Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
192. Masih Kepikiran.


Beberapa Jam setelah Andre berangkat, ada rasa tak tega Elisa melepaskan Andre untuk pergi setelah kejadian semalam. Andre yang entah kenapa tidurnya gelisah dan sangat ketakutan. Itu membuat Elisa kepikiran, tak bisa tenang hingga membuat melamun. Walaupun sekarang di ruang itu penuh keramaian, tapi tidak dengan suasana dari hati dan fikiran Elisa yang terasa sangat kosong, tambah ada gelisah dan malah jadi khawatir memikirkan suaminya.


"Elisa, tolong ambilkan mamah air dong?" ucap Monika yang menyuruh menantunya mengambilkan air putih, karena Elisa tidak jauh dari gelas dan teko air.


"Iya mah!" Elisa mendengar apa yang di suruh, tapi karena fikiraannya tak bisa bekerjasama, akhirnya Elisa salah ambil.


"Loh sayang, mamah mintakan air bukan piring" ucap Monika yang binggung dengan Elisa yang saat ini orang yang ling-lung.


"Ouh! maaf mah, maafkan Elisa. Aduh- maaf ya ma, Elisa akan ambilkan" ucap Elisa yang kalang kabut karena hal tersebut.


Monika dan Reva saling menatap karena sikap Elisa yang membuat mereka kebinggungan, siti yang memperhatikan dari tadi menjadi khawatir pada putrinya.


"Teh, airnya udah penuh itu... Teteh!" Ucap lembut Siti, tapi putrinya tidak mendengar jadi menepuk pundak Elisa pelan.


"Eh iya Bu," ucap Elisa yang baru tersadar.


"Itu, air" ucap Bu Siti yang menujuk ke gelas air yang sudah penuh, hingga tumpah-tumpah.


"Astaghfirullahalazim, ada apa sih dengan ku. Aku kok gak bisa fokus begini, aku sangat cemas Bu." ucap Elisa yang curhat pada ibunya.


"Teteh baik-baik saja, ibu perhatian dari tadi memang teteh gak bisa fokus banyak ngelamun, kenapa teteh gak bisa fokus. Coba katakan pada ibu, sapa tahu ibu bisa bantu teteh!" ucap siti yang faham akan keadaan putrinya.


"Iya Bu, aku kepikiran sama mas Andre. Entah kenapa perasaan ku gak bisa tenang, semanjak dia memutuskan untuk berangkat kerja, Bu. Takut ada apa-apa gitu Bu, bukanya Elisa seuzdhon buruk begini. Tapi..." ucap Elisa yang tidak ia lanjutkan.


"Yaudah, jika teteh gak tenang begitu. Saran ibu, mendingan teteh pergi saja temui nak Andre, sapa tahu firasat itu ada benarnya, mungkin nak Andre ada apa-apa" ucap Siti yang menjadi ibu yang mengerti perasaan keadaan putrinya.


"Bu, Elisa gak bisa pergi. Karena mas Andre nanti marah, jika Elisa melanggar perintahnya. Mas bilang aku gak boleh kemana-mana tanpa seijin dia, gimana dong bu" ucap Elisa yang takut.


"Lagian teteh perginya juga gak kemana-mana kan? cuman ke rumah sakit nemuin nak Andre, dia gak akan marah. Kecuali, teteh pergi jauh terus gak bilang sama nak Andre atau ibu dan ayah, baru dia marah. Itu alasan yang akurat, kalau hanya pergi ke rumah sakit masa ia akan marah, nggak mungkin deh! Yaudah begini saja, sekalian bawa makanan dan cemilan. Nanti sampai sana biar jadi ada alasannya, jadi teteh gak di marahi. Nak Andre juga gak akan melarang teteh buat datang, iyakan, sudah sana disiapkan" ucap Siti yang memberikan penjelasan dan pendapat.


"Ibu bener, makasih ya Bu. Elisa siapkan dulu apa saja yang harus di bawa" ucap Elisa yang langsung menyiapkan semuanya keperluan untuk di bawa.


"Iya sama-sama, ibu bantu" ucap Siti yang sibuk membantu putrinya.


"Iya Bu, terimakasih ya bu" ucap Elisa yang sangat senang.


Setelah mengambilkan mamah monika minum, elisa melihat pak sofyan sedang mencuci mobil langsung saja elisa masuk kedalam mobil, tanpa sepengetahuan pak sofyan.


"Eh? Neng. Sudah ada didalam saja kapan masuk kedalam mobilnya? Kok bapa nggak lihat, apa karena bapak terlalu fokus nyuci mobilnya, sampai tidak sadar jika sudah ada orang yang masuk kedalam mobil"


"Saya yang tidak bilang. Main masuk saja, jika pak sofyan tidak sibuk bisakah bapak antar saya pak, atau mobilnya mau di pakai papah yah?" tanya elisa.


"Eh, nggak kok. Cuman mau di cuci saja karena sudah terlalu banyak debu, karena lama tidak di pakai. Emang neng elisa mau kemana?" tanya heran pak sofyan.


"Yah! Biasalah pak, kayak tidak biasanya saja mengantar saya, kemana lagi!" ujar elisa yang mengisyaratkan.


Pak sofyan langsung sadar jika Elisa membawa rantang dan kotak makan di pangkuannya, elisa yang duduk di jok depan itu membuat pak sofyan gak binggung, karena biasanya elisa duduk di jok belakang.


"Ouh! Mau ngaterin makan siang buat den bagus yah, tapi apakah sudah waktunya jam makan siang neng?... Lah ini masih jam 9 neng, masih lama atuh"


"Pak Sofyan jadi gimana? Mau anterin Elisa tidak pak. Jika tidak bisa, elisa akan naik taksi aja" ujar elisa yang tidak mau berdebat.


"Aduh neng! Janganlah marah, ngambeknya serem juga, bapak jadi takut ini. Yaudah yuk! Bapak antar neng buat kesana, bentar bapak beresin ember dan lap dulu."


Setelah dapat gertakan dari elisa tersebut, pak sofya akhirnya langsung jalan menuju tujuan, pak sofyan sudah menyalakan mesin mobilnya untuk keluar dari pekarangan rumah tersebut.


Saat mobil sudah agak jauh dari rumah, elisa yang sangat panik dan gelisah, tak faham dengan apa yang sedang ia rasakan saat ini.


"Maaf ya pak, elisa harus dengan cara seperti tadi dan malah merepotkan pak sofyan," ujar elisa yang merasa tidak enak dengan sikapnya pada pak sofyan tadi.


"Iya nggak apa-apa neng. Ini juga sudah jadi tugas saya neng, emangnya kenapa pagi-pagi sudah ingin mengantarkan makanan, apakah den bagus belum sarapannya?" tebak sofyan.


"Iya nih pak, Ehmm! pak tadi mas naik mobil apa?" tanya Elisa yang penasaran, karena Elisa tidak mengatar Andre sampai mobil.


"Ouh! tadi berangkat bareng sama den Rochman, jadi pakai mobil ya Aden Rochman,"ucap pak Sofyan.


"Ouuh gitu, kirain dia pakai mobil sendiri. Syukurlah kalau bareng sama dokter Try" ucap Elisa agak lega.


"Nggak apa-apa, aku hanya khawatir saja jika dia nanti bawa mobil sendiri. Kondisinya tak memungkinkan untuk melakukan itu pak," ucap Elisa yang membuat pak Sofyan agak kebinggungan.


Berada di rumah sakit, Andre sudah siap dengan semua perlindungan diri untuk melakukan operasi, semua persiapan sudah dilakukan.


"Kamu yakin Dre sanggup? jangan memaksakan dirimu" Try yang dari tadi selalu mengekori Andre dari belakang, karena rasa khawatirnya.


"Kamu tenang saja aku sanggup kok!" ucap Andre menepuk pundak Try dengan tatapan untuk menyakinkan Try.


Saat membuka pintu ruang operasi, mata Andre berkunang-kunang, jantungnya berdegup tak beraturan. Seluruh tubuhnya bergetar, tapi saat ini ia masih bisa bertahan. Karena Andre tidak mau orang lain tahu dan takut akan kondisinya saat ini, dia juga tidak mau membuat semua orang khawatir.


DEG- DEG- DEG- DEG


Ada apa ini, kenapa jantungku tidak beraturan seperti ini, apa yang terjadi. Tadi aku baik-baik saja. Sudahlah tak ada waktu untuk memikirkan hal ini, aku masih ada tugas yang belum aku selesaikan. dalam hati Andre berkata, tapi ia masih melanjutkan semuanya, seperti tidak terjadi apa-apa.


"Dokter Andre," ucap semuanya saat Andre baru masuki ruangan.


"Kalian sudah siap?" ucap Andre yang memakai sarung tangan dan bersiap-siap.


"Iya Dok, kami sudah siap!" ujar salah satunya.


"Kita mulai operasi yah, siapkan semua alatnya" ucap Andre yang bertindak profesional.


"Iya dok! Ini, sudah kami siapkan" ucapnya menujukan alat-alat yang sudah dipersiapkan.


Andre mulai dengan memberikan sobekan kecil pada tubuh pasien, tiba-tiba saat darah yang keluar dari tubuh, malah banyak sekali membuat Andre berkunang-kunang, bayangan Junlion yang terluka saat itu malah melintas. Membuat Andre menjatuhkan pisau bedahnya, dan tanganya bergetar hebat, Try yang melihat dari layar monitor, langsung lari menuju ruang operasi.


"Andre, apakah kamu baik-baik saja. Apa yang terjadi padamu, Andre jawab aku... Suster Fiki, panggil dokter Hery untuk mengantikan posisi dokter Andre saat ini, cepatlah pergi!" pinta Try pada salah satu Suster.


"Baik Dok," bergegas malah lari menuju ruang dokter yang di maksud.


"Andre duduk di sini dulu, kamu baik-baik saja" ucap Try yang membantu Andre untuk duduk di kursi, tapi Andre malah menolak yah.


"Try, aku ingin keluar dari tempat ini. Bawa aku keluar, aku... Tak bisa lama-lama di sini, rasanya sangat sesak sekali" ucap Andre yang memegangi dadanya yang mulai kekurangan oksigen.


"Oke! kita keluar sekarang juga, hati-hati... Kalian tangani ini dulu sampai dokter Hery datang," ucap try yang bergantian.


"Baik dokter Try" serempak semua mengatakan hal itu.


"Ada apa yah dengan dokter Andre? tadi dia masih seperti biasa saja" ucap suster 1.


"Jika kondisinya tidak baik kenapa dia mau melakukannya, tadi dia baik-baik saja" ucap Suster 2.


"Sudahlah, ini bisa terjadi pada siapapun" suster 1.


"Kamu bener. Baiklah kita masih punya tugas ini, cepat selesai ini" ucap suster 2.


"Andre kamu baik-baik saja, aku akan ambilkan air minum untukmu. Tunggu sini yah, aku akan kembali lagi" ucap Try saat Andre sudah keluar dari ruang operasi, dan membantu Andre duduk di kursi.


"Tidak, Try tolong jangan tinggalkan aku. Temani aku dahulu disini" ucap Andre yang menahan lengan Try agar tidak kemana-mana.


"Baiklah! Tapi apa yang terjadi, apakah kau baik-baik saja dre?" ucap Try yang panik.


"Hmmm- aku baik, aku juga sulit untuk menjelaskannya padamu. Jadi, tak bisa aku katakan apapun padamu" ucap Andre yang saat ini hanya bisa menunggu detak jantung stabil.


"Apakah aku harus hubungi Elisa?"


"Jangan, nanti dia akan khawatir. Semalam dia tidak tidur, karena harus menjaga ku. Mungkin sekarang dia sedang istirahat, Jangan ganggu dia Try."


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...


Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...


Rabu 4 Mei 2022.