Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~84


Tanpa menunggu jawaban William, Martin langsung beranjak berdiri kemudian melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


Ia yakin William pria sejati yang pasti akan menggunakan otaknya untuk mencerna setiap ucapannya.


Sementara itu William yang masih bersimpuh di lantai nampak mematung, akhirnya hari yang tidak ingin ia tunggu telah tiba juga.


Kemudian pria itu mulai bangkit dan melangkah dengan gontai meninggalkan Mansion tersebut.


William bukannya tidak ingin berjuang tapi ia menyadari sisi lain dirinya adalah monster dan suatu saat tanpa sadar ia pasti akan kembali menyakiti sang istri.


"Tuan, anda baik-baik saja ?" James yang sedari tadi nampak khawatir akhirnya lega saat melihat William keluar dari mansion tersebut dengan keadaan baik-baik saja.


"Hm." William hanya berdehem kecil kemudian segera masuk ke dalam mobilnya.


Melihat tuannya yang terlihat sangat sedih, James bisa memastikan apa yang sudah terjadi di dalam sana.


"Kembali ke mansion, tuan ?" tanya James kemudian.


"Hm."


James menatap sang tuan dari balik kaca spion depannya, kemudian pria itu mulai melajukan mobilnya.


"Dad, bukankah William harus tahu kehamilan Merry? bagaimana pun juga janin yang di kandung Merry adalah darah daging pria itu." ucap Alex setelah berada di kamar sang ayah, Martin yang sedang menatap kepergian William dari jendela kamarnya terlihat menghela napasnya dengan berat.


"Tidak, biarkan saja dia tidak tahu apapun tentang putriku." tegas Martin.


"Jadi apa rencana Daddy selanjutnya ?" meski Alex menyukai Merry tapi melihat bagaimana adiknya itu sangat mencintai William membuatnya tak tega jika harus memisahkan mereka.


"Sebelumnya kau pernah berjanji akan melakukan apapun untuk Daddy bukan ?" tegas Martin menatap putra angkatnya itu.


"Tentu saja Dad, bahkan nyawaku sendiri pasti akan ku serahkan jika Daddy mau." sahut Alex, pria itu sangat menyayangi Martin dan juga Sera jadi apapun pasti akan ia lakukan untuk mereka.


"Daddy minta menikahlah dengan Merry, anggap saja anak yang dia kandung sebagai anakmu sendiri." tegas Martin yang langsung membuat Alex terperanjat.


"Ta-tapi Dad...."


"Daddy tidak butuh alasan maupun penolakan, Lex." imbuh Martin yang tentu saja membuat Alex kembali menutup mulutnya saat hendak protes.


Jauh di dasar lubuk hatinya ia sangat senang sekali bisa menikahi Merry tak peduli gadis itu sedang mengandung janin pria lain.


Toh ia pasti akan menyayangi bayi itu seperti anaknya sendiri sebagai mana Martin dan Sera sangat menyayanginya meski ia bukan anak kandung mereka.


Namun yang menjadi pertimbangan pria itu adalah perasaan Merry, gadis itu pasti akan sangat terluka karena harus di paksa berpisah dengan William.


"Merry pasti akan menolak, Dad." ujar Alex kemudian bagaimana pun juga ia tidak ingin membuat adik angkatnya itu terluka dan kecewa.


"Kau sendiri tahukan kenapa aku melakukan ini? kelak suatu saat dia pasti akan berterima kasih untuk itu." sahut Martin, keputusannya sudah bulat.


Menyetujui hubungan putrinya dengan William sama saja dengan menjadikan putrinya itu tumbal kekejaman pria itu.


Beberapa hari kemudian....


"Makanlah, bukannya ibu hamil harus makan banyak." ucap Alex pagi itu, sudah beberapa hari ini Merry selalu mual dan muntah.


Wajahnya pucat dan tubuhnya semakin kurus, hingga membuat gadis itu tak beranjak sedikit pun dari kasurnya.


"Aku tidak mau makan lagi, nanti pasti akan muntah lagi." tolak Merry.


"Paling tidak perutmu akan terisi meski hanya sebentar." bujuk Alex tak menyerah.


"Kau selalu memaksa." Merry nampak mencebikkan bibirnya dan itu membuat Alex terlihat gemas.


Ingin sekali ia mencicipi bibir merah muda itu, pasti rasanya sangat manis namun Alex menyadari jika itu semua sudah menjadi milik pria lain.


"Paling tidak keponakan ku harus tumbuh sehat dan kuat." ujar Alex seraya menyuapkan makanan kepada adiknya itu.


Dengan terpaksa Merry membuka bibirnya menerima suapan demi suapan yang di berikan oleh sang kakak.


"Apa Daddy sudah menghubungi William ?" tanya Merry di tengah kunyahannya.


"Sudah." sahut Alex.


"Lalu kenapa dia belum juga datang? padahal aku ingin memberikan dia kejutan dengan kehamilanku." Merry terlihat kecewa karena hingga kini suaminya itu tak kunjung menemuinya.


"Mungkin dia sibuk apalagi Daddy sudah menyerahkan perusahaannya ke pria itu dan pastinya kesibukannya akan bertambah." terang Alex yang langsung membuat Merry melebarkan matanya tak percaya.


"A-apa? kenapa di serahkan ?" tanyanya tak mengerti, setahunya itu perusahaan sang ayah.


"Sebenarnya perusahaan Daddy adalah milik kakek William, meski sebenarnya Daddy mempunyai hak juga karena telah membantu mengurus dan membesarkannya selama bertahun-tahun tapi Daddy ikhlas." sahut Alex menjelaskan.


Merry nampak terdiam, kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri saat memikirkan hubungan antaranya ayahnya, William dan juga Arthur.


"Apa itu berarti William juga sama seperti Arthur menginginkan perusahaan Daddy ?"


Dadanya rasanya sesak saat memikirkan hal itu, apa mungkin William mendekatinya hanya demi harta seperti halnya Arthur.


Banyak sekali praduga dalam diri Merry namun gadis itu tetap berusaha mempercayai sang suami.


Beberapa hari kemudian Merry yang merasa sedikit lebih sehat nampak turun dari ranjangnya.


Gadis itu segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Biasanya pelayan akan membantunya namun kali ini ia ingin melakukannya sendiri.


Memenuhi bathtub dengan air hangat kemudian memberikan beberapa tetes sabun aroma terapi.


Lantas Merry segera menanggalkan pakaiannya satu persatu lalu mulai masuk ke dalam bathub tersebut dan merendam tubuhnya di sana.


Merry ingin tubuhnya lebih bertenaga dan lebih segar, agar di izinkan oleh ayahnya untuk pulang ke rumah suaminya.


Beberapa hari lalu Martin telah berjanji jika dirinya sudah kembali sehat maka ia boleh pulang ke rumahnya.


Dan Merry sudah tak sabar bertemu dengan pria itu, ayah kandung dari janin yang ia kandung saat ini.


"Daddy senang kamu sudah bisa jalan-jalan lagi." ucap Martin saat melihat putrinya menuruni anak tangga dengan pakaian yang sudah rapi, wajah putrinya mulai terlihat segar tidak pucat seperti sebelumnya.


Sejak mengetahui kehamilannya, Merry memang di nyatakan kurang sehat dan dokter menganjurkannya untuk tetap berada di ranjangnya sepanjang waktu demi kesehatan janinnya.


"Aku merasa sangat sehat Dad, sepertinya janin dalam perutku tidak tega terlalu lama membuat ibunya sakit dan sepertinya dia juga sudah sangat merindukan ayahnya." sahut Merry dengan semangat dan itu membuat Martin maupun Alex nampak saling berpandangan.


"Baiklah, ayo pergi sekarang." ajak Merry kemudian.


"Per-pergi kemana ?" Martin nampak terkejut dengan ajakan putrinya tiba-tiba.


"Tentu saja pulang ke rumahku Dad, rumah suamiku." sahut Merry dengan antusias.


"Apa kau benar-benar merasa sehat, Nak ?" tanya Martin kemudian, sudut hatinya sedikit tercubit saat anak gadisnya itu telah menjadikan pria lain sebagai sandaran hidupnya.


"Tentu saja, Dad." sahut Merry dengan yakin.


"Baiklah aku yang akan mengantarmu." Alex menawarkan diri.


"Tentu saja bukankah itu sudah kewajiban seorang kakak." kelakar Merry yang langsung membuat Martin dan Alex nampak mengulas senyum kecilnya.


Setelah itu mereka segera pergi meninggalkan mansionnya tersebut.


Setelah menempuh perjalanan lebih dari dua jam akhirnya mereka sampai juga di Mansion William.


Sungguh Merry sangat merindukan mansion dan suaminya itu.


"Will, aku datang." ucapnya saat baru turun dari mobilnya lalu melangkahkan kakinya menuju mansion tersebut.