Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~234


"Selamat malam tuan William." sapa Marco saat menatap William yang sedikit tercengang dengan kehadirannya yang tiba-tiba.


Tangannya yang masih menggantung di udara langsung ia tarik saat tak di sambut oleh pria itu.


"Lama tak berjumpa ku rasa tuan William maupun tuan James pasti sangat baik." imbuhnya lagi seraya menatap William dan James bergantian.


"Seperti yang kamu lihat." timpal James dengan tak ramah, tatapannya seakan ingin melenyapkan pria itu sekarang juga.


Mengingat perbuatan pria itu pada sang istri beberapa bulan lalu yang membuatnya ingin sekali menghabisinya jika kembali muncul di hadapannya.


Merasakan pelukan James di pinggangnya sangat kencang membuat Anne sedikit meringis kesakitan, entah ada apa dengan suaminya itu.


"Baiklah, ku rasa aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan kalian." ucap Marco kemudian seraya menatap ke arah Celine yang terlihat mematung di tempatnya dan sebelum benar-benar berlalu pergi dari sana, Marco menatap Anne dengan pandangan datar yang sulit di artikan namun tersirat perasaan yang mendalam.


Setelah itu pria itu segera menjauh dari sana, berlalu meninggalkan pesta yang notabennya baru saja di mulai.


"Kenapa tanganmu dingin sekali ?" tanya Alex saat menggenggam tangan istrinya itu.


"Ti-tidak, mungkin ACnya terlalu dingin di sini." sahut Celine salah tingkah dan pandangannya nampak tak sengaja bertemu dengan William yang rupanya sedang tersenyum sinis padanya dan ia beralih ke arah James yang menatapnya dingin seperti biasanya.


"Sayang, aku tiba-tiba ingin minum. Ayo temani aku kesana !!" Celine langsung menarik tangan Alex menjauh dari sana.


Sementara Merry yang melihat suaminya nampak sinis pada kakak iparnya itu langsung mencubit pria itu. "Lihatlah, kau membuatnya ketakutan !!" ucapnya kemudian.


"Hanya orang yang bersalah yang merasa takut sayang, lagipula kenapa dia merasa takut? apa dia telah melakukan sebuah kesalahan ?" timpal William menatap istrinya itu.


"Mana aku tahu, tapi aku senang sejak kak Celine meninggalkan profesinya sebagai model dia lebih perhatian pada kak Alex. Ku harap mereka segera di karuniai seorang anak." sahut Merry dengan nada berharap.


Tak terasa malam pun semakin larut, Anne yang kini bersama dengan Merry nampak asyik berbincang di sebuah sofa hingga membuat mereka tak merasa bosan saat sang suami sedang menemui beberapa relasi bisnisnya.


"James masih ada beberapa relasi yang harus di temui." ucap William saat baru bergabung dengan mereka.


"Terima kasih tuan William, aku akan mencarinya." sahut Anne seraya beranjak dari duduknya, kemudian berlalu dari sana.


"Mau pulang ?" ucap William pada sang istri yang terlihat mulai lelah.


"Tentu saja, kamu tak berencana menghabiskan malam di sinikan ?" sindir Merry yang langsung membuat suaminya itu terkekeh.


"Jika kau tak malu melakukannya di sini." timpalnya dengan nada menggoda yang langsung mendapatkan cubitan di perutnya dari wanita itu.


"Astaga sayang, kenapa kau selalu menyiksaku." goda William lagi dengan terkekeh dan sedikit meringis merasakan panas bekas cubitan istrinya itu.


Sementara Anne yang sedang mencari keberadaan sang suami tak sengaja berpapasan dengan Marco, ia kira pria itu telah pergi dari sana hingga membuatnya langsung terkejut


"Apa kabar ?" tanya Marco menatap datar Anne.


"Baik." sahut Anne dengan menjaga jarak, kejadian beberapa bulan lalu di mana pria itu memaksa menciumnya masih membekas di ingatannya.


"Bagaimana kabar bayimu? ku harap sama baiknya sepertimu. Dia sangat cantik, matanya benar-benar mirip denganmu." ucap Marco dengan sedikit mengulas senyumnya seakan apa yang dia katakan benar-benar tulus dari hati.


"Terima kasih, dia sangat sehat." timpal Anne, ia tak harus mengetahui dari mana pria itu tahu perihal sang buah hati karena media online pernah mengeksposnya.


"Baiklah, aku harus segera menemui suamiku. Ku harap kamu selalu menjadi baik di mana pun berada." imbuh Anne lagi dengan membalas senyuman pria itu, semoga saja ini terakhir kalinya mereka bertemu.


Setelah itu Anne segera berlalu menjauh dari sana, mencari keberadaan sang suami lalu mengulas senyumnya dengan lebar saat melihat pria itu sedang bersama beberapa relasi kerjanya.


"Tapi aku takkan sebaik dirimu."


Marco nampak menatap penuh arti wanita itu, lalu segera berlalu pergi dari sana.


"Sudah, bicara apa bajingan itu padamu ?" timpal James dengan wajah datarnya.


"Maksudmu ?" Anne nampak tak mengerti dengan pembicaraan suaminya itu, apa jangan-jangan pria itu telah melihatnya berbicara dengan Marco?


"Jadi kamu tak mau cerita ?" James langsung sinis menatap istrinya itu.


"Ja-jadi kamu melihatnya ?" Anne balik bertanya.


"Aku selalu melihat dan tahu segalanya tentangmu, apa kamu sudah mulai pikun ?" ucap James dengan menohok yang langsung membuat Anne nampak salah tingkah.


"Bahkan kejadian yang coba kamu ingin tutupi pun aku selalu tahu." imbuh James lagi yang semakin membuat Anne tak bisa berkata-kata lagi, apa pria itu juga tahu jika ia pernah di lecehkan oleh Marco?


"A-aku bukan ingin menutupinya tapi aku tidak menyukai keributan lagipula itu semua sudah berlalu, tolong maafkan aku." mohon Anne kemudian.


"Apa kau menikmatinya saat dia menciummu ?" cibir James yang langsung membuat Anne melebarkan matanya.


"Kenapa kau membahasnya lagi ?" ucapnya dengan kesal, bahkan ia ingin melupakannya tapi suaminya justru membuka masalah itu lagi.


"Kenapa tidak mau menjawab? apa lebih nikmat dari ciumanku, hm ?" ucap James seraya meraih pinggang wanita itu hingga kini tubuh keduanya nampak rapat tanpa jarak.


Berbulan-bulan pria itu menahan amarahnya agar tidak mengganggu kehamilan wanita itu, namun kini saat berjumpa lagi dengan pria yang pernah mencuri ciuman di bibir istrinya itu tentu saja membuatnya kembali murka.


"Di-dia waktu itu memaksaku tapi aku langsung melawannya dengan menggigitnya hingga membuatnya kesakitan." sahut Anne dengan jujur.


James nampak berdecak, membayangkan bagaimana bibir keduanya saling menyentuh membuatnya langsung mengepalkan tangannya.


Kemudian pria itu segera mendekatkan wajahnya lalu m3lum4t bibir istrinya itu dengan rakus seakan ingin menghilangkan sisa-sisa sentuhan pria itu.


Sedangkan Anne hanya bisa pasrah saat suaminya semakin mendorong tubuhnya ke dinding belakangnya dan menciumnya dengan sedikit kasar.


"Kita lanjutkan di rumah."


Dengan suara beratnya, James langsung membawa istrinya itu pergi meninggalkan pesta tersebut.


Sementara itu di tempat lain Alex yang kini sudah sampai rumahnya langsung menuju ruang kerjanya.


Hidupnya yang mulai kesepian karena tidak hadirnya seorang anak di tengah pernikahannya dengan Celine membuatnya selalu menghabiskan waktunya dengan pekerjaan dan membiarkan istrinya itu berbuat sesukanya asal tak kembali ke dunia model yang selama ini di jalaninya.


Alex selalu meratukan wanita itu, memanjakannya dengan segala kemewahan karena ia sangat mencintainya.


Ting


Tiba-tiba terdengar sebuah notifikasi di ponselnya yang membuat pria itu langsung membacanya.


"Sial."


Alex nampak menatap seorang wanita cantik dengan pose yang sangat vulg4r hingga membuat keperkasaannya tiba-tiba bereaksi.


Seorang wanita asing yang entah siapa karena akhir-akhir ini sering sekali mengiriminya foto-foto tak senonoh padanya, saat ia mencoba menghubunginya pun tak pernah di jawab.


"Dasar j4l4ng, siapa sebenarnya kamu ?" umpatnya dengan kesal.


Di sisi lain, seorang wanita cantik dengan bartrobe menutupi tubuh polosnya nampak tersenyum sinis menatap beberapa panggilan tak terjawab di ponselnya.


"Permainan akan segera di mulai, ku pastikan kamu akan merasakan apa yang di rasakan oleh kakakku. Dasar J4l4ng si4l4n." umpatnya seraya menatap foto Celine di dalam bingkai yang ia letakkan di atas nakas.