Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
128. Meredam Emosi.


Andre masuk kedalam ruang kamar mandi, melihat cermin wastafel menatap dirinya mengingat setiap ucapan yang di katakan oleh Brandon, dan membandingkan dengan apa yang baru saja ia dengar dari papahnya. Tak mengerti kondisi saat ini, Andre mencuci mukanya dengan sangat kasar hingga beberapa kali.


Saat melepas bajunya, masih terlihat jelas bekas-bekas merah kehitaman, itu semua ulah Elisa kemarin malam, yah! Tato yang dibuat Elisa cukup banyak di sekujur bagian depan tubuh Andre, di setiap kotak otot perut dan dadah bidang Andre, sekilas Andre tersenyum saat melihat hal itu.


Andre langsung berjalan menuju tempat bak mandi, di dekatnya ada tiang menyala shower langsung mandi.


Diluar kamar mandi, Elisa baru sadar jika kakinya terluka, ia langsung merai jempol kaki yah yang berumur darah itu.


"Ya ampun, sejak kapan ini berdarah? kenapa aku tidak menyadari yah. Sampai aku terluka pun, diriku tidak sadar gara-gara saking paniknya" gerutu Elisa pada diri sendiri.


Mengambil kotak P3K yang ada di dalam laci, Elisa membersihkan kakinya sendiri, lalu membalut luka itu dengan menahan rasa nyeri tak tertahan.


Elisa melihat lantai yang ada noda darah, baru sadar jika kaki malah meninggalkan noda darah di mana-mana, akhirnya setelah membalut luka Elisa mengepel lantai yang ada bekas noda darahnya itu.


Saat di lorong-lorong, Nara yang akan meletakan pakai kering ke tempatnya, ia melihat nonanya sedang sibuk! langsung ia menghampiri Elisa.


"Nona, anda sedang apa?" Tanya Nara, yang langsung berjungkuk di samping Elisa.


"Ouh! Nara, ini aku sedang mengepel" ucap Elisa masih sibuk, sesekali menahan rasa sakit, karena Elisa mengepel lantai dengan lap, jadi harus berjongkok.


"Biar saya saja, itu kan tugas saya nona" ujar Nara yang merai kain lap di tangan Elisa.


"Tidak! tidak apa-apa Nara, ini hanya menghapus noda darah ku saja, tak sengaja aku mengotori lantai Nara" ujar elisa yang menjelaskan.


"Anda terluka?" Nara syok dengan penuturan itu.


"Ah- iya, tapi sudah ku balut kok" ujar Elisa seraya memperlihatkan lukanya.


"Berikan itu padaku nona, anda istirahat saja. Biar ini saya yang akan menyelesaikan, serahkan padaku" ujar Nara, mengambil lap itu dari tangan elisa.


"Maaf ya Nara, aku jadi merepotkan kamu" ujar Elisa yang pasrah dengan perlakuan Nara terhadapnya itu.


"Tidak nona, ini memang tugas saya. Anda tak perlu merasa sungkan begitu, sebaiknya nona bersihkan diri dan langsung istirahat" ujar nara yang melanjutkan mengepal.


Elisa melihat kereta dorong yang berisi tumpukan-tumpukan pakaian yang sudah rapi, dan bersih.


"Ini pakaian yang baru di cuci dan setrika yah?" tanya Elisa yang ingin membantu, untuk membawakan kereta dorong itu ke kamar.


"Iya nona, niatnya saya akan merapikannya besok pagi, ini ku letakan di penyimpanan ruangan dulu, karena ini belum semua rapi" ujar nara yang langsung menjauhkan kereta tersebut dari Elisa, karena Elisa ingin merainya.


"Biar aku sa-" Ucap Elisa yang terputus gara-gara Nara menarik kereta menjauh.


"Nona, kembali saja kekamar. Lihat wajah nona juga masih full make up, belum di bersikan" ucap Nara dengan tatapan mata tajam.


"Aaah iya nih!" Elisa meraba wajahnya yang masih pake makeup.


Andre keluar dari kamar mandi, melihat tak ada Elisa di kamar. Bergegas Andre berganti pakaian, setelah selesai ganti pakaiaan, Andre tak sengaja melihat kotak P3K itu ada di atas meja dekat.


(Kenapa ini ada di sini? Bukanya ada di dalam laci) ucap Andre dalam benak yah, saat di angkat ada kapas dan lainya, dengan bekas noda darah Elisa, yang lupa ia bereskan.


Andre keluar dari kamar, untuk mencari Elisa yang entah kemana, saat berada di lorong ia melihat Elisa dan Nara sedang mengepel lantai.


"Apa yang sedang kalian lakukan, malam-malam begini?" Andre berjalan mendekati mereka.


"Tuan, kami sedang mengepel lantai" Nara yang menjawab pertanyaan Andre.


"Bukannya bisa besok pagi kan, Nara?" ujar Andre yang menatap tajam pada Nara.


Takut jika Nara akan kena imbas dari amarah Andre, ia langsung menghampiri Andre untuk menenangkan.


"Mas itu karena aku, yang telah mengotori lantai. Nara hanya ingin menggantikan posisiku, tadi aku tak sengaja mengotori lantainya" ujar Elisa yang mengalihkan perhatian.


"Sayang, ini bekas apa?" Andre menujukan berapa kapas, yang ada bekas darah Elisa.


"Ouh iya, itu penyebab Nara harus menggantikan ku untuk mengepel, di malam hari! Itu bekas dari luka di kaki aku, tadi belum sempat aku bereskan, karena melihat darah yang menempel kemana-mana, jadi sebelum kering aku bersihkan dulu lantai yah" Penjelasan Elisa.


"Dimana?"


"Ini, di kaki" Menujukan kaki yang di balut dengan perban.


"Hm– buka itu!, yang ingin aku tanyakan dimana kamu bisa terluka?"


(Hah apasih? Salah pertanyaan cak bagus, bikin ambigu saja, seharusnya kamu tanya gimana? bukan di mana! Aduh-, kalau orang jenius itu sesuka hati saja mengubah bahasa, yaudah deh! Dari pada dia tambah sewot lagi, ikuti aja dulu!) gerutu Elisa dalam benak.


"Aku terluka? hemm- aku lupa kenapa?. Sepertinya ini membentur ben—" belum sempat di jawab dengan tuntas, Andre sudah mengangkat Elisa, mengendongnya. Membuat Nara gagal fokus.


"Aah- Apa-apa sih, kamu kok gak bilang-bilang dulu kalau mau gedong aku, lagian aku masih bisa jalan tahu" berontak Elisa, Andre langsung berjalan pergi menuju pintu kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Andre meletakan Elisa di ranjang dengan hati-hati. "Ini bagaimana kamu bersikan, model apa ini? jelek banget kamu balut! Kalau mau menutup luka yang bener dong!" Tanya Andre, yang membuka kembali balutan perban itu yang terlihat acak adul gak bener, asal ketutup saja.


"Itu sudah bener Dokter Andre! sesuai dengan prosedur pertolongan pertama dasar yang ku pahami, lalu aku balut dengan kain kasa, dan sudah ku kasih Betadine juga" ujar Elisa yang tidak mau di kalahkan.


Kaki Elisa di angkat berada di pangkuan Andre, dengan cepat tepat Andre meneliti kembali lukanya.


"Lalu kamu balut kayak gini, terus pakai obat apa selain Betadine untuk membersihkannya" ujar Andre yang mengambil kotak P3K lagi.


"Iya pakai obat lah, masa pakai cabe. Pake yang ini, sama ini. Benerkan?" ujar Elisa menuju obat-obatan yang ia gunakan.


Andre menarik nafasnya, karena Elisa yang asal-asalan saja. "Kamu itu salah, sayang! Yang ini buat luka bakar dan yang ini untuk obat infeksi. Ini terlalu keras, dosis ya terlalu tinggi, makanya jangan asal kasih obat dong! Setidaknya, kamu panggil aku napa? Kalau tahu kayak gini, bikin khawatir orang aja" Ucap Andre yang membersihkan kaki Elisa.


"Aku takut. Takut kamu bentak aku lagi, nanti kamu tambah marah sama aku. Jadi serba salah, terus Elisa harus gimana?" Ucap Elisa yang menjelaskan.


"Jelaslah aku marah, orang kamu kayak gini. Nggak bilang-bilang, gimana aku gak akan marah" Ucap Andre yang menaikan suaranya.


"Ak-ku takut kamu tambah marah, karena aku minta tolong ke kamu"


"Kapan aku marah sama kamu, kalau kamu minta tolong. Jangan ambil kesimpulan sendiri deh, aku gak bilang kayak gitu kok"


"Itu buktinya kamu masih marah, terus tadi kamu kan suruh aku diam, jadi gimana seharusnya aku katakan" Ucap Elisa yang menuduhkan wajahnya.


Andre memeras kain kasa, karena kesal. "Aku marah karena aku kesal sama mereka, tanpa sengaja aku juga malah memarahimu. Maafkan aku yah, karena reaksiku berlebihan" ucap Andre yang menyadari kesalahannya.


"Iya aku mengerti kok, emang seharusnya aku diam dulu, tapi karena terlalu kepo aku jadi bertindak tak baik dan bijak menangani yah, maafkan aku yang kurang dewasa menyikapinya" Ucap Elisa yang menggenggam tangan Andre yang baru selesai membalut luka Elisa.


"Tapi, jangan kamu ulangi lagi, salah obat kayak gini. Apakah kamu tahu, jika salah penanganan sedikit saja, akibatnya bisa fatal, kamu mengerti"


"Iya, Mas. Maafin aku. Aku gak tahu, soal itu" ujar Elisa yang menerima kesalahan yah.


"Terus, pelatihan kamu selama 1 bulan di sini, itu buat apa sayang? kalau kamu nggak terapkan, bukanya kamu belajar soal itu dari awal, iyakan. Lalu kenapa bisa salah, dipakai dong! caranya, yang kamu pelajari saat pelatihan"


"Mana aku inget, pikiran aku lagi kacau sekarang, bercabang-cabang. Mikirin kamu, mikirin Papah, terus mikirin orang itu! Yang buat kamu tiba-tiba minta pulang, hingga bikin mood kamu kayak gini, gimana coba aku ingat semua pelajaran yang di ajari saat pelatihan. Bahkan! Kakiku terluka saja itu baru ku sadari, sampai berdarah-darah gini. Akibat siapa coba, karena aku khawatir sama kamu, sampai sakitku tidak aku rasakan" Sewot Elisa.


"Maaf ya, aku buat kamu khawatir" Ucap Andre yang meraih tubuh Elisa dan memeluk dengan erat.


"Yaudah, aku juga minta maaf" Ucap Elisa yang juga meraih tubuh Andre, mereka saling berpelukan satu sama lainnya.


"Bagaimana bisa kamu terluka sih, atau gara-gara pakai sepatu hak tinggi itu" Setelah melepaskan pelukannya.


"Jadi, saat kamu lari mendatangiku! tanpa alas kaki?"


"Iya, aku tidak memakainya"


"Terus, ini kenapa?" Ucap Andre yang sangat penasaran.


"Mana aku tahu, kepentok kali" Ucap Elisa yang mengatakan secara sepontan.


"Gimana bisa kamu gak tahu, inikan kakimu?"


"Aku terlalu panik, gara-gara siapa coba? sampai kaki sendiri terluka aku tidak tahu, saking kebingungan sama kamu"


"Maafin aku ya, kamu jadi seperti ini gara-gara aku"


"Iya, nggak apa-apa!"


"Hmm- Apakah jangan-jangan saat tadi jalan–. Saat aku menarik kamu yah! Aku kayak nggak sadar, sedang membawa kamu di samping aku, apakah gara-gara kamu ikuti langka kakiku, terus kakimu ikut terseret-seret"


"Iya kali, aku aja gak tahu. Ad–duhh! pelan-pelan mas, itu sakit tahu


"Diem-" Ucap Andre yang memijat bagian pergelangan kaki Elisa.


Andre pergi mengambil sesuatu di kamar mandi, Elisa yang akan turun dari ranjang, membuat Andre harus berteriak.


"Jangan turun, naik lagi"


"Aku mau mandi, mau cuci muka juga?"


"Udah besok aja mandinya, sini mas bantuin kamu membersikan kulit wajahmu dari make up" ternyata Andre membawakan air hangat dan lap, untuk membersihkan wajah Elisa.


Andre membantu elisa melepaskan hijab, yang masih melekat rapi di kepala Elisa.


"Ya nggak nyaman mas, bau! Lengket juga, terus katanya biar sehat?" Kata-kata Andre itu ia kembali kan lagi.


"Iya, sih tapi—" Andre khawatir, melirik pada kaki elisa yang terluka.


"Mas, boleh yah" Wajah Elisa memelas memohon di izinkan.


"Yaudah deh! Tapi inget jangan kena air, perbannya" Peringatan dari Andre yang wanti-wanti.


"Oke! boss" Ucap Elisa membuat tanganya hormat.


Setelah selesai, mandi Elisa yang selalu di tungguin Andre dari balik pintu kamar mandi, kaget! Nggak biasanya Andre seprotektif itu.


"Astaghfirullah, mas. Kamu ngapain sih, bikin kaget aja" Saat Elisa buka pintu, malah Andre sudah ada di depan mata bikin syok.


"Nungguin kamu" Jawab Andre datar dengan mata yang melirik pada kaki Elisa yang di perban itu.


"Eh? ada apa? Tenang saja udah aku balut paket ini, gak basahkan!" ucap Elisa yang menujukan plastik pengering rambut.


"Pinter yah! Ganti baju dulu sana, hmm- jangan pake baju kayak kemarin malam. Geli, lihatnya. Pake baju tidur yang biasa kamu pake saja, jangan yang aneh-aneh"


"Kenapa?, jangan-jangan kamu tergoda yah!"


"Nggak tuh!"


"Masa, coba sini Elisa cek!"


"Apaan sih, udah sana ganti baju"


"Lihat burungnya, udah mau terbang belum! Jangan-jangan burungnya belum bisa berdiri yah?"


"Sembarang, jangan meremehkan begitu. Kalau kamu mau, nanti bisa ketagihan loh"


"Coba sini, gimana rasanya sampai bisa ketagihan?Elisa mau kalau gitu! Apakah mas berani"


"Cik! Jangan suka nyoba-nyoba gitu! bisa ketagihan beneran loh, nanti siapa yang tangguh jawab?"


"Ya, Mas Andre lah. Kan bikin ya sama kamu, masa minta orang lain tanggung jawab, lucu deh! Mas Andre. suka ngelawak gitu!"


"Kamu yang suka nantangin aku, gimana kalau kamu nanti gak akan berani lanjut, saat melihat yah!"


"Belum juga di lihat, apa lagi di rasa. Makanya di coba dulu, udah insecure duluan. Jangan-jangan mas Andre belum baligh yah?"


"Sudahlah, dari kelas 2 SMA, aku sudah pernah mengalami mimpi basah kok"


"Hayooo- kamu, ngimpiin apa? Jangan-jangan pikiran kamu—"


"Cik, udah ganti baju, nggak dingin apa?" ucap Andre yang menyuruh Elisa masuk ruang ganti.


"Dingin?! Tapi, kalau kamu peluk aku dan khemm—. Maaaau– melakukan 'Itu' denganku, mungkin udara dingin pun tidak aku rasakan lagi"


Andre menaikan satu alisnya. ( Hmm- Sepertinya aku masuk jebakan, tahu gitu aku nggak usah mancing, kalau betinanya sedang birahiii begini) gerutu Andre dalam benak.


"Aduh-aduh, udah ah! Kamu yang tambah ngaco, dan pikiran kamu itu mesumm juga yah"


"Terus, gara-gara siapa aku mesumm begini, kan aku lagi kebelet pengen—"


"Ya kekamar mandi sana"


"Jangan pura-pura gitu! Masa kamu nggak mau nurutin kemauan aku sih, padahal kamu udah janji saat akad pernikahan kita, bahwa kamu akan memberikan nafkah lahir dan bathin, yang harus kamu penuhi. Yah! termasuk menggauli istri mu"


"Iya-iya, nantinya! Udah sana kamu ganti baju dulu"


"Atau aku bikin sama pria lain aja, kalau kamu gak mau"


"ELISA- JANGAN ASAL BICARA BEGITU, udah sana ganti baju dulu"


"Tapi, aneh juga sih. Kok, masa pubermu lebih lama sih, biasanya SMP saja sudah balig, sudah mimpi basah. Azril saja kelas 1 SMP, lah kamu kelas 2 SMA, jadi umurmu saat balig itu sekitar 17 tahun"


"Iya, tepat di hari ulang tahunku. Malamnya aku mimpi itu, udah jelas kan" Ucap Andre agak kesal juga.


"Ha-ha-ha, kadang aku penasaran. Apa yang di mimpikan, saat pria mimpi basah itu? kamu waktu itu mimpi apa?"


"Elisa- plis! jangan terus kamu bahas"


BERSAMBUNG ...


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.


Kamis 3 Februari 2022.