
"Kamu apa-apaan sih bicara seperti itu pada Axel, bagaimana mungkin dia memiliki adik sedangkan aku tak mungkin memberikannya? Tolong jangan racuni putraku dengan ide konyolmu itu." protes Elsa saat berada di lobby Apartemennya.
Sementara Axel yang sudah menunggu di dalam mobilnya bersama Jack nampak memperhatikan sang ayah yang sedang bicara dengan ibunya itu.
"Jika kamu tak bisa memberikannya, masih ada cara lain untuk mendapatkannya." sahut Alex dengan entengnya seakan memiliki seorang bayi seperti membeli barang di toko.
"Ca-cara lain bagaimana ?" Elsa langsung menatap curiga pria yang memiliki kelakuan random itu.
"Jika kamu tak berkenan mungkin wanita lain mau melakukannya." sahut Alex yang sontak membuat Elsa melotot.
"Wanita siapa ?" cecarnya dengan memicingkan matanya, apa pria itu diam-diam telah menjalin hubungan dengan wanita lain lagi di belakangnya? mengingat Carla sahabatnya lebih memilih mundur meskipun ia telah menolak untuk bersama pria itu.
"Banyak wanita yang mengejarku, aku tinggal pilih satu dari mereka. Mudah bukan ?" Alex langsung menyombongkan dirinya.
"I-itu tidak mungkin, kamu jangan sembarangan meniduri seorang perempuan. Bagaimana jika mereka bukan wanita baik-baik? itu pasti akan berdampak negatif pada putra kita." Elsa langsung protes yang sontak membuat Alex nampak mengangkat sudut bibirnya membentuk senyuman kecil yang hampir tak terlihat.
"Lalu siapa wanita yang menurutmu baik itu, hm? katakan aku pasti akan langsung menikahinya dan membuatkan Axel seorang adik." ujarnya dengan menatap lekat wanita di hadapannya itu.
Di pandang sedemikian rupa membuat detak jantung Elsa mendadak tak karuan. "A-aku belum menemukannya, nanti aku akan mencarinya untukmu. Sekarang pergilah nanti Axel akan terlambat ke sekolah." ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, aku serius kabari jika sudah ada." tegas Alex lalu segera melangkah menuju mobilnya dengan menahan senyum.
"Dasar maniak baru juga beberapa bulan jadi duda." umpat Elsa sembari melangkah kembali ke unit Apartemennya.
Semoga saja pria itu hanya becanda dan tidak benar-benar melakukan ide konyolnya tersebut.
Di tempat lain Alex yang baru saja mengantar sang putra masuk ke dalam kelas, kemudian segera pergi menemui beberapa klien bisnisnya. Sebenarnya hari ini ia sangat sibuk sekali namun ia tak ingin mengecewakan Elsa.
Jika bekerja membuat wanita itu bahagia maka ia akan mendukungnya, namun ia juga takkan membiarkannya sesukses dirinya.
Karena ia ingin ibu dari putranya itu selalu bergantung padanya dan menyadari jika hanya dirinya pria satu-satunya yang peduli padanya.
"Tuan, apa ada masalah ?" Jack yang sedang berada di balik kemudi nampak melirik sang tuan besar dari kaca spion depannya.
"Biasanya wanita independen menyukai pria seperti apa, Jack ?" timpal Alex setelah menutup macbook di pangkuannya.
"Biasanya tipe wanita seperti itu standardnya sangat tinggi tuan atau jika tidak, mereka lebih memilih hidup tanpa pria karena merasa sudah bisa menghidupi dirinya sendiri." terang Jack kemudian.
"Jadi aku tidak masuk standard mereka ?" Alex menatap punggung asistennya dengan rahang mengeras.
"Mereka hanya tidak mengenal anda dengan baik tuan, wanita mandiri biasa menginginkan pria setia seperti wanita lain pada umumnya." sahut Jack kemudian.
"Tapi dia tidak menginginkan ku, Jack. Bahkan cita-cita dia tidak ingin menikah seumur hidupnya, benar-benar konyol." suara Alex terdengar sinis.
"Nona Elsa memiliki trauma akut perihal pernikahan, jadi saya rasa hanya mukjizat yang mampu merubah prinsipnya. Kecuali...." Jack menjeda ucapannya, sepertinya pria itu ragu untuk mengucapkannya.
"Kecuali ?" ucap Alex penasaran.
"Beliau hamil lagi anak anda mungkin itu bisa menjadi bahan pertimbangannya, tuan." sahut Jack dengan sedikit ragu saat mengatakannya.
Namun sepertinya tuan besarnya menerima usulannya dengan baik karena sudut bibirnya nampak tersenyum licik setelah itu.
"Haruskah aku menghamilinya lagi ?"
Waktu pun berlalu begitu cepat, Elsa yang baru selesai dengan meetingnya sebelum jam makan siang tiba langsung menjemput sang putra di sekolahnya.
Ia rindu sekali masa-masa remajanya di mana ia sering diam-diam dari sang kakak mengikuti balap liar, rasanya ia ingin kembali bebas seperti dahulu.
Namun lagi-lagi kenyataan menamparnya jika saat ini ada makhluk kecil yang harus ia jaga dan perjuangkan masa depannya yaitu sang putra.
"Hanya sesekali tidak apa-apakan ?" gumamnya, seraya bersiap untuk menginjak pedal gasnya lebih kencang dan detik selanjutnya mobil wanita itu melaju dengan sangat kencang membelah jalanan siang itu.
Sementara itu Alex yang sedang menuju tempat meeting berikutnya nampak sesekali menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sepertinya kita tidak akan sempat menjemput Axel di sekolahnya, Jack." ucapnya kemudian, karena meeting kali ini mungkin akan berjalan sedikit alot dengan beberapa klien bisnisnya.
"Anda jangan khawatir tuan, saya sudah menyuruh sekretaris anda dan sopir untuk menjemputnya." timpal Jack dari balik kemudinya.
"Baiklah, semoga putraku tidak kecewa nanti. Setelah meeting selesai aku akan mengajaknya membeli es krim kesukaannya." Alex nampak menghela napasnya sejenak kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela dan bersamaan itu tiba-tiba sebuah mobil melintas dengan kecepatan penuh hingga membuatnya langsung terkejut.
"Ck, sebenarnya apa yang di pikirkan oleh orang-orang seperti itu? Ugal-ugalan di jalanan, apa mau cari mati ?" gerutunya kemudian.
Namun tidak dengan Jack, pria itu nampak memicing menatap mobil yang telah melaju kencang jauh di hadapannya itu.
"Saya seperti mengenal plat mobil itu tuan ?" ucapnya kemudian.
"Benarkah, kau mengenal bajingan itu ?" Alex nampak penasaran.
"Itu plat mobil milik nyonya Elsa, tuan." terang Jack dengan yakin yang langsung membuat tuan besarnya itu melotot tak percaya.
"Kamu serius ?" ucapnya kemudian.
"Saya yakin tuan, kamera mobil ini telah mendeteksinya." sahut sang asisten.
"Astaga, apa dia sudah bosan hidup ?" gerutu Alex lalu segera menghubungi wanita itu, namun hingga beberapa kali panggilannya tak kunjung di jawab.
"Setelah meeting selesai segera musnahkan mobil itu, Jack !!" perintahnya dengan geram.
"Baik tuan." Jack langsung mengangguk patuh.
Kini Elsa telah sampai di depan sekolah sang putra lebih awal dan karena masih ada waktu satu jam lagi sebelum anaknya pulang, wanita itu nampak membuka macbooknya lalu melanjutkan mendesain rancangannya yang belum selesai.
"Ah lelah sekali." ucapnya setelah satu jam berlalu, wanita itu langsung meregangkan kedua tangannya ke atas untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku.
Saat sedang mematikan macbooknya, tiba-tiba ia melihat sebuah mobil mewah keluaran terbaru parkir tepat di depan mobilnya, kemudian keluarlah seorang wanita cantik dengan pakaian rapi ala kantoran namun juga nampak glamor.
Elsa sempat terhenyak sesaat ketika menatap wanita itu, dahulu saat ia masih sukses juga berpenampilan seperti wanita itu.
Kemana-mana menggunakan mobil mewah dan penampilannya pun super glamor, namun gara-gara pria si4l4n itu kini hidupnya berbalik 180 derajat.
Kini ia berpenampilan sangat sederhana sesuai isi dompetnya bahkan mobil yang ia gunakan pun mobil lawas yang ia beli dengan harga yang sangat murah.
"Roda benar-benar berputar." gumamnya.
Lalu setelah melepaskan sabuk pengamannya dan hendak membuka pintu, tiba-tiba matanya melotot saat putranya di gandeng oleh wanita berpenampilan glamor tadi.
"Si-siapa wanita itu, berani sekali menggandeng putraku ?" ucapnya dengan geram, Elsa memang sangat posesif dengan putranya itu hingga takkan membiarkan siapa pun menyentuhnya apalagi orang asing.