
Malam yang begitu sunyi, hembusan angin yang menerpa wajah Andre hingga rambutnya yang agak memanjang itu tersapu oleh angin malam. Menatap jauhnya pandangan dengan tatapan kosong, melihat sebuah menara yang dulu Andre dan Junlion pernah bermain di sana, saat berkunjung pertama kali ke Barcelona pada masa kuliah semester awal.
Dulu juga ibu Junlion masih hidup, ibu junlion sangat baik dengan Andre dan Try. Mereka adalah teman sejak saat pertama masuk universitas yang sama di Jerman. Junlion waktu itu adalah murid yang berprestasi, dapat jalur undangan saat masuk kampus. Sedangkan Andre dan Try adalah murid pindahan karena jaman itu Andre sedang di kejar oleh seseorang, makanya ia di sembunyikan papahnya di Jerman.
Masa itu mereka melewati masa senang dan duka bersama, hingga suatu jurusan yang pada akhirnya memisahkan mereka dari kelas. Tapi tetap satu kampus, Andre ingin menjadi dokter bedah organ dalam dan organ vital. Try ingin jadi dokter peracikan obat, dan Junlion dokter umum.
Fikiraannya saat ini tak bisa melupakan semua kenangan indah yang terukir, entah kenapa dirinya tak bisa melupakan semua itu.
...###...
Elisa yang meraba sebelah ranjangnya, tak ada tubuh yang dia cari. Perlahan-lahan membuka matanya, ia tak menemukan sosok yang di samping. "Huh? kemana dia?" Gumam Elisa parau, setengah sadar.
"Mas, kamu sedang apa di sana? Kamu tidak tidur?" Elisa yang bangun, membuka matanya dan langsung terduduk melihat suaminya yang berdiri di teras balkon.
Andre tak menjawabnya, ia masih larut dalam fikiran ya. Hingga Elisa menghampiri suaminya, Andre kaget saat ada tangan yang sudah melingkar di pinggang yah.
"Kenapa kamu bangun, ini masih malam. Di sini malamnya cukup panjang, kembali tidur sana!" ucap Andre yang memegang tangan Elisa yang melingkar itu.
"Hmph! Kamu menyuruhku untuk tidur, tapi kamu sendiri malah masih berdiri kokoh di sini" ucap Elisa yang menenggelamkan wajahnya di punggung Andre.
"Sayang!" Andre menatap jauh kedepan, tak tahu pikirannya sekarang karena kosong melompong, ia tidak bisa berfikir seperti apa kedepannya.
"Hmm-" jawab Elisa singkat.
"Kenapa ya, satu persatu semua orang meninggalkan ku. Pertama ibu kandung ku, pengasuh, pengawal-pengawal ku, dan sekarang temanku. Aku jadi ragu, kedepannya gimana? aku tidak tahu arah dan jalan, semua gelap."
Andre yang mulai down dan tak bersemangat untuk bangkit, seperti ia sudah jatuh ke jurang yang begitu dalam.
"Hmm-, aku yang akan menerangi jalan untuk mu, agar kamu bisa berjalan lagi untuk menuju tempat yang ingin kamu tujuh. Jalani saja, ini semua adalah ujian untuk hidupmu. Agar derajat mu di angkat, dan agar kamu berkualitas tinggi. Untuk melangkah satu tingkat lebih atas dan lebih baik, kita harus mendapatkan ujian biar naik kelas. Iyakan!"
Ucapan istrinya ini membuat Andre berfikir keras, terdiam untuk mencerna semua perkataan Elisa, dan memahami isi dari apa yang di katakan Elisa.
"Tapi, ini semua tidak sama sayang! semua terasa berat bagiku, apakah aku masih sanggup menerima semuanya? Jika seandainya kamu juga meninggalkan aku, apakah aku juga masih sanggup untuk berdiri. Sepertinya aku tak akan bisa, sayang"
Ucap Andre yang mulai layu, akan tidak bersemangat lagi karena masalah yang datang silih berganti.
"Mas Andre, ujian tanpa belajar itu pasti akan sulit. Makanya, kita akan belajar untuk menjadi lebih baik. Ujian tidak ada yang instan dan tidak pula mudah, anggap saja dunia ini adalah soal ujian kita, dan kita harus mencari jawabannya. Tuhan akan jadi pengawas bagi kita, semua pasti akan bisa kamu lalui. Jika kamu percaya dan yakin, insyaAllah. Tuhan, tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan umatnya! Jika umatnya tidak mampu, Tuhan akan menuntun kita dan memberikan jawabnya"
Seketika Andre terdiam, mendengar apa yang di katakan Elisa memang tidak ada yang sia-sia. Lalu Andre samar-samar tersenyum tipis, setidaknya ada titik cahaya di jalan yang gelapnya itu.
"Lalu, apakah aku bisa melakukan itu. Aku ragu, selama ini aku berjalan di serpihan kaca dan paku, semua terasa mudah dijalani tapi itu sangat menyakitkan. Seakan-akan tubuh ini juga ikut hancur, lalu apakah aku bisa melewati ya?"
Elisa membuang nafasnya, berdiri di samping andre, seraya menatap arah pandangan yang sama dengan tujuan suaminya saat ini. Andre sedang kehilangan arah, tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Coba kamu pikirkan, adakah jalan yang mudah di sini. Ujian itu karena Tuhan sayang padamu. Ingat kisah Rasulullah SAW, beliau di tinggal ayahnya saat masih dalam kandungan dan tak lama ibunya juga meninggalkan beliau. Itu cara Allah mendidik agar Rasullullah lebih baik kan. Okey! kamu memang bukan beliau, tapi kamu harus lebih mempercayai bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah milik-Nya. Dan cara Tuhan menguji umatnya itu berbeda-beda, Allah hanya mengukur seberapa besar imanmu, jadi kamu harus ikhlas. Semua di muka bumi ini yang hidup pasti akan mati, yang mati akan kembali pada pencipta-Nya. Iyakan!"
Ucapan Elisa yang panjang kali lebar itu, membuat Andre terdiam sejenak memikirkan matang-matang apa yang di katakan oleh Elisa.
"Hmph, kadang kamu jadi ustadzah yang suka sekali ceramah ya. Juga sangat bawel sekali, aku hanya merasa bersalah pada Junlion, dan irene."
"Salah terus deh!"
"Nggak, kamu gak salah kok"
"Mas, jika kamu merasa bersalah lalu apakah kamu bisa menghidupkan dia kembali, tidak kan! jadi jangan berfikir konyol"
"Iya, aku memang tidak bisa menghidupkan dia kembali. Tapi, apa yang harus aku lakukan saat ini?"
"Tidur! Karena kamu belum istirahat dengan baik, sudah 3 hari ini kamu gak bisa mengatur tidurmu. Sudahlah, itu kita pikirkan besok saja! yang berlalu biarlah berlalu. Kita harus melanjutkan perjalanan kehidupan ini, entah masih panjang atau pendek kita harus segera berjalan dan bangkit lagi kan. Jangan berlarut-larut untuk menyesali apa yang terjadi"
"Iya. Terimakasih ya Elisa"
"Untuk apa kamu Terimakasih. Aku yang terimakasih karena kamu mau bertahan sejauh ini, dan maafkan aku karena aku belum bisa memenuhi kebutuhan dan tanggung jawab ku sebagai istri mu. Tidak apa-apa mas, kita bisa melalui ini semua bersama-sama. Jangan kamu pikul seorang diri jika itu berat, bebanmu itu kamu bisa membaginya denganku, kita akan sama-sama untuk memukulnya."
Elisa memeluk suaminya dengan sangat erat, dan Andre juga tersenyum tipis membalas pelukan Elisa.
"Iya, Tuhan tidak pernah salah memilih mu sebagai pendamping hidup ku. Kamu sudah memenuhi semua kebutuhan dan tanggung jawab mu, aku tak membutuhkan apapun lagi hanya ingin minta kamu saja untuk tetap di samping ku dan berjalan bersamaku. Atas seizin Tuhan, aku ingin meminta mu dari penciptaan ku. Apakah boleh ya?"
ucap Andre yang membuat Elisa terkekeh tertawa, karena Andre sepertinya musafir cinta yang hijarah.
Keesokan paginya, Andre yang sudah siap-siap akan kembali dengan Elisa yang juga sudah rapi dengan stelan baju yang telah di siapkan oleh Irene. Sekarang Andre juga sudah memakainya kaos dengan luaran kardigan abu-abu. Meraka sudah ada di pelataran rumah mansion milik Irene tinggal, untuk berpamitan pulang.
ANDRE : Irene, kami pamit pulang. Jaga kesehatan mu, jika perlu apa-apa kamu langsung hubungi ku ya!
IRENE : Iya, terimakasih. Kamu tidak ingin tinggal lebih lama di sini Andre, kami bahkan belum menjamu kalian dengan baik, semalam juga kami lupa untuk menyiapkan makan malam buat kalian.
ANDRE : Tidak apa-apa, kami juga sudah makan malam kok, tidak usah khawatir atau merasa terbebani dengan jamuan penyambutan. Lain waktu saja, masih banyak pertemuan lainya.
IRENE : Maafkan kami ya.
ANDRE : Tidak masalah.
IRENE : Andre apakah istrimu tidak bisa bicara? Semenjak dia datang tak pernah bicara apapun, bahkan tak berani menyapaku, apakah dia marah padaku karena aku memelukmu kemarin.
ANDRE : Dia tidak marah. Elisa sebenarnya bisa bicara, hanya saja dia memang tidak mengerti bahasa ya. Jadi lebih baik diam, dari pada dia harus bicara tapi tidak di fahami.
IRENE : Begitu. Kupikir dia marah padaku.
Andre memberikan sebuah buku pada irene, buku yang di maksud Junlion sebelum ia wafat. Lalu datanglah sebuah kotak besar yang di bawa pengawal yang di dalamnya ada banyak sekali kado, dengan dua jenis warnah.
IRENE : Buku apa ini? Dan kotak apa yang kamu bawa, besar sekali!
ANDRE : Terakhir dia bilang, bahwa ia menyiapkan banyak sekali nama-nama untuk calon anaknya, di dalam buku tersebut. Dia menyuruhku untuk memilih salah satunya, tapi aku tak bisa membukanya. Jadi kemungkinan hanya kamu yang bisa membukanya, ini aku berikan pada pemiliknya.
IRENE : Terimakasih Andre, aku akan menjaga ya.
Tiba-tiba saja kedatangan beberapa mobil hitam langsung terparkir di mana-mana, sekitaran halaman mansion. Terlihat ada 10 mobil hitam, dari dalam masing-masing mobil keluar orang-orang berjas hitam, dan berkaca mata hitam, Elisa langsung di tarik Andre agar bersembunyi di belakang ya.
Meraka langsung berbaris menjadi dua, dan setelah sampai di depan Andre mereka membuat baris berjejer dan saling berhadapan satu sama lainya.
"Eeeeh ada apa ini kok ramai sekali sih? Mereka siapa?" tanya Elisa kebinggungan dengan orang-orang yang datang.
"Sayang! Sini" ucap Andre yang menarik Elisa ke belakang punggungnya.
"Huh! mereka siapa mas. Kamu kenal?" tanya Elisa kebinggungan.
"Aku tidak tahu, kamu bersama Irene dulu yah!" ucap Andre yang berjalan maju beberapa langkah.
Lalu datanglah sebuah mobil Limosin mewah, warna perak dengan lambang Burung feniks emas di atas kepala mobilnya.
Andre di buat binggung dengan siapa orang ada di sana, hingga salah seorang keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil. Keluarlah seorang pria separuh baya, dengan tongkat dan sepatu kelas atas. Baju berjas bermerek tulip kuncup, yang sedang naik daun.
Dia berjalan mendekat ke arah Andre yang berdiri di ujung barisan pria berjas hitam.
ATEN : Tuan Alzam Andriano Luwiss Clarlosen. Apa kabar, saya sangat senang bisa bertemu dengan anda lagi.
ANDRE : Maaf, tapi... Anda siapa?
ATEN : Saya perkenalkan diri dahulu, Aten Christopher Durant, kita pernah bertemu. Tapi, waktu itu anda masih sangat kecil.
ANDRE : Lalu, kenapa ada datang kemari. Mau apa?
ATEN : Tentu saja, ingin menjemput anda. Agar kembali, ke tempat anda sebenarnya.
ANDRE : Maksudnya ingin menjemput ku dan membawaku ke tempatku sebenarnya? ingin mengajak ku kemana?
ATEN : Istana Negara, untuk acara sangat resmi dan sakral.
ANDRE : Untuk acara resmi dan sakral apa maksudnya. Acara macam apa itu?
ATEN : Acara itu adalah acara Penobatan anda, yang tertunda selama ini.
ANDRE : Tidak, aku tidak akan ikut. Bukankah akan diadakan votingan, sebelum di pilih. Jadi aku mau pilihan keadilan, aku tak mau kalian asal memilih pilihan.
ATEN : Tuan, posisi ketua ANDRILOS ini memang milik anda, kenapa harus ada voting dan pemilih, sudah lama posisi itu kosong hampir 50 tahun. Kursi itu tidak di duduki, dan kursi itu hanya di tunjukan untuk pewaris yang SAH, jika menurut voting itu artinya siapapun bisa menduduki tahta.
ANDRE : Benar, aku menginginkan agar di adakan voting secara adil.
ATEN : Baiklah, ucapan anda adalah perintah bagiku. Kami akan mengadakan seminar pemilu dan pameran sosialisasi. Kami juga akan mengadakan voting dengan semua kalangan dewan dan anggota yang ada di asosiasi.
ANDRE : Bukan hanya itu, ini untuk kepentingan umum dan masyarakat, setidaknya masyarakat juga harus memilih. Itu hak mereka untuk memikirkan bagaimana seorang pemimpinnya nanti, hanya ingin suara dengan baik dan menurut semua yah. Pemimpin itu harus di tunjuk dari banyaknya peminat, bukan secara sepihak.
ATEN : Jadi maksudnya, anda ingin adakan pemilihan umum seperti halnya pemilihan untuk persiden begitu?
ANDRE : Iya, jangan asal mengambil keputusan secara seenaknya. Apa lagi hanya keinginan dari kalian, aku tidak akan pernah mau mengikutinya.
ATEN : Baiklah! Jika itu yang anda inginkan, maka saya akan perintahkan seluruh bawahan saya, untuk kirim surat pemilihan ke negara-negara internasional, dan pada Aliansi untuk memilih hak suara mereka. Baiklah, saya akan undur diri, mungkin ini akan membutuhkan banyak waktu dalam persiapan yang cukup lama. Apakah anda mau menunggu, jika seandainya anda yang terpilih. Anda juga harus siap untuk menerima ya, jangan kabur dari tanggung jawab Anda. Apakah anda siap!
ANDRE : Iya! Aku siap, aku tidak akan pergi kemana-mana pun. Aku sudah lelah untuk kabur, jadi aku akan tetap di rumah dan tempat kerjaku, lagi pula aku bisa kabur kemana?
ATEN : Baiklah, saya undur diri. Tuan Alzam, sampai bertemu kembali.
Aten Christopher Durant, akhirnya kembali ke mobilnya lagi dan pergi meninggalkan tempat, Andre kebinggungan dengan apa yang terjadi.
"Mas Andre, kamu baik-baik saja? dia siapa?" ucap Elisa yang langsung mendatangi suaminya.
"Entahlah, aku tidak tahu. Kita pulang sekarang, aku sudah banyak meninggalkan pekerjaan ku di rumah sakit." ucap Andre yang menatap Elisa seraya merangkul pinggangnya.
"Iya baiklah, kita pulang sekarang."
ANDRE : Irene, kami pamit untuk pulang sekarang. Sampau berjumpa lagi lain waktu. Maaf atas keributan barusan, saya permisi.
IRENE : Iya kau harus hati-hati di perjalanan, salam untuk keluarga mu di sana.
Andre dan Elisa akhirnya masuk ke mobil yang sudah terparkir di halaman, mereka akan kembali ke negara mereka.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...
Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...
Sabtu 23 April 2022.