Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
161. Sindiran Kuat.


Elisa yang berada di ruang tamu, duduk karena lelah habis jalan dari toko kuenya, tiba-tiba hp bunyi panggilan dari Andre. "Hallo, ada apa Mas?... Ouh, yaudah kamu jagain dia saja... Nggak apa-apa... Iya... Yaudah Elisa tutup ya, kamu kan lagi sibuk... " Elisa langsung mengangkat panggilan, lalu penutup saat Andre akan mengucapkan salam.


Karena Elisa kesal dengan Andre yang langsung pergi setelah menerima panggilan dari orang, dan malah rela menginap. Yah! walaupun sebelumnya Elisa itu datang sesudah Ben yang emang lebih dulu ada, jadi Elisa mengalah pada keadaan itu.


Ibunya datang dari belakang, membawa minum kesukaan Elisa. Melihat wajah Elisa yang kesal dan lesu itu membuat penasaran.


"Ada apa teh, kok mukanya di tekuk lagi. Ada masalah di toko?" Tanya Siti sambil duduk di sebelah Elisa.


"Nggak ada Bu, ini masalah Elisa sendiri. Katanya Mas Andre gak bisa pulang, karena masih sibuk ngurusin orang" Jawaban Elisa yang langsung mengambil gelas di meja.


"Ouh gitu. Yasudah, teteh maklumi saja. Teteh sing sabar dan sing ikhlas. Nak Andre itu posisinya jadi orang yang membantu menyelamatkan nyawa orang, udah jangan di tekuk gitu mukanya jelek liatnya. Jadi, sekarang pulangnya mau di anter sama Azril atau nelfon pak supirnya" Tanya Siti sambil membelai rambut Elisa.


"Ibu mau ngusir Elisa yah?" Ucap Elisa yang matanya sembab, karena menahan kesal yang tidak bisa ia keluarkan.


"Bukan gitu teh, kirain ibu teteh itu mau pulang? ya walau di sini juga rumah teteh, tapikan teteh sudah ada rumah lainnya yaitu tinggal sama nak Andre!" Ucap Siti yang lemah lembut.


"Kan mas Andre gak ada di rumah mamah, masih di rumah sakit Bu. Apakah Elisa juga harus kesana, tidur disana juga" Ucap Elisa yang emang lagi di buat jengkel banget.


"Teh Sabar, istighfar coba" ibu yang merasa kata-kata Elisa itu cukup emosi.


"Astaghfirullahalazim" Elisa mengucapkan dengan kata-kata lega, sampai 3x Elisa mengucapkan itu.


"Teteh lagi mens yah?" Tebak Bu siti yang sudah tahu kebiasaan Elisa kalau lagi mens itu gimana moodnya.


"Nggak!" jawab singkat.


"Lagi mood kurang bagus kayak gini, biasanya teteh mau mens atau lagi mens, marah-marah melulu dari tadi" Ucap Siti yang menatap putrinya.


"Nggak Bu, mens Elisa lagi telat. Mungkin pengaruh obat kali yah, kan buat netralitas racun waktu itu Elisa di por obat sama Mas Andre" Ucap Elisa yang keinget.


"Iya kali teh, atau mungkin ada pengaruh hal lainnya" Siti penuh harapan jika tahun ini dia bisa dapat cucu.


"Hal lainnya apa bu?" Elisa agak tegang dengan ucapan ibu Siti yang tiba-tiba berubah ekspresi.


"Ya mungkin itu teh, yang di tunggu-tunggu" Ujar Siti yang tetap pakai kata-kata yang buat Elisa binggung.


"Itu apa sih Bu yang jelas dong!" Elisa duduk mulai tegak karena penasaran sama apa yang ingin di katakan oleh ibunya.


"Hmph, ya kalau perempuan yang sudah menikah dan punya suami itu sudah pasti akan ada itu" Ucap Bu Siti pakai kedipan mata untuk beri kode ke putrinya.


"Maksudnya apa si Bu, kalau ngomong suka belibet banget. Maksud ibu Elisa lagi hamil, iya begitu" Ucap Elisa pertegas.


"Iya, itu maksudnya" Ucap Bu siti yang juga udah kebelet pengen gendong cucunya.


"Ya Allah bu. Boro-boro Elisa hamil, hubungan Sekss aja Elisa belom pernah rasain gimana. Udahlah Bu, jangan bahas itu Elisa kesel benget" Ucap Elisa yang muka tambah bete.


Eh, belum juga. Jadi maksudnya teteh ini, masih perawan dan masih segelan gitu? Wah, nak Andre kok bisa tahan yah. Waktu pertama saya nikah, si ayah langsung minta malamnya. Lah, kok nak Andre belum juga minta sampai 5 bulan ini. Padahal kalau dilihat-lihat mereka selalu mersa terus, dan gak pernah tuh berantem gede dengan sifat nak Andre yang kalem gitu, atau jangan-jangan ada hal lain yang menghambat. Aduh, kasihan teteh. Suara dalam hati siti yang prihatin dengan kondisi rumah tangga putrinya.


"Iya udah iya, jadi teteh mau menginap di sini?" Ucap Bu Siti yang menawarkan.


"Iya kalau di bolehin sama ibu, kalau gak di bolehi ya Elisa biasa tidur di jalan" Ucap Elisa yang ngambek.


"Eh jangan, yaudah teteh boleh nginep di sini, ibu beresin kamar buat teteh dulu yah" Siti bangkit dari kursi, tapi tangannya di tahan oleh Elisa.


"Udah gak usah, kayak sama siapa aja. Walau Elisa sudah menikah tetap saja Elisa kan masih anak ibu. Biar Elisa aja Bu, ibu kan capek habis masak tadi" Ucap Elisa yang cukup masih tahu diri.


"Yaudah, ibu juga mau ke warung Bu Jujun mau beli bawang dan bumbu dapur udah pada habis" Ujar Bu Siti yang berjalan pergi ke pintu keluar.


"Iya Bu, Elisa ke kamar dulu" Jawab Elisa yang juga pergi ke kamar untuk beres-beres.


Di sisi lain, ruangan kerja Andre dimana mereka sedang sibuk dengan komputer dan Try sedang sibuk dengan tumpukan berkas, untuk mencari cara agar Ben mau bicara lagi, karena semenjak di temukan Ben selalu diam tak mau bicara apapun, saat di dekati orang malah menunduk apa lagi saat ada orang baju hitam dia selalu ketakutan.


"Dre, luh gak pulang?" Tanya Jun yang masuk ke dalam ruangan.


"Kalian duluan saja, aku masih sibuk nih" ucap Andre yang tidak melihat lawan bicara karena saking fokusnya dengan layar komputer.


"Yaudah. Gua duluan ya bro, dah cepek banget nih" ujar Jun yang langsung pamit pergi untuk pulang.


"Oke Jun, kamu hati-hai di jalan. Untuk hari ini thanks yah" ujar Andre yang melihat Jun yang akan keluar ruangannya.


"It's oke bro, sudah jadi kewajiban gue kan. Yah! Asal tambahin aja cuan gaji gue ya, hahaha." ujar jun yang di selangi tawa.


"Dasar kau Jun selalu ada mau" ujar Try yang sudah ada di ruangan Andre untuk membantu kerjaan Andre yang belum kelar.


"Iiidddiiihh, sirik aja luh. Udah bilang aja kamu iri kan sama gue!" ujar jun yang pede, try yang kesel hanya mual untuk mengejek jun.


"Huekk! apa kau bilang. Siapa yang iri sama kau, ogah banget dih." ujar Try yang jijik dengan ungkapan tersebut.


Andre yang tadi pikirannya pusing, tapi saat melihat tingkah mereka yang seperti bocah, buat Andre tertawa geli. "Udah-udah kalian ini kalau di satuin begini malah kayak anak kecil deh! udah sana pulang Jun" ujar Andre yang memisahkan keduanya.


"Oke, gue duluan yah bro. Bye-bye semuanya" ujar Junlion yang langsung keluar dari ruangan Andre.


"Iya dah" jawab Andre yang melihat kepergian Jun.


"Kamu gak pulang Try?" tanya Andre melihat Try yang masih sibuk di sofa dengan dokumen yang sedang ia kerjakan.


"Kamu sendiri emang gak pulang dre?" Try malah balik tanya melihat Andre yang masih duduk sambil nyender di kursinya.


"Nggak, aku akan jagain mereka disini" jawab Andre seraya memejamkan matanya, karena binggung dengan apa yang harus di lakukan saat ini.


"Emang sudah minta izin sama Tuan Putri Liza?" tanya Try yang sangat penasaran.


"Yaelah nama bini sendiri saja bisa lupa" Try yang meledek Andre yang lupa nama istrinya.


"Nama biniku kan Elisa bukan Liza, ya wajarlah aku gak tahu makanya nanya ke kamu" protes Andre.


"Bukannya namaya Elisa Nurhaliza, liza kan di ambil dari nama belakang bini mu, huh! nama belakangnya saja kamu lupa dre" ujar Try yang mematikan leptopnya.


"Bukan gitu! aku gak tahu apa yang kamu maksud kan? lagian aku sudah minta izin tadi sama Elisa, bahwa aku agak pulang malam ini. Tapi, aku malah jadi kepikiran sama jawabnya. Terdengar agak aneh gitu yah?" ujar Andre yang kepikiran ucapan Elisa.


"Hmph, emang aneh gimana?" Try yang sangat penasraan.


"Seperti dia nggak rela dan mengijinkan ku tidak pulang, nada suaranya kayak terpaksa gitu" ujar Andre yang masih kepikiran ucapan Elisa tersebut.


"Yah, wajarlah jika seperti itu lagian kamukan sangat sibuk dan jarang ada waktu buat dia, iya kan!" tebakan Try yang sudah jadi pakarnya.


"Iya juga sih, tapi emang kadang kesibukan ku juga tidak terduga kan" Ucap Andre yang membelah diri.


"Dre, ini mah saran saja sih. Kamu mau ikutin atau tidak itu terserah kamu. Tapi, mendingan kamu sekarang pulang dan langsung minta maaf saja, dari pada nanti urusannya tambah panjang dan beruntun, terus ujungnya akan bertengkar hebat. Sudahlah nggak akan ada akhirnya, kalau kita kaum pria sudah terlibat berurusan sama wanita itu akan ribet, tapi tanpa mereka kita hampa iyakan kak. Jadi pria emang susah dan selalu salah di mata wanita, nggak akan ada yang benar. Yaudah aku pamit pulang yah, daah" ujar Try yang bangkit dari sofa.


"Begitu yah. Gak salah kamu nikah duluan, aku jadi belajar banyak nih! Aku les privat deh sama kamu Try." Ucap Andre yang tersenyum tipis.


"Iya itu pengetahuan dan pengalaman, jam terbang aku lebih banyak ya. Kalau ada apa-apa telfon aku 24 jam. Tapi, jangan hari weekend yah. Karena anak-anak akan protes nanti" Ucap Try yang langsung berjalan menuju pintu.


"Oke kamu hati-hati dijalan. Ouh? ya Try aku lupa, mau tanya" Ucap Andre.


"Tanya apa?" Try menoleh kembali ke sumber suara.


"Reva ada di rumah?" Tanya Andre yang kepikiran sama permintaan Elisa.


"Nggak ada, dia pergi ke Jogja. Kenapa?"


"Hmph, sama anak-anak juga?"


"Iya, semua di bawa. Berasa masih bujangan lagi di rumah, kenapa tiba-tiba nanya gitu sih. Curiga aku"


"Nggak apa-apa, terus kapan mereka akan pulang?" tanya Andre yang penasaran.


"Senin, kan Fero sekolah" ujar Try yang menjelaskan.


"Yaudah sana balik gih, beres-beres rumah nanti Reva pulang rumah udah rapi, kan dia seneng"


"Aneh, tiba-tiba kamu nanya kayak gitu, tumben banget? ada maksud apa nih" ujar Try yang penuh curiga


"Gak ada apa-apa, cuman mau nanya aja. Udah sana balik, kamu pasti capek kan" ujar Andre yang tangannya mengusir Try.


"Cih, dasar kalau aku tidak di butuhkan. Kau langsung campakkan, kejam dan tega sekali kau denganku kak" ujar Try yang tidak terima.


"Aku itu hanya kasihan padamu, karena sudah pasti sangat lelah, karena mengurus Ben yang sekarang ini" ujar Andre yang melihat kondisi Ben yang memang memburuk.


Tiba-tiba saja Try teringat sesuatu, memukul jidatnya. "Astaghfirullahalazim, dre aku lupa masih punya janji sama Papah" ucap Try yang baru ingat.


"Janji apa sama papah, Try" Tanya binggung Andre yang tidak atau apapun.


"Aku tuh punya janji sama papah, jika kamu siuman dan Elisa sembuh, niatnya akan ngajak anak-anak buat menginap dirumah oppahnya."


"Ouh gitu! yaudah tinggal kamu ajak saja mereka, jika sudah pulang besok" ujar Andre.


Try langsung mendekati meja kerja Andre, dengan tatapan yang penuh tekanan dan senyuman yang aneh. "Kak, terus kapan kau akan nyusul" ujar Try yang penasaran.


"Nyusul kemana, maksud kamu?" tanya Andre binggung dengan apa yang di katakan oleh Try yang alurnya tidak jelas.


"Iya itu nyusul, buat ikutan progam dapatkan momongan. Kok diem-diem saja, nggak ada kabar apapun. Jangan bilang kalian juga akan diam-diam lagi, seperti pernikahan kalian. Kayak papah juga sudah pengen tuh punya cucu dari mu dan Elisa" ucap Try yang matanya berbinar-binar.


"Yaiyalah, masa aku harus ngomong-ngomong. Kan lagi program di kamar sama Elisa, masa harus ngomong ke semua orang, nanti pada ikutan lagi. Ya diem-diem saja, nanti kalau sudah dapat hasilnya, baru aku ngomong ke semua orang. Lagian aku juga lagi nungguin kamu Try" Sekarang Andre tak pernah ragu lagi bicara vulgarrr dengan Try, mungkin karena sudah beristri.


"Nungguin aku ngapain?" Tanya Try binggung.


"Yah, nunggu kamu untuk punya anak ke 3" ucap Andre yang membidik sasarannya.


"Wah sialan kau kak, aku sudah punya 2 sedangkan kau kan belom ada. Jangan tambah masalah, 2 aja aku repot. Emang kak Andre yang sudah mapan, jadi gak usah mikirin biaya. Lah aku kan harus berjuang dulu buat dapat memenuhi semuanya." Ucap Try yang protes.


"Try, kalau kamu mau bertukar denganku silakan saja. Aku dengan senang hati akan memberikan yah. Nih ambil aja posisiku sekarang jadi ketua rumah sakit atau ketua ANDRILOS, tinggal pilih" ucap Andre dengan senyuman liciknya.


"Ogah, ribet jadi ketua Rumah sakit apa lagi jadi PENGERAN ANDRILOS. Mending jadi warga biasa, hidupnya tentram damai. Nggak akan ada musuh kuat seperti Zenus dan komplotan ya, lagian jadi asisten mu saja aku kuwalahan. Kok kamu bisa sih bagi waktunya Dre, aku heran padamu" Ucap Try.


"Iya waktu gak ada, makanya Elisa pasti akan selalu ngeluh padaku karena aku tidak punya banyak waktu dengan yah" ucap Andre yang sadar akan hal itu.


"Ya makanya kamu luangkan dong! setidaknya buat bikin anak, biar aku punya ponakan" Ucap sindiran kuat Try yang sekak mati.


"Udah sana pulang, gak pulang-pulang kau" Ucap Andre yang langsung melempari Try dengan penghapus pensil.


"Hahahah iya iya, aku pulang. Jangan lupa bikin anaknya dengan gaya anti manstrim yah, biar anaknya goodlucking, bye..." Try meledeknya.


...Bersambung......


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...


Kita akan berjumpa lagi di EPISODE SELANJUTNYA. BYE...


Kamis 17 Maret 2022.