
Para komplotan itu semakin mendekati Andre. Elisa sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Andre semakin terpojok apa lagi, karena saat ini tidak ada siapa-siapa yang berada dibelakangnya untuk melindungi Andre.
"Aneh, pada kemana semua pengawal paman kenapa tak ada yang datang satu pun, untuk melindunginya... Aaah- aku lupa, mereka kan sedang pergi bersama dengan paman Zacky. Elisa bagaimana ini." Kepanikan Kevin baru ingat jika semua sedang tidak bersama Andre.
"Kevin," ucap Elisa yang sudah tidak tahan lagi.
"Iya, ada apa?" ucap Kevin yang saat ini menatap Elisa.
"Bisa minta tolong," Elisa menatap Kevin yang saat ini kebingungan.
"Minta tolong apa?" Kevin tak mengerti apa yang ingin di lakukan oleh Elisa.
"Tolong pegang ini. Karena ini kotak makan siang mas Andre, dia belum makan siang" ucap Elisa yang memberikan kontak makan pada Kevin.
"Uh? Baiklah! Tapi... Kamu mau kemana?" tanya Kevin yang binggung.
"Sudahlah, kamu tunggu saja di sini, aku ingin pergi membereskan sesuatu dulu. Tunggu ya, aku akan datang lagi" ucap Elisa yang tak banyak bicara lagi, ia langsung lari dari tempat. Sebelum akhirnya lompat dan langsung mendarat dengan menendang tepat di kepala si ketua preman.
BRUUUG !
Semua yang melihat itu cukup kaget dan syok. Termasuk Andre, orang-orang menatap siapa wanita yang berani dan hebat, langsung menendang tepat di bagian kepala hingga preman, langsung terjungkal.
"Boss, tidak apa-apa?" ucap anak buahnya langsung di bantu bangun.
"Sial, siapa yang berani memukul ku dari belakang." Elisa yang sudah tegak lagi berdiri.
"Aku! Kenapa, sini kalau berani lawan aku... Satu lawan satu, kau berani" ucap Elisa yang menantang.
"Kurang ajar, kau wanita sialan." Tak di sadari oleh Elisa, si ketua preman memberikan perintah rahasia pada anak buahnya yang di belakang Elisa.
Andre yang tahu soal itu ingin memberi tahu Elisa, tapi sayangnya Elisa tidak mau mendengarkan ucapan Andre. "ELISA, di—" ucapan Andre terputus.
"Sssst... tenang saja mas, aku ak—" ucapan Elisa belum sempat lanjut tapi sudah di balas oleh anak buah si preman.
BRUKKK !
Elisa kena pukul di bagian pipi yah, Andre mulai histeris melihat itu. "ELISAAA—" Teriak Andre, karena tubuhnya saat ini sedang membawa Try ia tak bisa mendekat ke Elisa.
"Cuiuh... " Sudut bibir Elisa berdarah, di sisi lainnya Kevin langsung menghubungi paman Zacky yah untuk segera datang.
[Paman,... Cepat kembali... Paman Andre dalam kesulitan... Banyak orang jahat yang datang ke rumah sakit, tak ada satupun pengawal dengannya... Glenn? Aku tidak tahu... Cepat lah paman... Baiklah aku tunggu kedatangan kalian tapi cepat sedikit yah.] Kevin mematikan panggilan dengan pamannya.
"Elisa kamu baik-baik saja, jangan di teruskan." Andre sangat khawatir dengan kondisi Elisa.
Anak buah itu mendekati bossnya, dan membisiki sesuatu ke telinganya. "Boss, dari tadi dia cukup tenang dan tak bereaksi apapun. Tapi, saat gadis itu di pukul tadi, lihat dia... Sepertinya gadis itu ada hubungannya dengan Dokter itu,"
"Kamu bener, habisi gadis itu."
"Dengan senang hati boss."
Elisa terdiam sesaat, menatap semua musuh-musuhnya, terdiri dari 20 pria dengan bossnya. "Hmph, mereka bukan preman biasa rupanya." Gerutu Elisa samar-samar.
"Bagaimana, enak tidak di pukul begitu. Nona, kamu cukup sombong tadi," ucap boss itu.
Elisa tersenyum tipis, lalu tak lama melepaskan rok yang di pakainya. Terlihat celana panjang yang melekat di sana, lalu Elisa mengikat rambutnya berbentuk cempol bunga mawar.
Meraba sudut bibirnya yang kena pukulan tersebut, terlihat ada darah di jarinya saat memegang sudut bibirnya tadi.
"Wah, bibirku berdarah! Lagi. Bagaimana aku bisa berciuman jika begini. Dokter Andre, apakah kamu bisa mengobati ku, saat kelar dengan urusan ini nanti. Aku minta izin, boleh. Akan membereskan mereka," ujar Elisa yang meminta izin pada Andre yang saat ini sudah panik dan khawatir dengan kondisinya.
"Tidak boleh, jangan berbuat yang macam-macam. Hentikan itu, apa yang kamu sedang lakukan Elisa, aku tidak mau kamu terluka lagi" ucap Andre yang mengatakan bahwa dirinya khawatir.
"Mas Andre! Kenapa malah Elisa yang harus kamu marahi, seharusnya kamu salahkan mereka, bukan memarahi ku. Mereka yang telah melakukan ini padaku, jadi tolonglah izinkan aku, iya- iya- iya."
"Elisa jangan macam-macam, mereka bukan lawanmu" ucap Andre yang langsung menatap tajam.
"Jika aku tidak melawan mereka, maka mereka yang akan memberikan pukulan lainnya kepadaku. Mungkin akan lebih parah dari ini, jadi izinkan aku melawan mereka!" ucap Elisa yang mukanya tak kalah serius dan tajam juga.
Karena wajah Elisa lebih serem dari dirinya Andre tak bisa berkutik lagi, hanya bisa menarik nafas panjang. "Hufft... Baiklah. Tapi janji jangan sampai kamu terluka, kamu mengerti" ucap Andre.
"Kamu terlambat bilang, aku sudah terluka begini. Tak lihat sudut bibirku ini, sudah ada darah dan mungkin gigiku juga sudah ada yang patah," ucap Elisa yang menujukan sudut bibirnya.
"Baiklah lupakan soal itu, tapi jangan terluka lagi. Faham." Andre yang memperingatkan Elisa.
"Jadi kamu setuju, jika aku melawan mereka. Aku cukup lama tak banyak gerak, dan olahraga selama di rumah" ucap Elisa yang mulai tak sabar ingin bertarung.
"Iya terserah kamu, hati-hati Yang." ucap Andre.
"Hei... Kalian berdua, apakah sudah selesai, bicaranya." ucap si ketua preman.
"Uppsss... Sebentar dong, yang sabar! Aku sedang bicara dengan suamiku dulu, tenang gantian yah aku pasti akan meladeni kalian kok. Tapi, harus minta izin dulu dari suamiku. Seorang istri akan meminta pendapat dan izin dahulu, dari sang suami bukan. Sebelum memulai apapun, agar dapat pahala dan di ridhohi Allah." ucap Elisa yang mengatakan dengan sangat senang.
"Banyak sekali cincong kamu wanita, sudah sergap saja," ucap si ketua preman itu seraya menyuruh anak buahnya bersiap-siap.
Elisa mundur-mundur, saat mereka sudah mulai mendekat. "Waduh! waduh. Lah kok main keroyokkan nih, gak jentelmen banget sih" ucap Elisa yang sangat kesal, dengan nada bercanda yah.
"Bodo amet, lanjutkan. Hajar dia." ucap si ketua preman.
Kreeetek! Kreeetek!
Elisa membuat peregangan tubuh dahulu, seraya berfikir. Sebelum menyerang balik, dengan membunyikan semua tulang-tulang yang sudah pada kaku.
"Tadi, belum sempat pemanasan. Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah atas seizin darimu dan izin dari suamiku. Berkahi dan beri hambamu ini kekuatan, agar hambamu ini bisa menang melawan jin dan setan yang terkutuk, Aamiinnn yarobalalamin" ucap Elisa sambil tanganya ia berdoa.
"Kurang ajar nih cewek, namain kita sama—" ucapannya terputus, dan langsung di sambar sama ucapan bosnya.
"Udah jangan banyak omong, cepat serang dia." ucap ketua preman.
Mereka menyerang Elisa secara bersamaan, Andre panik. Menyuruh suster cewe agar segera mengambil Try, yang terluka untuk segara di rawat, dan di obati oleh dokter lainya.
Melihat Elisa yang begitu lincah dan lihainya menghindari setiap serangan yang di lancarkan para preman itu, dan satu tendangan maut yang di layangkan. Oleh Elisa tepat pada bagian sarang burung pada pria, membuat dia tak bisa tahan dan akhirnya tumbang karena ngilu.
Bagian pria yang tidak bisa terlewatkan dari sasaran empuk Elisa lagi, sarang burung tanpa sayap itu akhirnya pecah karena tendangan Elisa. Satu persatu di lumpuhkan, semua serangan sudah mereka keluarkan untuk mengalahkan Elisa.
"Boss. Nih, cewek itu cukup kuat juga. Sekarang kita bagaimana, tak mungkin bisa mengalahkan dia." bisik anak buat itu pada bossnya.
"Dia cuman sendirian, dan kau malah ketakutan. Cepat serang langsung, kalian terlalu lemah" ucap si ketua preman.
"Kita gunakan senjata lainnya, kau bawa kan?" lanjut si boss, yang menanyakan.
"Iya bawa bos, apakah kita harus gunakan itu" ucap si anak buah.
"Semua adil, dalam perang. Cepat keluarkan." ucap si boss.
"Baiklah," ucap si anak buah, mengeluarkan sebuah belati ukuran sedang.
Andre yang tahu soal itu mulai khawatir, ia berteriak pada istrinya yang sedang melawan beberapa pria itu. Andre juga saat ini sedang di sibukkan dengan melawan beberapa pria lainnya, untuk membantu Elisa. Tetap saja, masih kalah saing dengan jumlah mereka.
"Gawat aku tak bisa menghindari itu, apakah aku akan mati di sini..." ucap Elisa yang langsung memejamkan matanya.
SRAAAKK !
TIUNGG !
KLAAAANGGG...
Belati itu di tendang dan tebang lalu, jatuh tepat di kaki Andre, bergegas saja Andre mengambil ya. Itu adalah Glenn yang datang membantu, Andre cukup senang dan agak lega.
"Syukurlah, dia selamat." ucap Andre yang melanjutkan melawan mereka yang datang kepadanya.
"Maafkan saya Nyonya, karena datang terlambat," ucap Glenn yang berdiri tepat di belakang Elisa.
"Syukurlah, kau cepat datang. Ku pikir aku akan terluka lebih para dari pukulan bibir," ucap Elisa yang menepuk-nepuk punggung Glenn.
"Maafkan saya Nyonya, anda baik-baik saja?" ucap Glenn yang merasa bersalah.
"Jangan tanya sekarang dasar bodoh, kau tidak tahu aku kuwalahan di sini, dari mana saja kau" ucap Elisa yang sangat kesel.
"Maafkan saya nyonya, tadi saya melakukan tugas dari Tuan." Pembelaan Glenn.
"Begitu, dasar kalian. Tuanmu hampir saja terluka, sampai dia turun tangan sendiri untuk membereskan mereka. Huh! ku pikir suamiku tak bisa bertarung, ternyata pintar juga." ucap Elisa yang memuji kehebatan suaminya, terlihat Andre masih bertarung.
"Iya, Tuan juga terlatih saat kecil. Tuan dilatih langsung oleh ayah saya, tentu saja beliau bis—" ucapan Glenn terputus karena Elisa menepuk lengan Glenn.
Elisa melihat si ketua preman, datang dengan mengangkat kursi roda untuk di pukulan ke arah Glenn.
"Hei... Angkat aku," Ucap Elisa.
"Huh? maksud anda" ucap Glenn tidak mengerti apa yang di katakan Elisa, mana mungkin dia punya keberanian untuk menyentuh Nyonya yah itu.
"Jangan banyak tanya, cepat angkat aku sekarang juga." ucap Elisa yang memaksa langsung melompat saat sebelum di angkat oleh Glenn.
"Uh, haaah!" Elisa yang meneriakkan dengan kekuatan penuh, ia menendang si ketua itu hingga terdorong jauh, dan langsung terjatuh.
SEEETT...
TIUNGG ...
BRAAAK !
BLUUGGG !
"Tahu rasakan, makanya jangan berani melawan ku dong!" ucap Elisa yang langsung menatap si ketua preman.
"Glenn tolong kamu, ban... Eh, malah udah di tinggal pergi, dasar pengawal tidak sopan. Majikan cewek lagi ngomong, langsung lari ke sana saja" ucapan Elisa yang baru sadar jika dia bicara sendirian, karena glenn malah sudah membantu Tuannya.
Semua sudah di ringkus oleh Glenn dan Zacky yang sudah datang ke lokasi, Elisa langsung di bawa oleh Andre ke ruangannya. Untuk di obati, Try dan yang lainnya ada di ruang rawat, juga sedang di obati oleh dokter-dokter lainnya.
"Aaadduuuh... Pelan-pelan dong, perih tahu" ucap Elisa yang saat ini sedang di obati oleh Andre.
"Diam, suruh siapa kamu melawan mereka. Sok jagoan benget sih, jadi ini kan akibatnya, gak nurut sama suami" ucap Andre nada agak marah.
"Kan tadi Elisa sudah minta izin sama kamu, dan kamu memperbolehkan. Kok masih di salahkan saja, Elisa begini bukan tanpa alasan kan, semua juga demi mas." Elisa yang ngembek.
"Sudahlah, mana lagi yang terluka" tanya Andre yang baik, nada melembut lagi.
"Di sini" Elisa menujuk ke arah dadanya.
"Jangan mengada-ada, cepat katakan dimana lagi?" ucap Andre yang muka mulai kesal lagi.
"Beneran tahu, di sini juga sakit. Coba di lihat dulu mas, kan di sini juga sakit. Minta di—" tangan Elisa sudah liar, mulai nakal menyentuh ke paha Andre.
"ELISA! Jangan seperti ini, kamu malah menyepelekan lukamu. Jangan main-main, cepat dimana lagi" ucap Andre yang memegangi tangan Elisa.
"Aah, sakit." ucap Elisa karena tangannya di tekan terlalu kuat oleh Andre, langsung di lepaskan lagi.
"Hmph, apa salahnya si manja dikit, selalu akhirnya aku di tolak. Awas saja ya, kalau kamu nanti kayak gini aku yang gantian akan menolaknya, karena kamu tak pernah sekalipun menerima ku," ucap Elisa yang tanganya melipat dan membuang muka pada Andre.
"Terserah kamu, aku akan cek orang lainnya." ucap Andre yang langsung meninggalkan tempat, Elisa tambah kesel dong malah di tinggal begitu saja oleh Andre.
"Eh, mas. Istrinya lagi sakit loh, malah di tinggal" ucap Elisa yang kesal.
Di luar, setelah Andre berhasil kabur dari Elisa. Ada rasa kesal dan marah dalam hatinya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Tarik nafas dalam-dalam, lalu datanglah Zacky dan Kevin.
"Dre," panggilan khas.
"Kak Zacky," ucap Andre yang melihat kedua pria itu datang.
"Gimana keadaanmu, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Zacky yang khawatir.
"Iya, aku baik. Hanya Elisa yang terluka tadi, untungnya tidak telalu serius," jawab Andre yang agak lega.
"Lalu dimana dia?" tanya Zacky.
"Ada di dalam. Lalu mereka?" Andre menanyakan soal komplotan tadi yang membuat rusuh.
"Aku suruh Glenn, untuk meringkus mereka, kamu tidak usah khawatir. Bagaimana dengan yang lainnya, apakah semua aman?"
"Try dan beberapa orang terluka tadi, ini aku ingin mencek kondisi mereka."
"Baiklah, kamu cek saja dulu mereka. Ada yang ingin aku bahas juga denganmu," ucap Zacky matanya serius.
"Kak, tunggu di sini jagain Elisa. Kevin kamu ikut denganku, bantu aku melakukan sesuatu" ucap Andre.
"Ok. Paman, ini gimana?" Kevin yang masih setia memegangi kotak makan siang, masih ada di pelukan yah.
"Apa itu?" tanya binggung Andre.
"Makan siang mu," ucap Kevin menujukan kotak makannya.
"Taruh saja di ruangan, berikan pada Zacky agar dia yang menaruhnya di dalam. Cepat kita harus pergi sekarang," ucap Andre yang langsung pergi.
"Baik."
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...
Kita akan berjumpa lagi di EPISODE SELANJUTNYA. BYE...
Minggu 27 Maret 2022.