Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~100


Merry nampak termangu saat pandangannya tak sengaja bertemu dengan William, jantungnya langsung berdetak kencang.


Ia tak menyangka bisa bertemu dengan pria itu di sini, pria yang selama ini masih ia harapkan kehadirannya meski itu hanya dalam mimpi.


Karena pada nyatanya, pria itu yang meninggalkan dan mencampakkannya begitu saja.


Sakit, itulah yang Merry rasakan saat ini dan nyatanya rindu yang ia pendam selama ini menguap begitu saja ketika melihat wanita cantik yang sedang duduk dengan angkuh di sebelah pria itu.


Wanita yang mungkin saja pria itu pilih untuk menjadi masa depannya, di lihat dari keintiman mereka.


Kini Merry hanya bisa berusaha mengumpulkan serpihan-serpihan hatinya yang telah hancur berkeping-keping, agar bisa bangkit kembali untuk menghadapi kenyataan jika pria yang ia tunggu selama ini hanyalah sebuah ilusi semata.


"Tuan William, inilah wanita yang saya maksud. CEO Nirwana yang tidak mengerti sopan santun itu, masuk kantor orang lain seperti preman. Dasar janda tidak tahu diri." terang tuan Weslyn dengan geram.


Mendengar makian pria itu Merry nampak tersenyum sinis, lalu wanita itu mengangkat wajahnya menatap William.


"Rupanya anda pemilik perusahaan ini, selamat tuan anda telah sukses menghancurkan perusahaan saya." ucapnya seraya bertepuk tangan.


Kemudian wanita itu segera berlalu keluar dari ruangan tersebut, rasanya sulit sekali bernafas saat berada satu ruangan dengan mantan suaminya itu.


Sementara itu William yang masih menegang di kursinya tak menyangka dengan apa yang ia lihat, pertemuan tak lebih dari dua menit itu sukses membuatnya linglung dan tak bisa berkata-kata.


Tubuhnya kaku dan bibirnya keluh saat melihat wanita yang selama ini berusaha ia lupakan dari hidupnya itu tiba-tiba muncul di hadapannya.


Namun saat mantan istrinya itu telah pergi meninggalkan ruangannya, William tanpa sadar langsung beranjak seakan tidak rela jika wanita itu pergi.


"Kejar dia James !!" perintahnya seraya melangkahkan kakinya.


"Sayang, kamu mau kemana? Sudah biarkan saja pergi, dasar wanita kampungan bukankah kalah dalam berbisnis itu hal lumrah." teriak Vivian saat kekasihnya itu meninggalkannya di ruangannya tersebut seorang diri.


William dan James nampak berlari menuju lift yang di ikuti oleh tuan Weslyn yang sepertinya sedang bingung dengan sikap bos besarnya beserta kaki tangannya itu.


"Sial." umpat William saat tak mendapatkan mantan istrinya itu di lobby kantornya.


"Apa kau melihat di kemana wanita tadi pergi ?" tanya James pada securitynya yang sedang berjaga di lobby.


"Baru saja pergi dengan taksi, tuan." sahut security tersebut.


William yang sudah tak sabar nampak berlalu ke arah mobilnya yang sedang di parkir tak jauh dari sana.


Bayangan wajah mantan istrinya yang menyimpan begitu banyak kesedihan bercampur kebencian terhadapnya membuat hatinya seketika sakit.


"Tuan, anda mau kemana ?" tanya James yang sedang mengikuti tuannya itu.


"Tentu saja mengejarnya, James." sahut William, pria itu nampak membuka pintu mobilnya dengan sedikit kasar kemudian segera duduk di balik kemudinya.


"Biar saya saja, tuan." ucap James namun langsung di potong oleh pria itu.


"Duduk dan diamlah James jika mau ikut !!" perintah William dengan tak sabar yang membuat asistennya itu mau tak mau patuh dan langsung duduk di sebelahnya.


Setelah James duduk, William segera mengemudikan mobilnya meninggalkan kantornya tersebut.


Pria itu belum mengetahui jalanan di negara tersebut dan ia hanya mengandalkan feelingnya saja.


Inilah yang William takutnya jika bertemu dengan mantan istrinya itu, ia pasti tidak akan mampu mengendalikan dirinya.


Wanita itu seperti magnet baginya dan saat berdekatan ia akan menjadi gila jika tak dapat memeluknya.


Rupanya 4 tahun adalah hal sia-sia baginya, bahkan Vivian yang akhir-akhir ini intens menghiasi hari-harinya tak mampu membuat seorang Merry sedikitpun lenyap dari sanubarinya.


"Kita sudah menglilingi kota ini tapi sama sekali tak ada petunjuk keberadaan nyonya muda, tuan." ucap James saat William menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Kenapa kau tidak mengatakan jika pemilik perusahaan itu adalah dia, James ?" tanya William yang terlihat prustasi.


"Maaf tuan, saya tidak menyelidiki sebelumnya. Selama ini saya hanya melihat data-data dari tuan Weslyn." terang James.


"Kenapa dia sekurus itu James? apa dia tidak bahagia dengan keluarga barunya? kenapa dia pontang-panting mengurus perusahaannya sendiri lalu di mana suaminya? di mana Alex ?" banyak sekali yang ingin William tahu.


"Apa perlu saya cari tahu, tuan ?" tanya James, ia takut salah langkah karena sebelumnya atasannya itu benar-benar tak ingin mendengar kabar apapun perihal mantan istrinya itu.


"Dan kau masih bertanya tentang hal itu ?" sahut William dengan kesal, sejak kapan asistennya itu tak peka dengan keadaannya.


"Baik tuan, saya akan memerintahkan seseorang untuk segera menyelidikinya." sahut James.


Sementara itu di tempat lain, Merry nampak memesan sebuah kamar hotel. Harusnya ia pulang hari ini juga, namun sungguh ia tak ingin keluarganya melihat keadaannya yang rapuh.


Mantan suaminya itu seolah menyedot seluruh semangat hidupnya, ia rapuh benar-benar rapuh.


"Kenapa kamu lakukan ini padaku Will, kenapa ?" gumamnya di sela isak tangisnya, wanita itu tak menyangka jika di balik kesulitannya selama ini ada mantan suaminya sebagai dalangnya.


Apa pria itu belum cukup mencampakkannya hingga harus membuatnya benar-benar menderita? Rupanya ucapan cinta yang pernah terlontar dari bibirnya itu hanya sebuah ilusi untuk mendapatkan tubuhnya secara sukarela.


"Aku membencimu, sangat membencimu William Smith." imbuhnya lagi.


Keesokan harinya....


"Tuan, saya sudah mendapatkan beberapa informasi perihal nyonya Merry." ucap James pagi itu.


William yang sedang prustasi nampak bermalam di kantornya, pria itu terlihat berantakan seperti baru bangun tidur.


Weslyn yang baru datang dengan James nampak terkejut melihat penampilan bos besarnya itu.


"Katakan !!" perintah William.


"Saya hanya mendapatkan informasi beliau sejak dua tahun terakhir tuan, karena kehidupan beliau sebelumnya sangat tertutup rapat dari publik." terang James.


"Katakan !!" William nampak tak sabar.


"Sejak dua tahun lalu beliau menggantikan tuan Martin mengelola perusahaannya dan status beliau waktu itu seorang janda beranak satu." imbuh James yang langsung membuat William terkejut.


"Jadi dia sudah mempunyai anak ?" William masih tak percaya, meski itu mungkin saja bisa terjadi karena yang ia pikirkan mantan istrinya itu pasti sudah menikah dengan Alex.


"Benar tuan, tapi orang suruhan saya masih berusaha menggali informasi tentang beliau lagi." sahut William.


"Apa dia sudah bercerai dengan Alex ?" William nampak semakin penasaran saat mendengar status mantan istrinya itu dan jauh dalam lubuk hatinya ia merasa bersyukur wanita itu tak terikat dengan pria manapun.


"Orang suruhan saya masih dalam penyelidikan, tuan. Karena nyonya Merry benar-benar menutupi kehidupan pribadinya dari publik kecuali statusnya." sahut James menerangkan.


"Wanita itu memang janda gatal tuan, saya yakin dia pasti sudah menggunakan tubuhnya untuk mendapatkan proyek dari tuan Alan." timpal Weslyn yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.


Mendengar hinaan dari bawahannya itu, William nampak mengepalkan tangannya.


"Jaga bicaramu tuan Weslyn, apa kau tidak tahu siapa wanita yang kau bicarakan itu ?" tegur James dengan menatap tajam pria yang berdiri tak jauh darinya itu.


"Maaf tuan saya hanya mengatakan kabar yang beredar dari kalangan pebisnis akhir-akhir ini." terang Weslyn yang semakin membuat William naik pitam.


"Cepat pergi dari sini tuan Weslyn, kau membuat tuan William semakin marah saja." perintah James seraya mengajak pria itu untuk keluar dari ruangan atasannya tersebut, sebelum tuannya itu memecahkan kepalanya.


Tuan Weslyn yang tak tahu menahu nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan perubahan sikap tuannya itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa tuan William sangat marah saat membicarakan wanita itu? apa beliau sudah mengenalnya sebelumnya?"


Banyak sekali pertanyaan dalam benak tuan Weslyn, namun pria itu memutuskan meninggalkan kantor tersebut untuk mencari udara segar.


Sepertinya menemui Samantha di Apartemennya akan membuatnya lebih baik.


Di sisi lain, Merry yang baru keluar dari bandara dan dalam perjalanan pulang nampak menghubungi seseorang.


"Al, bisa kita bertemu? aku sudah membuat keputusan." ucapnya yang tentu saja langsung membuat Alan nampak senang.


"Akhirnya dia menyerah juga." gumamnya seraya mengangkat sudut bibirnya keatas membentuk sebuah senyuman.