
Sesampainya di rumah Anne segera turun dari mobilnya lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya.
"Tunggu !!" teriak James saat istrinya itu hendak masuk ke dalam kamarnya.
Anne menghentikan langkahnya namun enggan untuk menatap pria yang telah merenggut ciuman pertamanya itu.
"Perihal tadi ku rasa itu hanya masalah kecil, jadi lebih baik kau lupakan saja dan anggap saja tak pernah terjadi." tegas James dengan entengnya yang langsung membuat Anne berbalik badan menatapnya.
Wanita itu nampak tersenyum sinis menatap suaminya itu yang rupanya sangatlah brengsek.
"Tentu saja, bagiku itu sebuah kesialan dan kesialan bukannya harus di lupakan? tapi ku harap kau segera meminta maaf pada kekasihmu itu karena kamu telah menghianatinya dengan mencium wanita lain." tegasnya dengan menatap tajam pria itu, lalu ia kembali berbalik badan dan masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintunya sedikit keras.
Anne yang merasa kesal nampak bersandar di belakang pintunya, lalu tubuhnya luruh ke lantai saat mengingat bagaimana kasarnya pria itu menciumnya bahkan bibirnya masih terasa bengkak hingga sekarang.
Namun dengan mudahnya pria itu menyuruhnya untuk melupakannnya tanpa ada kata permintaan maaf terlebih dahulu.
"Kau benar-benar pria brengsek."
Sementara James yang masih berdiri di depan pintu kamar istrinya itu nampak menggantungkan tangannya di udara saat mendengar isakan wanita itu dari balik pintu, tadinya ia hendak mengetuk pintu kamar itu namun urung ia lakukan.
Akhirnya pria itu memilih menaiki anak tangga menuju kamarnya. "Hanya sebuah ciuman kenapa reaksinya berlebihan seperti itu." gumamnya seraya memutar kenop pintunya.
Sesampainya di kamarnya James segera membersihkan dirinya, tadinya ia yang sedang meeting bersama William dan para koleganya kini urung ia lanjutkan dan lebih memilih mengerjakan pekerjaannya dari rumah.
Setelah mengganti pakaian kerjanya dengan kaos rumahan James nampak merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Menggunakan sebelah tangannya sebagai bantalan lalu pandangannya lurus ke arah dinding depannya yang menampakkan sebuah bingkai besar berisi foto istri pertamanya itu yang terlihat sedang tersenyum padanya.
Seketika perasaan bersalah menelusup di hatinya, karena tanpa sengaja ia telah menghianati wanita itu dengan mencium bibir wanita lain.
"Maafkan aku." gumamnya, kemudian mengambil gawainya lalu mendial sebuah nomor, namun sepertinya nomor yang ia tuju sedang tidak aktif.
Lantas ia menghubungi nomor lainnya dan tak berapa lama panggilannya di jawab.
"Hallo, selamat sore tuan." sapa di Nick dari ujung telepon.
"Hm, di mana istriku Nick? nomornya tak bisa ku hubungi." tanya James to the point.
"Sepertinya sedang beristirahat di kamarnya tuan, karena sebelumnya beliau mengatakan jika sedang mengantuk." sahut Nick dengan suara sedikit terputus-putus.
"Kamu sedang di mana Nick ?" tanya James kemudian saat mendengar suara anak buahnya itu terdengar ngos-ngosan.
"Saya sedang membersihkan kolam ikan di halaman belakang tuan." terang Nick kemudian.
"Baiklah, jika istriku sudah bangun suruh menghubungiku !!" perintah James kemudian, lalu segera mengakhiri panggilannya.
Sementara itu Nick yang baru di hubungi oleh bossnya itu nampak meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, kemudian pria itu kembali melanjutkan aktivitasnya di mana saat ini nampak seorang wanita sedang berada di bawah tubuhnya.
"Mengganggu saja." gerutunya lalu kembali menghujam wanita cantik itu dengan rudalnya yang sempat layu akibat telepon mendadak dari atasannya tersebut.
"Sial, kau sangat nikmat." racaunya di tengah hujamannya yang pelan namun mentok sampai dalam hingga membuat wanita di bawahnya itu kelojotan tak karuan.
Malam harinya Anne yang baru mengerjapkan matanya tiba-tiba merasakan perih di perutnya, tadi siang ia hanya sempat makan sedikit karena saking sibuknya melayani pelanggan yang datang di restoran tempatnya bekerja.
Dengan mata masih mengantuk wanita itu keluar dari kamarnya lalu melangkah menuju dapurnya.
Tak ada makanan di sana dan mau tak mau ia harus memasak terlebih dahulu, kemudian ia mengambil beberapa butir telur dan sayuran untuk di jadikan omelet.
Sementara itu James yang baru menuruni anak tangga nampak berdehem kecil saat melihat istrinya itu sibuk di dapur, namun sepertinya wanita itu tak mendengarnya.
"Saya mau pergi, jika mau tidur jangan lupa cek semua pintu dan jendela." ucapnya seraya menatap istrinya itu.
"Hm." Anne hanya berdehem kecil seraya meletakkan omeletnya di atas piring.
James menghela napasnya sejenak kemudian pria itu berlalu begitu saja saat perkataannya tak di hiraukan oleh wanita itu.
"Pergi saja yang jauh tidak usah pulang sekalian." gerutu Anne seraya melirik kepergian suaminya itu, pria itu pasti hendak bermalam lagi dengan kekasihnya.
Kemudian wanita itu meletakkan piringnya yang berisi omelet di atas meja makan lalu mulai menyantapnya dengan perasaan kesal, bayang-bayang pria itu menciumnya dengan paksa tadi siang membuat nafsu makannya seketika menguap tetapi ia harus tetap makan karena menghadapi kenyataan juga membutuhkan tenaga.
"Aku membencimu, benar-benar membencimu." rutuknya dengan mengusap-usap bibirnya agar bekas ciuman pria itu menghilang dari sana.
Tak berapa lama pintu rumahnya kembali di buka dan itu membuatnya langsung terkejut, namun saat mengetahui siapa yang datang Anne kembali fokus dengan makanannya.
James yang membawa sesuatu di tangannya segera melangkah mendekati istrinya itu, tanpa berkata-kata pria itu langsung mengambil tangan wanita itu.
"Apa yang kau lakukan ?" Anne hendak menarik tangannya namun cengkeraman pria itu begitu erat.
James membuka sebuah salep dengan sebelah tangannya lalu mengoleskannya ke pergelangan tangan wanita itu yang terlihat memar dan tentu saja itu membuat Anne tercengang dengan perhatian yang tiba-tiba pria itu lakukan padanya.
"Ku harap kau tak mengadu ke nyonya Merry dengan tuduhan melakukan tindakan kekerasan." ucap James setelah memastikan salep tersebut di oles dengan rata.
Anne yang tadinya merasa senang dengan sikap peduli pria itu kini nampak menahan amarahnya, kemudian bangkit dari duduknya. "Kau tidak perlu khawatir tuan James, aku bukan wanita lemah yang harus mencari perlindungan pada orang lain." ucapnya dengan menatap kesal pria itu, lalu Anne segera meninggalkan tempat tersebut.
James yang di tinggal begitu saja, nampak menghela napas panjangnya. Entah kapan rumah tangganya dengan wanita itu akan berakhir.
Kemudian pria itu mendudukkan dirinya di kursi bekas wanita itu duduk, kepalanya rasanya berdenyut nyeri memikirkan persoalan hidupnya yang begitu rumit.
Ia akui dirinya telah melakukan kesalahan besar karena jatuh cinta pada wanita yang bosnya itu benci, namun bukannya kita takkan pernah tahu pada siapa hati akan berlabuh.
Lalu pandangan James tak sengaja jatuh ke arah piring di hadapannya itu, omelet yang baru setengahnya habis itu terlihat menggoda hingga tanpa sadar ia meneguk salivanya sendiri.
Tanpa berpikir panjang James langsung memakan omelet tersebut hingga tandas dan sepertinya pria itu juga tak menyadari jika ia telah menggunakan sendok yang sama dengan wanita itu.