Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
44. Kotak Bekal.


Try Rohman baru selesai melakukan tugas membuat laporan, dan menyelesaikan pembuatan soal ia melihat Elisa dan Rudi yang sedang asyik-asyiknya berbincang di lobi tempat bersantai itu Try langsung menghampiri mereka.


" Yoh kalian kok berduaan lagi, pasti akan ada orang yang salah sangka jika kalian sedekat ini" Ucap Try yang berjalan mendekati.


" Try, emangnya siapa yang akan mikir hal itu. Lagian di sini tak ada yang terlalu perhatian sama kita iya kan sa, lagian Elisa juga sudah ku anggap adek cewekku sendiri" Ucap Rudi.


" Ha-ha-ha iya-iya, wih habis makan nih?" Ucap Try yang melihat kotak makan yang sudah kosong.


Kebetulan Elisa membawa kotak lebih di kirain si Rudi nanti akan nambah makan jadi Elisa sengaja membawa kotak bekal lebih.


" Iya nih dokter Try, Apakah Dokter baru selesai ngerjain tugas" Tanya Elisa yang menatap Try seperti kelelahan.


" Iya nih! si Andre nggak kira-kira kalo ngasih beban ke orang" Ucap Try sambil duduk di sebelah Elisa.


" HA-HA-HA tapi dari pagi aku gak ngeliat dia tuh biasa nih sehari ada 4x dia bolak balik sekarang malahan jejak aja nggak kelihatan, kemana dia" Tanya Rudi sangat penasaran.


" Tuuuuh lagi sibuk sama para cewek-cewek, dan pemateri" Ucap Try yang menujuk lantai 2 dimana Andre saat ini sedang memberikan pengarahan untuk pemateri selanjutnya.


Elisa mengalihkan pembicaraan. " Dokter Try sudah makan siang belom?" Tanya Elisa yang membuka tas yang berisi kotak makan.


" Kebetulan belum, kan baru keluar dari kantor. Emang kenapa nanya begitu?" Tanya Try kebingungan.


" Nih Elisa bawa nasi tambahan 1 kotak lagi mau coba masakan Elisa gak, kalo tidak di makan nanti jadi mubazir silahkan dimakan dokter Try pelan-pelan saja" Ucap Elisa yang memberikan kotak pada Try.


" Emang kamu nggak kasih sama yang lainnya gitu" dengan lirikannya kearah ruangan dimana Andre sedang ngadain rapat dengan pemateri.


" Ouh! Nggak, sudah bawa sendiri kok" Ujar Elisa yang faham sama maksudnya dokter Try itu dengan mata yang saling memberi tanda.


" Gitu, syukurlah" Ucap Try, tak sengaja leher Elisa terlihat dan Try tidak sengaja melihat plester di sisinya.


" Kalian lagi ngomongin siapa sih?" Ucap Rudi yang sedang curiga dengan Try dan Elisa yang seperti menyembunyikan sesuatu.


" Orang lewat kok Rudi" ucap Try menutupi rahasia Andre dan Elisa.


" Ouh begitu" Ujar Rudi ya percaya saja deh.


" Ouhnya Elisa itu di leher kamu, kenapa?" Tanya spontan Try yang menujuk kearah lehernya.


" Ouh! ini" Ucap Elisa langsung memegangi plester yang di leher.


" Nah iya aku juga tadi mau nanya itu ke kamu sa, cuman keburu lupa" Sambung Rudi.


" Habis di gigit sama kucing semalam" Ujar Elisa sambil tersenyum tipis.


" Hah! Yah lagian kamu ngapain coba main-main sama kucing" ujar Rudi.


" Hahahahaha kucing!" Try yang tahu maksud dari Elisa tertawa terbahak-bahak hingga tidak bisa mengendalikan dirinya.


" Iya semacam kucing, tapi kucing yang sangat besar berwarna hitam" ucap Elisa memperjelas.


" Sa hati-hati sama kucing hitam katanya dia pembawa hal buruk!" Ujar Rudi yang saat ini memperingati.


" Begitukah, baiklah aku akan mencoba berhati-hati mulai hari ini" ujar Elisa yang langsung merespon apa yang dikatakan Rudi.


" Pantas saja dia sangat berenergi sekali hari ini Elisa, setidaknya aku bisa melihat wajah yang berseri-seri" Ucap Try yang senyuman melebar.


" Weh! dari tadi kalian bilang hal yang tidak aku fahami emangnya kalian sedang membicarakan siapa sih?" Ucap Rudi yang penuh dengan kecurigaan.


" Kucing! mas Rudi kucing, kan kita dari tadi bahas kucing" Saut Elisa.


" Eli-sa kamu sudah ku anggap adek sendiri loh, jangan sampai aku di bodohi yah, kamu kan baru kenal sama si Try kenapa kaya Try lebih tahu dari pada aku sih" Ucap Rudi.


" Saat waktunya aku akan memberi tahumu kok mas Rudi ini di rahasiakan dulu yah" Ucap Elisa memperjelas sesuatu.


" Hahaha, udah Rudi cepat atau lambat pasti akan kebongkar kok sabar saja, ini boleh di makan tidak?" Ucap Try yang memperlihatkan kotak makan ya.


" Iya silakan dokter Try, Elisa senang kalo ada yang makan" Ucap Elisa yang dengan riangnya.


" Makasih banyak yah Elisa sama jatahku ini" ucap Try.


" Nih! minumnya, belum Elisa minum kok di bawa aja ke kantor saja dokter try makannya di sana, Elisa sama mas Rudi akan masuk kelas lagi" Ucap Elisa yang segera akan bersiap memasuki ruang kelas.


" Iya, makasih yah" Ucap Try.


" Iya mas kuy!" Ucap Elisa.


Rudi yang sudah agak jauh berjalan di depan, Elisa sempat melihat Andre yang masih sibuk try yang juga diam-diam memperhatikan sikap Elisa yang mau mengatakan sesuatu tapi ia tak bisa menyampaikannya.


Elisa berbalik badan kembali dan menghampiri Try. " Dokter Try, bolehkan aku minta bantuan mu" Tanya Elisa dengan wajahnya itu penuh harapan.


" Hah? bantuan. Apakah makanan ini adalah sogokan yah" Tebak try.


" Aku ikhlas kok ngasih kotak makannya, hanya minta bantuan saja sama anda, malah di salah artikan nasi yah buat sogokan" Ucap elisa kecewa.


" Hahaha maaf elisa, apa yang bisa saya bantu buat kamu" Ucap Try.


" Udahlah Nggak jadi deh, aku pergi dulu yah dokter Try cepat dimakan karena kalo dingin banget akan nggak enak" Ucap Elisa yang langsung pergi sudah telanjur kecewa.


" Ouhke!" Ucap try tanpa dosa


( " hahaha aku tahu kok Elisa maksud kamu, mau minta aku sampaikan ke Andre kan harus makan dulu") Dumal dalam benak Try sambil menatap kepergian Elisa.


Di dalam ruangan kantor Try yang sedang membuka kotak makan yang diberikan Elisa, Andre yang baru masuk selesai rapat melihat kotak tidak asing yang di bawa try.


" Dari mana kamu?" Tanya Andre meletakkan leptop dan berkas di atas meja.


" Lobi, ketemu sama istri kamu" Jawab try sambil makan.


" Ouh! Jadi itu milikku kah?" Ucap Andre yang menebak.


" Bukanya kamu sudah diberi sendirinya" Ucap try sambil masih asik makan.


" Sepertinya dia terlalu baik yah, memasak untuk pria lain juga" Ucap andre yang merapikan dokumen.


" Kenapa! Apakah kau cemburu?" Tebak try sambil menatap Andre.


" Iya, kamu pikirkan saja sendiri suami mana yang rela jika istri membagi masakannya dengan pria lainnya, selain suami" Ucap Andre menatap tajam.


" Hahaha ini pertama kalinya seorang Petapa gunung es bisa merasakan cemburu, tapi sumpah masakan Elisa enak juga ternyata nggak kalah dari masakan kamu Dre" Ucap Try memberi 2 jempol pada Andre.


" Iyalah kan dia istriku harus pandai masakkan" ucap Andre yang bangga.


" Hahaha selera kamu emang beda dari yang lainnya, dan sekarang bisa berbangga dan bisa pamer yah ngatain Elisa sebagai istri" ucap Try menyindir.


" Ya terus masa aku bangga sama istri kamu kan nggak mungkin" ucap Andre.


" Iya deh! Udah kamu juga makan tuh bekal bikinan dia, aku dapat amanat darinya kaya yah dia sangat khawatir sama kamu" Ucap Try.


" Benarkah, wah perhatian sekali" Ujar Andre mengambil tas kotak bekal yah.


" Dre jadi kamu sekarang bukan si Petapa lagi?" Ujar try.


" Maksudnya?" Andre kebingungan dengan perkataan Try yang ambigu.


" Yah kamu sudah jadi pria sejati dong! sekarang" Ucap Try.


" Hah? apa sih?" Semakin tambah binggung.


" Ya itu plester di lehernya Elisa katanya bekas dari gigitan kucing besar warna hitam" Ujar try memperjelas sesuatu.


" Ah~itu, apakah Dia sendiri yang bilang begitu?" ucap Andre yang penasaran.


" Iya, jadi kamu sudah ..." Tak sempat melanjutkan karena ucapan Try terpotong karena suara Jun yang tiba-tiba muncul hingga membuat mereka terdiam sejenak.


" Kalian berdua rupanya ada di sini, tadi sedang ngobrol apaan kaya asik nih"


Bersambung.....


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya


Kamis 28 Oktober 2021