
Pagi itu setelah mendapatkan kabar jika ada utusan dari PT WS Corporation ingin bertemu, Merry nampak tersenyum sinis.
Pandangannya terus saja menuju pintu ruangannya dan detik selanjutnya nampak seorang pria melangkah masuk.
Deg!!
"Tuan Weslyn ?"
Merry tak menyangka jika yang datang adalah direktur perusahaan itu sendiri, pria yang pernah terang-terangan mengajaknya untuk menghabiskan malam bersamanya.
"Selamat pagi tuan, terima kasih sudah mau menginjakkan kaki di kantor saya ini." sapa Merry dengan wajah datarnya.
"Apa begitu caramu menyambut tamu kehormatan seperti saya ?" tegur tuan Weslyn.
Jika tidak karena boss besarnya sendiri yang memerintahkannya untuk datang kesini, mungkin ia tidak akan pernah sudi menginjakkan kakinya di kantor wanita itu.
"Semua orang yang datang ke kantor ini saya anggap sebagai relasi bisnis tuan, jadi tak ada yang spesial." sahut Merry.
"Ck, perusahaan kecil saja belagu." ejek tuan Weslyn seraya berjalan mendekat.
"Paling tidak ini perusahaan saya sendiri tuan dan saya bukan seorang karyawan seperti anda yang selalu tunduk dengan perintah bos." Merry balas mengejek, meski perusahaannya tak sebonafit perusahaan pria itu tapi paling tidak ia berdiri di kakinya sendiri.
"Kau...." tuan Weslyn nampak tersinggung dengan ucapan wanita di hadapannya itu.
"Akan ku pastikan perusahaanmu yang kecil ini akan segera bangkrut." imbuhnya lagi dengan berapi-api.
"Jadi jauh-jauh anda datang dari Singapore hanya untuk mengatakan hal itu ?" balas Merry dengan menaikkan sebelah alisnya, ia ingin menunjukkan jika dirinya tak gentar dengan ancaman pria itu.
"Baiklah langsung pada intinya saja, aku kesini ingin membuat penawaran denganmu." tegas tuan Weslyn.
"Aku tahu kamu sedang kesulitan keuangan jadi serahkan saja proyek itu pada kami, kami akan mengganti semua biaya yang kau keluarkan selama ini." imbuhnya lagi.
Sebenarnya itu sebuah penawaran yang sangat menarik bagi Merry, namun jika ia menyetujuinya itu sama saja akan menghancurkan nama perusahaannya sendiri karena setelah itu ia tidak akan di percaya lagi karena telah gagal mengerjakan proyek tersebut.
"Terima kasih tuan sudah peduli, tapi apapun yang terjadi saya tidak akan menyerahkan proyek itu." tegas Merry.
"Ck, kau benar-benar belagu. Proyek sebesar itu kau akan dapat duit dari mana untuk menyelesaikannya, bahkan jika perusahaanmu itu di jual sekalipun tetap tidak akan cukup membantu." ejek tuan Weslyn.
"Saya pasti bisa menyelesaikannya dengan tepat waktu tuan, jadi anda jangan terlalu khawatir." jawab Merry dengan tegas.
"Ya ya ya kita lihat saja nanti." Tuan Weslyn nampak tersenyum sinis kemudian segera meninggalkan tempat tersebut, penolakan adalah sebuah hinaan baginya dan itu membuatnya sangat geram.
Jika bukan boss besarnya yang secara langsung memerintahkannya, pria itu tak sudi lagi bertemu dengan wanita itu.
Wanita yang dengan terang-terangan menghina aset berharganya dan suatu saat jika ada kesempatan ia akan memberikannya pelajaran.
Setelah kepergian tuan Weslyn, Merry nampak memijit pelipisnya yang tiba-tiba nyeri.
"Bu, anda baik-baik saja ?" Anne nampak khawatir.
"Hm." Merry hanya mengangguk kecil, kemudian kembali memeriksa berkas-berkas di atas mejanya tersebut.
Tak berapa lama ponselnya berdering nyaring dan wanita itu segera melihat siapa yang menghubunginya.
Sejenak senyumnya nampak terbit saat melihat layar ponselnya. "Iya Al." ucapnya kemudian.
"Aku baru saja kembali, kamu lagi apa ?" tanya Alan dari seberang telepon.
"Biasa lagi di kantor." sahut Merry.
"Papa ingin mengundangmu makan malam sekalian membicarakan masalah itu."
"Benarkah? baiklah aku akan datang nanti malam." sahut Merry, wanita itu seperti mendapatkan secercah harapan.
"Baiklah, sampai jumpa nanti malam aku akan mengirim alamatnya."
Setelah sambungan terputus, Merry nampak menghela napasnya lega. Iya yakin ayahnya Alan pasti akan membantunya mengatasi masalahnya.
"Terima kasih." gumamnya kemudian.
Sore harinya William yang sudah tiba di Singapore dari semalam nampak sedang berada di kantor cabangnya tersebut.
"Apa Weslyn sudah ada kabar ?" tanyanya saat James baru masuk ke dalam ruangannya.
"Sayang, apa kau tidak ingin menemaniku jalan-jalan ?" Vivian yang sedari tadi menemani kekasihnya itu bekerja nampak mulai protes.
"Aku sedang sibuk Vi, kau bisa jalan-jalan di sekitar sini bersama pengawal." sahut William yang membuat kekasihnya itu semakin merajuk.
"Tapi aku ingin jalan-jalan bersama kamu, berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri jalanan di kota ini sepertinya sangat romantis." mohon Vivian dengan nada manja.
"Tentu saja, tapi tidak sekarang karena aku harus mengurus pekerjaan dulu." sahut William dengan tegas.
"Baiklah, akun akan menunggu waktu itu tiba." sahut Vivian, kemudi wanita itu memutuskan untuk jalan-jalan seorang diri mengingat kekasihnya itu sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Beberapa saat kemudian tuan Weslyn nampak masuk ke dalam ruangan atasannya tersebut yang sebelumnya menjadi ruangannya.
"Bagaimana ?" cercah James, pria itu terlihat tak sabar mendengar kabar dari utusannya tersebut.
Tuan Weslyn nampak melihat James dan William bergantian, kemudian pria itu menggeleng kecil.
"Wanita itu bersikeras mempertahankan proyek itu tuan, padahal saya sudah menawarkan harga tinggi." terang tuan Weslyn kemudian.
"Keras kepala." geram William.
"Sepertinya kau harus sedikit memberikannya pelajaran, James." perintahnya kemudian pada asistennya itu.
"Apa anda serius tuan ?" James nampak terkejut mendengarkan penuturan tuannya itu.
"Jika kita tidak bisa menguasai proyek itu maka kita bisa menguasai para pekerjanya, saya ingin melihat bagaimana reaksi wanita itu melihat semua pekerja proyeknya beralih ke kita." tegas William, pria itu nampak mengulas senyum iblisnya.
"Ide bagus tuan, baiklah akan saya perintahkan orang-orang saya untuk mengurus semuanya." Tuan Weslyn juga nampak antusias dengan rencana tuannya itu, karena ini akan menjadikan kesempatan untuk memberikan wanita itu pelajaran.
"Aku bersumpah kau akan mengemis padaku dan memuja bagaimana perkasanya aku." gumam tuan Weslyn dengan tersenyum miring.
Malam harinya....
Merry nampak menghadiri undangan makan malam dari keluarga Alan seorang diri.
Meski mereka juga mengundang sang putra, namun Merry lebih nyaman saat membicarakan bisnis tanpa putranya tersebut.
"Kamu sangat cantik malam ini." puji Alan saat baru menyambut kedatangan Merry di sebuah restoran ternama di kota tersebut.
"Jadi biasanya aku tidak cantik ?" Merry nampak pura-pura bersedih.
"Bukan, bukan begitu. Biasanya kamu seperti seorang wanita pekerja keras namun malam ini kamu seperti seorang calon istri yang baik." puji Alan lagi dan tentu saja membuat Merry langsung bersemu merah.
Mereka nampak melangkahkan kakinya menuju sebuah meja di mana orang tua pria tersebut sedang menunggunya.
"Selamat malam, tuan dan nyonya." sapa Merry seraya mencium punggung tangan pria paruh baya tersebut dengan takzim lalu beralih pada seorang wanita yang duduk di sebelahnya.
"Ayo duduklah, rupanya kau lebih cantik dari apa yang saya dengar dari Alan." terang pria paruh baya yang di ketahui sebagai ayahnya Alan itu.
"Terima kasih tuan, anda terlalu memuji." Merry nampak mengulas senyum tipisnya.
Kemudian mereka segera menyantap makan malamnya setelah pelayan menghidangkan beberapa menu di atas meja.
"Alan banyak cerita tentang kamu pada saya." ucap pria paruh baya tersebut di sela mengunyah makanannya.
"Iya, tuan." timpal Merry lalu pandangannya beralih ke arah Alan yang juga sedang menatapnya.
"Alan juga bercerita saat ini kamu sedang mengalami kesulitan soal keuangan." ucap pria itu lagi yang langsung membuat Merry menghentikan kunyahannya, wanita itu tiba-tiba merasa rendah saat ini.
Namun ia harus tetap semangat, selain demi nama baik perusahaannya. Ada banyak karyawan yang menggantungkan hidup padanya.
"Kamu tenang saja itu bukan masalah besar buat saya, saya pasti akan membantumu hanya saja saya ingin mengajukan sebuah syarat sebelumnya." imbuhnya lagi dan tentu saja membuat Merry nampak terpaku.
Ia tahu di dunia ini tidak ada yang gratis dan harusnya ia tidak terkejut lagi soal itu.
"Baik tuan terima kasih sebelumnya, jika boleh saya tahu apa syaratnya ?" tanyanya kemudian.
"Menikahlah dengan putra saya dan akan saya anggap uang tersebut bukanlah pinjaman tapi sebuah hadiah." sahut pria paruh baya itu dengan lugas.
Bersambung......