Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
157. Dia Siuman.


"Try, bagaimana kondisi Andre sekarang?" Tanya Arafif yang khawatir yang baru kembali, dan ingin tahu tentang kondisi putranya yang belum juga menujukan tanda-tanda akan bangun atau pulih.


Try hanya menggelengkan kepalanya pelan, tanda belum ada kemajuan apapun tentang kondisi Andre saat ini. Tapi dari luar jendela terlihat Elisa sudah duduk di kursi menemani Andre, sambil memijat tangannya.


"Tapi, syukurlah jika Elisa sudah baik-baik saja sekarang" Sambung Arafif yang sedikit lega karena melihat menantunya, sudah bisa duduk.


"Iya Pah, Elisa pulih dengan sangat cepat. Kondisi tubuhnya sekarang sangat stabil, dan racun di tubuh Elisa sudah hampir hilang 90 persen. Itu sudah tidak ada, mungkin sekali lagi dengan dosis kecil untuk mengeluarkan 10 persen lagi dalam tubuh Elisa," Ucap Try yang menatap Elisa dari luar jendela ruangan.


"Begitu, baguslah. Ouh ya Try papah ingin tanya sesuatu padamu," Ucap Arafif yang menatap Try dengan sebuah pertanyaan.


"Iya Pah tanyakan saja" Ujar Try yang juga penasaran dengan apa yang akan di tanyakan oleh Arafif.


"Apakah kamu tahu orang yang bernama Ben?, Kenapa tidak pernah terlihat sejak kami datang" Tanya Arafif yang heran, karena Remaja yang selalu mengekor pada Andre itu, entah kemana perginya?.


"Iya Pah, aku tahu Ben dan Glenn bukan kah mereka yang di bawah oleh Andre, secara langsung. Dari perbudakan di Kota M. Emang kenapa Pah?"


"Tapi kemana perginya anak itu, apakah ditugaskan oleh Andre kesuatu tempat yang jauh. Sepertinya tidak mungkin Andre akan melakukan hal itu pada anak di bawah umur, Andre tidak akan tega dengan hal tersebut" Ucap Arafif yang memikirkan.


"Papah benar, terakhir aku lihat saat aku menemui Elisa itu juga terjadi satu minggu yang lalu dia masih ada di lingkungan sekitar komplek di rumah Elisa" Ucap Try yang mengingat jika Benn itu, ada di warung kopi saat dia keluar dari rumah Elisa mengembalikan Hp Andre.


"Kamu benar, tapi apakah kamu tahu dimana dia. Karena di New York hanya ada Glenn aku pikir dia di tugaskan untuk menjaga Elisa di Indonesia, tapi saat kami pulang tadi tidak ada dia di jejeran barisan terdepan, sampai detik ini pun dia tidak muncul" Ucap Arafif itu membuat Try juga kebinggungan.


"Itu dia Pah, Ben menghilang semenjak kapan ya, nggak mungkin dia di tarik oleh aliansi. Andre bilang dia juga kehilangan kontak dengan Ben, sebelum Elisa keracunan. Apa jangan-jangan semua ini ada hubungannya?" Ucap Try yang menduga akan hal tersebut.


"Apakah, kaki tangan Zenus ada di Indonesia dan dia tahu jika Elisa adalah istri Andre?" ucap Arafif yang menebalnya.


"Kita harus menyelidiki hal ini, tapi bagaimana dengan Andre?" Ucap Try yang sangat penasaran dengan semua yang terjadi saat ini.


"Kamu tidak usah khawatir, biar aku yang akan cari tahu kamu jaga Andre di sini" Ujar Arafif yang sudah mulai menyusun rencana.


"Papah harus hati-hati. Ouh yah Pah aku lupa memberi tahu soal informasi ini, waktu itu ada orang yang datang ke rumah sakit saat Andre sudah di New York, dia membuat rusuh di sini. Mereka anak buahnya sebagian dari Blue House dan mawar biru, katanya mereka suruhan dari Jonson apakah papah kenal dengannya?" Tanya Try.


"Jonson yah? Sepertinya nama itu terdengar tidak asing ditelinga ku. Aaah! itu memang anak buat dari Zenus, karena aku pernah dengar. Jika kaki tangan yang sangat di percaya oleh Zenus sedang mencari Andre, makanya saat penyerapan Andre waktu itu dia tidak ada di tempat. Dia lolos dari itu, apa mungkin dia ingin balas dendam?"


"Begitu rupanya, kita harus bergegas mencari Ben, jika Andre siuman dan tidak bisa menemukan Ben dia akan mengamuk lagi, bisa-bisa Prince of devil akan muncul" Ucap Try yang pernah melihat sisi gelap dari Andre.


"Kau bener nak, Andre juga menghabisi Zenus dengan cara yang tidak terduga, ku pikir anak seperti malaikat itu tidak akan berani mengambil keputusan yang sangat besar, ternyata walau dia tahu ini perbuatan dosa dia tidak segan-segan dengan buruannya" Ujar Arafif sambil menatap Elisa dan Andre.


Setelah Arafif pergi untuk mencari informasi dan sangat penasaran ingin tahu tentang semua yang terjadi, makanya ia langsung mengerjakan tugasnya. Sedangkan Try kembali ke ruangan, untuk melihat keadaan Elisa dan Andre.


"Elisa, kamu sudah membaik?" Tanya Try yang merasa dirinya punya kewajiban.


"Iya, Terimakasih Dokter Try karena sudah merawat kami. Tapi Doker Try, bagaimana dengannya mas Andre?" Elisa yang binggung dengan kondisi saat ini, Andre tidak menujukan tanda-tanda akan bangun.


"Hmph! aku juga binggung dengan semua keadaan ini, kamu sudah coba bicara dengannya" Tanya Try yang mengatakan jika Elisa harus bicara dengan Andre sebagai istrinya.


"Iya sudah tapi —" Elisa tampak murung dengan apa yang di katakan oleh Try.


"Yasudah kita tunggu reaksinya, semua ini bukan salahmu" Ucap Try menepuk pundak Elisa.


BRAAAKK!


Pintu itu terbuka, Rudi dengan nafas yang ngos-ngosan karena lari dari lorong-lorong, Rudi baru tahu jika Elisa sedang di rawat, di lantai atas.


"Elisa?!" Suara Rudi yang bergemah di dalam ruangan.


"Ouh! Mas Rudi?" Elisa yang kaget dengan kedatangan Rudi yang sangat panik dan khawatir itu.


"Katanya kamu sakit, aku langsung kesini setelah mendengar kabar itu. Kamu sakit apa Lis, nggak parah kan?" Ucap Rudi yang membuat Elisa berputar-putar.


"Aku gak apa-apa, mas Rudi makasih sudah khawatir denganku. Tapi, sekarang bukan aku lagi yang sakit" Ucap Elisa yang wajahnya murung.


"Emang sapa yang sakit lagi Lis?" Tanya Rudi yang penasaran, dia belum sadar jika Andre berbaring di sampingnya.


"Itu orangnya di belakang kamu," Ucap Try yang menujuk dengan wajahnya.


"Ya Tuhan apa yang terjadi, sebenarnya. Kok bisa My beast Friend forever, bisa terkapar di sini, jadi sebenarnya siapa yang sakit. Aku dengar kabar jika Elisa yang sakit, tapi sampai sini kok yang di rawat bedah orang" Ujar Rudi yang kebingungan.


"Sebenarnya memang aku yang sakit tadinya mas Rudi, cuman entah kenapa dia juga ikutan sakit" Ucap Elisa yang menjelaskan.


"Hah! gitu rupanya, kalau cinta sejati itu emang gitu sih. Bisa merasakan apa yang di rasakan oleh pasangan yah, kalau sebelahnya terluka yang satu ikut sakit. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Andre? Bisakah menjelaskan padaku" ucap Rudi yang sangat penasaran.


"Heh? kok bisa" Rudi kaget dengan apa yang di katakan Try, melirik pada Elisa hanya anggukkan kepala dari Elisa.


"Ya, karena dia gak sabaran" Sambung Try kembali.


"Setahuku Andre orang yang begitu sabar, nggak ada orang sesabar kayak Andre" Ujar Rudi yang mengenang masa-masa saat bersamaan Andre.


"Iya kamu benar, tapi ada kalahnya dia akan bersikap egois pada dirinya sendiri, bahkan sampai rela akan menyakiti diri ya sendiri. Jika itu menyangkut kepentingan orang-orang terkasihnya" Ucap Try yang mengatakan dengan sangat tulus.


"Iya dia memang seperti itu dari dulu, nggak ada yang berubah" Ucap Rudi yang juga mengingat pernah di tolong Andre, saat tidak bisa bayar uang SPP dan ijasahnya di tahan karena uang gedung belum di lunasi, Andre diam-diam membayar lunas uang sekolah Rudi.


Hingga saat di hukum bersama walau itu adalah kesalahan Rudi, Andre ikut serta dalam kegiatan di hukum, agar hukuman Rudi lebih ringan.


"Enaknya jadi Kalian" Ucap Elisa yang iri dengan kehidupan sekolah mereka.


"Apa yang enak Lis, kamu kadang bikin aku binggung?" Ucap Rudi yang membidik tajam.


"Iya itu, kalian bisa berbagi informasi tentang keadaan masa-masa kejayaan kalian, bersama dirinya, sedang aku gak tahu apa-apa" Ucap Elisa yang murung.


"Tapi sekarang kamu sudah jadi bagian terpenting dari sisi Andre yang lainnya, Elisa jangan merasa kamu tidak kenal dia kamu sudah tahu semuanya bukan!" Ucap Try dengan maksud yang lainnya.


"Eh, Tahu semua apanya?" Elisa kebingungan dengan apa yang di katakan Try.


"Sudahlah lupakan, jika kamu tidak faham. Kamu terlalu polos Elisa, pantas saja dia sayang banget sama kamu" Ucap Try yang mengingat kata-kata Andre sebelumnya.


"Makanya Lis, kamu lahir lebih awal biar bisa seumur dengan kita dan bisa sekelas nantinya" Ucap Rudi yang asal.


"Try kalau Elisa lahir di tahun yang sama dengan kita, nanti si pangeran Andre itu nggak mungkin lah akan menikahi Elisa, bahkan melirikpun pasti nggak" ucap Try yang menegaskan.


"Hahahaha- kamu benar sekali tapi, ngomong-ngomong. Soal Andre ini gimana? kapan dia akan sadar" Tanya Rudi yang sangat khawatir.


"Aku juga gak tahu harus gimana lagi. Entahlah sampai kapan, aku juga gak tahu" Ucap Try yang juga sudah kehabisan akal dan pikiran.


Mendengar suara-suara itu Andre yang sebenarnya dari tadi sudah sadar, dan mendengar semua obrolan mereka tapi karena suara mereka semakin keras bikin Andre ikut bicara.


"Berisik kalian!" Suara agak tegas dan masih melemah.


"Eh, itu suara Andre kan?" Ucap Rudi yang Kaget.


"Iya, itu emang suara dia. Andre kamu sudah sadar, bagaimana kondisi mu" ucap Try langsung berlari kesamping ranjang Andre.


"Ouh! Mas Andre?" Suara Elisa terasa berat karena lega suaminya sudah siuman.


"Iya, ini aku" Andre sempat menjawab panggilan Elisa, dengan senyuman tipis.


"Apa yang kau rasa sekarang" Tanya Try.


"Kau tahu aku ini sekarang sedang jadi pasien, tapi kalian malah ngobrol di sini, TRY ROCHMAN. Seperti kau tidak mengerti ettitude dasar seorang dokter" Ucap Andre yang mengomeli adiknya itu.


"Iya maaf kak, aku bicara agar bisa berkomunikasi. Tapi ada hikmanya jugakan, sekarang kamu udah sadar" Ucap Try.


"Walau aku sadar, gak sadar pun kamu itu cukup berisik tahu nggak" Ucap Andre yang kesal.


BRUKK!


HWAAAA...


Elisa langsung menindih tubuh Andre, dan memeluk dengan sangat erat hingga tangisan yang selama ini ia tahan pecah sudah, Elisa langsung keluarkan semua air yang selama ini tersimpan.


"Sa...Sayang! Aku gak bisa nafas!" Ucap Andre dengan suara berat, dengan apa yang di lakukan Elisa saat ini, malah seperti mencek lehernya.


BERSAMBUNG ...


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.


Sabtu 12 Maret 2022.