Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
133. Reaksi Andre.


Tidak terasa waktu pun berlalu dengan sangat cepat, hari sudah mulai sore, Elisa yang sangat senang karena di ajak jalan-jalan keliling rumah yang sangat luas itu, oleh Brandon. Membuat dia tak sadar jika di rumah istana Monarfi, sudah kayak perang dunia ke-7. Andre yang sudah meluap-luap, karena tak dapat menemukan istrinya. Sudah kesal di buatnya, karena tak ada kabar sama sekali, dari Elisa sudah hampir 10 jam Elisa tak ada kabar.


Pukul 5 Sore, Elisa yang baru sampai karena di ajak jalan-jalan oleh Brandon, ke tempat-tempat favorit mendiang Rubia, membuat Elisa lupa diri saking asiknya.


"Daddy, aku sangat senang bisa di ajak keliling rumahmu. Hmm- kapan-kapan Elisa bisa main lagi kesini, ya tentu nanti Elisa ajak Alzam. Agar dia juga bisa merasakan ke indahan ini, dan tentunya bisa dekat dengan daddy" Ujar Elisa polos.


"Tanpa Alzam pun, kamu bisa datang kapanpun kesini putriku, rumah ini akan selalu terbuka untukmu" Ucap Brandon yang membelai kepala Elisa lembut.


"Terimakasih, Daddy memang yang terbaik" Dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


Disisi lain Andre malah kewalahan, mencari istrinya yang tak kunjung ada kabar beritanya itu. Baru kembali setelah berkeliling jalanan kota New York, Andre yang datang ke istana Monarfi dengan kesal, marah dan jengkel. Bercampur aduk dalam benak Andre saat ini, tak tahu harus bagaimana lagi.


"Kemana sih, kalau mau pergi lama seharusnya dia bilang, jangan bikin orang khawatir kayak gini" Dumal kekesalan Andre.


Berdiri di depan gerbang utama, seraya melihat-lihat apakah ada tanda-tanda Elisa akan pulang, tapi tidak ada, mobil ia parkir tepat di depan pos jaga.


PENJAGA : Tuan! sebaiknya anda kembali saja kedalam rumah, jika nona muda telah kembali saya akan langsung memberi tahu anda


ANDRE : Baiklah, langsung laporkan jika dia datang


PENJAGA : Iya, siap tuan muda.


Andre langsung pergi dari sana, kembali ke dalam rumah, di dalam rumah pun Andre tak bisa diam. Mondar-mandir di ruang tengah seraya matanya tak henti-hentinya menatap ke pintu keluar, karena Elisa sudah lama pergi.


"Andre, tenang lah nak. Kamu kayak kebakaran jenggot panik sekali, orang tuanya saja santai saja tuh, kok kamu yang panik dan khawatir begitu!" Ucap Monika yang melihat Andre seperti setrikaan, wajahnya tegang.


"Mah! bukan masalah kalau dia bilang mau kemana, dengan tujuan yang jelas atau setidaknya dia menitip pesan jika mau pergi lama" Ucap Andre yang membuat Monika tersenyum tipis, melihat tingkah Andre yang sudah kalang kabut begitu.


"Emangnya, Elisa tidak bilang mau kemana ke kamu? tujuan kemana?"


"Nggak! dia gak bilang apa-apa"


"Mungkin dia lagi makan di luar, atau sedang jalan sama temen yah"


"Kalau saja begitu, keadaannya gak akan aku sepanik ini. Dia mau keluar gak bilang apa-apa ke aku, bukan itu juga yang aku khawatirkan, tapi Elisa itu pergi gak bawa hp"


"Teteh, itu sudah terbiasa tak pernah memegang alat komunikasi, mungkin saja itu dia lupa" sahut Bu Siti yang tahu kebiasaan putrinya.


"Iya mas, tenang saja. Teteh, pasti balik kok! Dia mungkin lagi jalan-jalan" Sambung Azril yang lagi main game.


"Andre kamu terlalu panik deh! Sini duduk dulu sama mamah, udah kamu tenang saja. Nggak usah panik, nak! Kamu juga belum makan, sini nak! makan dulu biar kamu punya tenaga nyari Elisa yah" Ucap Monika yang menawarkan, buah di tangannya.


"Andre gak akan panik jika ada yang tahu diantara kalian, memberikan penjelasan kepada Andre, dimana Elisa. Lagian aku bisa kayak gini, ketularan siapa?" ujar Andre yang melirik tajam pada Monika.


"Iya iya iya mamah yang salah, telah menurunkannya kepadamu, yaudah kamu duduk dulu sini. Mau minum? kamu juga belum makan kan tadi pagi" ujar Monika yang khawatir akan kondisi putranya.


"Lagian teteh kemana sih? kok nggak ingat pulang apa. Terus, apakah lupa kalau sudah punya nak Andre" ujar Bu Siti ikut-ikutan membela.


"Bu, teteh mungkin lagi beli jajan, mas Andre saja yang terlalu khawatiran. Aku tahu mas Andre, sebenarnya gak mau jauh-jauh dari teteh iya kan. Kenapa gak sekalian saja, mas Andre beli tali biar teteh di ikat saja, agar gak bisa lari kemana-mana" saut adik iparnya.


"Mau ya gitu, biar ku ikat di tiang" ujar Andre yang mode kesal.


"Yaudah, Azril bantu mas. Untuk mencari teteh, aku pergi deh! sekarang. Pinjem motornya, kita berpencar saja nyarinya" Ujar Azril yang sudah siap.


"Andre, lagian Elisa belum hilang selama 24 jam, nanti juga dia akan balik kok" Ucap Arafif.


"Pah, bukan masalah 24 jam ya. Dia gak bawa dompet atau hp, terus tidak ada transaksi penarikan uang apapun, dari empat ATM ku. Elisa juga tidak minta uang kes padaku, lalu bagaimana? dia akan pergi buat beli jajanan, kemana dia akan bisa pergi? tanpa bawa dompet. Lagian Elisa tidak pergi mengunakan mobil milik kita, tapi mobil entah punya siapa? Dia sebenarnya di jemput oleh mobil milik siapa? kalian gak ada yang tahu kan"


"Kamu serius nak, Elisa tidak pergi mengunakan mobil milik kita?" Kaget dengan apa yang di katakan Andre, Arafif semakin panik.


"Semua supir kita juga masih lengkap, lagian kalian juga gak ada yang tanya, jadi mana ada yang tahu, kalau dia pergi naik mobil siapa" Ucap Andre yang sudah sewot.


"Itu baru yang namanya gawat, coba kamu lihat cctv mungkin ada plat mobilnya, yang membawa Elisa" Ucap Arafif jadi ikutan khawatir.


"Aku sudah cek, tapi plat nomor ya agak aneh, angka yah 0001 pah. Setahu ku, nomor yang seperti ini hanya orang-orang penting saja, atau pejabat negara dan orang yang sudah menjadi aset negara, coba papah lihat" ujar Andre yang menujukan sebuah foto dari layar hp miliknya, menunjukkan nomer plat mobil.


"Tunggu, kamu bilang apa tadi. Aset negara?" Arafif syok dengan ucapan itu, dan agak khawatir.


"Iya, karena plat mobil itu melaju kencang, jadi tidak jelas. Gak mungkin kan, jika Elisa di culik sama anggota pemerintah. Untuk apa coba, mereka menculik Elisa?" ujar Andre yang spontan buat, gelak tawa di ruangan tersebut.


"Hahahah,"


Monika, Siti, Azril dan Yusman gelar tawa mendengar celotehan Andre, sedang Arafif sedang berfikir sangat keras mengingat plat mobil itu.


"Nak Andre, kamu ini bisa melawak juga. Masa iya teteh di culik, siapa yang akan mau menculik teteh" Sahut Bu Siti.


"Ya, kan ada aja Bu. Lagian Elisa itu masih di bawa umur" ucap Andre yang berkata dengan wajah datar.


"Di bawa umur apa yah, teteh itu sudah lebih dari 20 tahun. Emang tubuh aja yang gak bisa meninggi, makanya di sangka anak di bawa umur terus" Ucap Azril yang menyahut.


"Ngomong-ngomong soal mobil ini. Kok gak asing yah, ini bukanya–hem–, mobil milik orang yang ku kenal. Tapi punya siapa yah?.. Ouh! ini kan mobilnya, Andre ini. Mobil milik salah satu koleksi Brandon!" ucap Arafif yang baru ingat.


"Hah! ngapain tuan Brandon menculik istriku?"


Di sisi lain, Elisa melirik jam tanganya terlihat jam 5 sore lebih 15 menit. Tak sadar jika waktu sudah berlalu cukup cepat, Elisa kebingungan mau menjelaskan bagaimana.


"Hm—Daddy boleh pinjam hp ya, aku akan menghubungi orang rumah, takut mereka pada khawatir, mungkin saja dia juga sudah merasa kelelahan mencariku" Ucap Elisa yang tahu kebiasaan suaminya.


"Siapa? yang kelelahan mencarimu"


"Mas Andre, eh- maksudnya mas Alzam"


"Begitukah? apakah dia suka seperti itu saat kamu tidak ada"


"Haha iya, sudah jadi kebiasaannya, jadi suka mencariku jika aku tidak ada didepannya, apa lagi aku tak bilang jika akan kemari" Ucap Elisa yang menjelaskan.


"Hmph! Ken, berikan hpku. Pada putriku"


"M-maaf ya Daddy, itu karena aku lupa membawa hpku, karena tadi berangkatnya buru-buru, jadi tidak sempat membawanya" Penjelasan Elisa.


"Iyah tidak apa-apa, kamu hafal nomernya" Tanya Brandon.


"Iyah! Elisa hafal, semua nomer miliknya. Kan Elisa yang milih nomer untuk dia, luarnya aku hafal nomor Indonesia juga aku hafal, karena cuman beda belakangnya saja dia 87 aku 88" Ucap elisa yang langsung menekan tombol angka.


...Loudspeaker📢...


🧕 : Hallo. Mas Andre, ini aku!...


🤵 : Dimana kamu?


🧕 : Aku, coba kamu tebak. Aku, berada dimana?


🤵 : Jangan mempermainkan ku


🧕 : He-he-he– Aku, ada di rumah selingkuhan ku


🤵 : Dimana?


🧕: Tidak mau ku beri tahu, nanti takut ya, kamu akan ngamuk-ngamuk. Jadi jangan kesini, bisa-bisa selingkuh ku, kamu membunuhnya


🤵 : Tentu saja! Aku akan melakukannya, karena sudah berani menculikmu. Seharusnya kamu bilang, jika kamu mau pergi, jangan bikin orang khawatir


🧕 : He-he-he, Tolong maafkan! Sudah membuat mu khawatir, tapi kamu tenang saja aku pasti akan pulang kok, diam saja di rumah


🤵 : Cepat katakan dimana kamu?


🧕 : Aku! ada dirumah orang yang kemarin, saat kita di restoran bintang lima itu!


🤵 : Siapa?


🧕 : Daddy Brandon!


🤵 : Hah? Apa maksudmu. Di mana? cepat katakan. Apakah kamu di rumah Tuan Brandon?


🧕 : Iya.


🤵 : Apa yang kamu lakukan di sana, cepat pulang


🧕 : Sudah aku katakan tadi, aku sedang selingkuh darimu


🤵 : Berikan aku alamatnya, aku akan menjemputmu


🧕 : Benarkah! Tidak, kamu akan menggangguku nantinya, aku sedang pacaran sekarang


🤵 : Iya iya iya terserah, cepat katakan dimana alamatnya


🧕 : Hmm- aku tidak tahu! Kamu kan tahu aku buta arah dan buta nama kota di New York!


🤵 : Jika tahu seperti itu, lalu kenapa kamu tidak bilang apapun jika kamu pergi kesana. Berikan pada tuan Brandon, biar aku sendiri yang tanya padanya


🧕 : Baiklah, Mas. Kata tuan Brandon, dia akan mengirimkan pesan alamatnya, jadi aku tutup sekarang telfonya. Tidak enak aku pake hp miliknya, takut pulsa habis


🤵 : Dia pemilik jaringan sinyal, ngapain dia takut pulsa akan habis, lagian Tuan Brandon juga orang kaya


🧕 : Iya iya, yasudah


Panggilan itu langsung mati, Elisa langsung memberikan hp pada Ken, yang datang mengambilnya.


"Daddy kau dengar itu, dia bersikeras untuk menanyakannya alamat mu" Ucap Elisa setelah memberikan.


"Ken, kirim pesannya. Beri tahu alamatnya, pada Alzam" Ucap Brandon.


"Baik tuan!"


"Putriku ! Kenapa kau katakan seperti itu, bagaimana jika dia nanti dia bener-bener akan mengamuk saat dia datang, nanti dikira beneran saja. Jika kamu selingkuh, bicaramu terang-terangan sekali pada putraku" Ucap Brandon yang khawatir.


"Tenang saja daddy, dia tipe yang tidak akan cemburu berlebih, ya walau ada rasa cemburu. Tapi, dia itu gengsi untuk mengatakannya"


"Maksudnya, dia tidak cemburu? apakah itu artinya dia tidak benar-benar menyukai mu" Ucap Brandon yang mengartikan kata.


"Daddy! Aku melarang dia, untuk tidak terlalu pencemburu"


"Kenapa? Bukankah cemburu itu adalah dasar dari sebuah hubungan, agar tetap awet kan"


"Daddy salah besar, jika mengartikan begitu. Malah itu penyebab utamanya, karena akan merusak moral dan pikiran, banyak suami atau istri terlalu cemburu hingga protektif terhadap pasangan, sampai harus melarang semua kegiatan pasangan. Aku malah jadi kasihan, jika terlalu di tekan. Mas Andre, selama ini hidupnya penuh dengan tekanan, jadi aku selalu katakan padanya. 'Aku tidak peduli, kamu mau dekat dengan lawan jenis manapun, tapi kamu harus ingat! Jika kamu sudah beristri dan tahu batas-batasanya, jika kamu sudah melewati batas. Baru aku akan maju untuk menghentikan langkahmu' Visi-misi, kami itu cukup sederhana. Karena kami dari awal menikah sudah buat komitmen, dan keputusan bersama, jadi tidak usah khawatir. Jika dia mau dekat dengan lawan jenis siapapun, atau aku dekat dengan siapapun. Jika masih dalam batas sewajarnya, tidak masalah jangan membatasi pergaulan pertemen, karena sapa tahu saja teman-teman itu akan menyelamatkan kita nantinya. Kalau kita saling memperkuat kepercayaan, maka tak akan menimbulkan perselingkuhan beneran kan, lagian dia sudah tahu apa yang ku mau dan apa yang ku benci. Intinya kami selalu percaya satu sama lain dan saling dukung itu saja" penjelasan dari Elisa.


"Putriku sungguh pemikiran kamu cukup dewasa juga. Jadi aku belajar lagi, aku tahu kenapa Andre menyukaimu, ternyata kalian berdua sudah buat kesepakatan bersama rupanya" Ucap Brandon yang kagum dengan menantu ya itu.


"Gunanya pasangan itu, untuk menjadi temen satu tim dan rekan yang bisa bekerjasama. Agar bisa saling berbagi dan melindungi, hingga saling mengerti dan saling memahami. Benar begitu bukan paman Ken" Ucap Elisa dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Lady, berpengetahuan anda begitu sangat lapang dan luas soal itu, aku tak tahu harus berkata apa lagi" Ucap Ken yang kebinggungan karena itu.


"Hahaha iya kah? aku hanya belajar dari pengalaman dan kebiasaan" Jawab Elisa yang tersipu malu.


"Pasti tidak mudah, untuk bertahan dengan Alzam kan!" tebak Brandon.


"Heh! dari mana Daddy tahu" wajah Elisa kebingungan dengan apa yang dikatakan daddy-nya.


"Wajahnya sangat mirip denganku, bagaimana aku tidak tahu. Alzam pasti memiliki banyak wanita, yang menggoda dan menginginkan agar dia menjadi miliknya" Tebakkan Brandon.


"Hahahah itu, jangan di tanya. Aku bisa bersaing dengan mereka, tapi aku tidak bisa bersaing dengan orang yang mas Andre suka dan cintai" Ujar Elisa yang langsung menjawab.


"Syukurlah! Alzam tidak mengikuti jalanku, tapi dia mengikuti didikan dan ajaran Arafif. Ya, ada untungnya juga jika Alzam didik oleh Arafif. Dia tidak menjadi pria brengsek seperti ku, dia menjadi pria terhormat. Tapi aku, adalah pria yang sudah pernah melayang ke angkasa saat usia ku 17 tahun, dan sering melakukan hal-hal dewasa lainnya, sebelum cukup dewasa" Ujar Brandon yang mengingat masa-masa kelamnya itu, saat muda yah yang sudah sering melakukan hubungan badan, dengan berbagai wanita dan penguna narkobaa kelas kakap.


"Daddy, lagian Daddy kan sudah tobat. Jadi tidak usah Daddy mengingat kejadian itu, biar lah berlalu dan mengubur ya" Ucap Elisa menggenggam tangan keriput Brandon itu, dia tersenyum sangat lebar.


"Terimakasih putriku, sekarang aku cukup bahagia karena bisa bertemu dengan mu" Ucap Brandon mengelus-elus kepala Elisa.


BERSAMBUNG ...


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.


Rabu 9 Februari 2022