
Pagi itu James yang mulai kembali sehat nampak datang ke kantornya, ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda sebelum menjemput sang istri.
Meski lukanya belum sepenuhnya mengering tapi pria itu tetap memaksa untuk pergi bekerja.
"Selamat pagi, tuan James." sapa nyonya Darrien saat pria itu baru menginjakkan kakinya di lobby kantor.
"James, bagaimana kabarmu? akhirnya kamu datang ke kantor juga. Apa pekerjaanmu di luar kota sudah selesai ?" Jennifer yang baru datang pun langsung mendekati pria itu.
"Hm." James mengangguk kecil, keberadaannya di rumah sakit memang sengaja ia rahasiakan. Karena jika tidak, maka itu bisa mempengaruhi citra perusahaannya jika ia di ketahui masih terlibat dengan dunia hitam.
"Sebenarnya aku sangat merindukanmu dan ingin bicara banyak hal denganmu." imbuh Jennifer lagi.
"Ku rasa kamu wanita berpendidikan Jenn, jadi bersikaplah profesional jika sedang bekerja." tegas James dengan menatap dingin wanita tak jauh dari hadapannya itu.
"Ba-baik, tuan James." tukas Jennifer sembari menunduk, rupanya pria itu berbeda sekali dengan yang dahulu di mana masih menjadi sahabatnya.
Waktu telah merubah segalanya bahkan kini Jennifer hampir tak mengenali pria itu, James benar-benar berubah 180 derajat tapi itu yang membuatnya semakin tertantang untuk mendekatinya.
James adalah sosok pria idaman semua wanita di negeri ini dan ia harus bisa mendapatkannya apapun yang terjadi, tak peduli dengan gosip di luaran sana jika pria itu telah memiliki seorang kekasih.
Kemudian James segera melangkahkan kakinya pergi, namun saat mencium aroma parfum yang menyengat menusuk hidungnya membuatnya langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"Parfum apa yang kamu pakai ?" tanyanya seraya menatap Jennifer yang masih berdiri di tempatnya.
"Parfum? tentu saja parfum favoritku apa kamu melupakannya ?" sahut Jennifer namun langsung mendapatkan tatapan membunuh dari pria itu.
"Maksudnya parfum favoritku tuan James, bukankah ini dulu anda yang merekomendasikannya ?" ralat Jennifer saat menyadari tak menggunakan bahasa formal.
"Ganti !!" perintah James kemudian yang langsung membuat Jennifer melebarkan matanya.
"Nyonya Darrien, perintahkan pada semua karyawan untuk tak memakai parfum dengan aroma yang kuat dan usahakan menggunakan aroma jeruk yang segar !!" perintah James seraya menatap HRDnya itu dengan tegas, kemudian segera berlalu pergi dari sana.
Sedangkan nyonya Darrien dan Jennifer nampak saling berpandangan, tak mengerti dengan perubahan selera parfum wakil direkturnya tersebut.
...----------------...
"Bi, mana sarapan buat kami !!" teriak nyonya Kartika pagi itu saat melihat meja makan masih kosong padahal biasanya sudah terhidang beberapa menu makanan di sana.
"Astaga, apa wanita tua itu mulai tuli ?" imbuhnya seraya melangkah menuju dapur.
Tak ada makanan sama sekali di sana. "Benar-benar kurang ajar." gerutunya, kemudian segera berlalu dari sana.
"Apa bibi sudah masak, Ma? aku sangat lapar." rengek Tasya, meski tinggal hitungan hari wanita itu akan menjadi istri orang tapi sikap manjanya tak kunjung hilang dan Anne yang sedari tadi mengawasi mereka dari lantai atas nampak tersenyum miring.
Tak berapa lama Bibi nampak keluar dari kamar tuan Wijaya dengan sebuah nampan di tangannya, tuannya itu sejak sakit-sakitan memang tidur terpisah dengan sang istri atau lebih tepatnya istrinya itu yang meminta tidur sendiri karena tak ingin repot mengurusnya.
"Bi, mana makanan buat kami ?" teriak nyonya Kartika dengan tak sabar.
"Ku rasa kalian belum cukup pikun dengan ucapanku kemarin." timpal Anne seraya menuruni anak tangga.
"Bukankah sudah ku katakan jika ingin makan atau memakai pakaian bersih kerjakan sendiri, karena Bibi hanya akan mengurus keperluanku dan Papa saja." tegas Anne menatap ibu dan adik tirinya itu bergantian.
"Tapi kami tak biasa melakukan itu kak." protes Tasya tak terima.
"Ya sudah cari saja pelayan bukankah kamu bilang calon suamimu itu kaya raya ?" cibir Anne dengan kedua tangan bersendekap di depan dadanya.
"Dengar ya anak pembawa sial, meski kamu ahli waris rumah ini tapi selagi ayahmu itu masih hidup kamu takkan bisa mengusirku dari sini." tegas nyonya Kartika menatap nyalang anak tirinya tersebut dengan tersenyum penuh kemenangan.
"Aku tidak akan mengusirmu ibu tiri jadi jangan panik seperti itu, lebih baik mulai hari ini rawat Papaku dengan baik karena jika Papa semakin membaik maka kesempatan untukmu tinggal di sini juga semakin besar. Kecuali...." Anne menggantung ucapannya saat mengingat beberapa barang bukti perselingkuhan wanita itu dengan seorang pria.
Sebenarnya Anne bisa saja langsung mengusirnya menggunakan barang bukti itu, namun itu hukuman terlalu ringan untuk ibu tirinya tersebut yang mana tak setimpal dengan kenikmatan yang dia rasakan selama bertahun-tahun tinggal di rumah ini.
"Kecuali apa ?" Nyonya Kartika langsung memicing menatap Anne.
"Kecuali kamu selingkuh." sahut Anne dengan menekankan kata-katanya.
"Kau, beraninya menuduh Mama sembarangan !!" Tasya langsung mengangkat tangannya untuk menampar Anne, namun Anne langsung mencekal pergelangan tangan wanita itu.
"Jika tidak merasa kenapa marah? bukankah aku mengatakan jika itu terkecuali ?" Anne langsung tersenyum mengejek, namun tidak dengan nyonya Kartika. Ibu tirinya itu nampak menegang dengan wajah pias.
"Omong kosong, Mama tidak mungkin selingkuh." elaknya kemudian.
"Semoga saja begitu." timpal Anne menatap lekat wanita paruh baya yang mendadak salah tingkah itu.
"Awas saja aku akan mengadukan perbuatanmu itu pada tunanganku." Tasya langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Sayang, kamu sibuk tidak? kakak tiriku yang tak tahu diri ini tiba-tiba pulang lalu menjadikan ku dan Mama seperti seorang pembantu." ucapnya mengadukan Anne pada seseorang di ujung telepon.
"Iya, dia memang kurang ajar sayang. Hm, baiklah aku tunggu secepatnya." ucap Tasya lagi lalu segera mengakhiri sambungan teleponnya.
Sementara itu Anne nampak tersenyum miring, ia jadi penasaran seperti apa wajah tunangan adik tirinya yang katanya seorang pejabat hingga mampu menebus hutang ibunya itu pada James sebesar 2 miliar rupiah.
"Baiklah, kita lihat apa yang bisa di lakukan oleh calon tunanganmu itu." ucap Anne lalu menghempaskan bobot tubuhnya di sofa yang baru kemarin ia beli dan benar saja tak berapa lama terdengar sebuah mobil berhenti di halaman rumahnya.
Kemudian masuklah seorang pria tampan dengan wajah angkuhnya setelah Tasya dan sang ibu membuka pintu untuknya.
"Sayang, itu kakak tiriku yang kurang ajar itu apa kamu bisa memberikannya pelajaran agar tidak semena-mena lagi pada kami." ucap Tasya seraya menggandeng lengan tunangannya tersebut.
Pria itu langsung melangkah ke arah Anne yang sedang duduk di atas sofa. "Kau ?" ucapnya saat melihat wanita itu yang terlihat sama terkejutnya seperti dirinya.
"Kamu Anne kan ?" pria itu langsung memastikan.
"Bagaimana kabarnya Arya Bagaskara, kamu masih mengingatku ?" Anne langsung mengulas senyum tipisnya tanpa berniat beranjak dari duduknya.
"Ten-tentu saja, aku tak pernah melupakanmu Ann." sahut pria bernama Arya tersebut, karena sejak masih di bangku kuliah ia sudah tergila-gila pada wanita itu.
"Kalian saling mengenal ?" Tasya langsung melebarkan matanya saat melihat keakraban mereka.
"Kami dulu satu kampus." sahut Arya seraya melepaskan tangan Tasya yang sedari tadi melingkar di lengannya, kini pria itu mulai bimbang untuk melanjutkan hubungannya dengan tunangannya itu atau justru berpaling pada sang kakak yang notabennya sedari dulu telah ia kejar tapi perasaannya selalu saja di tolak dan kini ia tertantang untuk memulainya kembali.
Lama tak berjumpa Arya semakin tertarik pada Anne yang menurutnya semakin cantik dan seksi meski tatapannya selalu terlihat angkuh namun itu justru membuatnya tertantang untuk menaklukkannya.
"Sayang, dia itu kakak tiriku yang ku ceritakan tadi. Kamu mau kan memberikannya pelajaran ?" rajuk Tasya dengan gaya manjanya sembari gelendotan di lengan Arya, bahkan pria itu sendiri terlihat risih dengan tingkah tunangannya itu.
Sementara Anne nampak memperhatikan mereka dari tempat duduknya, ia ingin melihat bagaimana pria yang pernah mengejar-ngejarnya itu akan memberikannya pelajaran sesuai perintah sang adik tiri.
"Sepertinya akan menarik."