
Malam itu Anne yang merasakan udara dingin menyentuh kulitnya langsung mengerjapkan matanya. "Sudah malam ternyata." gumamnya saat melihat kaca jendela yang gelap, ketika mengingat sang suami yang sedang demam ia segera beranjak duduk.
"Kemana dia ?" gumamnya lagi saat tak melihat siapa pun di sana, televisi yang tadinya menayangkan drama Korea favoritnya kini telah di matikan.
"Mungkin pindah ke kamarnya." sambungnya lalu Anne segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya, saat melewati jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan halaman rumahnya langkahnya langsung terhenti.
Tak ada mobil suaminya terparkir di luar sana, mungkin pria itu sudah pergi lagi. Kemudian Anne segera menutup hordennya, lalu ia bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk melanjutkan tidurnya karena esok hari ia harus pergi bekerja.
Sementara itu James yang sedang memacu kendaraannya nampak sesekali mengulas senyumnya ketika menatap berbagai macam buah-buahan yang ia beli di sebuah toko buah.
Setelah menempuh satu jam perjalanan kini pria itu menghentikan mobilnya di sebuah rumah, meski hanya satu lantai tapi rumah tersebut nampak sangat luas dan mewah dengan sebuah mobil terparkir di halamannya.
"Tuan." sapa seorang pria menyambut kedatangan James.
"Hallo Nick, bagaimana kabarmu ?" sapa James seraya menutup pintu mobilnya lalu memberikan sebagian barang bawaannya pada orang kepercayaannya tersebut.
"Saya baik tuan, terima kasih sudah menyempatkan waktu datang kesini." sahut pria bernama Nick tersebut.
"Ini rumahku Nick dan ada istriku tinggal di sini ku harap kau tak lupa itu." tegas James, meskipun ia jarang pulang ia tak suka di perlakukan seperti tamu di rumahnya sendiri.
"Maaf tuan, maksud saya nyonya Grace pasti sangat senang dengan kedatangan anda." ralat Nick.
James tak lagi menanggapi pria itu lagi, kini ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya tersebut.
"Kau sudah datang ?" seorang wanita paruh baya dengan dandanan menor langsung melebarkan senyumnya saat melihat kedatangan anak menantunya tersebut.
"Bagaimana kabarmu, mom ?" sapa James.
"Seperti yang kau lihat, mommy baik-baik saja. Ayo temui istrimu di kamarnya sepertinya dia sangat merindukanmu." sahut wanita tersebut.
James langsung mengangguk. "Tolong mommy simpan." ucapnya seraya menyerahkan beberapa kantong belanjaan pada ibu mertuanya tersebut, kemudian ia melangkahkan kakinya ke arah belakang rumahnya di mana kamarnya berada.
Klik
Suara pintu langsung terbuka saat James memutar kenopnya, di sana nampak seorang wanita cantik sedang duduk di sofa dengan posisi membelakanginya sembari membaca sebuah majalah fashion.
James langsung tersenyum lalu memeluk wanita itu dari belakang. "Apa kau merindukanku, hm ?" lirihnya yang langsung membuat wanita itu menoleh padanya.
"Sayang, sejak kapan kau datang ?" ucapnya dengan wajah terkejut.
"Baru saja." James langsung melepaskan pelukannya lalu memutari kursinya dan setelah itu duduk di samping wanita itu.
"Bagaimana kabarnya ?" James langsung mengusap lembut perut wanita itu yang terlihat sedikit membesar.
"Dia sedikit menyiksaku." sahut wanita itu, wajahnya terlihat pucat sepertinya akibat kehamilannya yang masih berjalan hampir 3 bulan.
"Maafkan aku yang jarang menemanimu di saat seperti ini." James merasa sangat bersalah.
"Tidak apa-apa sudah ada Nick yang menemaniku." sahut Grace dengan mengulas senyum tipisnya, namun saat melihat raut wajah sang suami yang nampak tak suka membuat wanita itu segera meralat ucapannya.
"Maksudku saat aku ingin sesuatu ada Nick yang selalu membantuku." ucapnya kemudian.
"Aku sangat merindukanmu sayang, bisakah kita bicara hanya tentang kita saja." Grace nampak merapatkan tubuhnya lalu tangannya terulur untuk mengusap dada bidang di balik kemeja yang pria itu kenakan.
"Aku juga sangat merindukanmu." James menyentuh dagu wanita itu lalu mengarahkan wajahnya padanya, namun saat ia hendak mencium bibirnya tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk lalu tak berapa lama nampak sosok Nick masuk dengan membawa sebuah nampan.
James yang melihat itu langsung menggeram kesal, sejak kapan pria itu berani masuk ke dalam kamar pribadinya.
"Aku yang menyuruhnya." seakan tahu apa yang di pikirkan sang suami Grace segera memberikan penjelasan.
"Aku sangat menginginkan mangga itu, makanya saat kamu datang aku menyuruh dia untuk mengupasnya untukku." sambungnya lagi.
"Benar tuan saya juga membawa segelas susu untuk nyonya dan juga teh hangat untuk anda." terang Nick kemudian.
"Hm, terima kasih tapi lebih baik kau segera pergi dari sini karena kami ingin beristirahat." tegas James menatap pria itu.
"Baik tuan." Nick langsung mengangguk namun sebelum pergi pria itu nampak menatap ke arah Grace sejenak, lalu segera menutup pintunya kembali.
"Nick sudah membuatkan mu teh hangat, ayo minumlah biar badanmu hangat." ucap Grace kemudian.
"Hm." James mengambil segelas teh tersebut lalu segera menyesapnya.
"Sayang, kapan kamu akan mendaftarkan pernikahan kita ?" tanya Grace sembari makan buah mangga yang terlihat segar dan manis itu.
James yang mendengar itu nampak terdiam sejenak. "Setelah tuan William merestui kita." sahutnya kemudian.
"William takkan pernah merestui kita, kebenciannya pada mommy sudah mendarah daging." ucap Grace dengan nada kesal.
James nampak menghela napasnya, hubungannya dengan wanita itu begitu pelik. Grace yang notabennya adik tiri William membuatnya tak mendapatkan restu dari pria itu. Namun itulah cinta kadang hadir tanpa bisa di duga.
James yang waktu itu belum mengetahui siapa Grace yang sebenarnya telah menjatuhkan hatinya pada wanita itu, namun saat ia ingin menjalin hubungan serius William sangat murka dan memerintahkannya untuk menjauhi wanita itu.
Namun takdir berkata lain, karena tanpa ia duga tiba-tiba Grace mengaku jika telah mengandung buah cinta mereka dan pada akhirnya ia terpaksa menikahinya meskipun tanpa restu sang tuan.
"Tolong berikan aku waktu, aku janji sebelum anak kita lahir tuan William sudah memberikan restunya." bujuk James.
"Janji ?" Grace nampak mencebikkan bibirnya.
"Janji, tapi menurutku legalitas juga tak terlalu penting karena aku bukan pria brengsek yang tak bertanggung jawab. Sampai kapanpun aku akan memenuhi semua kebutuhanmu dan anak kita nanti." terang James kemudian.
Namun sepertinya Grace kurang setuju dengan pendapat pria itu, meski di negaranya sebuah legalitas pernikahan tak terlalu penting namun ia akan tetap memperjuangkannya karena suaminya itu bukan orang biasa.
Meski James hanya tangan kanan seorang William namun pria itu juga masuk dalam salah satu orang terkaya di negaranya dan ia tak ingin hanya menjadi bayang-bayangnya saja.
William memang tak pernah mengakuinya sebagai saudara tirinya tapi paling tidak orang kepercayaan pria itu sudah ia taklukkan dan itu membuat ibunya sangat bangga.
"Terima kasih, aku akan menunggu saat itu tiba." ucapnya kemudian dengan mengulas senyumnya.
James yang sangat merindukan wanita yang ia nikahi beberapa bulan yang lalu itu langsung mengecup bibirnya.
"Aku sangat menginginkan mu bukankah kita sudah lama tak melakukannya." ucapnya kemudian, terakhir bercinta dengan istrinya itu saat sebelum ia pergi ke Indonesia.