Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
138. Kabur Dulu.


Berada di dalam mobil sederhana, Elisa yang malah jadi panik karena banyak mobil-mobil yang keluar dari kediaman Monarfi, Azril juga tidak satu mobil dengan dirinya. Andre tahu jika Elisa panik dan khawatir, sedangkan Andre biasa saja, karena sudah terbiasa dengan hal tersebut. Karena saking seringnya dia selalu kabur begitu, jadi itu sudah jadi hal yang biasa baginya.


"Kenapa banyak mobil di belakang Azril, terus kenapa Azril nggak bareng kita saja. Lalu kenapa kita malah pisah-pisah jalan, mobil-mobil itu kenapa malah berpencar-pencar" Pertanyaan yang bertubi-tubi itu menghantam Andre.


"Kamu pernah nonton film James Bond? atau drakor aksi" Ucap Andre yang menjelaskan dengan sederhana mudah di cerna oleh Elisa yang sedang panik.


"Hemm- " Elisa hanya mengangguk kelapanya, pelan-pelan, karena mengerti jika soal film.


"Atau drakor yang kamu suka, dimana ada anak orang kaya harus disembunyikan, saat di kejar orang. Apa yang di lakukan oleh para pengawal-pengawalnya. Itu harus melindungi si Anak orang kaya itukan, sama seperti itu. Kita akan bertemu Azril di bandara, Azril hanya lewat jalan yang agak jauh. Untuk mengecoh lawan, karena kita sedang di intai orang" penjelasan Andre.


Berada di dalam pesawat, Azril yang baru datang melihat Andre dan Elisa yang sudah duduk, bersantai di dalam ruangan pesawat pribadi yang telah di desain seperti rumah.


"Kamu sudah datang zril, gimana kamu gak apa-apa kan" Ujar Elisa yang langsung bangkit dari tempat meneliti adiknya.


"Nggak teh, untungnya mereka tidak melakukan apa-apa padaku" Ucap Azril yang menenangkan Elisa yang sudah panik itu.


"Syukurlah, kamu hati-hati yah. Tempat ini seperti ajang balapan dan kompetisi, banyak banget orang mengunakan pistol secara legal" Ucap Elisa yang ketakutan.


"Zril kalau kamu mau istirahat, disana ada kamar tidur" ucap Andre yang mengalihkan pembicaraan.


"Iya mas, tapi aku gak ngantuk" ucap Azril polos dia tidak tahu maksudnya Andre apa.


Andre mengode Azril, agar cepat pergi karena pertanyaan tetehnya itu pasti tidak akan ada habisnya, jika Azril masih ada di depannya. Demi menyelamatkan adiknya Andre harus melakukan itu, makanya Andre mengarah kepada Azril agar menghindar dulu.


"Ada game dan komputer juga disana, lengkap" Ucap Andre yang langsung tangan memberi isyarat, agar pergi.


"Ah–baiklah" Ujar Azril yang baru faham apa yang di katakan Andre.


"Eh, zril teteh belom selesai ngomong" Ucap Elisa yang kesal karena adiknya malah pergi.


"Sudahlah sayang, kasihan dia biarkan dia istirahat dulu" Ucap Andre yang menahan Elisa, yang ingin mengejar Azril.


"Tapi mas, aku—" Ujar Elisa yang di potong, karena Andre menarik tangan Elisa, agar duduk kembali karena pesawat akan lepas landas.


Pesawat sudah lepas landas dari bandara, pilot yang sudah hafal dengan penerbangan ini, karena penerbangan pelarian seperti ini, bukan yang pertama jadi sudah faham.


Mantap langit yang sudah mulai berubah warnanya, dari jingga menjadi biru gelap, dan burung-burung sudah pada beterbangan untuk kembali ke sarang mereka.


"Apakah setelah ini akan baik-baik saja, kita belum pamit pulang pada Daddy. Bagaimana jika Daddy nanti akan mencari kita, kamu baik-baik saja kan mas" Ucap Elisa yang paniknya mulai lagi.


"Sayang, aku baik-baik saja. Daddy juga pasti akan tahu bagaimana pun caranya, kamu lupa siapa Daddy" ucap Andre yang mengingatkan identitas Brandon, seorang pemilik jaringan sinyal terbaik di New York.


"Hmm-, iya aku tahu. Tapi mas, kamu beneran baik-baik saja" Ucap Elisa yang khawatiran.


"Iya, aku baik-baik saja. Malah aku khawatir keadaan kamu, dan Azril. Kamu belum terbiasa atau mungkin kamu sangat syok dengan keadaan ini, sedangkan aku sudah tak asing dengan keadaanku sekarang ini" Ucap Andre.


"Serius, sering terjadi hal seperti ini kepadamu. Bagaimana sih masa kecilmu mas, kok sampai begini sekali" ucap Elisa yang penasaran.


"Aku sering pindah-pindah tempat. Kamu tahu, kan. Riwayat sekolahku itu berbeda-beda negara, dan katamu itu sangat keren. Tapi, itu adalah deritaku. Itu bukan karena aku ingin sekolah keliling dunia, tapi memang inilah keadaanku" Ucap Andre yang mencoba menjelaskan tentang keadaan dirinya sebenarnya.


"Saat TK, aku di Australia. Yah! semenjak kecelakaan itu, yang beberapa lalu kamu tanyakan, aku pernah di hipnotis untuk terapi itu memang benar. Tapi, itu bersifat sementara bagiku, karena aku akan ingat lagi, soal tidurku yang tak pernah nyenyak dan pules, itu juga di pengaruhi oleh masa laluku, yang tak dapat aku jelaskan" Sambung Andre, Elisa hanya diam mendengarkan. Matanya sudah bergenang di pelupuk mata, karena raut wajah frustasi yang tergambar jelas dari wajah Andre.


"Lalu, aku pindah lagi saat SD di Jerman, lanjut ke SMP di London, SMA di Indonesia, kuliah S1 di Inggris, Kuliah S2 Di Dubai, S3 di Amerika. Hingga magang pun aku berpindah-pindah, itu semua bukan keinginan ku, tapi memang keadaan ku yang seperti ini. Jadi, aku sudah terbiasa dengan hal itu" ucap Andre yang langsung menatap Elisa, yang sudah mengalir deras air mata yah.


"Maaf ya, Elisa. Aku malah melibatkan kalian dalam masalah keluarga ku, jujur aku lelah dengan semua ini, saat ku pikir. Setelah menikah, aku akan bebas dan boleh menentukan jalanku sendiri, tapi malah seperti ini. Lebih berat, karena harus melibatkan orang lain dalam masalah berkepanjangan, jujur niatnya aku tak akan menikahi siapapun, karena masalah tersebut. Karena tak mau ada orang lain merasakan hal seperti ini, apa lagi orang itu adalah yang ku sayangi, jadi ikut menderita begini, maafkan aku Elisa. Aku belum mampu hidup mandiri, masih harus berlarian" Ucap Andre yang memang frustasi dengan keadaannya.


"Huaaaaa- kenapa kehidupan mu seperti melodrama, apakah ini caramu untuk bertahan selama ini, sungguh membuatku merasa tidak terima dengan perlakuan mereka. Ingin rasanya aku membantu mu" Meledak sudah tangisan itu, Andre kebingungan dengan Elisa yang entah bicara apa, dalam tangisnya.


Andre langsung memeluk Elisa, tak lama karena terus menangis hingga kelelahan dan Elisa langsung tertidur di pelukan Andre.


Beberapa jam kemudian, saat Andre sudah membawa Elisa yang sudah tidur pulas itu ke kasur, dengan sangat hati-hati agar dia tidak terbangun, setelah itu ia mendatangi kamar yang ada Azril di dalamnya.


"Zril, kamu sudah tidur" Suara Andre yang memanggil nama adik iparnya.


"Belum mas, masuk saja. Itu gak di kunci kok, Azril lagi main game nih!" Ucap azril yang masih asik main game player.


"Dek, kamu gak apa-apa kan" Andre yang khawatir, langsung masuk kamar Azril.


Reflek Azril menstop game yah, dan melepas remot PS ya. "Iya mas aku gak apa-apa, jangan khawatir aku ini strong kok" ucap Azril yang tak mau membuat Mas ya itu khawatir.


"Maafin mas ya zril, kamu dan teteh kamu jadi terlibat dalam kasus ini" Ucap Andre yang menepuk pundak Azril.


"Mas, lagian mereka gak ngapa-ngapain aku kok. Tidak usah merasa bersalah begitu, jadi jangan khawatir" Ucap Azril yang menenangkan Andre.


"Walau begitu, pasti mereka sudah akan sadar. Jika kamu adalah adikku, apakah kamu menampakkan wajahmu zril, aku khawatir mereka akan langsung—"


"Tenang saja mas, aku nyamar jadi salah satu bodyguard itu. Jadi tidak akan di kenali, dan kami telah ganti posisi sebelum sampai di perbatasan tadi. Jadi tak ada yang akan mengenali ku, aku pernah nonton detektif Conan jadi aku tahu trik kayak begini" Jawab Azril yang sudah tahu tentang itu, ia sudah memprediksi yah.


"Baguslah, kamu memang adikku yang cerdas. Aku bangga padamu" Ucap Andre yang bangga akan kemampuan kepintaran adik iparnya itu.


"Makasih mas, Teteh mana mas?" ujar Azril.


"Hmm- kalian kemarin malam, memang kemana? tumben mamah dan papah tidak heboh, ibu dan ayah juga tenang-tenang saja, seperti tidak terjadi apa-apa" ujar Azril yang kepo, biasa Azril bukan anak yang suka ingin tahu, tapi karena ini adalah kedua kakak ya jadi ia cukup penasaran.


"Kami, hmm- kamu kepo. Udah lah, ini sudah malam. Selamat tidur, jangan terlalu lama main game, kamu juga harus istirahat zril" ujar Andre yang beranjak dari ruangan Azril.


"Iya mas, nanggung satu game lagi mau menuju king ya" ucap Azril yang mengambil game remote lagi.


Keesokan harinya, matahari sangat indah saat terlihat dari atas, cahaya juga sangat menawan. Elisa yang baru terbangun dari tidurnya. Membalik tubuh, tak sengaja melihat Andre yang sedang ganti baju.


"Kayaknya aku masih mimpi, kenapa mimpiku liar sekali" gerutu ya suara kecil.


Andre yang hanya menggunakan CD memunggungi Elisa, Andre akan memakai celananya, belum sadar tapi tetap memperhatikan Andre yang sedang ganti baju itu. Andre yang tahu jika Istrinya itu, sudah bangun tetap santui saja, sampai ia selesai pakai bajunya.


"Sudah puas belum, cepat bangun. Mandi, sebentar lagi kita akan mendarat. Ayo bangun" ujar Andre yang duduk di tepi ranjang, seraya mengelus rambut Elisa dengan lembut.


"Aaah- yang tadi bukan mimpi ya, sayangnya!aku belum puas. Mau lihat lagi boleh, tadi cuman sebentar" ujar Elisa yang tanganya sudah menyusup ke balik baju Andre.


"Hemm-- nama juga lagi promo, ya sebentar saja, jangan lama-lama. Kalau iklan kan, cuman sekilas, gak semuanya. Nanti saja, kalau mau full. Sekarang kamu mandi dulu, satu-dua jam lagi kita sampai"


"Terus kalau sudah mandi, kamu mau" tatapan mata genit itu mulai menyerang Andre.


"Hah! apa?"


"Ya itu, yang full body!"


"Aduh- iya-iya. Nanti, kamu minta lagi. Sekarang kamu mandi dan siap-siap dulu, inikan masih di pesawat"


"Hmph! jadi harus nunggu lagi, aku gak mau mandi, mau lanjut tidur indah saja" ujar ekspresi wajah kecewa, dan membalikkan badannya, memunggungi Andre.


Andre tersenyum geli, dengan ekspresi Elisa itu. "Begitukah, sayang! Coba lihat wajahmu lembab. Lupanya semalam kamu nangis sesenggukan, hingga buat matamu gitu. Nih, mau cermin" Ucap Andre yang mengambil cermin.


"Aaaah- kok gini, mataku kok gede gini, kayak di kantuk lebah. Ini semua gara-gara mas Andre sih" Teriak sampai kaget, ia bangkit dari kasur.


"Lah kok aku yang di salahin" Andre yang langsung menatap Elisa kocak.


"Iyalah, coba kamu nggak cerita soal masalah itu. Sudah tahu hati Istrinya, sangat rapuh. Ah, aku bukan istrimu. Aku hanya panjangan bagimu, aku lupa" Ucap kesal, melipat tangannya kedepan sambil memaling wajah.


"Kok gitu ngomong ya"


"Iya, habis kamu belum pernah melakukan hubungan seksualll denganku, apa coba kalau aku bukan pajangan bagimu" Ucap Elisa yang langsung pergi ke kamar mandi, seraya mengambil handuk di samping pintu kamar mandi.


Maafkan aku Elisa, aku belum siap. Aku takut jika anakku nanti juga akan menderita seperti ini, jika kondisi ku belum stabil, jangan membahayakan keselamatan nyawa yang tidak tahu apa-apa, aku tidak mau ada korban lagi yang terlibat. ujar dalam benak Andre setelah Elisa masuk kamar mandi.


Beberapa jam kemudian, pesawat jet pribadi itu, telah sampai di tempat pendaratan khusus keluarga Arafif, pesawat itu akan turun. Elisa, Azril, dan Andre sudah siap-siap akan turun.


Mereka sudah disambut dengan beberapa orang, yang sudah siap untuk membawakan barang-barangnya.


"Tuan, selamat datang kembali di Indonesia. Apakah perjalanan anda baik" Ucap salah satu pelayan bandara yang sangat sopan.


"Terimakasih, atas perhatiannya. Iya, baik" Jawab Andre.


"Tuan, apakah hanya ini saja barangnya?" Tanya pelayan lainnya.


"Iyah, cuman itu saja, kalian semua terima kasih, karena sudah menyambut kami" ucap Andre yang sangat senang.


Tak jauh dari lapangan itu, Sofyan sudah ada disana ia menunggu dari pagi buta, karena mendengar jika Andre akan pulang lebih awal, dan hanya bertiga dengan adiknya.


"Den bagus, saya disini" teriakan Sofyan yang berada di depan mobil.


"Ouh, itu pak sofyan sudah ada disana" Ujar Azril yang langsung menatap panggil suara pak Sofyan dari jauh itu.


"Joko, bawa semua barang-barang ini ke rumah besar, bilang pada orang rumah untuk merenovasi semua barang-barang yang berkaitan denganku disana di ubah, lakukan secara teratur dan teliti. Semua barang itu kecuali koper, itu milik adik saya. Aaah- bilang juga pada ke Bi Ina dan mba Eti, untuk siapkan pakaian milikku dan punya Elisa, untuk ganti. Lalu kamu suruh Iwan, untuk mengantarkan pakaian itu kerumah yang ada di desa dekat pantai G itu yah?" Ucap Andre mengatakan pada orang-orang ya.


"Baik tuan, ada lagi" Tanya Joko yang masih menunggu tuannya memberikan perintah.


"Jika ada orang tidak di kenali, jangan kalian izinkan masuk kerumah, jaga rumah besar, pokoknya siapapun yang asing dan mencurigakan atau yang mengaku-ngaku teman, sahabat sampai keluarga. Jangan di diizinkan untuk masuk, karena mereka sedang mencoba mencari tahu tentang keberadaan ku, jadi jaga rahasia ini baik-baik, aku tidak akan tinggal di sana. Ah- bilang juga pada semua orang penghuni rumah, kecuali kalian. Suruh pekerja rumah tangga, di rumah besar untuk segera mengosongkan tempat, untuk sementara waktu. Sudah seperti itu saja, ingat hanya orang-orang tertentu saja yang tinggal disana, untuk berjaga-jaga" Ujar Andre yang menjelaskan tentang informasi ini.


"Baik tuan, akan saya sampaikan semua pesan anda" Ucap Joko langsung di mengerti.


Keren, aku seperti sedang main film detektif dan Mafia-mafia, yang dikejar-kejar. Hihi... Gerutu Elisa dalam pemikiran ya saat ini.


BERSAMBUNG ...


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.


Selasa 15 Februari 2022