Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
172. Kecurigaan Azril.


Dzzzrrrrtttt Dzzzrrrrtttt


Hp Andre yang ia letakan di meja bergetar, tertera panggilan dari Elisa. Andre dengan sigapnya langsung mengangkat panggilan itu.


[Hallo Yang... Walaikumsalam,... Iya ada apa?... Huh? selera makan,... Hmph! Terserah kamu mau bikin apa, aku mah tinggal makan apa yang kamu masak,... Iya-iya... Yaudah, mas tutup ya masih banyak kerjaan nih... Iya, assalamualaikum...] Andre menutup panggilan, terlihat wajah Andre yang sudah lelah dan pucat.


Karena terlalu fokus hingga tidak sadar jika junlion sudah berada di ruangannya. "Woy, Dre lu tidak pulang?" Junlion masuk ke dalam ruangan Andre yang membuat Andre kaget.


"Eh, jun kapan kau masuk, kok aku gak sadar ada kamu di sini? Tapi, kamu malah sudah nonggol saja. Lewat jalan mana kamu," ucap Andre yang heran karena Junlion tiba-tiba sudah ada di depannya.


"Lah, lu gak sadar kalau gua tadi masuk? Lu pikir gua punya jurus menghilang seperti hantu ya. Pake nanya," ucap Junlion yang tidak terima.


"Sorry Jun, aku lagi banyak fikiran aja jadi gak fokus." ucap Andre seraya memijat keningnya.


"Mendingan lu istirahat saja di rumah sana, lagian lu sudah tak bertenaga begitu." Ucap Jun menyarankan.


"Iya, mau ya gitu. Cuman nih kerjaan siapa yang akan kerjain kalau bukan aku, gak selesai-selesai nanti." ucap Andre.


"Iya juga sih, itu emang kerjaan lu. Suruh siapa kau jadi anak pemilik rumah sakit." ucap Jun yang menyindir.


"Lah emang ini mau ku, kan nggak!" ucap Andre yang membantah.


"Iya juga sih, tapi lu cukup beruntung lah. Punya dua ayah yang seperfeck mereka, jadi iri gue." Junlion menahan tatapan.


"Ngomong-ngomong, kamu datang kesini mau ngapain?" tanya Andre pada Junlion.


"Ya, nengok kamu aja. Apakah masih hidup atau—"ucapan Jun terhenti.


"Jadi kamu nyumpahin aku nih?" ucap Andre protes.


"Eh, bukan gitu. Lu tuh ya salah faham mulu deh"


Tidak lama Junlion duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Andre, seraya membuka dokumen yang tertumpuk di ujung meja Andre. Saking banyak dokumen di atas meja kerja Andre.


"Dre, gimana soal orang yang menyekap Ben dan orang yang telah memberikan racun pada elisa waktu itu, apakah pelakunya sudah ketemu?" tanya jun yang merapikan dokumen kerja Andre yang sedikit berantakan.


"Eh, soal itu. Aku—" ucapan Andre malah terhenti karena sengatan listrik di jam tanganya.


Tiba-tiba saja jam yang di pake Andre bergetar, peringatan jika Andre tak boleh memberikan informasi lebih, apa lagi jika itu informasi tentang dirinya. Karena ini bersifat pribadi, ia teringat ucapan adik iparnya. Jika tidak boleh memberikan info pada siapapun kecuali Azril dan Elisa.


Kenapa? benda ini tiba-tiba saja bergetar, apakah ada Junlion ada niat jahat. Ouh, aku ingat kata Azril tidak boleh memberikan informasi mengenai keadaan diri sendiri, pada siapa pun kecuali Elisa dan Azriel. Gumam suara dalam hati Andre, terus saja bertambahnya kecurigaan pada Junlion saat ini.


Di sisi lainnya, berada di taman rumah sakit. Azril dan Ben yang sedang asik main game, seraya menatap setiap pergerakan orang-orang di sekitar ya. Belum ada yang tahu jika Ben sudah sembuh kecuali, Andre dan Azril.


"Zril, apakah penyamaran kita berhasil. Sebenernya kita ini sedang membaca setiap pergerakan orang-orang di sekitar kan, yang mencurigakan?" ucap Ben yang penuh pertanyaan.


"Sudah tahu malah nanya, jika orang itu ada di dalam atau di sekitar lingkungan kita. Pasti dia juga sedang mengawasi kita kan. Logikanya gitu, makanya kita lihat-lihat saja dulu, siapa tahu kita ketemu titik terang yah." ujar azril yang masih sangat penasaran sama orang dalan yang telah berkhianat itu.


"Iya, kau bener, kita harus menangkapnya hidup-hidup." ucap Ben yang matanya fokus ke layar gamemot.


"Makanya kita asik-asik saja main game, sambil kita lacak jika ada objek atau target yang mencurigakan, atau jika ada yang mendekati dengan niat jahat kita bisa mendeteksi ya." ucap azril yang matanya masih mengoperasikan permainannya.


"Kamu benar, kita main sambil waspada." ucap Ben yang spontan mengatakan ya.


"Berarti kita main juga gak bisa tenang dong?" ucap Azril seraya wajahnya serius.


"Ya emang gitu keadaannya kan." ujar ben yang mengatakan dengan kenyataan.


"Iya sih, yaudah deh! Kita mulai permainan barunya" seraya mengawasi pergerakan orang-orang.


Mereka kembali asik main game, hingga kedatangan seseorang membuat gamemotnya itu bergetar hebat, seperti ada sengatan listrik, bikin kaget.


"Iya, aku tahu. Masuk ke mode on, sebelum dia mencurigainya." ucap Azril.


"Hai, kalian berdua sedang ngapain?" Junlion yang mendekati mereka, Ben pura-pura masih gangguan Spikologis.


"Ouh! Dokter Junlion, kita lagi main. Dokter Junlion sendiri ngapain?" ucap Azril yang langsung menatap ke Junlion yang sekarang malah bersandar di pembatas balkon.


"Hmph, saya jalan-jalan tadi habis pengecekan di bangsal. Sekarang mau refreshing dulu, sambil nunggu jam makan siang" ucap Junlion.


"Ouh, gitu." Jawab Azril singkat mata agak kaget, saat alat pendeteksi itu berwarna kuning tanda waspada.


Melirik pada Ben yang saat ini hanya memberi kode kedipan mata. "Dokter Jun, mau main gak? Pinjem sebentar Ben, aku mau main sama Dokter Jun." ucap Azril meminta gamemot milik Ben.


Langsung di berikan, Junlion juga mendekati Azril. "Tapi, aku tak pandai main." ucap Junlion.


"Tidak apa, aku juga tak pandai main game. Yasudah gimana kau kita main game yang kak Junlion bisa," ujar azril yang duduk dengan waspada dengan junlion.


Saat malam harinya Andre yang sedang menginap di rumah ibu mertuanya, karena elisa ingin beberapa hari tinggal. Alasannya agar suaminya dekat untuk mengoperasi rencana dengan adik ipar ya itu.


"Jadi kamu telah menandai junlion?" ujar Elisa yang kebinggungan karena Azril sangat serius sekarang.


"Kenapa harus Junlion, bukankah kamu juga mencurigai yang lainya kan. Zacky dan Kevin?" ucap Andre yang mengingatkan.


"Iya, tapi kedua orang itu sikapnya tetap sama dan dapat di percaya. Tapi, sikap dokter Junlion yang tidak stabil. Itu pengamatan ku, karena sikapnya di perhatikan semakin agak aneh. Terus gamemot ku menujukan ketidak sukaan, karena warna lampunya langsung berubah jadi merah." ucap Azril yang mengingat soal lampu ya.


"Tapi, kita tidak bisa mengambil spekulasi dan keputusan dari itu kan. Kenapa kamu malah mematok dan menarik semua kesimpulan dari sebuah alat, bisa saja itu salah kan" Ucap Elisa yang menyarankan.


"Itu bener zril, yang di katakan tetehmu juga tidak salah," sambung Andre.


"Aku tahu teh-mas. Makanya aku sudah ambil trik lainya, jadi kalian tenang saja. Aku sudah mengambil langkah rencana lainya, ini langkah C. Saat di butuhkan, makanya sebelum kalian protes begini aku sudah memikirkan hal itu." ucap Azril yang sudah bisa menebak ya.


"Apa maksudnya, langkah lainnya." ucap Andre yang kebinggungan.


"Azril telah memasang banyak alat pelacak di mobil, di tas, dan tempat lainnya. Bahkan aku juga sudah ada alat penyadap, jadi kita bisa tahu apa yang di lakukannya selama ini" ucap Azril yang sudah mulai melancarkan aksinya.


"Kamu memang sangat jenius adikku," ucap Elisa yang sangat bangga pada adikknya.


"Tapi kenapa aku tidak menandai Try juga, kamu tidak curiga padanya." Tanya Andre kebinggungan.


"Sejak awal Azril tidak pernah menaruh curiga pada mas Try," ucap Azril yang berkata dengan wajah tenangnya.


"Kenapa?" Andre sangat penasaran.


"Karena tidak mungkin mas Try yang melakukannya, alasan ku kenapa mas Try aku tandai. Karena mas Try begitu sangat sayang dengan mas Andre, kak kevin juga, aku juga mengeluarkan dia dari daftar penanda, alasanku adalah. Tidak mungkin jika kak Kevin yang begitu sangat mengidolakan mas Andre, akan menyakiti kan." ucap Azril.


"Lalu bagaimana dengan zacky?" ucap Andre.


"Jika mas Zacky, ini aku juga masih kurang percaya dengannya. Tapi, yang lebih aku curigai adalah Dokter yang selalu berlagak seperti mas Andre itu. Dia selalu muncul tanpa suara, dan dimanapun Ben berada. Aku perhatikan begitu. Dokter Jun juga susah untuk di tebak dan di duga sama sekali, apa lagi langkah kakinya tidak ada suara sama sekali hampir untuk terdeteksi dan ku ikuti." penjelasan Azril yang masuk di akal.


"Kamu bener zril, aku juga baru menyadari ya. Delapan tahun aku bersama dengannya, tapi baru ku sadari bahwa dia tak memiliki suara langkah kaki. Kamu baru mengamati beberapa hari saja sudah tahu, aku tidak menyangka." ucap Andre yang bangga pada adik iparnya itu.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...


Kita akan berjumpa lagi di EPISODE SELANJUTNYA. BYE...


Selasa 5 April 2022.