
"A-apa yang sedang kamu lakukan pada bu Merry ?" teriak Anne.
Malam itu saat Anne hendak mencari Merry di toilet, wanita itu nampak terkejut saat melihat atasannya itu sedang berada dalam gendongan seseorang dengan keadaan tak sadarkan diri.
Dirinya yang hendak berteriak meminta tolong pun tiba-tiba di pukul tengkuknya dari belakang oleh orang tak di kenal hingga ia tak ingat apa-apa lagi setelah itu.
"Sangat merepotkan." gerutu James saat membawa Anne ke dalam gendongannya.
"Sebenarnya apa yang dia makan, bagaimana bisa tubuh sekecil ini berat sekali ?" imbuhnya lagi saat membawa wanita itu lewat pintu belakang hotel tersebut.
James terpaksa membawa Anne juga karena wanita itu bisa saja menggagalkan rencana sang tuan untuk menculik mantan istrinya jika di biarkan berkeliaran begitu saja.
Apalagi wanita itu juga telah melihat William membawa mantan istrinya itu pergi.
"Sial." umpatnya saat hujan tiba-tiba turun dengan deras, pria itu mau tak mau membawa wanita itu menyeberangi hujan agar sampai ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.
Beberapa saat kemudian sesampainya di hotel tujuannya, James meletakkan Anne di atas ranjangnya.
Pakaian wanita itu yang lumayan basah karena hujan terpaksa pria itu lepaskan meski harus menelan ludahnya berkali-kali saat melihat tubuh setengah polosnya.
"Damn." umpat James saat matanya tak sengaja melihat gundukan kenyal milik Anne yang sedikit menyembul akibat memakai bra yang kekecilan atau memang milik wanita itu yang terlalu besar hingga tak muat di sana.
Sungguh James tak ingin peduli dan segera membuang jauh-jauh pikirannya tersebut lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh wanita itu.
Keesokan harinya.....
"Ka-kau ?" Anne langsung terkejut saat melihat seorang pria di ranjang yang sama dengannya pagi itu.
Sementara James yang juga sedang menatapnya nampak bersikap sinis padanya, kemudian pria itu segera beranjak dari ranjangnya.
"Jangan pergi dulu kau harus memberikan penjelasan padaku !!" teriak Anne saat pria itu hendak melangkah pergi.
"Tak ada yang perlu di jelaskan." sahut James dengan suara beratnya, pria itu terus saja melangkah pergi.
"Tentu saja ada, apa semalam kau melecehkan ku ?" tuding Anne begitu saja yang tentu saja membuat James langsung menghentikan langkahnya lalu berbalik badan.
"Kau pikir dirimu semenarik itu ?" cibir James menatap gadis itu.
"Kau...." Anna langsung melotot menatap pria itu, ingin rasanya ia m3r3m4s mulutnya yang mengeluarkan kata-kata pedas itu.
Tapi saat menatap tubuh setengah polos pria itu, Anne nampak menelan ludahnya. Sepertinya pria itu sangat menjaga badannya hingga tetap atletis.
Perutnya yang liat serta ototnya yang berbentuk kotak-kotak terlihat sangat seksi di matanya.
Namun saat menyadari tatapan sinis pria itu, Anne langsung membuang mukanya. "Sial, sempat-sempatnya aku mengaguminya." umpatnya dengan kesal.
"Saya tidak pernah tertarik dengan wanita kurus yang tubuhnya seperti papan." tegas James yang langsung membuat Anne bersungut-sungut, tapi ada kelegaan di hatinya karena pria itu pasti tak menyentuhnya semalam.
"Lalu di mana pakaianku apa kamu yang sudah lancang melepasnya ?" tuduh Anne.
"Semalam aku menemukan mu pingsan di pinggir jalan dan pakaianmu basah kuyup karena hujan. Aku tidak mungkin membiarkan ranjangku kotor hanya karena ulahmu." terang James, meski sedikit berdusta agar wanita itu tak banyak bertanya.
Karena James paling malas harus berurusan dengan makhluk yang bernama perempuan, baginya perempuan hanya merepotkan saja.
"Ja-jadi benar kau yang melepaskannya ?" Anna langsung merapatkan selimut di tubuhnya.
"Tidak usah berpikir macam-macam, kamu pikir saya tertarik pada tubuhmu yang kurus itu ?" ucap James dengan nada cibiran kemudian pria itu kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Sedangkan Anne yang masih berada di atas ranjangnya, nampak lega. Lagipula dia tak merasakan sakit di daerah intimnya dan sudah ia pastikan pria itu tak berbuat macam-macam semalam.
Namun saat mengingat peristiwa semalam wanita itu nampak berpikir keras. "Lalu siapa yang memukulku semalam? lalu bu Merry..." Anne langsung mengingat atasannya semalam yang telah di culik oleh seorang pria.
"Ah sial." umpatnya saat melihat ponselnya dan juga milik atasannya itu mati total karena kehabisan baterai.
Tak berapa lama James keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan tentu saja itu membuat Anne langsung mengalihkan pandangannya.
"Dasar tak tahu malu." gerutunya kemudian, meski ia akui tubuh pria itu sangat atletis dan sangat bersih karena tak ada tato yang menghiasi.
Karena wanita itu tidak menyukai pria bertato apalagi merokok.
James kembali masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa pakaiannya dan tak berapa lama pria itu keluar dengan penampilan yang sudah rapi.
"Cepat bersihkan dirimu, saya tidak suka menunggu !!" perintahnya seraya memberikan sebuah paper bag pada wanita itu.
Anne yang merasa lega karena tak harus berlama-lama dengan pria itu di dalam kamar yang sama segera beranjak dari ranjangnya dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Sementara itu di tempat lain, Merry yang sudah bersiap pergi ke kantornya nampak terkejut ketika melihat William datang ke rumahnya pagi-pagi sekali.
"Apa yang kamu lakukan di sini ?" sinisnya kemudian, apa pria itu tak mempunyai pekerjaan.
"Tentu saja bertemu dengan putraku." sahut William dengan kedua tangannya penuh dengan berbagai macam mainan lalu memberikannya pada mantan istrinya itu.
"Tak harus sekarang juga, karena aku belum mengatakan yang sebenarnya padanya." timpal Merry kemudian meletakkan mainan tersebut di atas kursi yang ada di teras rumahnya.
"Lalu sampai kapan kamu akan merahasiakan padanya jika aku adalah ayah kandungnya ?" protes William tak terima dengan sikap mantan istrinya itu.
"Tolong bersabarlah, aku tidak ingin dia terkejut dengan kedatanganmu yang tiba-tiba." sahut Merry.
"Lagipula aku ingin membuat beberapa kesepakatan padamu dahulu." imbuhnya kemudian.
"Baiklah, katakan !!" William nampak tak sabar kesepakatan apa yang di inginkan oleh wanita itu.
"Tidak sekarang, karena aku harus ke kantor." sahut Merry seraya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kau benar-benar mempermainkan ku." geram William lalu melangkah menuju motornya dan mengambil sebuah helm, sabar.
"Pakailah !!" perintahnya kemudian.
"Kamu mau apa ?" Merry nampak memicing saat pria itu menyuruhnya memakai helm, apa dia sedang bermimpi? bagaimana bisa seorang William Smith yang terhormat tiba-tiba membawa motor.
Apa pria itu sudah jatuh miskin? tapi rasanya tak mungkin bahkan hartanya mungkin takkan habis tujuh turunan meski pria itu berfoya-foya sekali pun.
Meskipun motor yang pria itu gunakan motor sport keluaran terbaru, tapi rasanya aneh saja bagi Merry.
"Tentu saja mengantarmu ke kantor, kamu ingin kita berbicara di sana kan ?" sahut William.
"Tapi tidak harus naik motomu juga, aku punya mobil sendiri." tolak Merry lalu segera melangkahkan menuju mobilnya sendiri.
Namun ia langsung terkejut saat matanya tak sengaja melihat roda depannya yang kempes.
"Kenapa bisa bocor, perasaan kemarin baik-baik saja ?" gerutunya dengan kesal.
Melihat itu diam-diam William nampak menarik sudut bibirnya.
"Apa kau ingin membuang-buang waktu hanya untuk melihat mobilmu yang tak berguna itu ?" teriaknya kemudian.
Merry terlihat kesal, kemudian ia menghentakkan kakinya menuju motor William. Pagi ini ia ada meeting penting jika memesan taksi online pasti akan menunggu lama lagi.
Dan mau tak mau Merry menerima ajakan pria itu, untung hari ini ia memakai celana bahan hingga memudahkannya untuk menaiki motor tersebut.
"Pegangan jika tak mau jatuh !!" perintah William saat mantan istrinya itu baru naik ke atas motornya dan tentu saja sontak membuat Merry langsung melebarkan matanya.