Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~105


"A-apa yang sedang kau lakukan di sini ?" teriak Merry, wanita itu nampak tak percaya dengan yang apa ia lihat.


William Smith mantan suaminya itu, nampak menatap datar ke arahnya dari sofa yang pria itu duduki.


"Ini kamarku." ucap pria itu membuka suaranya yang berat.


"Jadi kamu menculikku ?" Merry langsung memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak headboard ranjang di belakangnya.


"Aku hanya membawa istriku ke tempat yang semestinya." sahut William yang masih bergeming di tempatnya dengan posisi yang belum berubah, menumpuhkan sebelah kakinya di atas kaki lainnya serta kedua tangannya nampak bersendekap di depan dadanya.


"Aku bukan istrimu lagi." sungut Merry, enak saja setelah mencampakkannya selama bertahun-tahun tiba-tiba datang begitu saja dan mengakuinya sebagai istrinya.


"Aku belum pernah menceraikanmu jika kamu lupa." tegas William menatap wanita tak jauh darinya itu.


"Tapi aku menganggap kita sudah bercerai, toh pernikahan kita tidak pernah terdaftar." terang Merry yang langsung membuat William tersenyum sinis, kemudian pria itu bangkit dari duduknya.


"Sebelum aku mengatakan kita bercerai, kita tidak akan pernah bercerai." tegas William seraya melangkah mendekati ranjangnya itu dan tentu saja Membuat Merry langsung beranjak dari sana.


Wanita itu memaksa berdiri meski kepalanya terasa sangat nyeri dan berputar-putar, entah kenapa ia terbesit rasa takut saat pria itu mendekatinya.


Lagipula Merry takkan luluh begitu saja, ia bukanlah gadis lugu seperti dahulu yang mudah di perdaya kemudian di campakkan begitu saja.


Saat ini ia adalah wanita dewasa dan seorang ibu yang harus menjaga kehormatannya.


"Menjauhlah, tuan William Smith dan segera lepaskan aku dari sini." tegas Merry saat mantan suaminya itu semakin mengikis jarak di antara mereka.


"Kenapa? apa kau ingin menghabiskan malam panjang bersama bajingan itu ?" William mencibir, ia menyesal karena datang terlambat namun ia takkan menyerah begitu saja.


Sebelumnya William telah memerintahkan dokter untuk memberikan Vivian obat tidur, setelah itu ia segera meninggalkan wanita itu setelah tertidur pulas.


Namun ia terlambat karena Alan sudah menyematkan cincin di jari manis wanita itu bahkan juga menciumnya, tapi bukan William jika menyerah.


Ia sudah bersumpah tidak akan pernah mengulangi kebodohannya kembali.


"Kalau iya memang kenapa? hubungan kita sudah masa lalu dan saat ini kita juga sudah mempunyai pasangan masing-masing. Aku dengan tunanganku dan kamu dengan tunanganmu." Merry menegaskan yang tentu saja bukan ini yang William mau.


"Tapi aku menginginkanmu juga." ucapnya kemudian namun tiba-tiba sebuah tamparan melayang di pipinya yang di penuhi bulu-bulu halus itu.


Plakk


"Brengsek !!" umpat Merry setelah melayangkan tamparannya, dirinya bukan wanita murahan yang bisa pria itu permainkan semaunya.


William nampak tersenyum sinis, rasa panas di pipinya tak seberapa dengan rasa cemburu yang ia rasakan saat melihat wanita itu berciuman dengan pria lain.


"Terserah kamu, tapi jangan harap kamu bisa keluar dari sini." tegas William kemudian kembali duduk di kursinya, pria itu ingin melihat seberapa besar usaha wanita itu agar bisa lepas darinya.


"Tentu saja aku bisa, kamu pikir aku gadis lugu seperti dulu yang bisa kamu perdaya." Merry segera melangkahkan kakinya menuju pintu, mencoba membukanya namun tak berhasil.


"Berikan kuncinya atau aku akan berteriak meminta tolong !!" ancam Merry kemudian, ia nampak mendekati William lalu mengulurkan tangannya untuk meminta kunci kamar tersebut.


"Aku sudah membuangnya ke toilet." sahut William.


"Kau..." Merry langsung melotot kemudian segera berlari ke toilet.


"Aku akan meminta bantuan petugas hotel." ucapnya lalu segera berlari ke arah pintu.


"Berteriaklah sepuasmu sampai suaramu habis dan tak bisa berteriak lagi karena kamar ini di desain kedap suara." ucap William saat wanita itu berteriak dan menggedor pintu kamarnya dengan keras.


"Kau tidak hanya pengecut tapi juga brengsek." umpat Merry seraya mendekati William, lebih baik ia menghajar pria itu untuk melampiaskan amarahnya.


Kemudian wanita itu kembali memukul mantan suaminya itu namun gerakannya kalah cepat karena pria itu langsung menariknya hingga kini ia terduduk di atas pangkuannya.


"Kurang ajar, lepaskan aku !!" Merry nampak memberontak saat kedua tangannya di cengkeraman oleh pria itu.


"Jangan banyak bergerak honey, karena kau bisa saja membangunkannya." lirih William yang langsung membuat Merry menelan ludahnya, rupanya pria itu tetap saja mesum meski selama bertahun-tahun tak bertemu.


Kemudian wanita itu berhenti meronta, namun bukan berarti menyerah.


"Ya begitu lebih baik." William mulai melepaskan kedua tangan wanita itu dari cengkeramannya, namun tangan kekarnya itu berpindah melingkar di pinggang ramping wanita itu dengan posesif.


"Tolong lepaskan aku, aku tidak ingin keluargaku dan Alan khawatir." mohon Merry mengiba.


"Jangan pernah sebut nama pria itu lagi di depanku." tegas William yang langsung membuat Merry tersenyum sinis, memang siapa pria itu berani sekali mengaturnya.


"Alan tunanganku dan aku akan terus menyebutkan namanya, Alan Alan Alan Al...." ucapan Merry tiba-tiba tertahan saat pria itu dengan lancang membungkam bibirnya dengan ciumannya.


Pertemuan dua bibir setelah sekian tahun itu membuat Merry nampak terkejut, tubuhnya seketika mematung dan debaran jantungnya mulai tak aman lagi.


Lain halnya dengan William, pria itu seakan menemukan air di tengah padang pasir dan ia akan melahapnya hingga tak bersisa.


Pria itu nampak m3lum4t bibir mantan istrinya itu dengan rakus seakan tiada lagi hari esok.


Merasa tak mendapatkan balasan dan tak leluasa karena wanita itu menutup bibirnya dengan rapat, membuat William nampak tersenyum miring.


Dengan sekali tarikan pria itu telah membuka resleting gaun wanita itu lalu menelusupkan tangannya masuk hingga menemukan sebuah gundukan yang mungkin sekarang ukurannya dua kali lebih besar dari beberapa tahun silam bahkan puncaknya pun lebih menonjol mungkin akibat memberikan putranya itu asi.


William langsung m3r3m4snya lalu memilin puncaknya hingga membuat wanita itu langsung meloloskan suara seksinya dan tentu saja membuat pria itu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memperdalam ciumannya.


William tak mengerti kenapa wanita itu memilih pakaian yang beresleting dengan belahan dada serendah itu.


Apa wanita itu ingin menggoda Alan agar mempermudah pria itu untuk menelanjanginya? memikirkan hal itu membuat William nampak murka.


Selama ini dirinya selalu menjaga tubuhnya dari sentuhan wanita manapun namun istrinya itu justru sebaliknya.


Karena kesal dengan pikirannya sendiri, William nampak menyesap bibir wanita itu dengan sedikit kasar dan menuntut.


Beberapa saat kemudian, William melepaskan panggutannya saat wanita itu memukuli dadanya karena kehabisan napasnya.


Setelah bibir mereka terlepas Merry nampak mengambil oksigen sebanyak mungkin, apa pria itu ingin membunuhnya.


"Apa dia putraku ?" tanya William kemudian seraya menyerahkan ponselnya, di sana nampak beberapa foto Ariel yang sebelumnya di kirim oleh asistennya tersebut.


Sedangkan Merry yang masih belum terima dengan pelecehan yang pria itu lakukan padanya nampak menelan ludahnya saat melihat foto-foto tersebut.