Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
181. Duka Mendalam.


Junno yang mencoba untuk membunuh Andre yang sedang ngobrol dengan Mark dan ketua ke pengawalan internasional. Tanpa kewaspadaan Andre lengah, pistol di samping sabuk salah satu prajurit di curi oleh Junno, yang akan di masukan ke dalam sebuah helikopter.


"Alzam kau harus mati hari ini juga, jangan harap kau akan hidup di hari esok. Karena hari ini adalah hari terakhir mu di dunia ini, kematian mu sebagai tanda penebusan dosa yang telah membunuh ayahku." ucap Junno dengan mata yang penuh dengan amarah.


Dari jauh Elisa yang tadinya sedang mengobrol dengan Kevin, dan adiknya Azril harus di kagetkan dengan Junno yang sudah mengarahkan pistol ya ke arah Andre.


"Mas Andre, awasss—" Elisa lari dari tempat, untuk melindungi suaminya. Elisa langsung saja memeluk Andre dengan sangat erat, saat menyadari jika Elisa ingin melindungi dirinya, Andre refleks memutar tubuh untuk berbalik melindungi Elisa.


"Hah! Tidak, Elisa" ucap Andre parau, kecepatan tinggi peluru itu meleset dengan sangat kilat tidak bisa terhindar lagi, mereka saling melindungi satu sama lainnya.


"Lindungi Tuan—" Teriak ketua pengawal, tapi semua itu terlambat karena sangat cepat tak bisa di elak lagi.


DOOORRR !


DOOORRR !


SYAAAATTT !


JEELLEEEPPP !


Semua kaget saat Junno menembak dengan sangat tepat kearah tujuan, setelah dua peluru ia lancarkan dia langsung di ringkus oleh pengawalan internasional. Tapi, saat peluru itu selancar kearah Andre. Tiba-tiba ada yang datang menghalangi lajunya peluru itu, hingga akhirnya dua peluru itu mendarat di tubuh seseorang.


"Tidak, Junlion..." teriakan Junno yang kaget, saat saudara kembarnya tiba-tiba datang untuk menghalangi peluru, dan melindungi Andre.


"Kenapa kamu—"Andre juga sangat kaget saat melihat Junlion datang.


BRUUUG!


"JUNLION !" Andre langsung berlari ke arah Junlion yang sudah ambruk, karena dua peluru tersebut.


Salah satu pelurunya tepat di jantung, dan satunya di bagian kaki. Andre langsung memangku tubuh Junlion, yang sudah tidak berdaya, seraya wajahnya sudah berkaca-kaca.


"Junlion, kenapa kau... Cepat telfon ambulan, Try cepat telfon ambulan, Junlion harus segera di bawa ke rumah sakit" pecah sudah tangisan Andre.


Junlion dengan nafas yang tersengal-sengal, dan nafas yang begitu sangat berat. "Andre, apakah kamu tidak apa-apa?" ucap Junlion seraya mengatur nafasnya.


"Dasar bodoh, kenapa kamu malah menghalangi ya. Kamu malah masih sempat menanyakan keadaanku, kau yang terkena peluru" ucap Andre yang menahan dadah Junlion karena darahnya terus keluar.


"An–dre, kamu maukan maafkan Junno. Dia, sebenarnya anak yang baik. Entah karena hasutan siapa, makanya dia jadi terlalu terobsesi dengan singgasana ANDRILOS. Maafkan aku, karena tidak bisa mencegah hal ini terjadi, dan membahayakan keselamatan kalian" ucap Junlion yang masih sempat bicara panjang.


"Tidak apa-apa, aku sudah memaafkan Junno. Asal kamu bisa bertahan Junlion, sebentar lagi ambulan akan datang. Kamu bertahanlah, sebentar lagi, ku mohon-ku mohon padamu" ucap Andre yang sudah tak bisa berkata-kata apa-apa lagi.


"Tidak, Andre! Mungkin, inilah akhir bagiku. Andre, kamu maukan berjanji padaku. Kamu Jangan pernah sesali apapun. Semua ini bukan salahmu, semua ini adalah salah orang dahulu" ucap Junlion yang tahu sifat Andre, ia pasti akan langsung menyalakan dirinya, jika terjadi sesuatu pada orang-orang terdekatnya.


"Apa yang kau katakan, kamu pasti akan baik-baik saja. Junlion jangan membuatku takut, bagaimana dengan bisnis yang kau jalankan denganku!" ucap Andre yang mengingat jika Junlion yang ingin membangun sebuah kafe di dekat rumahnya.


"Andre, aku yakin suatu saat nanti akan ada penerus bisnisnya. He-he-he, jika aku banyak salah padamu maafkan aku yah. Elisa, maafkan aku yah, jika aku selalu berulah dan berdebat denganmu, tapi jujur kalian berdua adalah pasangan yang sangat serasi" ucap Junlion membelai pipi Elisa lembut.


"Terimakasih dokter Jun, dokter Jun tidak punya salah kok sama Elisa" ucap Elisa yang menangkap tangan Junlion dan menggenggam ya erat.


"Mana mungkin tidak punya salah, pasti ada walau kau tak ucapkan. Aku sadar kok jika aku selalu memanggil mu dengan sebutan gadis obat, he-he-he maafkan aku ya Elisa" ucap Junlion dengan senyum yang tipis.


"Dokter Jun, Elisa anggap itu sudah jadi ciri khas bagi dokter Jun, untuk memanggilku begitu" ucap Elisa yang menjelaskan.


"Terimakasih atas perhatiannya, aku sangat senang sekali bisa mengenal mu. Walau hanya sebentar, Elisa tolong kamu jaga Andre dengan baik ya. Pria gunung es ini tidak mendapatkan perhatian khusus dari wanita, dia juga tak pandai romantis seperti ku" ucap Junlion.


"Sudahlah jangan banyak bicara... Kalian sudah hubungi ambulan, cepat mana ambulan ya!" Teriak Andre yang sudah tidak sabar.


"Andre, boleh ku minta sesuatu pada mu kemungkinan ini permintaan terakhir ku. Bolehkan, aku sampaikan. Tapi, kamu harus wujudkan yah!" ucap Junlion.


"Apa yang kau katakan Jun, jangan memaksakan diri. Kamu bisa katakan saat kau sehat, sekarang kamu diam saja simpan dulu energi mu" ucap Andre yang sangatlah khawatir.


"Takutnya malah tidak tersampaikan, sebagai penebus dosa ku mungkin inilah jawaban dari tuhan untukku. Aku ikhlas kok, tak bisa melihat malaikat kecilku tumbuh. Akan tapi, aku bisa menyaksikan dia dari alam lainnya" ucap Junlion yang tersenyum pahit.


"Apa maksudnya?" Andre tak faham dengan yang di maksud Junlion.


"Andre... Bolehkan, aku minta tolong padamu? Bisakah kamu jadi ayah baktis bagi anakku. Aah! aku lupa mengatakan semua padamu, aku rujuk dengan Irene dan saat ini dia sedang hamil anakku, maafkan aku malah mendahului mu lagi. Hehehe, bisakan Andre kamu memenuhi permintaan ku ini."


"Tidak! Aku tidak mau. Mana mungkin aku menjaga anakmu, kau ayahnya. Jadi kau harus bertanggung jawab"


"Hehehe Iya-iya aku akan tanggung jawab, berikan saja sisa gajiku pada anakku yah, untuk biaya persalinan. Bisakah kamu menggratiskan ya, hehehe"


"Sudahlah jangan banyak bicara, aku akan membawamu" ucap Andre yang membopong tubuh Junlion ke ranjang, karena ambulan baru aja datang.


"Tuan mobil ambulan lainnya juga sudah sampai" ucap anak buahnya.


"Baik!" serempak semua mengatakan dengan hormat.


"Elisa kamu sama Azril dulu ya, maafkan aku. Try tolong jaga Elisa" ucap Andre yang berpesan sebelum pintu ambulan di tutup.


"Iya, kau pergilah dulu biar aku akan membersihkan di sini" Jawab Try.


"Terimakasih, maaf merepotkan kamu" ujar andre lalu pintu mobil ambulan pun tertutup.


"Try kau pergi saja bawa Elisa perawatan, biar yang di sini aku saja yang membereskannya... Kevin kau ikutan sana, mungkin nanti Andre akan membutuhkan kalian berdua." ucap Zacky yang menyuruh mereka pergi.


"Baik Paman!" ucap Kevin.


"Hey kau adiknya Elisa, cepat sini. Kamu tetap di sini bersama ku kita, karena masih ada urusan melacak keberadaan orang-orang itu, ayo pergi bersama" ucap Zacky yang langsung merangkul Azril.


Berada di dalam mobil ambulan, Andre yang sudah bersiap mengambil penanganan pertama di bantu oleh Suster, dan perawat laki-laki.


"Andre, Terimakasih."


"Nanti saja bilang itu, sekarang kamu diam lah aku akan sedang berusaha membantumu mengobati luka mu ini, jadi jangan banyak gerak."


"Andre, jika aku jadi seorang ayah. Hmph! apakah, nanti anakku akan menerima ku?" tanya Junlion yang punya pemikiran khawatir.


"Dasar konyol, tentu saja diakan anakmu. Pasti akan menerima mu, bagaimana dia tidak bisa menerima mu" ucap Andre yang menjelaskan.


"Apakah nanti, dia ingin ANDRILOS juga seperti pamannya. Aku takut, jika nanti dia akan berebutan lagi dengan anakmu kelak, dan sejarah akan terus berlanjut!" Junlion yang sangat khawatir dengan kondisi seperti itu."


"Jangan khawatir, dia pasti anak yang sangat pandai. Jika kau yang mendidik dan merawat sendiri, dia akan jadi bibit unggul seperti mu. Maka hal yang kau takutkan itu tidak akan terjadi" ucap andre yang menjamin, dan menyakinkan Junlion.


"Andre! Bagaimana jika umurku tak sampai di situ, hmph... Entah kenapa, aku merasa inilah waktu ku" ucap Junlion yang sudah tidak tahan, mata mulai kabur.


"Apa yang kau katakan, makanya sudahlah. Kamu jangan banyak bicara, diam saja. Karena aku pasti akan menyelamatkan kamu" ucap Andre yang terus-menerus menyakinkan Junlion, dan dirinya sendiri.


"Andre, soal pertanyaan ku tadi aku serius menanyakannya kepada kamu. Tapi, kenapa kamu belum menjawabnya? apakah kamu setuju menjadi ayah baktis untuk anakku?" ucap Junlion yang terus mendesak Andre.


"Sudah aku jawab kan tadi, bahwa aku tidak mau. Kau tahu aku seorang muslim, mana mungkin aku jadi ayah baktis bagi anakmu. Jadi hanya kau yang pantas, untuk anakmu" ucap andre yang langsung membentak dan menatap tajam Junlion.


"He-he-he, kadang aku sangat kangen dengan suara amarahmu ini. Karena kamu jarang marah, tapi aku senang bisa mendengar ya. Hehehe"


Uhuk- uhuk- uhuk-


Junlion sudah mencapai batas tubuhnya, ia terbatuk-batuk yang keluar adalah darah, itu membuat Andre panik, dan sangat kebingungan mencari apa untuk membantu Junlion. Karena saking paniknya, hingga otaknya tidak bisa berfungsi untuk berfikir.


"Junlion, Junlion!" ucap Andre yang panik.


"Andre, aku baik-baik saja. Mungkin, ini sudah waktuku, sisa hidupku tidak lama lagi. Jadi aku mau sampaikan pada mu semuanya, kamu maukan mendengar ya" ucap Junlion, yang masih punya sisa tenaga.


"Sudahlah jangan bicara terus, dan jangan banyak ngomong seperti itu. Kamu pasti akan sembuh dan akan baik-baik saja Jun. Kamu pasti bisa melihat anakmu, dan merawatnya sendiri" ucap Andre.


"Itu impian yang sangat indah Andre, aku mau seperti itu. Tapi... Andre, kau itu seorang Dokter yang sangat jenius, kepintaran mu juga sudah di akui dunia. Akan tetapi, kenapa kamu sangat bodoh sekali saat ini, jika aku memercayai sugesti itu, kau bener-bener bisa mengendalikan diriku atau tubuh orang. Kau tahu jika peluru itu telah menembus kulit dadah bagian kiri milikku, dekat dengan jantung ku. Aku tak punya banyak waktu Andre, Aku akan sampaikan sekarang. Jika kau tidak ingin melakukan ya, maka walau aku sudah menjadi arwah. Aku akan terus menghantui kamu, jadi siap-siap ya" ucap Junlion masih sempat membuat lelucon.


"Kamu pasti akan baik-baik saja Jun, tidak akan terjadi apapun padamu" ucap Andre yang merai tangan Junlion yang saat ini sedang mengacung pada andre.


"Andre, saat kau di rumah sakit. Tolong kau masuk ke ruangan ku, di sana ada sebuah rahasia yang ku sembunyikan. Berada di laci mejaku, ada sebuah buku yang aku tulis beberapa nama-nama terbaik untuk calon anakku, dan hadiah ulang tahun untuk Irene. Aku sudah janji akan merayakannya dengan Irene saat anak kita lahir, tapi sepertinya... Aku tak akan bisa, jadi sampaikan padanya jika aku tak pulang kerumah malam ini. Andre, terimakasih untuk segalanya. Terimakasih kamu juga telah menerimaku, kamu adalah adikku yang terbaik. Aku sangat menyayangimu, Alzam Andriano Luwiss Clarlosen. Aku akhirnya bisa tidur dengan sangat nyenyak dan damai, walau tak bisa melihat anakku. Tapi, ku selalu meminta pada Tuhan, agar mereka selamat dan sehat. Andre aku titip mereka ya, sampaikan permohonan maaf ku pada irene." Ucap Junlion nafasnya mulai hampir hilang.


Andre menggenggam tangan Junlion begitu sangat erat, mata Andre sudah basah karena menangis entah tak bisa ia ungkapkan lagi, Andre berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Junlion, mata Junlion juga sudah mulai meredup.


"Andre, jangan kau selalu berfikir kalau semua ini salahmu, janji ya. Terimakasih, atas segala perhatiannya mu selama ini. Aku yakin, kau pasti tidak akan tega membuat anakku terlantarkan, aku tahu walau kamu berkata tidak bisa menjadi ayah baktis baginya. Tapi, kamu akan menjadi ayah angkat yang terbaik baginya, selamat tinggal adikku" ucap Junlion tangan yang ada di genggaman Andre sudah tidak bertenaga lagi, dan mulai jatuh dari tangan Andre.


"Tidak! Tidak Junlion, hik... Kumohon... hik Bangunlah hik... Aku tidak mau jadi... hik, ayah angkat... hik... Tidak! tidak Jun, buka matamu hey, Junlion jangan bercanda. Kamu, tidur kan... Iyakan, Jun. Kita akan sampai di rumah sakit, aku akan... JUNLION..." ucap Andre yang terisak-isak.


Perawat laki-laki mengecek denyut nadi Junlion, yang ternyata sudah tidak ada. Nafas dan jantung sudah berhenti, lambat suhu tubuh Junlion juga menurun.


"Dokter Andre! Dokter Junlion, sudah tiada. Dokter Andre harus ikhlas, inilah yang terbaik untuk beliau. Anda tadi tidak, mendengar ya. Jangan menyalakan diri anda, karena ini sudah takdir bagi dokter Junlion." perawat laki-laki, yang menenangkan Andre.


"Iya, Dok. Jika anda seperti ini, Dokter Junlion pasti akan sangat sedih. Anda boleh bersedih, tapi jangan terlalu berlarut karena itu juga akan bertambah beban untuk dokter Jun di akhirat nanti" ucap suster perawat.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...


Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...


Selasa 19 April 2022.