
^^^🌹New York City^^^
Berada di kediaman Monarfi, Brandon mengunjungi rumah Arafif karena khawatir akan keadaan putranya yang ia dengar jika dia sedang di incar kembali, makanya Brandon buru-buru untuk menemui mereka.
Diruang Tamu, di rumah Monarfi. Mereka duduk di bersebelahan di sofa, terlihat Arafif yang agak frustasi dengan musuh-musuh yang telah di bawa Brandon dalam kehidupan keluarga yah, hingga membahayakan keselamatan orang lain.
"Brandon? Kenapa kau datang, apakah kau sengaja untuk mengusiknya. Kau tahu, jika Andre saat ini sedang di incar, lalu kenapa kau malah menampakkan diri" Ucap Arafif yang agak kesal.
"Aku tahu, maafkan aku. Lalu dimana dia sekarang?" Tanya Brandon yang tampak khawatir.
"Aku suruh dia bersembunyi di tempat yang aman, jadi kau tak usah mendatangi kediaman ku. Itu akan membuat Andre semakin banyak yang curiga, bisa-bisa Andre benar-benar dalam bahaya" Ucap Arafif yang tampak sedang puncak amarahnya.
"Maaf, Arafif. Justru karena aku khawatir, makanya aku datang. Kamu kirim dia kemana?" Tanya Brandon.
"Tak perlu kau tahu, jika aku memberi tahu. Maka akan banyak lagi yang akan datang untuk memeriksanya dan mencarinya, jangan buat dia dalam masalah. Sudah cukup, nyawanya terus-menerus diujung tanduk" Ucap Arafif.
"Jika seperti itu, akan aku kirim kan beberapa orang untuk melindungi yah!" Tawaran Brandon, tapi sayang di tolak mentah-mentah oleh Arafif.
"Tidak perlu, kau pikir aku tidak sanggup untuk melindungi yah, selama ini aku yang melindungi yah. Kau hanya membawa kami dalam bahaya. Sebaiknya kau kembali ke kediaman mu, jika ada orang yang melacaknya gunakan koneksi mu untuk memblokir semua data-data tentang Andre" Ujar Arafif yang sudah terlalu kesal.
"Baiklah, maaf sudah mengganggu mu. Terimakasih atas perhatian mu, dan terimakasih telah melindungi dia selama ini" Ucap Brandon, ia langsung bangkit dari sofa.
"Tunggu, Brandon. Apakah kau punya tujuan untuk menampakkan diri mu sekarang? apakah kau berencana untuk membuat dia masuk ANDRILOS?, atau kau ingin—" Ucapan Arafif terputus tak sanggup ia lanjutkan.
"Tidak, dia tetap putramu. Aku tak punya hak apa-apa lagi, semenjak kejadian saat itu. Baiklah, aku pergi sekarang" Ucap Brandon yang agak frustasi juga, saat ia mengatakan hal tersebut, tapi rasa khawatir Arafif itu bukanlah bohongan, dia tulus menyayangi Andre padahal dia bukan putra kandungan yah.
Brandon akhirnya pergi, ia langsung meninggalkan kediaman Monarfi, di dalam mobil seraya menatap pepohonan yang mulai rimbun dengan daun muda yah.
Yah, setidaknya dia aman sementara ini. Maafkan aku Alzam, aku memang bukan ayah yang baik untukmu, aku selalu membawa bencana untukmu. Semoga kamu baik-baik saja, dimanapun kau berada putraku. Gerutu dalamnya, seraya menitikkan air mata pilu.
^^^🌳 Indonesia, Desa N^^^
Elisa yang saat ini sedang asik, di sebuah kebun lahan pertanian, dengan para ibu-ibu dan para wanita desa di sana. Mereka lagi bikin cangkokan bunga mawar dan anggrek, hingga suatu kejadian perkara yang membuat Elisa harus turun tangan.
Tiba-tiba ada asap yang sangat besar, membuat Elisa kebinggungan, hingga api yang begitu menyala-nyala dari lahan yang tidak jauh saat mereka sedang berkebun.
"Ibu-ibu itu asap dari mana yah, kok gelap banget kayak ada kebakaran?" tanya Elisa spontan.
"Eh, iya dari mana yah!" Ibu 1
"Kayaknya dari lahan di Blok Q" Ibu 2
"Pasti ini kerjaan si juragan kurang ajar itu" Sambung ibu 3.
"Siapa sih mereka, kok tega banget" Ucap Elisa yang kesal.
Langsung bangkit dari tempatnya, dan melihat ke arah bawa, ternyata ia melihat semua gumpalan awan asap hitam itu mengelilingi tempat. Yap! Elisa, saat ini berada di atas ketinggian 2 Meter, karena menanam pohon di gedung kaca khusus.
saking penasarannya, Elisa turun ke bawa semua ibu-ibu juga ikut turun ke bawa saat melihat bapak-bapak suami mereka di pukuli oleh 4 orang pria berotot kekar, bikin geram.
"Apa-apa ini, kalian membakar lahan seperti itu kita usaha buat menanam kenapa kalian bakar seperti itu" Ujar bapak 1.
"Kalian lupa ini tanah milik siapa? ini milik juragan Rico, seenak ya saja kalian menanamkan sampah-sampah ini di tahan lahan juragan" Ucap Bodyguard 1
"Tapi kita yang menanam semua itu" bapak 2
"Aku tidak peduli, lagian tanah ini bukan milik kalian!" Bodyguard 2
"Kalian keterlaluan" Ucap bapak 3
Tak sampai di situ saja, mereka sampai mengunakan kekerasan untuk menghukum bapak-bapak itu, Elisa yang belum bisa jelas melihat karena asap itu membuat pandangan sangat terganggu.
Buukk
Buukk
Hingga suara pukulan itu membuat Elisa berusaha melihat ke keadaan, dan para istri yang khawatir akan suami-suami mereka langsung histeris.
"Ya ampun, bapak-. Ini apa-apa, kok suami saya di pukul begini, kalian sebenarnya mau apa lagi, belum puas memeras kami, padahal kami sudah bayar pajak tanah dengan ke kalian bulan lalu" ujar ibu 1 yang langsung berlari saat melihat suaminya terkapar tak berdaya, karena habis di pukul.
"Ada suara ribut-ribut apa di sana, kita kesana yuk Bu!" Ucap Elisa yang masih samar-samar.
"Aduh mba, mendingan jangan. Itu kayaknya anak buahnya juragan disini, biasalah. Pasti mereka minta bayaran soal tanah, mereka emang suka seperti itu" Ucap Eni.
"Gak bisa gitulah, yaudah Bu Eni di sini saja aku yang coba lihat kesana, aku penasaran" Ucap Elisa yang sudah berjalan keluar dari kabut asap itu.
"Eh mba, Aduh-" Ibu Eni pun mau tidak mau harus ikut Elisa, karena ia masih punya tanggung jawab pada Elisa.
"Woy, apa-apa nih! Main pukul-pukul orang aja, kejahatan apa yang mereka lakukan pada kalian, sampai harus kalian memukuli bapak-bapak ini" Ujar Elisa yang datang dari kabut tebal.
"Mending gak usah ikut campur, kalau gak mau berakhir begini, cewek kecil kayak lu tinggal di pites aja, sudah langsung K.O" Ucap bodyguard itu sombong.
"Hmph, songong banget nih orang! Lalu ini apa maksudnya? kalian bakar lahannya, tahu nggak itu mau panen" Ujar Elisa yang melipat tanganya.
"Bodoh amat itu bukan urusan kita, lagian ini bukan tanah milik mereka" Bodyguard 2.
"Cik cik cik ! Wah keterlaluan banget sih" Ucap Elisa yang di bikin emosi dan naik darah.
"Mba, udah jangan berurusan dengan mereka. Nanti bisa fatal akibatnya, kita mendingan pergi aja yuk!" Ucap bu Eni yang ketakutan.
"Gak bisa gitu Bu, udah tenang aja. Ibu eni nepi gih!... Kalian jangan semena-mena aja, emang kalian siapa?" Ucap Elisa bicara bergantian.
"Kayak nih cewek nantangin kita, belum tahu siapa kita. Nih kenalin Baron, ahli beladiri pacak silat Raja, seRT" Bodyguard 4.
"Coba tunjukan gimana? kehebatan pacak silat seRT" Ucap Elisa yang menantang.
"Nih cewek bener-bener yah. Baiklah ini saya perlihatkan" ucapnya sambil memperagakan cara bela diri yang dia kuasai.
"Cuman gitu doang!" Ucap Elisa yang meremehkan.
"Wah nih cewek bener-bener nantangin, Juk maju" malah nyuruh orang maju duluan.
"Lah, katanya juara se RT! kok malah nyuruh orang lain buat maju" Ujar Elisa yang binggung tapi merendahkan.
"Takutnya, aku tidak bisa menahan diri jika sudah ku keluarkan jurus kuda-kudaku" ujarnya dengan pedenya.
"Ouh, gitu! Bagus juga alasannya, masuk akal baiklah. Sini maju, aku jabani kalian. Lumayan buat pemanasan, sudah lama aku gak pemanasan" ujar Elisa yang mulai melemaskan tulang-tulang yah.
Lalu saat si Juki itu mencoba tinjunya kearah Elisa, langsung menghindari dengan cepat Elisa Langsung lompat, menunggangi tubuh pria besar 2x dari tubuhnya itu, dan mematahkan tulang bahu si Juki hanya 1 pukulan.
Phuk!
Kreeeteekkk!
"Upssh, sorry. Tanganku terpelintir, ada yang mau coba lagi. Ayo, siapa lagi selanjutnya?semua maju juga gak apa-apa! Sini aku layani, tidak kan ada yang terlewatkan" Ucap Elisa sudah di puncak amarahnya.
"Kita serang sama-sama, ayok!" Ucap Baron si ketua bodyguard itu.
"Kalian, mau serang cewek bersama-sama. Sini-sini" Ucap Elisa yang tersenyum sinis.
Akhirnya mereka menyerang Elisa secara bersama-sama, ibu-ibu dan bapak-bapak itu hanya bisa menonton. Tak ada yang berani untuk ikut campur, Elisa melawan mereka semua seorang diri. Pria-pria yang ukurannya 2x tubuhnya itu, dengan muda di lumpuhkan Elisa. Mereka mengalami patah tulang dan babak belur, sekujur tubuh biru.
Plak !
Bluk !
Bug !
Kreeeteekkk !
Phukk !
Setelah semua sudah, Elisa selesai dengan sangat mudahnya. Elisa yang tidak terluka sedikitpun itu membuat warga di sana takjub, dengan kemampuan Elisa, yang terlihat lemah di luar tapi dia sangat kuat.
"Mau lagi?... sini, kalian masih sanggup. Ayo, cepat bangun" Ucap Elisa yang masih berdiri tegak.
"Kabur, kita mundur" Ucap Baron yang sudah kalah talak dari Elisa.
Meraka sampai-sampai merangkang untuk lari dari Elisa, tapi tak di kejar oleh Elisa. "Mau kemana? nggak mau lanjut!" Ucap Elisa yang menahan Baron.
"Awas kau, tunggu pembalasan kami" ucap Baron yang masih menantang.
"Iya aku tunggu, pengecut kalian, sini kalau berani" Ucap Elisa yang membuat mereka ngibrit berlarian.
Semua bersorak gembira karena Elisa seperti ibu Kartini, yang telah menyelamatkan nyawa mereka, pahlawan yang telah membuat semua orang kagum akan sosok Elisa.
"Mba, mba gak apa-apa?" Tanya Bu Eni.
"Iya Bu, nggak apa-apa" Ucap Elisa, langsung menenangkan Bu Eni yang dari tadi panik.
"Bapak-bapak, kalian gak apa-apa kan. Aduh- aduh, tanah jadi kebakar kaya gini, siapa si mereka, kok tega bener. Mereka bilang juragan ya? Disini ada juragan?" Ucap Elisa yang kepo. Tapi masih sempat membantu bapak-bapak itu bangun, dan menolong mereka untuk jalan, dan duduk di tempat yang agak aman.
"Ada, di dusun sebelah, mba nggak apa-apa!" Tanya ibu 1.
"Ih si Eneng, hebat pisan ya!" Ucap ibu 2.
"Belajar dimana?" Tanya Rana anak Bu Eni.
"Hehehehe, Alhamdulillah. Cuman buat jaga diri aja Bu, mba Rana. Yaudah mendingan kita obati bapak-bapak dulu yuk, kerumah saya. Ada obat punya suami, mari" Ucap Elisa yang menolong bapak-bapak itu.
Sesampainya di rumah, Elisa yang sudah membuka pintu untuk mengambil obat-obatan untuk membalut luka-luka bapak-bapak yang kena pukul dan hantam itu langsung di obati dengan cepat oleh Elisa.
"Bentar ya, agak peri pak. Tapi tahan yah, ganti yah pak" ucap Elisa.
"Iya, emang gak apa-apa. Terimakasih sudah mau nolong kami, dan mau bantu kami" Ucap bapak 1.
"Tadi keren pisan sih mba, kita semua gak ada yang berani tuh sama mereka?" ibu 1.
"Ya kalian harus berani, untuk berjuang. Demi keadilan kalian semua, bapak-bapak ibu-ibu mau sampai kapan? kalian di tertindas seperti itu. Yah, walau kalian rakyat kecil. Jangan mau di jadiin keset buat mereka, sekarang bukan jamannya penjajahan lagi" Ucap Elisa.
"Bener juga"
"Ya enak mba buka orang sini, mba pendatang. Lah kita kan yang tinggal lama di ini" Ibu 3.
"Itu semua gak ada hubungannya, mau lama kek, mau pendatang kek, sama aja. Kalau kalian gak bisa tegas, dan mau terus-menerus di tindas, mulai sekarang harus melawan. Jangan diem aja, jangan pasrah. Harus berani, kalau gak berani gak akan bisa maju, dan mau di suruh- suruh begitu. Kita sudah merdeka bukan budak lagi, jadi bapak-bapak ibu-ibu. Harus punya pendirian" Ucap Elisa yang baru selesai mengobati luka-luka bapak-bapak.
Disisi lain, Andre yang sedang ada di lantai 4. Sambil melihat ke bawa hingga menghitung beberapa orang yang lalu lalang, yah Andre sedang mengevaluasi kinerja para karyawan yah itu, dari atas.
"Woy Dre, bukanya kamu gak bisa hadir ya? buat penyambutan para karyawan. Lah kamu ngapain pagi-pagi sudah nongkrong di sini, pulang kapan?" ujar Try yang baru keluar dari lift.
"Aku gak mau buat kamu, jadi lebih kangen padaku adik, aku tahu kamu begitu sangat merindukanku. Makanya, takut kau akan menuntut ku jika aku tak datang" Ucap Andre yang tersenyum pede.
"Wah, gila! Sejak kapan, aku jadi kangen kamu. Ternyata tidak bertemu denganmu seminggu saja kamu sudah narsis ini, hingga selevel Junlion" Ucap Try kesel.
"Ha-ha-ha, benerkah" Ucap Andre yang tertawa terbahak-bahak.
"Wah wah wah, siapa nih? ouh ternyata eluh. Kapan Luh datang. Saudara kembarku" Ucap Junlion yang langsung mengalungkan tangannya di punggung Andre.
"Siapa yang jadi saudara kembar mu?" Tanya Andre yang menatap meremehkan, sambil memindahkan tangan Jun, agar turun dari bahunya itu.
"Hahaha iya siapa lagi kalau bukan lu, My best friend forever" Ucap Jun yang pede yah.
"Siapa aku! Perasaanku, kayak yah aku jauh lebih tampan dari pada mu Jun" ujar Andre yang sangat pede.
"Wah wah wah, Andre-andre. Bener-bener, seminggu tidak bertemu, kamu semakin tambah narsis melebihi Junlion" Ujar Try yang tambah kesal.
"Yo, Try dia itu memang anak buah gue. Dia kan berguru sama gue, ya wajar lah. Kamu mau ku ajari juga, biar kita sama gitu?"
"Ogah, "Ujar try yang nolak mentah-mentah.
"Andre ini murid yang susah payah gue didik dan latih, jadi wajar kalau dia lebih dari guru yah" Ucap Jun.
"Bisa jadi begitu, aku baru tahu jun" Ucap Andre yang langsung menatap tajam.
"Ku pikir kau mau bulan madu dulu dengan Elisa?" Sambung Try.
"Ah- gue juga mikir gitu sih, kamu gak Honeymoon sama si gadis obat?" Ucap Jun.
"Bulan madu? Honeymoon? Setiap malam juga bulan madu kok, soal honeymoon tiap liburan ku juga honeymoon" Ucap Andre yang santai saja menanggapinya.
Jun dan Try saling menatap, karena ini pertama kalinya Andre terang-terangan sekali mengatakan hal yang selalu ia hindari selama ini. "Apa telinga gue gak salah denger yah? Apa perlu gue ke Dokter THT?" Ucap Jun yang kaget dengan penuturan ucapan andre.
"Gak Jun, kamu gak perlu ke THT tapi, ke Sikolog, buat ngubak mental narsis kamu itu" Ucap Try.
"Wah, gila. Ini dasyat, ternyata bener yah. Kalau pria sudah gak perjaka lagi, ada kemajuan. Karena biasa andre enggan banget tuh, ngomong soal malam hari yang hot begitu, sekarang main terang-terangan saja kau ucapkan" ucap Junlion yang langsung menebak.
"Sudah sana kembali kerja sana, aku lagi sibuk nih" ucap Andre yang langsung ngusir kedua temennya, agar jangan terlalu lama bikin pertanyaan baru.
"Yaaah, jadi dia jadi malu sendiri pada akhirnya" Ucap Jun yang masih sempat-sempatnya menggoda Andre.
"Siapa! aku? gak tuh. Udah sana, siap-siap kariyawan lainya akan segera pada datang" Ucap Andre yang mengusir.
BERSAMBUNG ...
Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...
Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.
Senin 21 Februari 2022.