Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
115. Emosional Mu.


Setelah berdebat itu, semua hanya terdiam sejenak. Kakak dari Monika menatap lekat keponakannya itu, diam sambil melihat aksi Andre yang sedang meredam sebuah emosi, tak pernah menyangka anak yang terlihat pendiam, akan sangat mengerikan jika sedang meluapkan amarahnya, tidak pernah ia duga dan sangka sebelumnya.


(Nih anak, boleh juga. Pantes saja papi menginginkan dia jadi penerus dari ANDRILOS, padahal ada Zacky dan Sean putraku. Tapi Andre memang mendekati kriteria yang di inginkan, untuk menjadi seorang pemimpin, tapi Arafif tidak mengijinkan si Andre terjun dalam dunia Politik bisnis keluarga seperti ini) Dalam benaknya, Markus Andrian Clarlosen.


"Kak, sebenarnya kakak mengumpulkan kami disini, ada apa yah?, malam-malam. Seharusnya kami sudah istirahat malam ini, apakah itu hal yang sangat penting kak" tanya monika yang penuh kebingungan, karena belum pernah kakak keduanya itu bersikap begitu sangat serius.


Malam yang sangat menegangkan, semua terdiam dalam keheningan malam yang penuh tanda tanya, sedangkan Andre sudah menebak-nebak dalam pikirannya, jika perkumpulan ini hanya alasan saja agar dirinya keluar.


"Iya dad, kayak nggak ada hari besok saja. Lagian kita semua sudah lelah karena pesta malam ini, apa lagi si pengantin baru. Andre dan istrinya pasti sudah gak sabar bulan madu kan" ujar Daren anak kedua Markus.


"Paman kecilku dan Elisa kan sudah satu bulan lebih menikah, bukan lagi penganten baru lagi, paman Daren" saut Kevin yang menegur pamannya.


"Kevin namanya pasangan selama belum punya anak, masih akan di anggap pengantin baru. Apa lagi Andre baru mengumumkan pernikahannya hari ini"


"Sudah-sudah, hentikan. Aku menumpulkan kalian malam-malam ini bukan untuk berdebat, atau mempermasalahkan soal malam pengantin" ujar Markus yang agak kesal.


"Jadi soal apa?" tanya Monika yang agak kebingungan dengan sikap Markus sangat aneh.


"Dengar semuanya, ini mengenai soal pemimpin ANDRILOS. Apakah di antara kalian sudah memutuskan siapa yang layak mendapatkan gelar ini, diskusi malam ini menang kurang tepat, tapi tidak ada waktu lagi untuk mencari waktu berkumpul, keluarga Arafif jarang datang ke sini. Tidak punya waktu, itu selalu jadi alasan utama kalian, maka dari itu aku mengadakan malam ini agar semua masih lengkap, karena setiap kumpul ada saja salah dari anggota keluarga berhalangan datang" Penjelasan Markus.


"Dad, bukanya waktu itu telah di putuskan jika pemimpin ANDRILOS, akan jatuh pada sean atau kak zelina" sambung Daren.


Markus melirik pada Andre, yang terdiam. Kekhwatiran papah telah jadi kenyataan, ya inilah yang di takutkan papahnya semenjak ia mengajak kaki kembali ke New York.


"Andre bagaimana menurutmu?" suara itu terdengar menekan.


"Aku? hmm- apakah penting saranku? bukanya kah tadi sudah ada yang menjawab om, apa lagi Andre sekarang bukan termasuk lagi dalam anggota ANDRILOS" Ucap Andre yang tak mau mengaitkan soal keluarga.


"Yah, tapi aku butuh saranmu siapakah yang pantas menerima gelar tersebut. Kau punya pendapat lainnya? ataukah kau sudah punya pilihan sendiri" Tebak Markus, sedikit menegang.


"Yang paling berpotensi di sini, kak Daren dan kak Zacky. Itu menurut ku, dan kak Sean juga dalam daftarku, tapi mungkin aku sarankan untuk memilih secara detail. Bagaimana jika om tanyakan dulu dengan dewan dan pembesar lainnya, untuk pencalonan kandidat pemimpin. Untuk dapat di terima masyarakat itu sangat susah" Ucap Andre yang sudah langsung to the point.


"Aku memujimu Andre, kamu hanya diam tak melakukan apapun, tapi kenapa banyak yang mengagumimu. Bagaimana jika kau saja yang menjadi pemimpin ANDRILOS, kamu cukup berpengalaman dan berpotensi untuk membuat ANDRILOS ini bernama lebih besar lagi" Ucap Daren.


"Tidak, aku tak akan terjun dengan modus hal itu" jawab Andre singkat, tatapan semua orang terarah padanya.


"Apa alasanmu menolak, Andre jika semua dewan dari asosiasi menunjuk mu bagaimana?. Apakah kau akan tetap menolaknya, walau pun itu adalah perintah" Sean juga angkat bicara.


"Aku tidak sehebat kak zelin atau kak daren dalam mengelola bisnis, lagi pula aku seorang dokter" ujar Andre yang tidak mau dipojokan untuk mendesak dirinya menjadi seorang ANDRILOS.


"Tidak masalah, jika kau bersedia! Maka dewan akan memberikan keringan padamu" sambung zeline.


"Jika begitu, menurutku putramu juga bisa saja yang terpilih. Karena Kevin juga berpotensi untuk menjadi seorang pemimpin. Walau kadang kala pemikirannya masih agak labil. Tapi mungkin ia akan cukup kuat untuk menerima badai, karena tidak selamanya ANDRILOS ada di tinggkat teratas" ucap Andre yang memperingatkan.


"Aku tidak setuju! Pi, aku lebih setuju jika kau menujuk Andre yang jadi pemimpin ANDRILOS yang baru" saut Sean, yang tidak terima dengan ucapan Andre.


"Bukankah masih ada putramu, kak Sean. Pikirkan untuk masa depan anak-anakmu, untuk jadi meneruskan dan pemimpin"


"Alan masih kecil untuk menduduki tahta, lagi pula ada kau yang layak kenapa menujuk anak kecil yang belum genap 10 tahun" sambung Zacky yang angkat bicara.


"Itu benar, kenapa tidak kau jadihan bahannya dre, kami sedang membicarakanmu" sambung Sean yang sependapat.


"Aku tak ada bakat apapun, untuk jadi seorang asosiasi dalam bisnis" ujar Andre yang merendahkan diri.


"Kamu ingin aku beberkan semua asetmu dre?" Zacky yang menakuti Andre, dengan semua rahasia yang telah di ketahui Zacky.


"Aset apa yang ku miliki, semuanya milik papah, aku tak punya aset berharga" ucap Andre yang menyela.


"Kamu masih mengelak saja, baiklah. Mau kusebutkan satu-persatu semuanya, atau kau sendiri yang menyebutkannya" ucap Zacky yang sudah mengeluarkan hp dari kantung celananya.


"Paman kecil, sudahlah kamu jujur saja, jika hanya itu alasanya, aku juga ikut komentar. Paman kau tahu, jika aku hanya seorang dokter kecil yang statusnya masih dokter magang, tidak akan maksimal jika harus jadi pemimpin untuk mengantikan kakek buyut dan kakek, karena aku tak bisa membagi waktuku" sambung Kevin yang ikut berkomentar.


"Lagi pula, walaupun Zacky juga berpotensi bisa menduduki tahta ANDRILOS, karena Zacky anggota pemerintah, tidak bisa mencalonkan haknya atas kepemimpinan ANDRILOS" ujar Markus yang memperjelas akan hal itu.


Semua terus memojokkan andre, perdebatan antara keluarga itu terjadi, karena tidak ada satupun yang mau menjadi penerus ANDRILOS, ini memang berat karena untuk mengambil tanggung jawab dan mengemban beban seluruh keluarga, sangat di hindari semua pihak keluarga menyandang nama marga ini saja mereka enggan mendapat julukan keluarga kerajaan.


^^^🌚⭐💫PUKUL 11 MALAM^^^


Akhirnya, diskusi keluarga itu hanya berjalan 2 jam 40 menit, katanya akan di lanjut besok malam, karena malam sudah merangkak jauh.


Semua pihak keluarga kerajaan sudah naik lantai atas, kamar yang telah tersedia di istana monarfi.


Berada di kamar, Elisa hanya berdiri di abang pintu tak berani untuk masuk kamarnya. Karena harus menghadapi atmosfir tatapan tajam itu, yang masih mengarah padanya, apa lagi tadi di tambah dengan perdebatan di ruang keluarga.


Semakin naik darah nih Andre, akan melampiaskan pada Elisa, saat ini Elisa tidak bergerak dari tempatnya berdiri.


Elisa berjalan sedikit demi sedikit, menutup pintu kamarnya. Lalu agar berjalan mendekat dimana Andre sekarang sedang duduk di tepi ranjang, dengan menyilang tangannya.


"Aku mau tanya sama kamu, tadi saat di ruang tengah sebenarnya apa yang sedang kamu coba melakukan, huh?" tanya Andre dengan tatapan tajam tangan ia silangkan ke depan.


Elisa tidak berani menatap Andre, hanya diam sambil meremas jari jemarinya. Mengigit bibir bawahnya, tak tahu mau bagaimana lagi Elisa harus bersikap, diam adalah hal yang terbaik karena suasana Andre sedang tidak stabil.


"Kenapa kamu bertingkah seperti anak kecil tadi, yang ingin mengajak bermain dengan anak kecil lainnya" sambung Andre dengan nada ketus.


Elisa hanya tersentak, mendengar ungkapan ucapan Andre barusan. Tapi masih berusaha diam tak mau menaruh bensin pada api, walau kecil tapi akan besar juga jika di kompori.


"Kenapa diam, sudah tahukan kesalahanmu di mana?. Tingkahmu yang seperti itu, yang kamu anggap sudah dewasa?, itulah salah satu alasanku kenapa sampai detik ini aku belum meminta apapun darimu, atas hak ku. Karena kamu belum benar-benar baligh, secara tingkah dan sifatmu. Jika seandainya kita, nanti memiliki anak. Apakah, aku bisa mempercayakan hak asuhku, pada ibu yang masih punya tingkah seperti anak kecil. Lalu apa jadinya dia nantinya"


"Aku akan belajar, aku juga akan berusaha menjadi ibu yang baik, kenapa kamu tak mempercayaiku. Aku pasti bisa, ilmu yang di ajarkan ibu dan ayah juga akan ku tanamkan pada anak kita kelak mas, aku minta maaf soal kejadian beberapa waktu lalu" ujar Elisa memohon ampunan an6dre.


"Huh! Aku maafkan kali ini, tapi jangan kamu ulangi lagi masalah yang seperti tadi. Kamu mengerti, karena kamu bilang sudah dewasa, jadi tanggung jawablah, dengan apa yang kamu katakan"


"Baiklah, aku akan terima hukuman apapun darimu. Asal kamu mau memaafkanku saja, akukan sudah mengaku salah"


"Hum- sebenarnya aku binggung, di mana letak kedewasaan kamu, yang biasa kamu tunjukan pada Try dan orang lain?"


Elisa hanya diam tak bisa menjawab dengan mulutnya, seakan ada lem yang membuat mulutnya terkunci rapat-rapat.


"Kalo sudah begini, kamu hanya diem saja, tadi bicaramu tidak mau kalah dari siapapun"


Amarah yang telah meluap-luap, yang mengedepankan emosi. Andre, pria yang selalu terlihat kalem, dan pendiam seakan-akan menjelma, menjadi pria yang tak bisa mengontrol amarahnya. Entah apa yang telah merasuki tubuhnya, hingga! Ini pertama kalinya dalam seumur hidup, memarahi orang habis-habisan tak kena ampun.


"Apa-apa tadi, kamu kok sikap ya kayak gitu. Tidak menghargai orang tua, kenapa kamu tidak bisa bersikap serius. Aku tahu kamu dekat dengan Kevin, tapi setidaknya kamu tahu tempat, kapan waktunya untuk bercanda dan kapan waktunya serius. Kamu faham gak sih, apa yang aku katakan"


"Iya, aku faham" jawab parau, kepala masih ia tundukan tak berani untuk menaikan wajahnya untuk menatap wajah Andre.


"Seharusnya kamu tahu tempat, dan waktu di mana posisi harus bersikap. Aku mungkin bisa memaklumi mu, tapi orang lain belum tentu akan memahami mu. Apa lagi mereka keluarga luar, jangan kamu ulangi lagi hal seperti tadi. Kamu mengerti"


"Iya, aku mengerti" Ucap Elisa lirih karena tak mau Andre terus menaikan nada suaranya menjadi tiga kali volume.


Melihat wajah Elisa yang sudah pucat, karena ia marahi habis-habisan, mata yang sudah terlihat sudah 5 watt karena menahan kantuk, juga sangat kelelahan. Luluh juga Andre, tak tega melihatnya. Andre berusaha meredam amarah.


Menghela nafas, menurunkan tangan yang terlipat ke depan. Andre bangkit dari ranjang, menarik pergelangan tangan Elisa.


"Sudahlah, kamu cuci kaki sana. Apakah kamu sudah sholat isya?"


"Belum" jawab Elisa lirih, dengan mata sayu. Andre menaikkan kepala Elisa agar melihat wajahnya.


"Yasudah kamu sholat dulu"


"Iya"


"Elisa, pakai sendalmu"


Dengan cepat, Elisa langsung kabur begitu saja setelah di bebaskan dari genggaman, menuju kamar mandi.


"Kenapa jadi begini, yah! Gak jadi deh! Aku minta jatah ke dia, mas Andre bener-bener marah hebat lagi. Aku sampai bergidik, saat mendengar suara itu. Ini baru pertama sih, aku melihatnya, pokoknya aku gak mau ulangi lagi, mau jaim aja deh" gumam Elisa di depan wastafel, mencuci muka dan langsung ambil air wudhu di air keran.


Beberapa menit kemudian, setelah Elisa menyelesaikan ibadah sholat isya, yang ia tunda karena harus ada kumpulan tadi, keluar dari ruang ibadah. Andre yang saat ini sedang main hp di atas ranjang sedang menunggunya, ada rasa khawatir dalam benak takut jika Andre masih marah padanya.


Tapi ia beranikan diri untuk duduk di samping, tapi tak ada respon. Akhirnya karena rasa ngantuk yang sudah tidak ia bisa tahan lagi Elisa memberanikan diri untuk merebahkan tubuh di ranjang.


"Tidurnya jangan ke pinggir, nanti kamu ja—" belum sempat selesai kalimat Andre, tapi Elisa malah sudah terjun dari ranjang.


"Tuh kan, belum juga aku selesai ngomong, kamu sudah terjun saja. Kamu gak apa-apa sayang!" ujar Andre yang panik.


"Aduh- sakit, mas bantuin dong!" ucap Elisa yang meminta bantuan Andre.


"Iya, sini. Makanya kamu yang nurut, kalo di bilangin" ujar Andre yang menggendong Elisa naik ke atas ranjang.


BERSAMBUNG...


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.


Selasa 18 Januari 2022.