Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
19. Rayuan Penuh Arti.


Keesokan paginya saat Elisa bangun ia langsung terduduk dan meregangkan tubuh, mengucek matanya melihat ke samping Andre sudah tidak ada, tengok ke samping lainnya jam menujukan pukul 8 pagi.


" Ah~ aku kesiangan kok mas Andre tega sih nggak bangunin Elisa " Seraya berjalan menuju pintu keluar.


" Mas- Mas- Mas andre?! Lah kenapa gak nyautin sih, perasaan semalam dia ada atau aku itu mimpi kali yah?" Dumal Elisa, mencari di setiap pintu dan tempat.


" Mendingan cuci muka dulu deh, sekalian mandi aja lah, tapi dimana kamar mandinya?" Dumal elisa sambil berjalan-jalan mencari kamar mandi.


Tapi tidak menemukan kamar mandi, tak lama suara pin rumah berbunyi terbuka pintu tersebut Andre masuk yang baru dari luar.


" Mas!" Panggilan Elisa.


" Hemm-- Kamu udah bangun? " Andre baru menyauti yah lalu meletakan mantel dan sepatu di tempat.


" Mas Andre dari mana?" Tanya Elisa mendekati andre.


" Dari restoran di depan!" Ucap Andre berjalan menuju meja makan.


" Kok mas gak bangunin Elisa sih, kan jadi Elisa kesiangan nih" Eluhan Elisa yang terus mengekor di belakang Andre.


" Eh! katanya semalem bilang gak mau di ganggu, Yaudah aku nggak akan gangguin kamu. Jadi aku biarkan lah kamu tidur sepuasnya" Ujar Andre sambil mengeluarkan isi di kantong Tas karton itu.


" Iya tapi itukan semalam, masa gak bisa bedain sih" Protes Elisa.


" He-he-he aku minta maaf yah, udah-udah jangan ngambek nanti imutnya hilang lagian ini masih pagi kok sayang, aku gak tahu kalo kamu juga mau bangun" Ujar Andre sambil mengelus-elus kepala Elisa.


" Hm, mas nyebelin" Elisa ngambek dengan khas cemberutnya.


Melihat Andre mengambil piring mangkok dan alat makan lainnya membuat Elisa penasaran. " Mas bawa apaan sih" Ucap Elisa sambil jinjit karena Elisa pendek, tinggi badan Elisa saja hanya 157cm sedangkan Andre 187cm tinggian Andre dari Elisa, itu sebab kenapa meja makan di apartemen itu agak tinggi.


" Sarapan buat kamu" Ucap Andre meletakkan alat makan di meja. Elisa seperti tidak sabaran menunggu makanan itu di sajikan di hadapannya.


" Eemm~ Mas cuman beli buat aku?" Tanya Elisa karena semua yang di beli Andre cuman 1 Prosi tapi setiap jenis lauk.


" Iya kalo kamu mau habisakan sendiri ya nggak apa-apa sih" Ucap andre.


" Hehehe nggak deh kita makan bersama-sama yah" Ujar Elisa sambil cengengesan.


" Iya makanya aku beli hanya buat kita" Ujar Andre yang saat ini membuka semua kotak-kotak di lauknya.


" Ouh! mas beli yah banyak banget emangnya akan habis dimakan sekarang, kan kita cuman berdua mas? kalo gak habis kan sayang mas jadi mubazir kebuang" Ujar Elisa duduk di kursi.


" Ya tinggal di panaskan lagi?" Ujar Andre.


Elisa celingukan mencari barang-barang dapur lainya seperti panci-wajan pokoknya alat masak lainnya untuk menghangatkan makanan.


" Tapi mas, Elisa gak liat alat apapun di sini" Ujar Elisa polos.


" Hehehe kamu aja yang tidak bisa melihat dengan baik, semuanya lengkap kok" Ucap Andre.


" Mana? alatnya gaib yah sampai hanya mas Andre aja yang bisa lihat, mistis banget." Ujar Elisa yang matanya aktif kesana kemari.


" Nggak emang ada kok" Ujar Andre yang yakin.


" Mana? dari tadi Elisa cari setiap sudut ruangan di apartemen gak ada, elisa lihat hanya kursi-meja-sofa dan ranjang doang, apakah mas Andre beli apartemen ini cuman berfasilitas kamar tidur dan dapur doang" Ujar elisa polos.


" Emmm~" Andre Tersenyum melihat Elisa yang berwajah polos dan naif itu.


" Jadi yang sebenar itu, ada atau nggak ada" Tanya Elisa.


Andre hanya diam sambil tangannya aktif memotong-motong daging, dan ikan yang sudah dimasak olahan khas.


Elisa terus saja matanya aktif untuk mencari-cari sesuatu lagi di apartemen Andre. " Mas beli nih tempat nggak ada kamar mandinya?" Tanya Elisa tiba-tiba membaut Andre menghentikan memotong daging.


Menatap Elisa dengan senyum geli karena ucapan Elisa yang membuat Andre ketawa kecil.


" Huh? Masa beli tempat gak ada kamar mandinya, terus kalo mau buang air kecil masa harus ke tetangga sebelah, ya pasti ada-lah sayang kamar mandinya, malah ada 3 kamar mandi, di atas, dikamar tidur utama lalu tuh sebelah lemari itu" Ucap andre.


" Mana? Elisa muter-muter gak nemu tuh" Ucap Elisa.


" Suruh siapa kamu muter-muter yang ada nanti kamu pusing" Ucap Andre yang penuh perhatian pada Elisa.


" Hemm-- gitu yaudah" Ucap Elisa yang bangkit dari kursi.


" Eh? mau kemana" Tanya Andre kebingungan.


" Elisa mau mandi dulu!" Ujar elisa yang berbalik badan.


" Emang sudah tahu dimana kamar mandinya" tanya Andre.


" Iya sudah tahu, kan tadi di kasih tahu mas" Ucap Elisa sambil nada agak keras karena Elisa malah berjalan menjauh.


" Nggak mau makan dulu, nggak enak kalo udah dingin" Ujar Andre dengan nada agak keras.


" Udah gampang nanti tinggal di panasin lagi katanya mas bilang punya alat yang sangat lengkap kan" Ujar Elisa.


Andre bangkit dari kursi untuk menjelaskan pada Elisa apa yang dikatakan itu tidak benar untuk mengklarifikasinya.


Andre berdiri di depan pintu kamar. " Elisa kamu sudah masuk kamar mandi?" Tanya Andre yang tidak berani masuk kamar.


" Belum- Ada apaan mas? masuk saja" Ujar Elisa, lalu Andre masuk ke kamar, sedangkan Elisa menaikan koper kekasur.


" Begini- Elisa tadi aku ngomongnya agak keterlaluan sama kamu" Ujar Andre yang gelagapan.


" Yang mana, udah jangan di pikirkan lagian aku gak dengar mas ngomong keterlaluan kok." Ujar elisa.


" Mas m-m-mau bilang sesuatu!" Ucap Andre yang kebingungan untuk mengatakan yah.


" Soal apa?" Mendengar dengan seksama.


" Tadi kan aku bilang kalo alatnya sangat lengkap, sebenarnya alat itu gak ada. Maksudnya kenyataannya apa yang kamu lihat hari ini itu benar kok, Aku nggak beli penghangat, pemanas dan alat dapur lainnya" Andre berusaha menjelaskan.


" Kok gitu! jangan bilang lupa?" Tebak elisa.


" Nggak juga sih, kan mas pikir cuman sebentar tinggal di sini ngapain coba beli, jadi kalo beli mubazir kata kamu" Ujar Andre.


" Hemm-- benar juga sih, terus gimana mau minjem aja atau kredit pinjem barang" Ujar Elisa🤔 sambil mikir-mikir.


" Ya udahlah, itu gampang nanti kita beli saja kalo kamu takut mubazir kita kasih ke orang, jadi sekalian sedekah " Ujar Andre dengan gampang bicara.


" Bagus sih pemikiran kamu mas, tapi lebih baik kasih uang kan dari pada barang. Yaudah gak pa-pa mas gak beli juga kan kita sebentar katanya?" Ucap Elisa.


Tiba-tiba Andre mendekati Elisa lalu langsung menarik pinggang Elisa hingga Elisa menabrak tubuh Andre, Elisa hanya diam karena kaget melongo menatap suaminya yang saat ini tersenyum penuh arti, Andre tiba-tiba mendekapnya dengan sangat erat.


" Tapi sayang. Khem- ngomongin soal itu aku kok jadi khawatir" Ujar Andre sambil masih memeluk Elisa.


" Khawatir kenapa?"


" Kayanya kita disini bisa lama deh" Kata Andre dengan senyuman saringannya.


" Kenapa kok bisa berubah gitu, emang pelatihannya ditambah" tebak Elisa yang kurang faham maksud dari suaminya itu.


" Kan kamu ada di sini ngapain harus pulang ke rumah, kalo nggak ada kamu. Lagian tempat aku pulang sudah ada di pelukanku saat ini" Ujar Andre seraya mengakat tubuh Elisa dan langsung mendudukkan Elisa di atas meja laci.



" E-ehh? maksudnya" Ujar Elisa kebingungan, Andre sudah sangat dekat dengan wajah Elisa seakan ingin menciumnya.


" Yah karena Elisa Nurhalizah sudah jauh-jauh datang kesini, lalu ngapain aku repot-repot pulang, kan tempat aku pulang hanya saat kamu ada, jadi dimanapun ada Elisa aku pastikan akan pulang kerumah dalam kondisi apapun" Ujar Andre yang terus mendekati wajah Elisa.


Saat Andre terus maju Elisa malah mundurkan tubuhnya, karena merasa saat ini tubuhnya itu bau karena belum mandi jadi minder sendiri.


" Dasar Gombal, mas Andre tolong jangan kaya gini dong, cepat lepaskan elisa dan berikan Elisa handuknya. Elisa mau mandi dulu yah" Ujar Elisa yang sedikit demi sedikit menjauhkan diri.


" Nggak bisa, tanganku sudah menempel jadi~..." Ujar Andre menarik tubuh Elisa yang terus menjauh itu.


" Mas, Elisa bau nih bagaimana kita lanjutkan setelah Elisa mandi yah. Ayolah lepaskan elisa dulu, Elisa mohon mas~" Ujar Elisa terus memohon.


" Okey! Tapi harus ada password yah dong, jika mau lepas dariku" Ujar Andre dengan senyuman saringannya.


" Heh! Susah banget masa harus ada password segala. Yaudah Elisa turutin apa password yah" Ujar Elisa yang saat ini menyerah.


" Kissing me" Ujar Andre yang meminta Elisa menciumnya sebagai tanda password.


" Hah? apa itu?" Elisa syok mendengar hal itu, gelagapan dan binggung mau bicara apa lagi.


Andre menarikan satu alis yah dan menatap Elisa sangat dalam tetep dengan senyuman khasnya yang di tunjukkan untuk Elisa.


" he-he-he 😁 Mas Andre, Elisa kan belum mandi, Elisa juga belum sikat gigi. Mulut Elisa bau loooh masih mau" Ujar Elisa dari Alesan yang masuk akal.


" No problem " Ujar Andre yang terus saja membujuk Elisa.


(" Aduh~ mampus nih! orang ini salah minum obat atau gimana sih, kenapa jadi kaya gini, gimana aku bisa lepas dari mas Andre yang kaya gini kok aku baru tahu dia punya sisi kaya gini") Dumalan Elisa yang gelisah.


Melihat wajah Elisa yang sudah berkeringat, Andre menyimpulkan bahwa Elisa belum sepenuhnya menerima Andre sebagai suami, bisa dibilang belum siap untuk jadi Istri bagi Andre.


Andre melonggarkan pelukannya, dan menurunkan Elisa dari atas meja leci memberikan handuk pada Elisa.


" Yaudah mandi dulu sana, aku tunggu di ruang makan" Ujar Andre yang langsung keluar, meninggalkan Elisa yang masih terdiam mematung.


" Dia marah kah? karena tidak aku cium, kok raut wajah yah begitu, Ah~ tahulah nanti aku bujuk setelah mandi" Ujar Elisa yang langsung masuk kamar mandi perasaan kebingungan.


Bersambung.....


Terimakasih atas kunjungan Anda kecerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.


Sabtu 25 September 2021