Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
137. Pulang Untuk sembunyi.


Setelah keluar dari rumah sakit itu, Andre yang memutuskan untuk kembali segera ke istana Monarfi, karena terlalu lama mereka pergi hingga menginap, tanpa pengetahuan dari kedua orang tua mereka.


"Kita menginap lagi sehari di rumah Daddy yuk, temenin Daddy. Mas, bolehnya?" Rengek Elisa meminta agar Andre mau menerima tawaran itu.


"Hah? Sayang, orang rumah pasti khawatir. Gimana? kalau kita bicara bicara dulu dengan mereka, kita bisa atur lagi buat nginap di sana" Ujar Andre yang menenangkan Elisa.


"Hmph! Tapi Elisa mau nginap dirumah Daddy, sehari lagi" Ucap Elisa yang masih merengek-rengek minta agar Andre menyetujui permintaan ya.


"Yakin, mau menginap di rumah Daddy lagi. Tapi, nanti jangan teriak-teriak gak jelas lagi. Kayak kemarin, kamu mengerti" ujar Andre yang mengingatkan.


"Itu karena kamu, yang tiba-tiba agak aneh. Kan aku jadi takut!" ujar Elisa yang mengingat kejadian aneh Andre itu.


"Aneh gimana? Orang aku biasa aja tuh!" ujar pembelaan diri sendiri.


"Yah, kamu aneh tiba-tiba kayak orang yang hafal seisi rumah, padahal kamu gak pernah datang kerumah daddy"


"Itu juga aku gak sadar, kenapa aku tahu tempat-tempat itu" Ucap Andre yang heran pada diri sendiri.


"Apa maksudnya?" Brandon yang dari tadi hanya mendengar celotehan keduanya di dalam mobil, Limosin itu.


"Jadi tadi mas Andre tahu kamar mandi, padahal paman Ken, tidak memberi tahu kami. Dimana letak kamar mandi, tiba-tiba mas Andre bilang kalau di tempat itu tadi ada foto, terus di sana ada lukisan, pokoknya kayak dia tahu banget" Elisa menjelaskan pada Brandon.


"Soal itu, kamar yang kalian gunakan adalah kamarku dan Rubia. Rubia suka melukis, dan fotografi. Banyak sekali karyanya, tapi tidak pernah ia pamerkan, jadi hanya disimpan di kamar" Ujar Brandon.


"Lalu, dimana semua koleksinya" Tanya Andre yang sangat penasaran.


"Aku simpan di tempat khusus, di rumah agak kecil dari rumah ku itu, ku buat pameran kecil di dalam rumahku" Jawab Brandon.


"Mungkin, Mas Andre merasa pernah melihat, benda-benda itu dari dalam perut mommy, iyakan Mas Andre" ujar Elisa yang spontan buat gelak tawa seisi mobil.


"Entahlah aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa seperti itu dad" ujar Andre yang mengiyakan karena itu adalah kebenaran.


"Eh, langsung ganti panggilan saja" Sadar jika Andre sudah menganti panggilan, dari Tuan jadi Daddy seperti Elisa manggilnya.


"Nggak boleh?" Andre melirik tajam ke sisi samping.


"HEHEHE! Boleh-boleh, itu awal yang bagus. Semoga kamu gak plin-plan yah manggilnya, jangan ganti-ganti lagi, karena sekarang sudah ada bukti yang jelas" Ujar Elisa yang memperlihatkan map coklat itu.


"Daddy maaf, tapi kami harus pulang dulu. Nanti kita rencanakan lagi untuk menginap di rumah Daddy, entah kenapa perasaan ku dari tadi tidak enak, firasat ku mengatakan jika ada masalah di rumah Papah" Ucap Andre memang sangat peka dengan keadaan.


"Tidak apa-apa nak, aku mengerti. Kapanpun kalian ingin datang ke rumah, pintu akan terbuka untuk kalian" Ucap Brandon.


"Iya makasih Daddy" Ujar Andre yang langsung menatap mendalam.


Sesampainya di rumah, king emperor. Andre yang langsung mengambil mobil yang sudah terparkir di halaman rumah itu, sudah siap.


"Daddy! Kami pamit undur diri, hmm- Daddy. aku mau minta maaf, jika aku kasar dan ada kata-kata yang menyakiti hati selama ini" Ucap Andre yang mengatakan dengan suara lemah lembut.


"Iya nak, Daddy juga minta maaf. Jika perkataan ku ada yang telah membuatmu tidak nyaman" Ucap Brandon yang masih canggung dengan sikap perubahan itu.


"Hmm, Daddy. Andre boleh... Minta di peluk" Ucap Andre yang berinisiatif untuk memulai hubungan anak dan ayah lebih dekat.


Kaget dengan apa yang di katakan putranya, seakan tak percaya dengan apa yang di ucapkan putranya itu, rasanya sangat senang sekali. "Hah? Ah- tentu saja. Kemari" Ucap Brandon yang sangat senang, melebarkan tanganya untuk menyambut pelukan Andre itu.


Syukurlah mereka akhirnya bisa bersatu, maaf ini terlambat tapi kuharap, ini awal yang baik yah mas, untukmu semoga kamu tak akan pernah mengingkari janji mu untuk jadi anak bagi semua orang tua, yang telah merawat mu dan orang tua kandung mu. Ujar dalam benak Elisa yang sangat bahagia melihat hubungan itu semakin akrab, setidaknya Elisa bisa lega karena Andre mau membuka diri.


Andre akhirnya pulang, dengan membawakan beberapa barang yang di berikan Brandon pada Andre. Sampai di rumah, Andre dan Elisa langsung di hadang oleh Monika yang sudah heboh, itu langsung menarik tangan Andre. Wajah yang begitu sangat panik, karena ada orang yang mencari Andre di ruang tamu. Monica langsung menarik Andre ke suatu tempat, agar mereka tidak melihat Andre.


"Andre kamu jangan masuk dulu, sini ikut mamah" Ujar Monika yang menarik tangan Andre, Elisa mengikuti mereka dari belakang.


"Lah kenapa mah" Tanya Elisa yang kebinggungan, dengan sikap mamah Monika.


"Ada apa sih mah, sampai Andre di tarik begini" Ucap Andre yang hanya nurut tangannya di tarik mamah, dengan wajah was-was.


"Ada yang mencarimu, mereka orang-orang yang cukup berbahaya" Jawab Monika yang panik.


"Siapa?" Tanya Andre spontan.


"Mereka, hmm- sepertinya dari penanggung jawab asosiasi, tapi mereka agak mencurigakan gelagatnya. Jadi Papah menyuruhku untuk menghubungimu, Ku pikir kamu akan menginap lagi di rumah kak Brandon?" Ucap Monika.


"Aku sudah mengajak, untuk menginap di sana mah. Cuman mas Andre gak tega ninggalin Mamah dan Papah, jadi ya kita pulang lagi untuk pamit dulu dan minta izin ke Mamah dan Papah" Ucap Elisa yang menjelaskan.


"Tapi sekarang, jika kalian tinggal dan menginap lagi di rumah kakak, setelah kamu kembali kemari maka tak akan aman" Ujar monika yang panik.


"Mah, mereka mau apa mencari mas Andre?" Tanya Elisa, sangat penasaran.


"Mamah juga tidak tahu, sebenarnya apa tujuan mereka datang. Entah apa yang mereka inginkan, tapi gerak-gerik mereka sangat aneh. Papah dan aku penuh curiga, jadi khawatir tentang keselamatan kalian" Ucap Monika yang memasukan Andre ke rumah kecil jauh dari rumah besar Monarfi.


"Lebih baik kamu nurut aja, apa yang dikatakan mamah. Kalian semetara di sini dulu untuk sembunyi, mamah akan menjemput kalian setelah di rasa sudah aman" Sambung ucapan Monika yang akan menutup pintu ruangan itu.


"Elisa juga harus ikut mas Andre juga untuk sembunyi mah" Tanya Elisa.


"Ya iyalah, sudah kalian diam di sini dulu" Ucap Monika yang langsung menutup pintu ruangan, Elisa dan Andre terdiam.


"Kok gelap yah, Mas. Elisa gak bisa lihat apa-apa, kamu dimana" Ucap Elisa yang meraba-raba mencari Andre.


Andre menyalakan flash dari hpnya, cahaya yang minim itu masih untung, Andre langsung mencari saklar lampu di ruangan itu.


"Kayaknya, listrik di sini padam sayang" Saat menekan tombol saklar berulang kali.


"Nggak, gimana-gimana. Tunggu sampai mamah datang lagi, sini" ujar Andre yang duduk di sebuah kursi, disana.


"Mas, jangan jauh-jauh Napa. Aku takut" Elisa menarik baju Andre, yang saat ini terlepas dari genggaman.


"Kamu penakut banget sih, bukanya kamu suka pulang larut malam yah. Gimana coba kamu bisa pulang larut malam jika penakut begini, saat kamu pulang malam part time kerja itu" Andre penasaran dengan itu, Elisa selalu pulang malam saat kerja dulu.


"Itukan masih banyak orang, lagian kalau ada orang jahat aku bisa lari" Ucap Elisa yang spontan.


"Gimana si kamu, lebih bahaya orang dari pada setan kan" ujar Andre.


"Yeh, mas. Orang masih mending, bisa ku laporkan dan bisa ku lawan. Nah, kalau setan gimana coba lawanya? terus melaporkan kejadian yah"


"Ya, dengan baca doa. Yasin kek, atau kursi kek. Atau ayat-ayat yang mudah di hafal, kamu kan bisa jika seperti itu" Ujar Andre yang mengingatkan.


"Iya si, tapi—" Belum sempat melanjutkan, pintu ruangan itu terbuka.


SREET


KREEK


Monika malah kembali lagi, belum lama mereka di dalam ruangan itu. "Andre, kamu masih di dalam nak!" Panggilan Mamah.


"Mamah..." Elisa berteriak langsung berlari memeluk mamahnya.


"Kamu kenapa?" Kaget karena Elisa langsung memeluk tubuh Monika.


"Mas Andre nakal, masa dia menakuti aku" Ujar Elisa yang meminta perlindungan kepada Monika.


"ANDRE!"


"Sayang, kamu jahat sekali melaporkan suamimu begitu, baiklah aku percaya sekarang dengan kekuatan kamu" Ujar Andre yang pasrah dengan tindakan Elisa itu.


Berada di rumah besar Monarfi, mereka sudah duduk di ruang keluarga. Akhirnya andre dan Elisa duduk di sofa. Papah dan Mamah duduk di sofa lainnya, ibu dan ayah di sofa sisi Andre.


"Andre, kamu harus pergi sekarang juga" Ujar Arafif yang khawatir.


"Pergi! Pergi kemana?" Tanya Andre yang kebingungan.


"Pokoknya, kamu harus pergi ke tempat dimana orang-orang itu. Tidak, akan bisa melihat kamu, tak bisa menemukan mu" Ujar Arafif yang siaga dengan keadaan yang akan terjadi nantinya.


Andre menghela nafas dalam-dalam, tak tahu mau berkata apa lagi. "Jika seperti itu, Andre harus menghilangkan dari dunia ini?" Tanya Andre sangat serius.


"Iya, pokoknya kamu harus lari dan bersembunyi dulu untuk sementara waktu, karena aku belum bisa menstabilkan koneksi dan kondisi saat ini" Ucap Arafif yang begitu khawatir.


"Kabur lagi. Sekarang, huufff– Andre lelah harus kabur-kaburan terus. Begini saja Pah, jika papah setuju. Bagaimana jika Papah sekalian saja kubur Andre, tapi sebelum itu kafini Andre dulu. Mereka tidak akan menemukan Andre, dan Andre akan menghilang selamanya" Ujar Andre yang memang sudah sangat lelah dengan semua kehidupan ini, selalu saja seperti buronan.


"ANDRE !, ini bukan waktunya bercanda" ujar Arafif yang menaikan suaranya.


"Apakah menurut Papah, aku sedang bercanda Pah. Mau sampai kapanpun mereka akan melakukan apapun untuk menemukanku, aku lelah untuk terus lari dan lari. Sembunyi dari satu tempat ketempat lainnya, Andre sekarang tak bisa melakukan itu lagi. Elisa? bagaimana dengannya, aku sekarang sudah punya Elisa. Papah setidaknya percayalah padaku, setidaknya papah pikiran untuk kedepannya. Bagaimana mungkin aku akan terus bisa lolos, cepat atau lambat aku akan di temukan" Semua isi hatinya, yang terpendam selama bertahun-tahun, akhirnya bisa ia keluar dan ungkapkan.


"Andre mereka seperti menginginkanmu untuk keluar atau menampakan dirimu dalam bahaya, papah tidak tahu kalau asosiasi itu nantinya akan membahayakan keselamatan mu, karena aku rasa mereka tidak benar-benar ingin kamu muncul, lebih tepatnya mereka ingin menjatuhkanmu atau menghilangkanmu dari daftar penerus ANDRILOS" Penjelasan Monika.


"Aku tahu nak, ini berat bagimu.Tapi tidak ada pilihan lain, satu-satunya cara agar kamu aman ya cuman kabur untuk sementara waktu. Papah janji padamu jika sudah tepat waktunya nanti, kamu akan muncul dengan sendirinya" Ujar Arafif yang melemah suaranya.


"Andre dengarkan mamah, aku tahu kamu mungkin sudah bosan dengan semua ini tapi nak, ini belum saat ya kamu akan menampakkan diri. Mereka cukup kuat untuk mencari mu dan menjatuhkan harga diri mu, aku tak bisa kehilangan kamu nak" Ujar Monika yang memohon kepada Andre.


"Mas dengarkan mamah dan papah mereka melakukan yang terbaik untukmu, setidaknya kamu aman dulu sekarang" sambung Elisa yang juga menenangkan Andre.


"Iya yang di katakan Elisa ada benarnya" Sambung Bu siti.


"Untuk sementara ini kamu pulang saja ke Indonesia, satu-satunya tempat yang lebih aman, kamu harus bersembunyi dulu. Nak, nanti setelah kita buat rencana yang matang-matang, untuk mengahadapi mereka. Barulah kamu tak akan seperti ini lagi! Karena mamah takut kalau mereka punya rencana jahat yang akan membahayakan nyawa kamu" Ujar Monika.


"Baiklah, aku akan mengikuti apa yang kalian minta. Tapi, aku boleh minta tolong kepada papah? aku sudah konfirmasi dengan dokter ahli saraf, untuk menangani kasus ayah. Jadi di jadwalnya hari Senin, Ayah sudah bisa langsung terapi, untuk memulihkan saraf-saraf Ayah yang udah mulai kaku, Papah bisa menggantikan aku untuk menemui dokter Lark Simon, di rumah sakit B" Ujar Andre.


"Tentu saja bisa, sekarang sebaiknya kamu siap-siap, karena penerbangannya nanti malam. Papah, sudah telepon pilot agar kalian langsung pergi dari tempat ini, karena sudah tidak aman buat kamu" Ujar Arafif.


"Bukannya, kita harus menghadapinya ya Pah. Kenapa kita harus lari-lari terus, kasihan kan Mas Andre yang harus bersembunyi di balik batu terus. Elisa berfikir begitu sih, untuk memikirkan sama-sama rencananya" Ujar Elisa yang mulai kebingungan.


"Elisa bukan waktunya untuk berdebat dengan Papah, saat ini masalahnya Andre dalam posisi yang tidak baik. Jika mereka mengetahui kalau Andre adalah pewaris sesungguhnya, bisa-bisa akan dalam masalah, yang tidak bisa dijelaskan sekarang. Pokoknya, kalian harus pergi secepatnya, bawa apa yang kalian butuhkan untuk sementara ini. Kalian tidak boleh tinggal di rumah besar, kalian sementara ini tinggal di rumah yang lainnya saja. Mereka tidak tahu tempat ya" Ujar Arafif yang mengingat jika rumah besar terlalu mencolok.


"Iya teh kamu nurutin aja dulu, kalian pergi. Azriel, bukannya kamu hari senin sudah mulai sekolah lagi kan dek. Ya udah kamu pulangnya bareng sama teteh aja" Ujar Bu Siti.


"Iya Bu" Jawab azril singkat.


"Cepat siap-siap kalian harus pergi, jangan sampai mereka mencurigai keberadaan kamu" ujar Monika.


Singkat yah, karena rumah Monarfi sedang dalam pengawasan, Andre, Elisa dan Azril naik mobil yang berbeda, Azril naik mobil mewah dengan pengawalan yang ketat sedang Andre dan Elisa naik mobil biasa dengan supir. Ada mobil lainnya, yang ke arah bandara sedangkan Azril yang pakai mobil yang berbeda itu untuk mengecoh, orang yang sedang mengawasi rumah Monarfi tersebut.


BERSAMBUNG ...


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.


Senin 14 Februari 2022