
Elisa yang baru keluar dari dapur melihat Kevin sudah duduk di dekat Monika Andre juga sudah di samping Zacky. "Yo! Elisa, kamu merindukan ku," ucap Kevin sangat senang melihat Elisa.
"Tidak. Untuk apa aku merindukan mu, seperti tidak punya kerja saja aku begitu," ucap Elisa yang sangat kesal dengan Kevin.
"Hahaha, aku tahu kamu malu-malu iya kan," ucap Kevin yang langsung menarik tangan Elisa, agar segera duduk di dekat yah. Di himpit oleh Andre di sebelah kanannya.
Makan malam kali ini cukup ramai, karena kedatangan tamu dari luar negeri ini. Kevin juga sangat lahap makan, Zacky juga seperti sangat menikmatinya. Mereka semua menyukai masakan buatan Elisa, Lalu tiba-tiba Kevin langsung merasa jika masakan ini cocok dengan selera makan ya, berniat untuk memperkerjakan dia juga di apartemen yah.
"Wah, enak banget siapa nih yang masak. Nek koki di rumahmu, apakah di datangkan langsung dari Prancis kah?" ucap Kevin yang antusias.
Dia mengetahui jika Monika suka sekali memanggil koki-koki handal untuk memasak, karena Monika tidak bisa masak seumur hidupnya, dan tak pernah masuk dapur. Jadi hanya mengandalkan koki-koki handal saja atau bisa asisten rumah tangga.
"Hahaha... Iya, koki ya aku datangkan langsung dan sekarang sedang duduk, makan bersama kita," ucap Monika yang ketawa ngakak.
"Benarkah?... Dimana?" Dia celingukan, mencari siapa yang memasak hidangan makan malam tersebut.
"Kevin, kau sudah tahu malah tanya." Zacky kesal dengan kebodohan Kevin itu, entah sebenarnya Kevin atau pura-pura tidak tahu atau mungkin benar tidak tahu.
"Apa maksudnya paman Zacky. Aku bener gak tahu, masakan dan menu malam ini sesuai selera ku sekali. Jadi, apakah aku salah ingin tahu siapa orangnya, karena aku ingin sekali merekrut ya juga. Untuk jadi koki pribadi ku, di apartemen."
"Kamu ingin bawa dia kesana, kamu harus langkah dulu mayat paman kesayanganmu," ucap Zacky.
Andre hanya terdiam. Kevin melongo kebinggungan, karena tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Zacky.
"Paman. Kau kejam sekali si paman Zacky, kalau paman Zac sudah bicara itu gak ada kata yang keluar dari mulut ya itu lebih bagus." Kevin cukup kesal, dengan apa yang selalu di lontarkan oleh Zacky.
"Kamu sadar tidak apa yang kamu katakan itu, koki yang kamu inginkan itu ada di sampingmu. Dialah yang kamu maksud, jadi apakah kamu akan membawa yah?" ucap Zacky yang menujuk ke arah Elisa.
"Eh? Maksud ya, itu Elisa yang jadi kokinya?" Kevin cukup kaget dengan hal itu.
"Iya! Kevin. Semua ini yang masak Elisa, enakkan masakannya," Kata Monika membenarkan ucapan Zacky.
"Aku beneran gak tahu paman, jika yang masak Elisa. Nenek tidak bilang dari awal, dan kamu Elisa tidak langsung klarifikasi." Kevin cemberut karena di salahkan di tambah tak ada yang membela ya.
"Sudahlah Kevin, tinggal kamu makan aja. Jangan ladenin pamanmu, lagian selama kamu disini nanti aku yang akan terus masak buat kamu. Udah di makan keburu dingin, nanti gak enak." Elisa yang langsung menambahkan lauk ke piring Kevin.
"Iya, aku akan makan dengan lahap," ucap Kevin yang langsung makan, dengan sangat senang sekali.
Malam harinya, Elisa yang sedang merapikan pakaian Andre untuk besok dibawa ke rumah sakit. Andre akan menginap lagi di sana, yah mau gimana lagi. Elisa hanya bisa bersabar dan bersyukur saja, karena Andre sangat berdedikasi tinggi terhadap orang lain.
Keesokan pagi yah. Andre, Kevin dan Zacky berangkat pagi. Setelah sarapan, mereka langsung pergi ke rumah sakit. Kevin juga langsung menemui Ben, dan Zacky juga langsung bekerjasama dengan beberapa orang mengenai kasus yang terjadi belakangan ini.
Pukul 12.00 siang. Elisa baru saja datang di lobi rumah sakit. Bertemu dengan Kevin yang baru keluar dari sebuah ruangan. "Ouh, Elisa?" Langsung berlari mendekati Elisa.
"Kamu di sini, kan bangsal VVIP kelas khusus ada di lantai 10," ujar Elisa yang mengingat.
"Iya, tadi paman Andre yang menyuruh ku untuk datang ke bangsal anak dulu, katanya ada anak yang juga kena gangguan mental."
"Ouh gitu. Lalu di mana pamanmu sekarang?" tanya Elisa.
"Masih ada operasi, dan mungkin belum selesai."
Saat mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba saja ada segerombolan orang aneh yang datang tiba-tiba, dengan pakaian seperti geng motor berandalan, berjaket kulit logo tengkorak di belakang mereka.
"Mereka siapa?" ujar Kevin yang melihat beberapa orang aneh itu.
"Entahlah, aku juga tidak tahu," ujar Elisa langsung menatap dengan tajam. "Kayaknya aku harus lebih dekat deh. Biar bisa dengar apa yang mereka omongin," lanjut ucapan Elisa.
Elisa langsung maju ke depan, di belakang dua wanita yang sedang berbisik-bisik. "Pasti mereka ingin cari gara-gara lagi deh?" ujar si suster 1.
"Apa maksudnya." Kevin menyambung dengan apa yang di katakan si suster itu.
"Eh, Dokter ga... Kevin," ucap suster itu gelegapa.
"Katakan tadi apa maksudnya, pamanku dalam masalah yah?" ujar Kevin yang semakin sangat penasaran.
"Dokter Kevin, anda gak tahu." Suster 2.
"Ya, enggak lah. Makanya bagi tahu, jika kalian tahu," ucap Kevin yang sangat penasaran.
"Jadi, waktu itu juga pernah ada yang datang sekolompok preman juga. Datang kesini untuk mencari dokter Andre tapi, karena waktu itu dokter Andre tidak ada di tempat. Mereka hanya mengobrak abrik tempat ini, lalu anak yang di ruang rawat VVIP itu yah telah menyelamatkan tempat ini, untuk melawan mereka," ucap suster 1.
"Iya, begitu dokter Kevin. Entah mereka punya masalah apa sana dokter Andre hingga melakukan hal tersebut," sambung suster 2.
"Jadi begitu, apakah itu kemplotan yang sama dengan yang waktu itu?" tanya Elisa.
"Bukan, yang waktu itu. Mereka punya tato bunga mawar biru di lengan mereka, semua memiliki tato yang sama. Seingat ku mereka juga bule, bukan lokal sari begitu," ucap suster 1.
"Fik, Kayaknya mereka dari orang yang sama dengan kumpulan anggota yang berbeda." Elisa tangannya sudah gatal ingin memukul mereka.
"Apa maksudnya, orang yang sama dengan kumpulan anggota berbeda." Kevin penuh tanda tanya.
"Nanti aja aku jelaskan, sekarang aku akan kesana dulu," ucap Elisa yang akan jalan menuju si komplotan itu.
"Eeeeh... Tunggu dulu bu Elisa, kitakan belum tahu jelas. Mereka mau apa? jadi tunggu saja sampai mereka memberikan penjelasan tentang tujuan mereka, jangan gegabah. Pamanku juga tak akan suka di ikut campurkan urusannya dengan mu, jadi tunggu. Kamu bisa sabarkan Elisa," Ucap Kevin yang menahan tangan Elisa yang sudah mengepal keras.
Beralih pada ketua geng motor yang datang segerombolan itu, beberapa anak buahnya malah menendang beberapa fasilitas rumah sakit. Seperti kursi tunggu, kursi roda dan ranjang pembawa pasien.
"Mana yang namanya Dokter Andre, cepat bawa dia keluar menghadap ku. Jangan bersembunyi seperti pengecut, dan bersembunyi di balik ketek anak buah mu," ucap bos prema.
"Hahahaha..." semua anak buah si geng itu tertawa mendengar lelucon si bos preman.
"Maaf, bapak-bapak. Kanapa anda ingin mencari dokter Andre, apakah anda sudah membuat janji, dengan beliau pak?" tanya suster yang memberanikan diri bertanya.
"Iya. Saya sendiri yang telah buat janji, apakah kau tau. Kami telah sepakati saat buat janji, itu adalah janji kematian bagi Dokter Andre, kesayangan kalian semua."
"Hahahahahah..." anak buah itu malah tertawa, termasuk bosnya.
Di sisi lainnya. Elisa yang hanya bisa menahan emosinya tak tahan lagi, sangat geram saat mendengar hal itu, emosinya sudah sampai ubun-ubunnya. Akan tetapi, lagi-lagi tangannya di tahan oleh kevin, agar Elisa jangan kesana pikir Kevin itu cukup berbahaya.
"Kamu mau kemana, percuma jika kamu kesana Elisa," ujar kevin yang menyarankan.
"TAPI... Dia sudah keterlaluan, telah berani menghina suamiku. Tidak akan ku maafkan dia. Rasanya ingin sekali ku sobek mulut kotorya itu," ujar Elisa yang sedang menggertakkan gigi-giginya.
Kembali pada si ketua anggota komplotan tersebut, si suster itu di tarik oleh ketua geng. "Kamu sangat cantik, mau tidak jadi istriku." memegangi dagu si suster, lalu tangan lainnya sudah memegang pantat si suster itu.
"Maaf, tapi aku sudah menikah." Jawabnya, sambil menepis tangan si ketua preman itu, dan menjauh darinya. Tapi, sayang tangan lainnya berhasil ditangkap lagi oleh si ketua preman, sekuat tenaga si suster itu ingin melepaskan diri.
"Wah! Bos dia berani menolak mu..." ucap salah satu anak buahnya. Si boss hanya tersenyum licik.
"Lepaskan dia. Bukankah urusanmu dengan Andre bukan wanita ini, jadi lepaskan," ujar Try yang datang ke lokasi, untuk menghentikan aksi pelecehan si ketua geng itu pada salah satu staff rumah sakit.
"Sepertinya ada yang jadi pahlawan kesiangan, kamu berani rupanya. Sini, hadapi kami dulu" ujar anak buat si boss preman.
"Aku datang bukan ingin jadi jagoan, atau pujian dari kalian, tapi ingin menghentikan aksi konyol kalian. sebenarnya ada apa, kalian datang ke rumah sakit dan bikin keribuan disini," Try yang sangat kesal dengan apa yang di lakukan mereka.
"Dimana dokter Andre, apakah kau dokter sialan itu." tanya si boss.
"Apakah anda punya dendam dengan beliau, kenapa anda mengatakan hal tersebut!" ucap Try.
"Tidak usah ikut campur, tunjukan saja di mana orangnya." Mengangkat Try, hingga kakinya berjinjit karena kera baju di tarik oleh tangan si ketua preman.
"Jangan buat ke gaduhan di sini pak, ini rumah sakit banyak orang yang di rawat di sini, jadi tolong hargai mereka." Sambung Rudi yang datang entah dari mana.
"Aku tidak peduli, cepat tunjukan saja dimana tempat Dokter itu. Atau buat dia datang menghampiri ku ke mari," ucap si preman itu dengan aksi merusak dan membuat rusuh tersebut.
Elisa yang sudah tidak tahan lagi dengan itu, rasanya sudah mencapai batasnya. Kevin masih memegangi tangan Elisa yang sudah mengeras itu, gara-gara sudah mendidih emosinya.
"Elisa, sepertinya ini tidak mudah. Karena paman dalam masalah sekarang." ucap Kevin yang baru mengerti situsnya, tapi Elisa sudah tidak sabar ingin segera menyelesaikan orang itu.
"ELISA, kamu baik-baik saja kan?" Kevin menatap Elisa yang wajahnya sudah sangat menyeramkan.
"Menurut mu gimana, apakah aku baik-baik saja sekarang?" ucap Elisa yang sudah semakin geram, tanpa menoleh ke Kevin. Tapi, malah fokus pada objek yang ingin dia habisi.
"Aku tahu kamu pasti sangat marah, tapi para pengawal paman Andre juga ada di dekatnya. Dia pasti akan baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir."
"Iya kamu benar. Tapi, apakah kamu tahu, aku ini orang ya kalau sudah di kesal akan tetep marah, jika di suruh diam malah tambah emosi."
Gila Elisa seram juga, paman kok bisa menikah dengan wanita seperti ini. ucap dalam hati Kevin yang sangat kaget saat melihat Elisa.
Di tempat lainnya. Andre yang baru keluar dari ruang operasi, langsung ada dokter magang yang mendatangi ya, dengan sangat panik dan kalang kabut.
"Dok–dokter..." suara yang tidak beraturan, saat Andre keluar dari ruang operasi.
"Ada apa mika, kenapa kamu tergesa-gesa begitu. Coba tarik nafas dulu, lalu baru kamu katakan ada apa?" ucap Andre yang menyarankan.
"Itu... di... sana" Mika malah menujukan lokasi kejadian.
Andre cukup binggung dengan apa yang ingin di sampaikan oleh mika. "Di sana... Di sana, ada apa?" tanya Andre yang menyipit matanya.
"Mereka datang lagi, dokter Try sekarang sedang mengahadapi mereka. Dokter Andre, sebaiknya anda yang kesana" ucap si mika yang langsung mengatakan tujuannya.
"Siapakah yang kamu maksud, mika" tanya Andre yang masih belum faham dengan apa yang di katakan oleh mika.
"Coba anda cek saja sendiri, Dokter."
"Baiklah." Andre langsung lari ke tujuan.
Sesampainya di sana, tiba-tiba saja Andre di kagetan dengan Rudi yang terlempar di depan Andre yang baru datang.
"Rudi..."
"Andre, mereka—" Belum juga selesai Rudi langsung pingsan sekali pukul.
"Mika, bawa dia ke ruangan rawat ya." ucap Andre menyuruh mika.
"Baik Dok" mika langsung membawa Rudi, di bantu dengan beberapa suster cowok di belakang.
Andre langsung jalan mendekati tempat tersebut, terlihat semua anak buahnya terkapar tak berdaya, Try yang masih bertahan. Walau wajahnya sekarang sudah tak karuan, karena penuh darah.
"Maaf bapak-bapak, tolong hentikan apa yang kalian lakukan pada para staf dan karyawan ku, dan ada perlu apa kalian datang kemari" tanya Andre langsung menolong beberapa orang yang terkapar di sana.
"Sudah aku katakan, aku tidak akan mengatakan apapun. Sebelum dia muncul dan datang menghampiri, apakah kau juga ingin bernasib sama seperti mereka." ujar si ketua preman.
"Try, kamu baik-baik saja?" Tanya Andre membantu Try berdiri.
"Kak, mereka—"
"Aku tahu, tidak usah khawatir" ucap Andre yang masih bersikap tenang.
"Jadi, siapa orang yang bapak-bapak ini cari?" tanya Andre.
"Dokter Andre."
"Itu saya sendiri, ada apa ingin bertemu dengan ku?" tanya Andre yang manatap tajam.
"Ouh, jadi kamu orangnya!" ucapnya seraya maju beberapa langkah untuk mendekati Andre.
Kebetulan untuk saat ini, para bodyguard Andre malah sedang tidak ada di tempat, jadi tidak ada yang bisa melindungi Andre.
Disisi lain, geng Mia hanya bisa menonton dari jauh. Iya banyak sekali yang menonton di sana tak ada yang berani untuk membantu, semua ya ketakutan.
"Wah, mba Mia apakah akan terjadi keributan lagi, Dokter Andre sepertinya selalu di kelilingi banyak musuh yah. Apa lagi musuh-musuh selalu para preman-preman aneh begitu," ucap Hilda yang berdiri sejajar dengan Mia.
"Aku dengar jika Andre itu keturunan bangsawan, mungkin saja itu ada kaitannya" Jawab Mia, yang selalu tahu info terapdet.
"Kamu bener Mia, dia seperti selalu berurusan dengan orang-orang yang seperti itu. Karena dia memang keturunan raja Clarlosen 1, dan keturunan ke 4 dari ANDRILOS." Sambung Junlion yang menyambar entah datang dari mana.
"Ouh Junlion, kenapa kamu ada disini? seharusnya kamu bersama temen mu kan, kau tidak ingin bantu sahabat mu" ujar Mia yang heran, Junlion cukup santai-santai saja dan malah seperti senang sekali jika Andre selalu dalam masalah.
"Untuk apa? aku membantu ya. Agar wajah tampanku ini babak belur, seperti anak itu (Try). Aku sangat sayang dengan wajahku, jadi mohon maaf. Aku lebih baik di sini saja, menonton dengan kalian" ucap Junlion dengan senyuman aneh.
"Itu namanya tidak setia kawan kau Jun, masa kau hanya saat Andre dalam kondisi baik saja. Saat dia kesusahan dan kesulitan begitu Kay tidak ingin membantu ya," ucap Mia yang merasa agak aneh sama sikap Junlion.
"Yasudah, bagaimana jika kau saja yang membantu dia. Bukankah kalian suka sekali memuja dan memuji dia, kenapa kalian tidak ingin membantu dan hanya menonton di sini" ucap Jun dengan senyuman tipis.
"Itu karena kita semua cewek, dan kami juga karyawan ya, lah sedangkan kamu bukan hanya cowok tapi sahabatnya" ucap Mia yang menjelaskan dengan sangat beremosi dengan si Junlion.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...
Kita akan berjumpa lagi di EPISODE SELANJUTNYA. BYE...
Minggu 27 Maret 2022.