
"Andre, aku sudah suruh Jun untuk cek DNA milik Elisa, agar tahu zat apa saja yang telah masuk dalam tubuh Elisa hanya saja aku tidak tahu kemana anak itu pergi, entah apa hasilnya? apakah hasilnya belum keluar, aku akan pergi mencari Junlion" Ucap Try yang akan pergi, menemuinya.
Tapi tangan Try di tahan oleh Andre agar tidak usah pergi, karena Andre sudah mendapatkan hasil dari junlion yang sudah memberikan datanya.
"Tidak usah, aku tadi bertemu dengannya, sekarang dia sedang ku suruh keliling bangsal."
"Lalu hasilnya bagaimana? apakah cukup serius, karena obat apapun yang ku berikan sebagai penawar bagi Elisa tidak ada perubahan sama sekali, malah semakin kritis."
"Begitukah! Apa saja yang telah kau berikan padanya?" mata Andre menajam saat mendengar hal itu dari Try, dia sudah tidak mengangkat panggilan dari Andre, saat Elisa tidak sadarkan diri begini, Try juga tidak mengatakan apapun.
"Ini, sudah ku catat semua data yang kau inginkan. Agar jadi laporan padamu, apakah kau marah padaku" Try yang merasa bersalah pada Andre, karena tidak memberi tahu soal apapun.
"Kenapa kau berfikir aku marah padamu? apakah kau punya salah padaku, Try Rochman" tatapan itu mulai menajam kembali, karena Andre mulai curiga.
"Iya, karena aku tidak menghubungi mu saat Elisa di bawa kerumah sakit. Ku pikir karena masalahmu di sana sangat rumit, jadi tidak usah menganggu dirimu, karena dikira masalah Elisa bisa aku tangani. Maaf kak" Try merasa bersalah pada Andre.
"Ingat Try, bagaimanapun sibuknya aku jika ini menyangkut masalah keluargaku, apa lagi dia yang paling dekat denganku. Termasuk kau, seharusnya tidak usah kau sembunyikan, kau mengerti. Iya jujur aku kecewa pada mu, karena saat kau diberi amanat tapi, tidak kau laksanakan dengan baik" ucap Andre yang membuat Try terdiam, dan menunduk.
Yah, walaupun Try sudah jadi seorang ayah dua anak tapi, di depan Andre dia memang seorang adik yang sangat menghormati kakak angkatnya itu.
"Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat sekarang. Kamu jaga Elisa, aku yang akan pergi ke Lab, awasi dia" ujar Andre yang langsung berbalik badan untuk keruangan LAB.
"Aku akan ikut membantumu, biar cepat kelar" ujar Try yang merasa bersalah pada Andre, jadi ia akan siap apapun hukuman yang di terima.
"Terserah kau" ujar Andre yang tidak bisa menahan bagaimana Try. Mereka keluar bersama, melihat Azril yang masih terdiam sambil menangis di depan pintu.
"Azril, Mas Andre mau ke Lab, ingin membuat obat untuk Elisa. Kamu jaga tetehmu di dalam saja, kalau ada apa-apa ada tombol di atas tembok sebelah ranjang."
"Baik, Mas. Azril—" ujar Azril yang tertahan, tapi Andre berusaha menenangkan Azril.
"Dek, udah mas gak nyalahin kamu. Mendingan kamu sekarang masuk dulu, tungguin Elisa" ujar Andre yang menepuk pundak adik iparnya.
"Iya Mas" ujarnya parau, Azril yang akan masuk ke dalam ruangan.
"Ibu dan Ayah juga pulang, tapi belum tahu soal ini jadi jangan hubungi mereka" ucap Andre yang memperingatkan Azril, karena riwayat ayah yang memiliki penyakit jantung.
"Iya Mas" ucap Azril yang hanya anggukan kepalanya saja.
"Ayo Try" Andre yang langsung meninggalkan tempat, sekarang menuju ruangan khusus.
1 jam kemudian, Andre berada di ruangan laboratorium untuk meracik obat penawar untuk Elisa yang belum juga siuman, Try bertugas untuk merebus semua bahan yang akan digunakan Andre untuk campuran bahannya.
"Gila, Andre kau akan masukan bahan itu? Ini racun ular, kau yakin akan memasukannya sebagai bahannya"
"Racun yang paling kuat hanya akan di lawan dengan racun lagi, satu-satunya cara untuk mengeluarkan cairan dalam tubuh Elisa yang sudah menjadi darah, itu pasti akan sulit. Satu-satunya jalan hanya ini, aku akan ambil resikonya. Jika racun C ini sudah menyebar ke seluruh tubuh Elisa. Apakah kau mau bertanggung jawab, aku gak mau jadi duda secepat itu" ucap Andre yang masih fokus meracik obat.
"Tapi, itu..."
"Sudahlah, aku tahu ini berbahaya. Tapi, apakah kau lupa siapa aku? Seperti kamu baru kenal aku kemarin saja, kita menghabiskan banyak waktu cukup lama, bahkan berjuang bersama di jalur perang. Tidak masalah jika aku mati gara-gara meracik obat untuk istriku kan, tapi jika orang lain yang mengantikan ku, apa lagi itu kau. Sepertinya aku tidak akan mampu untuk bertahan, mungkin kau mendengar ini sangat geli. Tapi, seperti yang kau ketahui aku begitu sangat menyayanginya, hingga aku bahkan rela jika seisi dunia ini milikku akan ku berikan. Hahaha, aku lebay yah. Mungkin ini efek obat, jangan khawatir aku masih normal.Try"
"Baiklah, aku akan ikuti saja apa yang kau lakukan. Aku juga faham apa yang kau rasakan sekarang kak, apapun itu akan ku dukung semua keputusanmu, aku akan selalu di pihakmu"
"Terimakasih, karena kamu mau mengerti kondisiku dan setia disisiku"
Kedatangan orang tua Andre dan mertuanya, di ruangan VVIP melihat Elisa yang terbaring disana itu, membuat ayah dan ibu menjadi merasakan sakitnya, juga khawatir dengan kondisi putrinya.
"Dek, " Saat pak Arafif membuka pintu dan suara Siti membuat Azril langsung menoleh ke belakang, dan melihat orang tuanya.
"Ibu-Ayah" Azril langsung memeluk ibu dan ayah yah, Azril biasa jadi anak laki-laki yang kuat dan tegar, sangat dewasa tapi entah kenapa saat ini dia malah jadi rapu layu, saat melihat teteh seperti itu.
"Gimana keadaan tetehmu, apakah dia baik-baik saja" Tanya Arafif yang khawatir dengan menantunya.
"Seperti yang papah lihat, teteh sudah keadaan seperti ini" Ucap Azril yang tidak tahu harus bagaimana untuk menjelaskan keadaannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa bisa seperti ini?" Tanya siti pada putranya.
Azril mencoba untuk menceritakan semua kronologi kejadian pada kedua orang tuanya, dan orang tua Andre. Arafif langsung berfikir jika itu sudah ada yang merencanakannya, tapi Arafif hanya diam karena dia belum tahu dengan jelas apa yang terjadi, jadi itu hanya kesimpulan sementara.
"Lalu mana andre?"
"Begitu, apakah dia sudah lama pergi?"
"Iya, sudah hampir satu jam lebih Mas Andre pergi, dan belum kembali"
Tak lama Andre kembali dengan semangkok obat, yang dibuatnya dan ada beberapa suntikan juga di nampan yang dia bawa.
"Pah, Kok kesini" Andre malah kaget dengan keberadaan papah dan keluarga Elisa itu.
"Andre, Bu siti khawatir dengan kondisi Elisa jadi kami terpaksa kemari" Jawab Monika.
"Yasudah, Ayah ibu dan Papah Mama. Tunggu di luar saja, kamu juga zril" Ucap Andre.
"Jika, ibu tunggu sini boleh nak" Ucap Siti yang meminta agar Andre mengizinkan tetap berada di dalam ruangan.
Andre tak dapat menolaknya, karena wajah ibu sudah bikin Andre tidak tega. "Baiklah, " Ucap Andre yang pasrah.
Andre saat ini tidak bisa berfikir dengan baik, dia akan memulai untuk menyuntikan ramuan itu ke infusan, sedang atur dosis. Mulai memasukkan jarum itu ke plastik infus, untuk merendahkan racun yang sudah menjalar.
"Lihat, urat birunya sudah menurun. Andre obatnya hanya berefek untuk memperlambat proses, jika seperti ini cairan apapun tidak akan bisa keluar dari tubuh Elisa" Ucap Try yang khawatir.
Sudah setengah jam, tapi efek obatnya hanya untuk memperlambat proses menjalar racun, Andre kebinggungan bagaimana bisa efeknya cuman skala kecil. Jika ia suntikan lagi, maka plastik infusnya akan bocor.
"Andre, kalau kau menyuntikan kembali ke plastik infus, itu akan bocor nak. Tapi jika kau suntikan langsung ke kulit Elisa yang sudah biru begitu, tidak akan berefek. Obat itu harus masuk ke sistem pencernaan yang di awal telah terkontaminasi sebelumnya," Ucap Arafif yang menyarankan.
"Ini sendok ya, kau harus sabar untuk menguapi Elisa Dre" Ucap Try yang memberikan sendok.
Tapi sayang obatnya selalu keluar dari mulut Elisa tidak bisa meminum, semua kebingungan dengan kondisi itu. "Bagaimana ini, Elisa tidak bisa meminum obat yah. Mulutnya terkunci, kita harus pikirkan cara lainnya" Ucap Try yang mulai panik.
Tanpa pikir panjang Andre menyimpan obat itu dalam mulutnya, semua kaget apa lagi Try yang tahu bahan-bahan yang di gunakan oleh Andre akan berisiko bagi orang yang tidak kena racun.
"TIDAK, ANDRE!" Kaget dengan apa yang di lakukan oleh Andre, karena Andre malah meminum obat itu, dan menyimpan di dalam mulutnya.
"APA YANG KAU LAKUKAN NAK?" Arafif yang mencium aroma obat yang tidak asing membuat, dia juga ikut panik.
"Kau, gila. Ramuan itu, jangan kau lakukan Andre keluar sekarang juga. Muntahkan, cepat jangan terlalu lama di mulutmu, akan membakar rongga mulut mu" Ucap Try yang panik dan khawatir.
Andre tidak menghiraukan perkataan mereka, demi menyelamatkan hidup istrinya Andre rela menelan racun sekalipun. Andre membuka mulut Elisa, agar Elisa bisa minum dari mulutnya, itu berhasil. Akhirnya obat itu masuk dalam pencernaan Elisa, hingga meneguhkan banyak air obat yang dibawa oleh mulut Andre, tanpa sadar obat itu juga tertelan oleh Andre.
Andre mengulangi hingga beberapa kali sampai obat di mangkok itu habis, tanpa ia memikirkan keselamatan diri dan acuh pada hidup yah, hanya demi menyelamatkan sang istri.
Setelah selesai, Andre terdiam sejenak karena merasakan mulutnya terbakar, hingga terlihat jelas bekas-bekas kemerahan karena melepuh.
" Try, saat obat ini bereaksi. Suntikan lagi ke infusnya, jangan biarkan obat itu hanya memperlambat. Jika dia sudah memuntahkan cairan darah, hitam atau merah hati hingga 2 atau 4 Mili, kurangi dosisnya. Kau faham"
"Iya. Apa kau baik-baik saja, kau melakukan ini semua karena ingin membuktikan bahwa kau Dokter yang profesional, Andre kau—"Try Melihat wajah Andre yang mulai merah pucat, dan Andre juga merasa matanya mulai kehilangan keseimbangan, yang membuat matanya agak buram untuk melihat.
"Hentikan rengek kan mu, aku baik—" ucapan Andre yang terputus karena Andre malah ambruk, menimpa tubuh Try yang sigap menangkap Andre yang tumbang.
"ANDREE!" teriakan semua orang yang kaget dengan kejadian itu.
...🌹🌹🌹...
Terimakasih ku untuk cintaku, yang bersemayam dalam hati, karena kau yang selalu jadi pelangi setelah badai ku. Hal terbaik dan terindah dalam hidup ku adalah dapat melihat senyum di wajah mu, hingga duniaku yang sepi dan sunyi ketika menjadi hangat dan ramai, karena keindahan itu tidak dapat kau lihat atau kau dengar akan tetapi, dirasakan dengan hati.
Aku tak dapat membayangkan hidupku tanpa mu di sisiku, karena kamu adalah sinar mentari ku dan kebahagiaan ku hingga pusat duniaku dan pemilik hatiku, hidupku akan terasa sempurna karena ada kamu di setiap langkahku.
Jadi jangan tinggalkan aku sendiri dalam dunia yang sepi tanpa kehadiran mu di sisiku, aku mencintaimu, awal dan akhir dari segalanya bagiku. Karena cintaku seperti bunga yang muda layu, tanpa kehadiran mu yang seharusnya tumbuh, Elisa aku sangat merindukanmu.
BERSAMBUNG ...
Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...
Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.
Rabu 9 Maret 2022.