
"Tuan, saya mendapatkan informasi jika dosen nyonya muda tidak masuk hari ini karena suatu hal jadi di gantikan oleh dosen lain." lapor James saat William dan Merry baru selesai menghabiskan sarapannya.
"Yes." batin Merry dengan semangat, ia tidak ingin dosennya itu mendapatkan masalah dari suaminya hanya karena gagal mengajarinya.
Dan rupanya wajah bahagia Merry tak luput dari pandangan seorang William.
"Jadi kamu senang aku tak jadi bertemu dengan dosenmu itu ?" tuding William menatap istrinya itu.
"Bu-bukan begitu." Merry langsung beranjak dari duduknya lalu mendekati suaminya itu.
"Aku janji akan belajar dengan rajin dan siangnya aku akan bekerja di kantormu." mohonnya dengan wajah memelas.
"Bagus." ujar William kemudian, lalu segera beranjak dari duduknya.
"Ayo aku akan mengantarmu !!" imbuhnya lagi seraya melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan tersebut.
Siang harinya saat Merry sedang makan siang di kampusnya, tiba-tiba Artha datang mendekat.
"Pak Artha ?" teriak Merry dan Sarah bersamaan.
Artha nampak mengulas senyumnya. "Boleh gabung ?" ucap pria itu.
"Tentu saja, silakan pak." Sarah langsung menarik kursi di sebelahnya agar pria itu duduk di sana.
"Bukannya bapak hari ini izin ?" tanya Merry to the point.
"Tadi pagi saya ada sedikit urusan." sahut Artha.
"Urusan sama pacar ya pak ?" timpal Sarah sok tahu.
"Saya belum punya pacar." sahut Artha seraya menatap Merry.
"Wah kebetulan saya juga belum punya pacar, pak." Sarah nampak berbinar menatap dosennya itu.
"Benarkah? lalu Jason kamu kemana kan ?" goda Merry kemudian yang langsung membuat Sarah bersungut-sungut.
"Jason bukan pacar saya kok pak, Merry mah suka becanda." ucapnya menjelaskan.
Artha nampak terkekeh. "Kalau Merry apa sudah punya kekasih ?" tanyanya kemudian yang sontak membuat Merry dan Sarah saling berpandangan.
"Kalau Merry sudah mempunyai kekasih pak, dia mah cinta banget sama kekasihnya itu. Iya kan Mer ?" kali ini Sarah yang menjawabnya meski sedikit berbohong karena di kampusnya tersebut belum ada yang mengetahui jika Merry sudah menikah.
"Benar begitu Merr ?" Artha nampak memastikan dengan bertanya langsung pada gadis di depannya itu.
"Benar, pak." angguk Merry yang sontak membuat Artha nampak kecewa.
"Tenang saja pak, saya juga masih sendiri." timpal Sarah dengan nada merayu.
"Ck, kamu mah semua pria yang kamu anggap baik langsung dipepetin." ledek Merry menatap sahabatnya itu yang tentu saja membuat Sarah nampak menggerutu kesal.
"Berhati-hatilah dengan pria yang berpura-pura baik, bisa jadi dia mendekati kalian hanya karena ada maunya." nasihat Artha seraya menatap Merry, seakan perkataannya tersebut di tujukan pada wanita itu.
"Baik, pak." sahut Merry dan Sarah bersamaan.
Lalu Merry nampak terdiam mencerna perkataan dosennya tersebut.
Beberapa saat kemudian setelah jam kuliahnya usai Merry segera meninggalkan kelasnya tersebut.
"Merr, apa mau ku antar ?" tawar Artha tiba-tiba seraya mensejajarkan langkahnya dengan wanita itu.
"Pak Artha." Merry nampak terkejut, namun kemudian mengulas senyumnya.
"Tidak pak terima kasih, ada sopir yang menjemput." tolak Merry seraya menatap para pengawalnya yang sedang menunggunya di gerbang kampus.
"Baiklah hati-hati, jika ada kesulitan belajar langsung hubungi saja aku. Kamu masih menyimpan nomorku kan ?" ujar Artha.
"Ma-masih pak." sahut Merry, setelah itu segera pamit undur diri.
Artha nampak menatap kepergian Merry, kemudian pria itu terlihat menyunggingkan senyum misteriusnya.
...----------------...
Sore itu mobil yang membawa Merry berhenti di kantor William.
Gedung pencakar langit tersebut nampak berdiri angkuh seperti sang pemiliknya.
Detik selanjutnya wanita itu langsung mengulas senyum lebarnya. "Hai apa kamu baru pulang kuliah ?" sapanya dengan ramah.
"Benar, oh ya aku belum memperkenalkan namaku. Aku Merry." Merry mengulurkan tangannya pada wanita cantik nan seksi di depannya itu.
Dan tentu saja Camela dengan senang hati menyambutnya. "Dan kamu keponakannya tuan William kan ?" ucapnya menebak.
Merry nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Begitulah." sahutnya kemudian, lebih baik ia berpura-pura menjadi keponakan suaminya saja agar bisa lebih mudah mencari tahu tentang pria itu.
Lagipula suaminya itu juga tidak pernah menjelaskan statusnya pada semua orang karena mungkin saja sedang menjaga hati istri pertamanya pikir Merry.
"Apa dia ada di dalam ?" tanya Merry kemudian.
"Tuan William jarang sekali di kantor, nona. Biasanya beliau hanya setengah hari saja, kalau tidak pagi ya sore baru datang." terang Camela.
"Jadi hari ini dia belum datang ?" tanya Merry lagi.
"Beliau sudah pergi dari siang nona, biasanya tidak akan kembali lagi." sahut Camela.
"Benarkah? baguslah kalau begitu bisakah aku berkeliling kantor ini aku ingin melihat-lihat ?" mohon Merry kemudian.
"Silakan nona, aku akan mengantarmu." sahut Camela dengan ramah dan itu membuat Merry jadi berpikir ulang untuk tidak menyukainya.
Semoga saja kebaikan dan keramahan wanita itu terhadapnya tidak ada maksud tertentu pikir Merry.
"Tolong panggil saja aku Merry." mohon Merry kemudian.
"Hm, baiklah." angguk Camela kemudian.
Sementara itu di tempat lain William nampak menodongkan pistol ke arah pria yang kini sedang berlutut di hadapannya itu.
"Ampuni saya tuan, saya benar-benar tidak mengetahui keberadaan tuan Arthur. Sudah satu bulan ini beliau tidak datang ke markas." ucap pria tersebut memohon ampun, wajahnya nampak babak belur setelah William menghajarnya.
"Apa saya harus mempercayai perkataanmu ?" sinis William menatap pria tersebut, kemudian melemparkan senjatanya kepada James.
"Suruh anak buahmu untuk membuatnya mengaku !!" perintahnya kemudian, setelah itu segera berlalu meninggalkan tempat tersebut.
William nampak masuk ke dalam mobilnya kemudian menutup pintunya dengan sedikit kasar.
"Bisnis obat terlarang tuan Arthur sudah merajalela di pelosok negeri ini tuan, beberapa orang di klan kita sudah mulai kecanduan dan bahkan kabarnya mulai merambah ke kampus-kampus juga." ucap James saat baru duduk di kemudinya.
"Itu bukan urusan saya James, sekarang tugasmu segera temukan keberadaan Arthur karena bajingan itu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." perintah William dengan geram, mengingat bagaimana Arthur telah menjebaknya.
"Orang-orang suruhan saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencarinya tuan, tapi jejaknya benar-benar sulit di deteksi." sahut James.
"Jika bajingan itu masih tinggal di negara ini, omong kosong jika tidak bisa di deteksi. Kecuali dia memalsulkan dokumennya dan menjadi orang lain." ucap William kemudian.
"Baik tuan, akan segera saya selidiki." ucap James dari balik kemudinya, lalu pria itu mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Di sisi lain Merry nampak sedang bercengkerama dengan beberapa karyawan di lantai bawah setelah Camela memperkenalkan mereka padanya.
Pembawaan Merry yang ramah dan cepat bergaul dengan siapa saja membuatnya cepat beradaptasi, apalagi dirinya yang di kenal sebagai keponakan Sang pemilik perusahaan tentu saja banyak yang ingin dekat dengannya.
"Merr, apa menurutmu hubungan tuan William dan nona Natalie sangat serius ?" tanya shopie salah satu karyawan wanita di sana yang nampak penasaran dengan kehidupan pribadi sang boss.
"Aku kurang tahu." sahut Merry dengan jujur.
"Tapi aku pernah melihat foto tuan William sedang bersama dengan seorang anak kecil dan juga seorang perempuan di media online, hanya saja mereka menggunakan masker jadi aku kurang tahu wajah mereka." kali ini seorang wanita cantik bernama Valerie ikut menimpali.
"Bisakah kita bicara hal lain saja." Merry nampak mengalihkan pembicaraan dan bersamaan itu tiba-tiba seorang pria menghampiri mereka.
"Hai nona cantik, perkenalkan aku Roger pria paling tampan di kantor ini." ucapnya memperkenalkan dirinya pada Merry.
"Lebih baik kamu tidak perlu kenal dengan dia, karena semua wanita yang kenal dia selalu berakhir di atas ranjangnya." cibir Valerie dengan nada becanda.
"Astaga, aku hanya ingin kenalan saja." gerutu Roger dengan kesal dan tentu saja membuat Merry terkekeh.
"Senang berkenalan denganmu." ucap Merry kemudian.
Tak berapa lama William beserta James nampak masuk ke dalam kantornya tersebut dan sesaat pandangan pria itu bersitatap dengan pandangan sang istri.
"Mati aku." gumam Merry saat William menatap tajam padanya.