
"Un-untuk apa kamu menemuinya ?" Merry nampak gugup seketika saat suaminya ingin bertemu dengan dosennya.
"Tentu saja mau melihat kemampuan dia, bisa-bisanya membuat kamu menjadi bodoh begini." geram William.
"Hey tuan William, aku bukan bodoh. Hanya saja aku tidak menyukai pelajaran bisnis." Merry beranjak dari duduknya lalu bersungut-sungut menatap suaminya itu.
"Suka atau tidak kamu harus tetap belajar." tegas William.
"Tapi aku tidak suka, bisakah aku ambil jurusan lain atau begini saja sebentar lagi kan aku 19 tahun bagaimana kalau aku ikut pendidikan militer saja ?" mohon Merry yang langsung membuat William melebarkan matanya tak percaya dengan ide konyol istrinya itu.
"Jangan macam-macam, honey. Lupakan ide konyolmu itu dan belajarlah dengan rajin di kampus." ujarnya dengan tegas.
"Ck, kamu pasti takutkan jika aku menjadi polisi di negara ini maka bisnis harammu itu akan terciduk ?" tuding Merry kemudian.
"Omong kosong, sekarang pilih belajar bisnis atau tidak sama sekali." tegas William sambil menatap istrinya itu.
"Tentu saja kuliah." Merry terlihat kesal kemudian kembali menghempaskan bobot tubuhnya di atas kursinya.
Tak berapa lama terdengar ketukan pintu dari luar, kemudian Camela segera masuk.
"Tuan, semua karyawan sudah pulang." ucapnya melaporkan.
"Baiklah, kamu juga bisa pulang." perintah William kemudian yang langsung di angguki oleh sekretarisnya itu.
"Oh ya Mel, mulai besok Merry akan membantumu. Ajari dia banyak hal !!" perintah William kemudian yang sontak membuat Merry melotot.
"Baik tuan dengan senang hati." sahut Camela lalu menatap Merry dengan senyum mengembang, setelah itu wanita itu segera pamit undur diri.
"Membantu bagaimana ?" Merry nampak memicing, sebenarnya apa yang sedang di rencanakan oleh suaminya itu.
"Aku akan mengabari kampusmu jika kamu akan magang lebih cepat." sahut William.
"Ma-mana bisa seperti itu ?" Merry langsung bersungut-sungut.
Jika ia bekerja di kantor juga, maka waktunya untuk bermain dengan teman-temannya di kampus akan semakin berkurang.
"Tentu saja bisa, saya suamimu dan patuh pada suami adalah hal mutlak." sahut William dengan tegas.
Brakk
Merry langsung menggebrak meja, lalu bangkit dari duduknya kemudian mendekati pria itu.
"Tuan William, apa kamu sedang kekurangan uang hah sampai istri sendiri di pekerjakan ?" tudingnya tepat di hadapan pria itu.
William bukannya menjawab justru menarik jari istrinya yang mengarah kepadanya itu lalu menggigitnya hingga membuat wanita itu berteriak.
"Aaarrgghh, sakit." teriak Merry saat jari telunjuknya yang ia gunakan untuk menunjuk suaminya tadi kini justru berada di antara gigi pria itu.
William nampak melepaskan jari istrinya namun tangannya kemudian langsung menarik pinggang wanita itu hingga kini terduduk di pangkuannya.
"Jika kamu patuh, semua akan menjadi mudah honey." ucapnya dengan lirih seraya memeluk wanita di pangkuannya itu.
William bukannya asal menyuruh istrinya itu untuk belajar bisnis, pria itu mempunyai alasan dan suatu saat wanita itu pasti akan berterima kasih untuk itu.
"Bisakah kita pulang aku sangat mengantuk." mohon Merry kemudian, rasanya sangat enggan berada begitu intim dengan pria itu seperti sekarang.
Karena pada akhirnya pria itu akan membuatnya kelelahan, padahal lelah sisa percintaan mereka tadi sore masih ia rasakan.
"Baiklah." William menjauhkan istrinya itu dari pangkuannya, kemudian mengajak wanita itu untuk segera pulang.
Keesokan harinya....
Pagi itu Merry nampak terbangun dengan mengulas senyumnya, karena setelah sekian lama ia bisa terbangun di dalam pelukan suaminya itu.
Sekeras apapun ia mengingkari perasaannya namun pada akhirnya hatinya tetap terisi oleh pria itu.
Apalagi selama ini pria itu begitu posesif padanya, seandainya ia mempunyai kesempatan mungkin akan kabur sejauh mungkin dan mengubur perasaannya dalam-dalam.
Namun William sedikit pun tak memberikan kesempatan itu.
Merry nampak menjauhkan wajahnya agar bisa menatap wajah suaminya yang beberapa waktu ini sangat ia rindukan.
Ternyata pepatah yang mengatakan jika cinta datang karena terbiasa itu benar adanya karena saat ini Merry benar-benar mengalaminya.
Wanita itu mencintai suaminya, mencintai pria yang telah menculik dan menikahinya dengan paksa.
Namun begitulah cinta selalu datang tanpa bisa di duga sebelumnya.
"Apa saya terlalu tampan ?" ucap William tiba-tiba yang langsung membuat Merry menelan ludahnya.
Wanita itu seperti seorang pencuri yang ketahuan dan ia segera beranjak bangun namun apa daya sang suami sudah lebih dulu menariknya kembali ke sisihnya.
"Aku ada kuliah pagi." dusta Merry agar segera di lepaskan oleh sang suami.
"Sebentar lagi." sahut William, sepertinya pria itu masih sangat mengantuk hingga memejamkan matanya kembali.
"Jangan tidur lagi, aku mau mandi." Merry menepuk pelan rahang pria itu saat tertidur kembali.
William langsung membuka matanya dan pandangannya langsung tertuju pada piyama istrinya yang sepertinya terlepas kancingnya satu hingga memperlihatkan gundukan indah wanita itu yang menyembul keluar.
"Apa kau sengaja menggodaku, honey ?" ucapnya kemudian yang langsung membuat Merry melotot lalu mengikuti pandangan pria itu.
Merry nampak mengumpat saat melihat bagian tubuh terseksinya terespos hampir setengahnya.
"Dasar mesum." umpat Merry lalu mencoba menutupinya dengan sebelah tangannya, namun William yang sigap langsung memegang tangan wanita itu lalu membawanya keatas kepalanya.
Kemudian tangan satunya sengaja pria itu tindih dengan tubuhnya hingga membuat istrinya itu terkunci oleh pergerakannya.
"Terima kasih sudah memberiku vitamin pagi." William nampak tersenyum nakal dan tentu saja membuat Merry langsung bersungut-sungut apalagi saat pria itu mulai melepaskan kancing lainnya hingga membuat tubuh terseksi wanita itu terbebas di hadapan pria itu.
"Will." teriak Merry saat suaminya itu memilin lalu mencubit puncak gundukan indah miliknya itu.
"Kenapa suaramu begitu menggoda, honey ?" ucap William dengan suara paraunya, sepertinya pria itu mulai tersulut gairahnya.
"Dasar mesum." gerutu Merry.
"Dan kamu menikmatinya." ejek William yang kini tangannya mulai turun lalu masuk ke dalam celana wanita itu.
"Rupanya, kau sudah basah, honey." imbuhnya lagi saat membelai milik wanita itu lalu mulai memainkannya hingga membuat wanita itu mengerang tak karuan.
"Kau brengsek, Will." umpat Merry dengan kesal.
William nampak terkekeh dan permainannya di bawah sana semakin liar hingga membuat Merry hampir gila di buatnya.
Namun saat wanita itu hampir meledak tiba-tiba ponsel William berdering nyaring dan pria itu segera melepaskan istrinya itu lalu mengangkat panggilan tersebut.
"Ya, James." sahutnya kemudian.
"Baiklah, tapi mampir ke kampus istriku dulu sebentar." imbuhnya lagi.
Mendengar ucapan sang suami yang ingin pergi ke kampusnya, membuat Merry langsung melebarkan matanya.
Gairahnya yang hampir memuncak langsung padam begitu saja saat mengingat dosennya itu pasti tidak akan baik-baik saja jika bertemu dengan suaminya itu.