
Elisa yang baru datang langsung jalan agak cepat masuk kedalam, meninggalkan pak Sofyan yang sedang mencari tempat parkiran. Saat Elisa berjalan melewati beberapa tempat, ia tak sadar jika melewati ruangan Rudi.
"Ouh, elisa kamu datang pagi banget, cuman beda 2 jam dari suamimu" ucap Rudi yang menyapa Elisa yang sedang jalan terburu-buru tersebut.
"Hehehe iya nih mas Rudi, lagi mode rajin banget. Aku duluan yah mas, mau nganterin ini" ucap Elisa yang memperlihatkan bawaannya.
"Mau kemana? nemuin Andre yah
Atau kamu mau jalan-jalan saja di sini?" goda Rudi, biasanya Elisa akan meladeni candaan si Rudi ini tapi, kali ini dia lagi nggak punya mood untuk hal itu.
"Yaialah mas, terus mau nemuin siapa lagi, kalau bukan suami Elisa sendiri" ucap Elisa dengan pedenya.
"Cieee-cieee, bikin baper aja nih. Hm! sekarang sudah bangga bangetnya mengatakan itu, dan sudah bisa dengan pedenya bilang 'suami', padahal beberapa bulan lalu masih ogah-ogahan, bahkan sampai gak maukan dekat atau kenal Andre. Sekarang, sering dateng bawa makanan" sindiran kuat dari Rudi.
"Kan dulu itu aku gak tahu kalau dia akan jadi suamiku, jadi mana berani aku berharap begitu. Apa lagi dia Dokter pemilik rumah sakit, Aaadddduuuhhh... Berat itu." ucap Elisa yang mengatakan dengan sangat jujur.
"Hehehe iya sih," ucap Rudi yang membenarkannya.
"Yaudah mas, saya duluan ya." ucap Elisa yang sudah jalan kembali menuju tujuannya.
Tapi, malah di ikuti oleh Rudi membuat Elisa binggung. "Terus kenapa mas Rudi jalan di belakangku. Mau ngapain ngikutin Elisa sampai masuk lift segala, masih mau lanjut ngobrol?" tebak Elisa.
Mereka berada di depan pintu lift, yang sedang menunggu pintu lift terbuka. "Nggak! orang aku juga ada perlu kok sama suamimu, jadi aku ikutlah. Kan lumayan sekalian jalan sa, kalau naik tanggakan capek. Aku mau minta TTD dia nih! banyak yang harus dia TTD, jadi kebetulan kamu datang" penjelasan Rudi dengan senyuman tanpa dosanya.
"Ouh gitu! kiraian mas Rudi salah jalan" ucap Elisa yang baru mengerti.
Ting... Pintu lift terbuka, beberapa dokter dan suster keluar dari dalam. Elisa baru bisa masuk kedalam dengan Rudi, dan menakan tombol lantai untuk menuju tempat tujuan.
"Eh btw, kamu pulang kapan sa dari Barcelona?" saat mereka berada di dalam lift.
"Hmmm kemarin, mas" ucap Elisa yang terlihat agak murung.
"Kok sebentar banget sa, kirain kamu di sana akan lama dengan andre" tanya Rudi yang merasakan juga duka yang di rasakan oleh Andre.
"Yah, terus mau gimana lagi. Dia maksa untuk berangkat kerja hari ini, bikin orang khawatir aja. Katanya ada operasi, makanya dia maksain diri buat datang. Elisa tambah khawatir banget mas, jika nanti dia ambruk gimana? dia kalau sakit itu bikin orang parno tahu mas" ucap Elisa yang menjelaskan.
"Hehehe itumah sudah jadi resikonya sa, hidup bersama harus menerima pahit manisnya" ucap Rudi.
"Iya sih mas, tapi dia itu susah di bilangin. Tapi, sekalinya dia ngomong maunya di turutin, gimana dia gak egois coba" ucap Elisa yang agak kesel.
"Yang sabar sa, emang andre orang begitu. Tapi, kataku si dia gak egois, buktinya dia mau mendengar suara masukan dan saran orang lain, walau itu menyakitkan. Hmmm- mungkin itu hanya berlaku pada istrinya saja. Agar kamu itu nurut sama dia, di lihat lagi dari sisi yang baru ku ketahui. Andre kayaknya nurutin kemauan kamu dan selalu memanjakan kamu tuh sa, jadi gak mungkin lah dia seegois itu. Dia hanya posesif terhadap kamu saja," penjelasan Rudi yang memiliki jalur tengah agar hubungan Andre dan Elisa baik.
"Hmmm- itu karena dia itu terlalu baik, sudahlah lupakan itu. Mungkin hanya aku yang terlalu baperan, tapi emang si. Dia orangnya nurut, kalau di depan ibu dan ayah" ucap Elisa yang mengingat, jika Andre akan terlihat bodoh, kalau di depan mertuanya tak akan bisa menolak permintaan kedua orang tua Elisa.
Ting... Pintu lift terbuka elisa jalan menuju ruangan andre di ikuti oleh rudi yang juga berada di belakang elisa.
"Eh? ruangannya masih tutup sa. Kayak dia masih di ruang operasi deh! kamu mau kesana gak?" ujar rudi yang melihat ruangan andre yang tertutup.
"Mas rudi lupa yah, ruangannya emang selalu tertutup karena berAC. Gimana sih, kalau kebuka nantikan AC gak berasa lah" ucap Elisa yang langsung memegangi gagang pintu ruangan Andre.
"Hehehe, iya juga sih. Salah ngomong aku, yah udah kita masuk, apakah Andre ada di dalam?" ucap Rudi yang malah ikut mengekor di belakang.
Saat di buka, ruangan itu kosong hanya ada tumpukan dokumen di meja dan ruangan masih sangat rapi yang terlihat disana.
"Tuh, apa ku bilang dia gak ada kan di dalam. Jadi apakah kamu akan menuju tempat operasi?" tanya Rudi.
"Nggak usah deh! takut mengganggu, Elisa akan tunggu di sini saja mas" ucap Elisa yang keluar lagi dari ruangan dan menuju pintu lift.
"Eh? lah katanya mau nunggu di ruangan kok malah kamu mau ke lift lagi sih? jadi yang bener yang mana nih?"
"Hm... Yang mana aja deh, Elisa binggung"
"Hissstt Dasar Elisa. Eh? itu bukanya dokter Hery? kok dia lari-lari menuju ruang operasi sih?" ucap Rudi yang melihat dari jauh.
"Dokter Hery, dia spesialis bedah juga kan? mungkin kah ada pasien operasi lainnya," ucap Elisa yang positif.
"Tapi, setahuku jadwal operasi hari itu cuman ada satu orang sa. Tadi aku gak sengaja lihat jadwal, di papan monitor" ucap Rudi yang mengingat-ingat.
"Jangan-jangan mas Andre..." Elisa langsung berlari menuju ruang operasi yang berada tidak jauh dari tempat, Rudi juga kaget saat melihat Elisa langsung panik.
"Elisa tunggu aku, aku ikut" ucap Rudi yang malah ikut lari.
Sesampainya di sana, melihat Andre yang saat ini sedang tidak berdaya dan hanya bisa terdiam sambil menatap tangannya yang masih ada bercak darah. Try yang masih berdiri mematung di sana, Elisa berjalan melambat.
"Dokter Try?" Panggil Elisa yang mendekati try, bejalan pelan-pelan.
"Ouh! Elisa kamu datang, tapi aku tidak jadi menghubungi mu. Bagaiamana kamu bisa tahu jika..." ucap Try terhenti saat melihat Andre sudah tak bisa mengendalikan dirinya.
"Ah, iya aku hanya ingin mengantar makan siang buat kalian niatnya," ucap Elisa memberikan kotak makan dan rantang itu pada try lalu mendekati Andre.
"Terimakasih," ucap try yang langsung mudur kebelakang Elisa pelan-pelan.
"Hmmm, iya sama-sama. Lalu, ada apa dengannya?" ucap Elisa yang mengelus-elus kepala Andre.
"Entahlah, elisa kau jaga andre dulu aku ingin ambil air untuk dia" ucap try yang langsung melangkah menjauh.
"Baiklah, aku akan disini menunggu" ucap Elisa langsung duduk di samping Andre.
"Ada apa dengan andre?" tanya Rudi saat mereka sudah agak jauh dari tempat.
"Entahlah, sepertinya dia mengalami guncangan hebat... Ini terjadi lagi, hmmm! semoga Elisa bisa membuat dia lebih baik" ucap try yang langsung faham.
"Apakah ini pernah terjadi sebelumnya, Try apakah dia benar-benar trauma?" ucap Rudi yang mode keponya mulai bangkit.
"Sepertinya begitu, kenapa kamu malah mengikuti aku?" ucap try yang langsung tiba-tiba saja berhentikan langkah yah.
"Lah kalau aku tetap di sana malah aneh, jadi obat nyamuk. Yah masih mending ikut kamu kan, lebih aman" ucap Rudi yang menjelaskan.
"Dasar kau. Lalu apa yang kau bawa itu?" tanya try yang melihat yang ada di tangan Rudi.
"Ouh tadi niatnya aku mau minta tanda tangan, cuman pas lihat kondisi Andre buruk, jadi aku urungkan niat" Penjelasan Rudi.
"Emang buat apa?"
"Stok obat"
"Sini biar aku saja perwakilan, kondisi Andre mungkin tak akan bisa nyimak sekarang"
Kembali pada Elisa dan Andre yang saat ini masih diam tak bicara apapun, Elisa mencoba mendekati Andre. Melepaskan sarung tangan Andre dengan pelan-pelan, Andre hanya diam menatap Elisa.
"Maafkan aku!" ucap Andre yang manjadi pemurung kembali.
"Untuk apa?" tanya Elisa dengan suara lembutnya, seraya membantu melepaskan sarung tangannya.
"Aku tidak mendengarkan apa yang kamu katakan, dan mengabaikan yah" Andre menyesali apa yang di lakukan hari ini terhadap istrinya, mungkin karena itu Tuhan menegurnya.
"Tidak apa-apa. Lagian semua ini memang sudah tugasmu yang tidak bisa kamu abaikan. Menolong orang adalah perbuatan mulia, jadi kamu tidaklah bersalah mas" ucap Elisa yang membingkaikan wajah Andre dengan kedua telapak tangannya.
Andre tersenyum kesal. "Hmph! menolong orang, aku seorang pembunuh Elisa. Bukan seorang penolong, banyak nyawa yang mati karena ku" ucap Andre yang sudah frustasi.
"Mas, itu sudah jadi takdir dan ketentuan jalan hidup mereka masing-masing. Istighfar, kamu jangan lupa sama Allah, yang maha kuasa. Allah yang menghidupkan dan mematikan, itu bukan salahmu. Itu semua ketentuan dari Allah, jalan yang di tetapkan untuk setiap umatnya. Jangan gitu ah- Elisa jadi sedih nih" ucap Elisa yang memeluk Andre.
Sejenak Andre dan Elisa terdiam, saat lampu hijau ruang operasi mati, karena itu pertanda jika operasi telah selesai, Andre menatap ke sana dengan perasaan berkecamuk. "Hari ini aku gagal untuk melakukan tugasku, apakah aku tak akan bisa lagi melakukan yah?" ucap Andre yang menatap tajam pada lampu ruang operasi.
Elisa menegakkan tubuhnya, mantap Andre yang sedang hilang kepercayaan diri ya. "Mas, kamu masih bisa kok. Melakukan ya lagi, setelah kamu istirahat" ucap Elisa yang menenangkan Andre.
"Benarkah? aku bisa melakukan yah lagi, aku khawatir jika aku akan takut pada darah untuk kedepannya, aku sangat takut" ucap Andre yang langsung menunduk kepala.
"Mas, kamu mau pulang nggak? Kamu istirahat dirumah ya, yuk! kita pulang sama-sama" ajakan Elisa yang langsung mengaitkan tanganya di lengan Andre.
"Sayang, aku gak mau pulang ke rumah besar!" ucap Andre yang merasa dirinya tak bisa kesana.
"Lah kalau gak mau pulang ke rumah, terus mau kemana? kerumah ibu sama ayah, di sana gak ada siapa-siapa. Azril sekolah, ibu sama ayah masih di rumah besar. Terus mau kemana? mas punya tujuan lainnya, coba katakan tempat seperti apa yang mas ingin kan yang membuat mas nyaman" ucap Elisa yang melepas keinginan Andre untuk pergi.
"Elisa, aku mau pergi meninggalkan tempat ini. Tapi, aku tidak mau di tinggal sendirian dan tidak mau ada orang lain tahu. Cukup kamu saja, kamu mau kan ikut denganku?"
"Baiklah, aku akan ikut denganmu.Tapi, kamu mau kemana?"
"Tempat yang sangat jauh, di sana hanya akan ada kesunyian dan keheningan. Sebuah ketenangan dan kedamaian, tempat seperti itu yang ingin aku datangi bersama mu, Elisa"
"Begitukah, yok! kita pergi kesana, aku akan ikut denganmu. Ada motor di luar, kita naik motor. Aku yang nyetir bagaimana? mau" ucap Elisa mengulurkan tangan untuk memegang tangan Andre.
"Mau, kita pergi dari sini sekarang" ucap Andre yang tersenyum tipis.
"Yuk, bangun... Satu, dua, tiga. Lest go" ucap elisa yang bangkit dan membantu Andre berdiri.
Sesampainya di tempat parkir mobil, pak Sofyan sudah di sana menunggu dengan baik. Andre terdiam, Elisa menghampiri pak Sofyan.
"Pak Sofyan, aku dan mas akan jalan-jalan dulu. Jadi, mendingan pak Sofyan pulang saja, bilang ke Mamah dan orang rumah kalau malam ini kita tidak akan pulang. Mau kencan, hmmm- berdua aja" ucap Elisa dengan nada manja.
"Ouhlah begitu, tapi ngomong-ngomong. Naik apa neng?" tanya Sofyan kebingungan.
"Itu, ada motor. Kita naik itu saja pak, jadi gak usah khawatir" ucap Elisa menyakinkan.
"Motor? tapi itu motor siapa neng"
"Ada deh! yaudah ya pak saya pergi dulu."
"Iya hati-hati ya neng. Tolong jagain den bagus, jangan sampai hilang" ucap pak Sofyan.
"Iya pak, jangan khawatir aku jagain" Seraya Elisa berjalan menuju motor yang sudah terparkir di sana.
"Mas Andre. Sini mas pakai helm ya," ucap Elisa yang memakaikan helm untuk Andre
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...
Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...
Jumat 6 Mei 2022.