Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
127. Rahasia Dibalik Rumput.


Pintu terbuka, saat melihat seseorang pria yang berdiri tak jauh dari sana, dengan menatap kearah jendela dengan pemandangan gedung pencakar langit itu, membuat Andre dan Elisa bertanya-tanya siapa dia.


Ia langsung berbalik badan saat mendengar jika Andre sudah datang, saat melihat pria itu Elisa sempat kegat wajahnya sekilas sama persis dengan Andre tapi versi sudah tua.


BRANDON : Selamat datang. Andre! Putraku, cepat masuk, kenapa kau hanya berdiri disana.


Andre masih diam mematung, Elisa menatap suaminya yang membisu. "Mas, kamu kenapa?" Tanya Elisa membuyarkan lamunan Andre.


BRANDON : Selamat datang di tempatku, silakan duduk. Aku sudah menyiapkan semua ini khusus untuk kedatangan mu, mari duduk. Aku tidak tahu kamu menyukai ya atau tidak, tapi sebisaku untuk menjamu kedatangan mu.


Andre masih diam, seribu tanda tanya seraya menatap pria tua itu berjalan mendekat untuk duduk, tak berani untuk bertanya banyak, andre hanya diam saat ini tak sekecappun ia membuka mulutnya.


"Mas, kayaknya bapak itu menyuruh kita duduk. Cepat duduk tidak enak, lihat mereka sudah menarik kursi untuk kita" walau Elisa tidak faham dengan apa yang di katakan, tapi Elisa bisa membaca situasi, karena melihat kedua pelayan itu menarik dua kursi untuk Andre dan dirinya.


BRANDON : Kamu pasti terkejut, dan merasa kebingungan. Aku akan menjelaskannya, jadi mari kita mengobrol sambil minum teh


Ucapnya, Andre ditarik Elisa untuk duduk. Saat Andre sudah duduk, pelayan-pelayan itu sigap langsung menuangkan air ke gelas-gelas tersebut.


"THANK YOU, ini minumannya enak. Baunya sangat harum, mas coba deh!" ujar Elisa berterima kasih pada pelayan yang sudah menuangkan air.


ANDRE : Maaf, sebelumnya jika saya lancang. Tuan brandon, tadi apakah aku salah dengar. Anda bilang jika ini semua telah anda rencanakan. Apa maksud semua ini, dan apa tujuan anda?


BRANDON : Hahahaha,


Brandon malah tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan itu dari mulut Andre, yang masih dengan wajah tanda tanyanya.


BRANDON : Ah- maafkan aku, aku cukup senang akhirnya kamu membuka mulut, ternyata ini suaramu setelah dewasa! Cukup mirip denganku, tapi sayangnya. Sepasang bola mata itu mirip dengan Rubia


ANDRE : Maafkan aku, tapi aku kurang faham, dengan alur pembicaraan yang anda maksudkan saat ini?


BRANDON : Apakah Arafif tidak bilang apa-apa kepadamu?


Andre hanya menggelengkan kepalanya, tanda dia tidak tahu apapun, papahnya tidak bicara dengannya selama hampir 1 minggu ini. Jadi mana mungkin dia tahu, dengan rencana mereka saat ini.


BRANDON : Hah! Dasar Arafif, sudah aku duga. Dia masih saja seperti itu, padahal sudah ku beri kesempatan untuk lebih lama denganmu.


ANDRE : Apa Maksudnya?


BRANDON : Nak, mungkin ini kabar yang mendadak kamu dengar, tapi akan saya sampaikan semuanya. Tapi aku juga punya rasa khawatir, akan membuatmu sedikit terguncang. Namun, aku harus mengatakannya, karena ini sudah waktunya kamu kembali keposisimu semula, yang seharusnya. Jangan terus bersembunyi, ini waktunya kamu menghadapinya.


ANDRE :Apa maksud anda, aku harus kembali kemana? dan harus menghadapi apa?


BRANDON :Rintangan terbesarmu, masih menunggumu di depan sana, jadi perjalananmu belumlah di mulai.


ANDRE :Hah! anda pasti sedang mengelantur, dari tadi bicara berputar-putar, tidak tahu apa yang anda ingin sampaikan dan bicarakan.


Setelah pertemuan itu, Andre hanya diam tak berkata-kata apa-apa lagi. Itu membuat Elisa serba salah, Andre juga mengabaikan semua apa saja di katakan Elisa, bahkan permintaan dan ajakan Elisa tak di gubrisnya.


Andre malah sibuk dengan pemikirannya, seraya menatap gemerlapnya lampu-lampu jalanan kota saat ini, ya perbincangan itu cukup menyita waktu, cukup lama juga perdebatan antara Andre dan pria asing itu.


Hingga membuat Andre terdiam tak biasa bicara apapun, entah apa yang di bicara kan pria usia 70an itu kepada Andre, karena Elisa tak mengerti bahasa yang mereka gunakan.


Elisa mencoba untuk membuat, Andre menoleh padanya, megenggaam jari jemari Andre yang dari tadi terkepal dengan erat, dan sesekali Elisa juga mendengar gertak gigi-gigi Andre. Rahangnya keras, hingga seluruh tubuh juga ikut bergetar.


"Mas! kamu gak apa-apa?" Tanya Elisa seraya meletakan tangan Andre ke telapak tangannya.


"Aku nggak tahu, apakah aku baik-baik saja atau aku merasa kurang baik" Jawabnya tak menoleh sedikit pun.


"Coba katakan, sebenarnya apa yang kalian bicarakan tadi" Tanya Elisa penasaran.


"Aku tak bisa menjelaskan yah, untuk saat ini. Karena sangat sulit bagiku, untuk menjelaskan keadaannya" Ucap Andre yang masih menggertakkan giginya.


"Begitukah, baiklah" Elisa tak berani lagi untuk bertanya lebih jauh.


Andre melihat ekspresi wajah Elisa yang kecewa, dari pantulan kaca jendela mobil, langsung saja Andre menoleh ke arah Elisa. "Sayang! Beri aku waktu, untuk menenangkan diri sendiri, aku masih belum percaya dan menerima semua kenyataan ini, ku harap semua ini hanya mimpi dan ilusiku" Ucap Andre yang menenggelamkan wajahnya di pelukan Elisa.


Sesampainya di rumah, Andre langsung keluar dari mobil, belum juga pelayan membukakan pintu untuknya, tapi andre malah sudah berjalan pergi meninggalkan tempat duduknya, itu membuat Elisa kaget.


Elisa yang masih di dalam mobil jadi kebingungan, karena sikap Andre yang acuh terhadapnya, elisa yang langsung di tinggalkan, Andre masuk dengan sangat cepat.


"Lah, aku langsung di tinggal begitu saja. Sebenarnya ada apa sih? sampai harus mengabaikan aku, kok jadi aku juga kena getahnya, aku jadi binggung sama sikapnya" Gerutu elisa yang saat ini di buat bertanya-tanya.


Sampai di ruang tengah, ada monika dan bu siti hingga beberapa pelayan yang sedang sibuk dengan tugas mereka.


"Loh, beb. Kamu sudah pulang, emang acaranya sudah selesai? Beb, mana eli—" tak sempat untuk melanjutkan, andre juga seperti tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh monika.


"Ada apa dengan nak Andre, yah Bu Monika? kok, begitu" tanya bu siti jga merasa keheranan.


"Aku juga gak tahu, nanti kita tanya sama elisa, mungkin dia tahu sesuatu" ujar monika yang menunggu elisa yang belum muncul juga.


Tak lama elisa datang, monika langsung mendekati elisa yang baru sampai di ruang tengah itu.


"Elisa, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya monika menahan elisa.


"Mamah lihat mas andre? kemana dia pergi?" tanya elisa yang panik dan khawatir.


"Teh, nak Andre kenapa? di jawab dulu saat orang lain bertanya" tegur ibu pada putrinya.


"Aku juga gak tahu Bu, makanya aku mau ngejar mas andre sekarang" ujar elisa yang menaikan gaunnya, melepaskan sepatu hak tingginya.


"Lah? bukanya tadi kalian pergi bersama, kenapa kamu gak tahu apa-apa. Itu aneh banget sih sayang!" ujar monika heran.


"Iya ma, tapi-" elisa malah berhenti di jalan bingung mau menjelaskannya bagaimana.


"Tapi apa? kenapa kamu tidak meneruskannya, bikin penasaran saja"


"Aku bingung mau menjelaskan dari mana, sebenarnya mas andre. Dia, sudah dari awal saat menginjakkan kaki disana sudah tidak nyaman, dan sudah seperti itu sejak tiba disana, apa lagi di tambah bertemu dengan seseorang aneh, aku juga gak tahu siapa dia, mereka cukup lama berbicara, entah apa yang mereka bahas"


"Tidak tahu, tapi mas Andre sebut MR. Brandon? lalu setelah itu dia selalu begitu, aura tiba-tiba berubah saat bertemu orang tersebut" ucap elisa yang mengingat ekspresi wajah Andre saat bertemu brandon itu.


"Aura, yang tadi sangat menakutkan. Mamah, jadi gak berani tanya apa-apa padanya" ujar monika saat melihat andre tadi.


Di sisi lainnya, berada di ruang baca seperti perpustakaan seakan tahu kebiasaan papahnya itu, andre langsung menerobos masuk kedalam ruangan tersebut.


"Papah!" panggilan masih dengan santai, seraya mendekat ke pada arafif yang duduk di sofa.


"ANDRE?" Arafif malah kaget, karena kedatangan putranya, tapi dia lebih terkejut saat melihat raut wajah andre yang sulit untuk di jelaskan.


"Ada apa? kenapa sepertinya kamu sedang marah?" tanya arafif yang pura-pura tak faham, dengan apa yang terjadi.


"Apakah Papah tahu soal hari ini, atau papah juga sudah bersekongkol dengan teman papah itu" nada suara andre mulai menekan.


"Apa maksudmu nak?"Arafif dibuat binggung dengan apa yang di katakan andre yang saat ini berdiri di depannya.


"Papah! Jangan pura-pura tidak tahu, soal apa yang terjadi hari ini, jawab saja apa yang ku tanyakan tadi" ucap andre yang menegaskan.


"Andre, papah benar-benar tidak tahu, dengan apa yang kau maksudkan, jadi jel—" belum sempat itu terucap malah sudah terpotong.


"PAPAH!" Nada suara andre meninggi dengan suara yang terdengar sampai ruang tengah.


Semua orang yang ada di sana, kaget dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan dua pria yang belum akur, malah sudah ada masalah baru lainnya, hingga membuat andre harus menaikan nada suaranya, padahal andre selalu menghormati papahnya, tak pernah berani untuk menaikan suara pada siapapun, tanpa kecuali. Jika orang tersebut sudah di luar batas kesabaran andre dan dia melakukan kesalahan tapi tak mau mengaku salah baru ia akan seperti itu.


Di ruang tengah, monika, elisa, siti, yusman, azril dan beberapa pelayan juga kaget dengan suara yang datang dari ruang baca tesebut.


"Suara apa itu, datang dari sana?" ujar bu siti yang kaget dengan teriakan itu.


"Itu seperti suara mas Andre" ujar elisa yang langsung berlari kearah sumber suara itu berasal, disusul dengan monika dan bu siti, Sedangkan azril dan ayah hanya diam disana.


"Apakah mereka bertengkar lagi, padahal mereka belum berbaikan" monika yang khawatir dengan keadaan tersebut.


Kembali pada andre dan arafif yang masih bersih tegang disana, elisa baru sampai, merai tangan andre yang sudah mengepal kuat.


"Apakah kamu sudah bertemu dengannya?" nada suara dengan lirih dan memalingkan wajah.


"Iya, apakah kalian sudah merencanakan akan hal ini?"


"Seharusnya sudah lama, aku merencanakan hal itu, pertemuan mu dengannya tak terelahkan lagi, cepat atau lambat kalian harus bertemu" ujar arafif yang menutup bukunya.


"Apa maksud papah bisa bilang begitu? apakah, orang itu! benar-benar–. Dia, dia bilang semua sudah kalian rencanakan" ujar andre pada akhirnya tumpah juga bendungan yang di tahan itu, anak sungai itu mengalir deras dari pelupuk mata andre, membuat sungai-sungai hingga membasahi pipi.


"Ah, seharusnya kamu sudah tahu. Dia mungkin sudah jelaskan, semuanya padamu kan" ujar arafif nafasnya memburu, ia juga menahan agar tidak menagis juga di depan andre dan menantunya.


"Tapi, aku hanya mau dengar penjelasan itu dari mulutmu secara langsung, papah" ujar andre yang sudah sesegukan.


"Apa lagi yang harus aku jelaskan, semua pasti sudah jelas bukan, dan apa lagi yang ingin kamu dengar dariku, bukannya sudah jelas Andre, aku tak bisa berkata-kata lagi" ujar arafif memalingkan wajahnya, memutar kursi memunggungi andre dan lainnya.


"Kanapa? kenapa pah. Kau lakukan ini padaku, kenapa kau sembunyikan ini dariku" ujar andre yang tak percaya akan kenyataan pahit yang harus ditelannya lagi.


"Semua sudah habis ku katakan, jadi tak bisa ku jelaskan" ujar arafif yang juga sudah menagis di balik sana.


"27 Tahun, 27 TAHUN PAH? KAU menyembunyikan ini, dan masih belum bisa kau jelaskan. Aku harus menunggu berapa lama lagi, papah akan terus bungkam seperti ini" ujar andre yang lagi-lagi harus menelan rasa pahit dalam hidupnya, walau dia hidup berkecukupan, tapi ternyata di balik semua itu hanya cangkang yang menutupi luka terdalam.


"Ada apa ini, sebenarnya Papah- Andre, kenapa kamu menaikan nada suaramu pada papahmu, biasa kamu cukup tenang, sebenarnya ada apa ini, Andre-Kak" monika yang baru datang.


"Baiklah, Papah! kali ini aku akan menunggu lagi, kau masih punya hutang penjelasan padaku, pikirkan tentang ini baik-baik, aku akan menagihnya lagi" ujar andre yang menghapus air matanya dengan kasar.


Langsung membalikan tubuh, menarik pergelangan tangan elisa dan melangkah menjauh dari tempat, monika langsung menghampiri suaminya, sedangkan bu siti hanya diam mematung di sana, tak tahu harus bagaimana.


Berjalan sangat cepat, elisa yang kuwalahan dengan langkah kaki andre itu apa lagi elisa tak pakai alas kaki, membuat kakinya terseret-seret.


Saat menaiki tangga, andre menarik elisa seperti barang saja, karena kakinya tak bisa menyeimbangkan gerakan langkah suaminya, elisa harus merasakan kakinya terpelatuk anak tangga, hingga berdarah tapi itu tidak di sadari elisa.


"Aah- Mas!" menahan rasa nyeri dan ngilu.


Sesampainya di dalam kamar, andre menghempaskan tubuhnya di ranjang wajahnya ia tutup dengan lengannya.


"Mas sebenernya ada apa sih, kamu kenapa?" tanya elisa yang duduk di sebelah Andre.


"Sudah aku katakan, kamu jangan banyak tanya, dan jangan bertanya apapun dulu padaku, karena aku juga belum tahu jelas keadaan macam apa ini" ujar andre yang bangkit, langsung duduk tegak.


"Lalu kenapa kamu, tiba-tiba berteriak seperti itu pada Papah" ujar elisa yang membuat andre sangat geram.


"Itu bukan urusan mu, bisakah untuk saat ini kamu jangan bawel. Apakah kamu tidak mengerti dengan ucapanku agar jangan bertanya dulu! Bisakah kamu diam dan jangan bertanya apapun, dengan cara apa agar kamu bisa faham" ujar andre yang menatap tajam pada elisa.


"Baiklah" elisa menundukan wajahnya.


Di ruang kamar arafif dan monika yang masih penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya, monika ingin minta penjelasan suaminya.


"Pah, sebenarnya ada apa. Kenapa Andre seperti tadi, apa yang kalian bicarakan, hingga menyulut amarah Andre, anak itu biasanya setenang air, tapi saat itu dia seperti gelombang air, sangat marah padamu"


"Andre sudah tahu, Andre ku sudah tahu-. Aah- bukan, dia bukan Andreku lagi" gerutu arafif sambil memukul-mukul kepalanya seperti despresi.


(Sebenarnya ada apa ini, apa yang terjadi pada mereka. Hingga buat kak Arafif, dia seperti ini lagi) ujar dalam benak monika seraya memeluk arafif dengan hangat.


BERSAMBUNG ...


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.


Rabu 2 Februari 2022.