Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
80. Istana Monarfi.


^^^Pukul 07.00 pagi.^^^


Andre saat ini sedang pergi ke bagian administrasi, untuk masalah persyaratan kepulangan Elisa dari rumah sakit.


IBU 1 : Bu, mana suamimu?


Menghampiri Elisa yang saat ini sedang menunggu Andre yang belum kembali.


" Aduh! ini ibu ngomong apa sih, di tadi nanya suami yah? Anu- Bu aku gak bisa ngomong bahasa kalian, Sorry Me No Speak English!" Ucap Elisa yang mengunakan bahasa seadanya.


Tak lama setelah Andre sibuk mengurus administrasi Elisa ia langsung balik kepada istrinya lagi, melihat Elisa yang muka pucat gara-gara dikerubungi ibu-ibu.


ANDRE : Ini ada apa yah?


" Mas Andre, kamu lama banget aku hampir mau mati gara-gara mereka menanyakan hal-hal tidak aku mengerti" Ucap Elisa.


" Hehehe, mereka hanya mau kenalan sama kamu. Yuk ! kita pulang" Ucap Andre dengan senyuman menawannya.


Senyuman andre adalah senyuman maut bagi makhluk hidup, seisi penghuni ruangan tersebut sampai harus menjaga jantungnya, karena melihat senyuman itu dari Andre, walau senyuman itu tertuju untuk Elisa tapi ibu-ibu itu jadi saksi mata melihat Andre yang tersenyum sangat manis membuat lebih mempesona.


IBU 1 : Ternyata saat dia tersenyum senang seperti itu jauh lebih tampan


IBU 2 : Iya dia pasti keturunan raja-raja di masa lalu


ANDRE : Ibu-ibu terimakasih yah untuk kebaikannya selama kami disini, kami pamitan semoga anak dan keluarga kalian cepat sembuh


Ucap Andre yang langsung berpamitan dengan semua yang ada disana, Elisa hanya bisa tersenyum karena tidak bisa bicara dalam bahasa Inggris.


" Ayo sayang, kamu bisa jalan sendiri atau mau ku gendong sampai mobil" Ujar Andre yang membantu Elisa untuk turun dari atas ranjang.


" Apasih nora banget, ya bisa lah emang kaki aku selemah itu" Ucap Elisa sambil berpegangan erat pada lengan kekar Andre.


" Ya kirain gitu, masih mau manja lagian aku kan sedang berniat baik menawarkan diri buat jadi kulir pengakut buat kamu" Ucap Andre yang langsung dapat tatapan menajam dari Elisa.


" Emang aku karung beras apa?" Ucap Elisa kesal akan gurauan Andre yang menjengkelkan itu.


" Iya bukan gitu juga sih" Ujar Andre yang menopang tubuhnya.


Di sisi lain, dokter Victor yang tadinya menangani elisa sedang berada di ruangannya, menelfon seseorang.


VICTOR : Tuan, beliau dan istri hari ini sudah akan keluar rumah sakit... Tidak parah, hanya saja gangguan pencernaan yang kurang baik... Yaitu asam lambung naik... Baik


Sambil melihat dari balik kaca jendela ruangan yah.


Sesampainya di mobil, supir pribadi sudah datang, membukakan pintu mobil, Elisa masuk kedalam disusul Andre juga masuk.


" Emang jalannya sudah tidak macet lagi?" Tanya Elisa spontan.


" Tidak tahu!" Andre juga tidak tahu soal itu.


SUPIR : Tuan- Nyonya kita berangkat sekarang


ANDRE : Iya, apakah jalan sudah di buka


SUPIR : Mungkin agak sedikit lama karena masih satu jalur yang di buka


ANDRE : Ouh! baiklah, jangan terlalu mengebut juga kita jalan pelan-pelan saja


SUPIR : Baik tuan


Melihat seluruh pemandangan yang putih hamparan, pepohonan yang gundul hanya warna putih dimana-mana, udara juga sangat dingin.


" Sayang! pake ini" Ujar Andre yang memakai jaket tebal miliknya kepada Elisa.


" Hemm--, di sini lebih dingin yah" ucap Elisa tubuhnya sampai menggigil.


" Iya, kalo musim salju begini biasa tak banyak yang keluar rumah" Ujar Andre yang memastikan jika Elisa tidak kedinginan.


" Iya pasti semua berhibernasi, iya kan mas" Ucap Elisa yang polos langsung Andre melirik tajam.


" Huh! emang mereka hewan yang harus berhebernasi? " Ucap Andre.


" Iya hewan dan manusia sama saja kan, hanya beda dalam fisik dan pelafalan penyebutan saja" Ucap Elisa.


" Yaudah deh iya terserah kamu saja gimana enaknya" Ucap Andre yang sudah tidak bisa berdebat lama-lama dengan Elisa.


...🏡...


...🏡...


...🏡...


Perjalanan terasa agak lama karena mengambil jalan memutar dan beberapa jalan sedang masa perbaikan karena tertutup salju, Elisa yang hanya bisa melihat pemandangan salju itu merasa sangat jenuh jadinya.


" Masih lama yah, buat sampai" Gerutu Elisa yang menanyakan pada Andre mata masih fokus ke jendela.


" Sebentar lagi, sabar yah" Jawab Andre yang mengelus-elus kepala Elisa dengan tatapan mata lembut.


" Elisa udah lapar lagi nih! lama banget sampai yah" Elisa berbalik dan langsung memeluk Andre.


" Kamu mau makan apa?" Tanya Andre yang membalas pelukan Elisa itu, sambil tangannya menyeka rambut dan menyelipkan ke telinga.


" Apa aja, yang penting enak bisa makan hingga masuk kemulut" Ujar Elisa yang masih memeluk tubuh hangat Andre.


Terlihat halaman begitu luas, yang sangat besar dengan pepohonan yang saat ini tertimbun salju, lalu ada sebuah gerbang besar berdinding beton dan gerbang besi yang kuat dengan motif bunga Tulip yang cantik.


" Kita dimana sih ini?" Tanya Elisa.


" Nanti kamu akan segera tahu" Jawab andre.


Terlihat sebuah gedung yang mewah dan megah, dengan gaya arsitektur bangunan yang menakjubkan.


...ISTANA MONARFI...



Akhirnya sampai juga didepan gerbang rumah kedua orang tua Andre yang disebut Istana MONARFI.


" Mas ini rumah siapa? kenapa kita gak balik ke apartemen, apakah jalan kesana masih di tutup yah?" Banyak sekali pertanyaan di benak Elisa.


" Sayang, kamu jangan panik gitu dong!" Andre mencoba menenangkan istrinya.


" Ini rumah kenalan kamu, atau ini rumah keluarga kamu yah" Ujar Elisa.


Mungkin rumah Andre yang di Indonesia, sudah bikin dia takjub dan rumah di berikan kepada kedua orang tua masih cukup normal, tapi rumah yang satu ini bikin bulu kuduk Elisa bergetar, jiwa-jiwa miskin Elisa menjerit-jerit.


" Sayang ini rumah mamah dan papah, kita sementara tinggal di sini dulu yah sebelum kita balik ke Indonesia" Ujar Andre yang mengatakan sambil membelai kepala Elisa.


" Emang mamah-papah ada disini juga?" Tanya Elisa yang bola matanya kaget jika mertua ada di dalam.


Andre tersenyum. " Nggak ada sayang, ini rumah mamah sama papah, kamu gak mendengar aku dengan baik. Ini rumah dulu saat mereka tinggal di sini, setelah menikah dan saat aku masih kecil tapi sekarang hanya jadi rumah persinggahan sementara saja saat mau liburan ke sini" Ujar Andre yang menjelaskan.


" Ouh gitu" Elisa baru mengerti.


" Iya, ayo kita keluar" Ujar Andre karena pintu mobil sudah di buka oleh ketua pelayan pria.


CALDER : Selamat datang tuan muda, dan nona muda


ANDRE : Terimakasih sudah menyambut kami


" Thank you Mr " Ujar Elisa sebisanya


CALDER : Sama-sama nona muda


" Sekarang, tutur bahasa Inggrismu lebih baik sayang" Ujar Andre yang langsung berjalan beriringan dengan Andre.


" Hahaha iya lah berkat kerja keras ku belajar pijatan lidah, sebentar lagi aku akan mengalahkan kamu dalam berbahasa suamiku" Bangga Elisa, entah benar apa salah ia mengungkapkan itu.


" Aaah aku semakin takut tersaingi oleh kamu" Ujar Andre yang hanya bisa terdiam sambil menatap wajah Elisa yang sumringah.


" Tenang saja, aku pasti akan masih tetap mau mengobrol denganmu kok walau aku sudah ahli nanti" Ujar Elisa yang sifat pamer dan sombong Andre menular pada Elisa.


" Iyalah, kan kamu istriku terus kalo aku tidak ngobrol denganmu akan tukar pikiran dengan siapa lagi" Ucap Andre, yang langsung berdiri sejajar dengan Elisa.


Tiba-tiba Elisa berhenti mendadak membuat Andre jadi kebingungan, ia juga ikut terhenti langkahnya karena Elisa terlihat mematung.


" Ada apa sayang kok berhenti?"


" Itu, mereka sedang apa berbaris di depan kita"


Para pelayan terdiri dari 10 pelayan Wanita dan 10 pelayan Pria berjejer berhadap-hadapan, 10 pelayan Pria di kanan dan 10 pelayan Wanita di kiri.


" SELAMAT DATANG KEMBALI TUAN DAN NONA MUDA, KAMI AKAN SIAP UNTUK MELAYANI ANDA" Serempak mengatakan hal itu dengan membungkukkan badanya.


" Eh! ada juga yang bisa berbahasa Indonesia rupanya, Wah keren!" Ucap Elisa yang sempat takjub.


" Terimakasih, dimana Kesayangan ku apakah dia tidak menyambut kedatangan my prince yah" Ucap Andre yang mencari seseorang yang berharga bagi Andre.


Elisa kaget pikiran Elisa udah berprasangka tidak baik pada suaminya itu.


" Saya di sini tuan" Munculnya seorang wanita tua dengan tongkat khasnya, nenek ketua pelayan yang senior telah mengabdikan diri dari usia 5 tahun, yang awal hanya jadi teman bermain kakek sampai jadi pelayan kakeknya Andre hingga sampai ke Andre sekarang.


" Senang bisa melihat mu masih sehat, nenek Marlina" Ujar Andre langsung mendekat dan memeluk nenek itu.


" Saya juga sangat senang bisa melihat mu kembali cucuku, lihat dirimu sekarang sangat kurus apakah mamahmu tak memberikan mu makan dengan baik?" Ujar nenek yang dulu adalah pengurus semua kebutuhan Monika dan Andre.


" Nenek tahu lebih baik, mamah tidak bisa masak enak sepertimu" Puji Andre dengan senyuman mengembang.


" Dasar anak nakal, saat tidak ada mamahmu kamu berani-beraninya membicarakan yah" Sambil memukul pelan.


" Hemm-- tidak akan ku ulangi lagi" Ucap Andre yang tidak menghindar saat di pukul itu.


" Sudahlah, Huh? siapa dia kamu tak akan memperkenalkan ku pada wanita ini" Tiba-tiba mata tuanya melihat wanita di belakang Andre, Marlina telah di beri tahu jika Andre sudah menikah, dan akan datang kerumah besar untuk singgah bersama dengan istrinya.


" Eh- dia ..." Belum sempat Andre menjelaskan, Elisa sudah menyodorkan tanganya lurus untuk berkenalan dengan nenek.


" Nenek, nama saya Elisa Nurhaliza" Ucap Elisa senang sekali, sambil menyodorkan tanyanya tapi sang nenek malah langsung memeluk Elisa, yang tinggi sama dengannya.


" Namamu sangat cantik, sama seperti orangnya. Selamat datang cucu perempuan ku, aku senang bisa melihat mu di usiaku sekarang. Apakah cucuku ini membuat masalah, jika dia nakal jewer saja telinga yah" Saran nenek Marlina.


" Hemm, jangan mengajari Elisa seperti itu nenek. Saat dia ngambek saja aku sudah hampir gila, apa lagi dia sampai marah aku harus bagaimana nantinya" Ujar Andre.


" Ha-ha-ha kamu sudah besar yah bayi kecilku, ku pikir kamu masih bayi mungil 30 cm itu" Ujar nenek Marlina.


" Nenek-" Andre tampak kesal.


" Ha-ha-ha, baiklah kalian istirahatlah dulu" Ujar nenek.


" Nenek, Anu... itu" Elisa ragu-ragu untuk mengatakannya.


" Iya ada apa cucuku, katakan saja!" Ucap nenek membelai pipi Elisa.


" Aku sangat lapar, bisakah kita makan siang lebih cepat" Ujar Elisa.


" Apa ? kamu sudah lapar, Andre apakah kamu tidak memberikan makan juga padanya" Ucap Marlina kesal.


" Nenek! padahal tadi aku sudah memberikan dia Sarapan sebelum kesini" Ujar Andre yang mulai gelagapan.


" My sweetie katakan padaku apa yang di berikan anak nakal itu, jangan khawatir ayo katakan" Ucap nenek.


" Sayang! bukanya tadi kamu sudah sarapan yah dengan bubur, jangan bikin aku di hukum oleh nenek loh" Ucap Andre yang mode manja pada Elisa.


" Iya tapi itu di bagi sama kamu, 1 porsi bagiku saja tidak cukup apa lagi harus berbagi dengan mu"


" Bukanya kamu yang minta yah, kenapa pas ada nenek kamu malah memutar pembicaraan begitu bikin aku salah aja nih di depan nenek. Nenek jangan percaya yah, padahal dia sendiri tadi yang minta aku suapin, sesuap kamu sesuap aku"


" Iya memang aku minta itu makanya sekarang aku lapar lagi"


" Jangan khawatir sweetie, kamu istirahat dulu jika sudah siap nanti akan saya panggil. Antar tuan dan nona ke kamarnya" Ucap nenek berganti dengan pelayan.


" Tidak perlu nenek, aku sejak kecil bukankah tinggal disini, kenapa seperti orang asing saja deh" Ujar Andre kesel.


" Aku takut kamu bisa tersesat nantinya susah lagi untuk mencari mu" Ucap nenek.


" Itu tidak akan mungkin, aku tinggal di sini dari bayi hingga tumbuh besar di sini mana mungkin aku bisa tersesat di rumah sendiri"


" Hahahaha baiklah-baiklah, ajak istri mu istirahat! ku dengar dia baru keluar dari rumah sakit"


" Iya, terimakasih nenek " Ucap Elisa yang langsung tersenyum pada Nenek.


BERSAMBUNG...


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya


Kamis 9 Desember 2021