
Malam yang sunyi, Elisa yang terbangun di malam hari karena Andre yang tidak ada di sampingnya saat ini. Ternyata Andre sedang berdiri di balkon, seraya menatap keluar pagar rumahnya. Elisa bangun dari kasur, lalu mendekati Andre. Memeluk dari belakang, Andre baru tersadar dari lamunannya.
^^^Pukul 01.00^^^
^^^Di Kediaman Rumah Arafif.^^^
"Kenapa? Kamu gak bisa tidur ya. Kepikiran soal tadi, padahal ada aku di sampingmu. Apakah tidak bisa pengaruh seperti biasa yah? Kan kalau ada elisa katanya akan langsung tidur, kok sekarang nggak" ujar Elisa yang meluk Andre dari belakang, menenggelamkan wajahnya di punggung Andre.
"Hmm- Maaf ya, aku tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Karena kepikiran dan tidak bisa tenang, maafkan aku elisa. Ini terus berputar di otakku hingga membuatku merasa tidak enak, bagaimana cara untuk menghadapinya, saat sudah tahu begini" ucap Andre yang menarik tangan Elisa, hingga membuat Elisa sekarang berada di depannya.
"Iya aku mengerti, aku juga sangat kesal dan geram sama orang seperti itu. Kok bisa ya dia melakukan hal itu padahal kamu teman yang sudah sebaik ini. Apa yang di pikirannya dan apa tujuan dia sebenarnya. Aku jadi curiga tahu mas, apa yang mendorong dia untuk melakukan hal seperti ini" ucap Elisa yang malah jadi geram.
Andre hanya diam mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Elisa, pikiran andre sudah tidak karuan tak bisa memikirkan jalan keluar apapun. "Sayang!" panggilan lembut andre pada Elisa.
"Hemm, ada apa?" elisa menatap suaminya.
"Temenin mas sholat yuk!" ajakan andre pada elisa.
"Baiklah, kamu ambil wudhu duluan sana." ujar elisa yang melepaskan pelukan dari andre.
Akhirnya setelah mereka menunaikan sholat malam, sedikit kecemasan dalam benak andre agak meredah. Andre yang sudah agak baikan, mulai bisa tidur dengan tenang di pangkuan elisa, walau sesekali andre menarik nafas panjang.
"Kasihan juga suamiku, dari luar ia terlihat baik dalam hidup yang serba ada dan sangat enak. Tapi, di dalam ya MasyaAllah rumit banget. Urusan ini belum selesai datang lagi yang baru, ini belum kelar datang lainnya. Kapan kamu senengnya, kok menderita terus hidupmu." dumal elisa seraya mengelus-elus kepala andre dengan sangat lembut.
Keesokan paginya, elisa yang berada di dapur membantu meyiapkan sarapan untuk keluarga. "Hwuaaa!" Elisa beberapa kali selalu menguap karena kurang tidur.
"Masih ngantuk mba elisa, mendingan tidur lagi aja" ujar bi ina yang menyahut saat masuk dapur.
"Nggak bisa tidur lagi bi, kalau sudah bangun ya bangun terus, walau seberat apapun mata ini karena menahan ngantuk, nggak akan bisa tidur bi. Bisa tidur juga nanti habis dhuhur begitu bi ina." ujar elisa menjelaskan siklus tidurnya.
"Eh, kok bisa gitu ya?" ucap bi Ina yang keheranan dengan cara tidur Elisa itu.
"Karena sudah terbiasa dan banyak pelatihan, dulu waktu aku masih single. Elisa sebelum menikah, harus berangkat pagi-pagi buta buat kerja subuh-subuh. Karena harus ngambil koran untuk di jualan, sampai siang pergi ke mini market jadi kasir, sampe sore terus nganter ketringan, malamnya aku buat kue untuk jualan." ucap Elisa yang menceritakan sekilas kisah hidupnya.
"Ya Allah! banyak banget mba, itu satu hari berapa jop yang di pegang." ucap Bi Ina yang merasa prihatin dan kasihan.
"Iya bisa 4 sampai 5 profesi sebelum kerja di rumah sakit ya papah" ucap elisa yang menjelaskan.
"Banyak juga ya, gak capek mba?" ucap Bi ini.
"Capek, ya mau gimana lagi sudah resikonya karena ayah jatuh sakit. Jadi banyak banget yang harus Elisa urus, biaya sekolah. Beli obat buat ayah, bayar kontrakan dan lain sebagainya." penjelasan Elisa yang sangat panjang.
"Tapi, sekarang Alhamdulillah. Udah dapat jodohnya keluarga yang baik ya mba," ucap Bu Ina yang membantu Elisa memasak.
"Hehehehe, iya Alhamdulillah. Padahal gak pernah kepikiran sebenarnya akan jadi istri seorang Dokter. Apa lagi Dokter yang paling populer di RS, gak pernah kebayang melintas di pikiran." ucap Elisa yang memikirkan saat di lamar Andre waktu itu.
"Jodoh itu sulit untuk di tebak, kadang saat sudah lama pacaran dan yakin sama pacar atau kekasih kita eh ternyata bukan dia jodoh kita," ucap bi Ina jadi curhat.
Elisa melongo saat mendengar hal itu, ternyata bi Ina punya pengalaman begitu. "Emangnya Bi Ina pernah ya ngalamin itu?!" ucap Elisa yang penasaran.
"Iiih- si mba, jangan gitu dong! Ya kalau di tanya gitu. Tentu saja pernah atuh, apa lagi bi Ina hidup di jaman dulu yang musim perjodohan" ucap Bi Ina yang malu-malu.
"Cieee- cieee. Jadi ceritanya pernah di jodohin nih!" ucap Elisa yang menggoda Bi Ina.
"Apa sih mba..." Bi Ina jadi malu, karena di goda Elisa ini, hingga terdengar suara panggilan yang khas. Membuat mereka berhenti bercanda .
"Sayang!" Andre yang baru datang, membuat kedua wanita itu langsung menoleh.
"Hmm- kamu udah bangun. Eh, udah rapi. Mau kemana?" tanya Elisa.
"Ke Rumah Sakit." jawab Andre.
"Lah, mau berangkat sekarang?" tanya Elisa yang melihat Andre sudah rapi dengan stelan kemejanya.
"Nggak, nanti agak siang jam delapan" jawab Andre yang menjelaskan.
"Iya, maksudnya kamu gak libur hari ini. Harus berangkat, ini hari Minggu loh?" ucap Elisa yang mengingat hari, apa lagi karena semalam juga Andre tidak bisa istirahat dengan baik.
"Nggak, masih ada kerjaan di rumah sakit." jawab Andre yang mengingat laporan yang belum selesai.
"Ouh! Gitu, mau aku temenin. Karena kan dokter dan sebagian staf dokter mu banyak yang libur, mungkin dokter piket aja kan yang ada. Aku tahu, ada aku di sana juga gak membantu banyak tapi—." ucap Elisa yang menawarkan diri, ucapnya langsung di potong.
"Nggak usah, kamu di rumah aja. Hmmm, sayang! Kamu... Masih lama?" tanya Andre yang melirik pada Elisa yang masih sibuk.
"Apanya!" tanya Elisa yang kebingungan.
"Masaknya?" ucap Andre yang menatap Elisa lekat. Bi Ina yang dari tadi memperhatikan mereka ke senyum-senyum sendiri.
"Kenapa emangnya, kamu udah lapar ya?" tebak Elisa, melihat Andre yang saat ini menatap tangan Elisa saja.
"Nggak kok!" ucap Andre yang menatap Elisa dengan penuh misteri.
"Terus, kenapa?" ujar Elisa yang kebingungan.
"Nggak apa-apa, yaudah aku ke depan dulu" ucap Andre yang meninggal Elisa.
"Kenapa si tuh orang, aneh banget?" Elisa yang kebinggungan dengan sikap Andre.
"Sudah mba, di tinggal aja nanti saya yang lanjutkan. Nggak apa-apa, mungkin den bagus pengen nete kali" ucap Bi ini seraya matanya mengedip genit.
"Apa si Bi, dia bukan anak kecil yang harus nete! Bisa aja nih bi Ina, masih pagi tahu bi" ucap Elisa yang malu-malu
"Seharusnya aku yang nanya begitu. Kenapa kamu ada di sini?" tanya Andre kebinggungan saat melihat try yang mengambil semua laporan yang sekarang di meja Andre.
"Ada tugas," jawab Tidak kamu membuat Andre kepikiran.
"Paman," panggilan Kevin yang langsung masuk ruangan Andre.
"Lah, kok kalian malah datang ke sini si? Pasti Kevin yang mengajakmu datang iya kan, Try!" tebak Andre.
"Biar aku yang akan membantu mu untuk menyelesaikan semua ini, kamu mendingan pergi dengan Zacky ke New York sekarang juga. Mark sudah datang, dia akan menjemput mu" ucap Try yang sudah melihat Mark.
"Hah? Kenapa aku harus—" ucapan Andre harus terhenti saat melihat Mark sudah membuka pintu ruangan Andre.
^^^BAHASA SPANYOL^^^
Pria separuh baya memasuki ruangan dengan beberapa orang di belakang ya, berjas hitam khas bodyguard. Mark adalah salah satu ajudan yang setia, dari keluarga bangsawan ANDRILOS.
MARK : Tuan, saya datang khusus untuk menjemput anda.
ANDRE : Kenapa anda datang kesini?
MARK : Karena ini perintah dari anggota asosiasi semua dewan internasional, mereka ingin menemui anda di istana Pusat.
ANDRE : Sekarang?!
MARK : Tidak, tapi nanti besok. Hari Senin, anda di harapkan datang ke rapat para dewan untuk membicarakan tentang Tahta ANDRILOS.
ANDRE : Saya akan pulang dulu, membereskan barang-barang yang harus saya bawa.
MARK : Tuan, Nyonya muda sudah ada di bandara sekarang.
ANDRE : Eh, Istri ku juga ikut?
MARK : Iya, tentu saja. Karena beliaukan putri mahkota ANDRILOS yang akan di lantik juga jadi seorang Ratu, untuk menggantikan posisi Ratu di ANDRILOS.
^^^SELESAI^^^
"Dre pergilah, Mark Zuckerberg sudah ada di sini pasti ini keadaan ya mungkin darurat" ucap Try yang menyarankan.
"Iya paman, biar urusan disini kami yang akan menjaganya." sambung Kevin.
Pada akhirnya Andre pergi ikut dengan Mark, untuk ke bandara. Sesaat perjalanan, Andre hanya diem saja memikirkan keadaan saat ini. Hp andre ada pesan masuk, dari Elisa.
...*...
...*...
...*...
[ Mas, kamu dimana? aku di jemput orang banyak. Ketat sekali penjaga mereka, Elisa sangat takut nih? ]
^^^[Aku akan segera sampai di bandara !]^^^
[Bandara? Bandara mana?]
^^^[Kamu lagi dimana?]^^^
[Di taman yang luas, aku gak tahu ini tempat apa? yang Elisa tahu katanya mereka teman Dady]
^^^[Apa! Elisa coba kamu lihat, di tangan mereka pakai cincin atau jam tangan aneh tidak. Coba kamu cek?]^^^
[Tidak ada, tapi mereka bawa pistol. Semuanya bawa pistol, aku tidak bisa kabur]
^^^[Saat kamu di jemput, kamu ada di mana?]^^^
[Di rumah ibu]
^^^[ Jadi, mamah dan papah tidak tahu kamu di jemput mereka?]^^^
[Iya, kenapa mas.]
^^^[Sayang, jangan matikan hpmu. Buka jps-mu dan SMS Azril untuk melacak lokasimu, lakukan sekarang]^^^
[Baik, aku akan turuti pemerintah dari mu]
...*...
...*...
...*...
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...
Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...
Selasa 12 April 2022.