang khawatir dengan keadaan kakak iparnya itu.


"Nggak tahu zril, teteh belum melihat ya lagi setelah dia masuk ruang otopsi tadi!" ucap Elisa yang sudah tidak melihat sebelum Elisa di obati lukanya.


"Elisa, kamu masih di sini" tiba-tiba suara itu membuat kedua ya langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Ouh, mas Andre kamu sudah selesai? gimana, sudah beres semuanya." ucap Elisa yang langsung menghampiri suaminya.


"Iya, Junlion akan di kirim ke kampung halamannya dan di makamkan di sana."


"Hmm- kampung halamannya ada di mana? apakah kota New York ?"


"Bukan! Tapi, di Barcelona. Dulu aku pernah ingat saat magang di jalur perang, dia punya pesan jika dia ingin di makamkan di dekat makam ibunya di sana, mungkin permintaan itu masih berlaku padanya"


"Heh? kenapa gak di sini saja. Bukankah itu sangat jauh" ucap Elisa.


"Karena itu permintaan dari Irene juga, kalau jun harus di makamkan di sana. Karena dia tidak akan bisa datang untuk berkunjung, ke Indonesia. Walau bisa, tapi Irene ingin makam Jun di sana." ucap andre.


"Ouh, begitu. Jadi kapan akan di terbangkan ke sana, berapa lama perjalanan ya?" tanya Elisa yang bertubi-tubi.


"Sekitar 16-18 jam, jika ingin cepat lagi maka harus mengunakan pesawat pribadiku yang mungkin memakan waktu, sekitar 14-15 jam juga sudah sampai"


"Yasudah lakukan, jangan kamu tunda karena tubuhnya pasti akan kaku. Apa lagi perjalanan itu saja sudah menginap 1 hari kan, belum nanti proses pemakaman ya?" ucap Elisa.


"Sudah di persiapkan, tinggal menunggu terbangkan pesawat saja, katanya mereka akan datang sebentar lagi, kamu mau ikut?" tanya Andre yang mengulurkan tangannya.


"Emang Elisa boleh ikut?" tanya Elisa.


"Iya boleh lah, siapa yang akan melarangmu. Aku gak mungkin, tinggalkan kamu di sini. Aku gak mau hal seperti ini terjadi lagi, persiapaan semuanya sudah selesai. Jadi , tinggal nunggu pesawat ya saja." ujar Andre.


"Tuh kan zril, apa yang teteh bilang tadi. Pasti ada serangan sang fajar, untung kamu bawa tepat waktu!" ucap Elisa memang manjur.


"Iya yah teh, yaudah teteh sama mas Andre ati-ati di sana yah... Mas Andre, aku titip teteh ya?" ucap Azril yang langsung menatap Andre.


"Jika kamu khawatir, kamu juga bisa ikut zril" ucap Andre yang tahu soal tatapan adik iparnya itu, karena terlalu khawatir.


"Eh, gak mas. Aku di sini aja, kalian pakai jam yang aku kasihkan. Azril nggak bisa ikut karena masih ada ujian sekolah, jadi kapan-kapan deh! asal kalian jangan lupa hubungi aku," ucap Azril yang menyelipkan tanganya ke sakit jaket.


"Baiklah, terimakasih ya dek!" ucap Andre yang mengelus kepala Azril dengan lembut.


Berada di halaman belakang rumah sakit, pesawat sudah tiba. Para perawat sudah membawa peti jenazah, agar julion sudah bisa langsung dimakamkan di pemakaman. Berada di dalam pesawat, Eliza mengeluarkan sepotong roti dan susu hangat.


"Mas, kamu udah makan belum?"tanya Elisa dengan nada seduh.


"Kamu aja yang makan duluan saja, aku gak lapar!" jawab Andre yang berada di samping Elisa duduk sambil menulis sesuatu di sebuah kertas.


"Emang mas Andre gak lapar?" Elisa yang khawatir jika suaminya jatuh sakit kalau tidak makan, apalagi Andre belum makan ataupun minum semenjak kejadian tersebut.


"Nggak! makanya kamu aja yang makan." ucapan Andre yang juga terdengar seperti cuek, Elisa sedikit agak tidak senang.


"Tuan, pesawat sudah akan lepas landas. Semua persiapan sudah masuk, apakah kita berangkat sekarang." Tanya seseorang pada Andre.


"Begitukah, kalian bawa semuanya kan. Tidak ada yang kalian lupakan, atau tertinggal?" Ucap Andre yang mengingatkan.


"Iya, sudah siap semua dan semua sudah lengkap. Tidak ada yang tertinggal, kami sudah mengeceknya sampai tiga kali." Ucapnya menjelaskan.


"Bagus kalau gitu, lalu tunggu apalagi kita berangkat sekarang." ucap Andre yang mengatakan dengan sangat tegas.


"Dokter Try, tidak ikut?" Tri Rohman yang ada di samping sudah tiba-tuba harus kembali turun dari pesawat.


Elisa bangkit dari kursi, ingin menanyakan sesuatu pada Try. Ia mengejar Try, sedangkan Andre masih fokus ke seseorang.


"Enggak! aku masih ada urusan yang harus aku selesai kan, biar kalian saja yang pergi. Elisa, tolong jaga dia yah. Jangan sampai dia ambruk, dia belum makan apapun, bahkan tetes air minum. Paksa dia, kamu pasti bisa!"


"Oke! Dokter Try, maaf ya" ucap Elisa yang langsung menatap teduh.


"Kenapa? kamu harus minta maaf, apakah aku buat salah padaku?"


"Kami selalu merepotkan Anda, hmph! Dan terimakasih, atas segala-galanya. Kami pergi sekarang, Dokter Try"


"Iya, iya. Daah!" ucap try yang langsung akan turun.


"Daaah dokter Try, jaga dirimu. Karena mas Andre sekarang hanya punya dokter Try sebagai sahabatnya, walau ada mas Rudi tapi mereka tidak akrab" ucap Elisa.


"Iya . Daah! hati-hati ya kalian, Elisa kalau kalian sudah sampai disana, kamu harus langsung menghubungi kami di sini. Termasuk orang tuamu dan mertuamu, ingat yah!"


"Oke! Anda jangan khawatir, kami akan berangkat sekarang. Jaga diri kalian semuanya, aku pergi dulu" ucap Elisa yang melambai tangannya.


"Sayang, ayo! masuk. Perawat akan lepas landas, kita harus duduk kembali sekarang." Andre menerima tangan Elisa, dan seseorang langsung menutup pintu pesawat itu kembali.


"Iya, iya. Dimana? kita harus duduk. Tempat duduk yang nyaman!" ucap Elisa yang mencari tempat duduk yang nyaman.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...


Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...


Jumat 22 April 2022.