Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~54


Flash back on


Beberapa hari sebelum kejadian di kantor William...


"Berpenampilan sebaik apapun tetap saja tidak akan di lirik oleh William." cibir Natalie saat melihat Elena sedang berbelanja di sebuah butik ternama.


Natalie yang sebelumnya akan berbelanja di butik tersebut langsung melangkah mendekati Elena saat melihat wanita itu juga berada di sana.


"Bukan urusanmu, pembunuh." Elena menanggapi dengan sinis.


"Jaga bicaramu, aku tidak pernah membunuh kakakmu." Natalie nampak mengedarkan pandangannya berharap tak ada yang mendengar perbincangan mereka.


Karena gosip sangat cepat sekali beredar dan wanita itu tidak ingin karirnya hancur hanya karena sebuah gosip murahan.


"Tapi kamu membunuh mental kakakku, seandainya kamu tidak menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya kakakku pasti masih hidup." Elena nampak geram menatap wanita di depannya itu, meski kakaknya meninggal bukan sepenuhnya salah Natalie namun menurutnya wanita itu ikut andil membuat kakaknya depresi.


"William memang tidak pernah mencintai kakakmu itu lalu salahku di mana ?" ejek Natalie merasa menang.


"Lalu apa William mencintaimu juga? Ck, kurasa kamu hanya di jadikan tempat kepuasannya saja. Jadi jangan terlalu besar kepala." Elena tak kalah mencibir.


"Apa kau iri denganku hm? karena saat ini hanya aku satu-satunya wanita yang dekat dengan William ?" Natalie nampak tersenyum mengejek menatap Elena.


"Jangan besar kepala dulu, karena cinta pertama William telah kembali jadi bersiap-siaplah di tendang olehnya." imbuh Elena lagi dengan wajah puasnya.


"Omong kosong." Natalie nampak tak terpengaruh.


"Sebagai orang terdekatnya pasti kamu tahu kan penyebab hubungan William dan tuan Martin retak, itu semata-mata karena William diam-diam mencintai putrinya." terang Elena, kemudian segera melangkahkan kakinya pergi.


"Tidak, itu tidak mungkin." gumam Natalie.


Selama ini ia tahu William mempunyai cinta masa kecilnya yang ia pun tak tahu siapa wanita itu karena William begitu rapat menyimpan rahasianya.


Dan William pun tak pernah membahas di depannya hingga membuatnya berfikir jika sosok wanita itu sudah tak penting lagi di hidup pria itu.


"Merry? diakah gadis kecil itu ? putri tuan Martin ?" seketika Natalie langsung mengingat sosok gadis yang tinggal di Mansion William.


Tak ingin menerka-nerka lebih jauh Natalie langsung menghubungi seseorang.


"Hallo, aku butuh bantuanmu. Tenang saja aku akan membayarmu mahal untuk itu." ucapnya kemudian.


Beberapa hari setelah itu seorang detektif nampak menemui Natalie di Apartemen wanita itu.


"Bagaimana hasilnya ?" tanya wanita itu dengan tak sabar.


"Sangat sulit mencari informasi tentang tuan Martin nona, karena beliau selalu menghilangkan setiap berita mengenai keluarganya di internet terutama putrinya." terang detektif tersebut.


"Jadi kamu sama sekali tak mendapatkan hasil ?" Natalie mulai geram, karena wanita itu sudah membayar mahal detektif tersebut.


"Maafkan saya nona saya benar-benar kesulitan mencari informasi tentang beliau, hanya foto ini yang bisa saya dapatkan." detektif tersebut menunjukkan sebuah foto di mana nampak seorang gadis mengenakan masker sedang bergandengan tangan dengan sang ayah.


Natalie langsung memperhatikan foto itu dengan seksama, meski separuh wajah gadis di dalam foto tersebut di tutupi masker tapi sorot matanya nampak tak asing baginya.


"Siapa namanya ?" tanyanya kemudian pada sang detektif.


"Ini daftar anak-anak tuan Martin nona dan gadis itu adalah satu-satunya anak kandungnya." sang detektif menyerahkan sebuah dokumen pada wanita itu.


Natalie segera memeriksa dokumen tersebut. "Merry Martin." ucapnya kemudian.


"Benar, nyonya." sahut sang detektif.


Selama ini ia mendapatkan informasi jika hubungan William dan Martin renggang karena William mencoba menggoda anak gadis Martin yang masih di bawah umur dan ia pikir itu hanya gosip sampah semata.


Karena tidak mungkin seorang William yang notabennya pria dewasa dan di kelilingi oleh banyak wanita cantik bisa jatuh cinta dengan seorang gadis belia.


"Aku harus segera memisahkan mereka." gumamnya bertekad.


Setelah mencari informasi dan mendapatkan kabar jika Merry saat ini sedang magang di kantor William, Natalie bergegas datang ke sana.


Wanita itu akan melakukan segala cara agar bisa memisahkan William dan Merry.


"Sampai kapanpun kamu tidak akan bisa membuangku Will." Natalie nampak memegang sebuah kalung di tangannya dengan tersenyum penuh arti, kemudian segera mengembalikan ke dalam laci dashboard mobilnya.


Setelah itu Natalie segera turun dari mobilnya lalu melangkah masuk ke dalam gedung pencakar langit di depannya itu.


Flash back off


...----------------...


"Kamu baik-baik saja ?" Camela nampak mengernyit saat melihat Merry keluar dari ruangan William dengan wajah masam.


"Hm." Merry hanya mengangguk kecil, kemudian segera mengambil tasnya.


"Kamu mau kemana ?" tanya Camela lagi saat melihat Merry hendak pergi.


"Pulang, sampai jumpa lagi." sahut Merry, kemudian segera melangkahkan kakinya pergi.


"Apa dia habis di marahi oleh tuan William ?" gumam Camela tak mengerti.


Saat pintu lift terbuka, James yang sedang bersama seorang dokter nampak segera keluar.


"Nona anda mau kemana ?" tanya James saat melihat Merry yang terlihat mengabaikannya, wanita itu nampak melangkah masuk ke dalam lift tanpa melihat ke arahnya.


"Pulang." sahut Merry singkat.


James yang terburu-buru hanya mengangguk kecil, kemudian segera berlalu pergi bersama dokter tersebut.


Lagipula sudah ada Dalle dan Dallas yang menjaga nyonya mudanya itu jadi James tak perlu mengkhawatirkannya lagi.


Merry nampak berhenti di lantai 2, kemudian segera keluar dari lift. Beruntung sebelumnya ia sudah mengelilingi kantor tersebut hingga membuatnya sedikit hafal tempat itu.


Setelah itu Merry menuruni anak tangga yang mana adalah arah pintu keluar belakang kantor tersebut.


Setelah berjalan mengendap-endap akhirnya Merry bisa keluar dari kantor itu tanpa di ketahui oleh pengawalnya yang mungkin saat ini sedang menunggunya di lobby kantornya.


"Ayo Sarah cepat angkat." gerutunya saat menghubungi sahabatnya itu, namun hingga beberapa kali telepon Sarah tak kunjung mengangkat panggilannya tersebut.


Merry terlihat kesal, satu-satunya nomor yang ada di ponselnya hanya Sarah seorang lalu siapa lagi yang akan ia hubungi agar bisa membantunya untuk kabur.


Merry sudah bertekad untuk pergi dari hidup William, melihat pria itu lebih membela kekasihnya itu membuatnya sangat kecewa.


"Apa aku menghubungi Artha saja ?" gumamnya kemudian, mengingat Artha selalu ada di saat dirinya sedang butuh seseorang.


Meski ia tak pernah cerita kehidupan pribadinya pada pria itu, namun Artha seperti seorang malaikat yang selalu hadir saat dirinya sedang membutuhkan.


Setiap perkataan yang keluar dari mulut pria itu selalu membuatnya merasa lebih baik.


"Baiklah, aku akan menghubungi Artha saja." Merry segera mencari nomor dosennya itu yang sebelumnya ia simpan di dalam tasnya dan bersamaan itu tiba-tiba seseorang nampak berdehem kecil hingga membuatnya langsung mengangkat kepalanya menatap sosok pria yang kini sedang berjalan ke arahnya itu.