Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~63


Langit mulai gelap dan Merry yang berada di rumahnya nampak sedang menunggu suaminya itu pulang.


Meski hatinya masih kecewa mengingat William belum mendaftarkan pernikahannya, tapi jika mengingat bagaimana perhatian pria itu padanya selama ini membuatnya sedikit luluh.


Mungkin nanti ia akan membahasnya karena ia tidak akan mengandung anak pria itu sebelum hubungan mereka benar-benar serius layaknya suami istri pada umumnya yang saling mencintai.


Beberapa saat kemudian Merry langsung mengulas senyumnya saat melihat siapa yang mengiriminya sebuah pesan.


"William." gumamnya, lalu segera membuka pesan tersebut.


Deg !!


Merry langsung terperanjat saat melihat foto suaminya yang sedang tertidur pulas di suatu tempat.


"William malam ini akan tidur bersamaku jadi jangan mencarinya."


Isi pesan tersebut yang rupanya di kirim oleh Natalie mengingat wanita itu juga berfoto di dekat suaminya itu.


"Brengsek." Merry langsung mematikan ponselnya lalu melemparnya ke atas ranjangnya.


"Bersenang-senanglah aku juga akan bersenang-senang, kamu pikir aku akan meratapi hubungan kalian? itu hanya perbuatan konyol."


Merry segera berganti pakaian kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya lalu berjalan mengendap-endap ke arah ruang kerja suaminya itu.


Kali ini wanita itu tidak akan kabur dengan membuat para pengawalnya pingsan seperti sebelumnya karena itu hanya akan menyulitkan mereka.


Karena kini Merry telah menemukan pintu rahasia lain di ruang kerja suaminya yang mana pintu tersebut langsung menuju pintu keluar Mansionnya.


Pantas waktu itu Natalie bisa tiba-tiba menghilang di ruangan tersebut rupanya lewat pintu itu.


Meski belum berhasil membuka pintu rahasia yang berada di balik rak buku itu, tapi Merry bangga karena telah berhasil membuka pintu lainnya.


"Pak Artha bisa tolong jemput saya di simpan tiga Green Valley."


Merry segera menulis pesan lalu mengirimnya pada dosennya tersebut.


"Dengan senang hati." balas Artha, pria itu nampak tersenyum menyeringai menatap pesan yang Merry kirim.


Tanpa ia paksa kini umpan pun datang sendiri padanya.


Artha sebenarnya adalah Arthur, pria itu sengaja memalsukan identitasnya agar bisa mendekati Merry tanpa di curigai oleh William.


Membuat wanita itu menjadi miliknya dan otomatis harta Martin akan jatuh pada pria itu.


Martin, Arthur dan William dahulu adalah sahabat karib, namun nasib Arthur kurang beruntung karena tak sesukses William dan Martin.


Keserakahan Arthur yang ingin menguasai harta salah satu dari mereka membuatnya selalu mengadu domba William dan Martin.


Apalagi saat mengetahui William diam-diam menaruh hati pada putri kecilnya Martin dan itu ia jadikan sebagai senjata agar kedua sahabatnya itu saling membunuh.


Mengingat William mempunyai penyakit mental akut yang jika kambuh akan membahayakan orang sekitarnya dan tentu saja Martin pasti tidak akan rela jika putri satu-satunya di sunting oleh pria gila itu.


Dan waktu itu Arthur selalu menghasut agar Martin semakin membenci William.


Merry yang tak menggunakan kendaraan nampak menyusuri jalan menuju simpan tiga Green Valley tak jauh dari Mansion sang suami.


"Kau baik-baik saja ?" Arthur memasang wajah khawatir saat baru keluar dari dalam mobilnya.


"Aku sedang kurang baik." sahut Merry dengan wajah sedihnya.


"Baiklah ayo cerita di dalam mobil saja." Arthur langsung menuntun Merry masuk ke dalam mobilnya.


Pria itu nampak memasangkan sabuk pengaman Merry lalu mulai melajukan mobilnya dengan pelan.


"Katakan ada apa? kenapa malam-malam begini kamu pergi dari rumah, apa tuan William sedang memarahimu ?" cecar Arthur dengan nada lembut, seakan siap menjadi pendengar yang bagi gadis itu.


Merry nampak menatap dosennya itu sejenak. "Aku sedang tidak ingin cerita, bisakah kamu membawaku ke tempat yang menyenangkan ?" mohon Merry kemudian.


"Tentu saja." sahut Arthur, meski gadis itu belum ingin cerita masalahnya tapi ia yakin itu semua berhubungan dengan William dan ia akan mencari tahu sendiri nanti.


Arthur nampak menghentikan mobilnya di sebuah club malam permintaan Merry.


"Kamu yakin kamu ingin masuk kesini ?" tanya Arthur memastikan, meski ia berharap gadis itu tak mengurungkan niatnya karena itu akan memudahkannya untuk memperdayanya.


"Tentu saja, jika kamu tak ingin menemaniku aku akan masuk sendiri." sahut Merry lalu membuka pintu mobilnya.


"Baiklah, aku akan menemanimu." Arthur pun bergegas keluar dari mobilnya lalu mengejar Merry yang terlebih dahulu masuk ke dalam tempat hiburan tersebut.


Merry yang nampak kesal segera menghempaskan bobot tubuhnya di depan meja bartender.


"Mau minum, nona ?" tawar bartender itu.


"Baiklah, non alkohol ya." sahut Merry dengan tak ramah.


"Siap, nona." Bartender tersebut segera meracik segelas mocktail lalu memberikannya pada gadis di hadapannya itu.


"Satu." Arthur yang baru saja duduk di samping Merry langsung memesan juga, namun pria itu memesan minuman berakohol.


"Merasa lebih baik ?" ucap Arthur kemudian.


"Begitulah." sahut Merry seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut bar tersebut.


Arthur nampak menyesap segelas alkohol yang baru ia pesan. "Sedikit minuman berakohol mungkin akan membuatmu lebih baik." tawarnya pada Merry.


"Tidak, aku payah jika minum alkohol." tolak Merry sebenarnya ia bisa saja memesan minuman tersebut tapi ia ingin tetap waras saat berada di tempat seperti ini.


Lagipula ia mempunyai tujuan lain datang kesini, lalu Merry mengambil ponselnya kemudian mengambil beberapa fotonya yang belatar belakang bar tersebut.


"Kita lihat siapa yang akan datang kemari ?" Merry nampak mengirim foto tersebut kepada James, sepertinya gadis itu ingin tahu apa William akan datang mencarinya sendiri atau justru memilih menghabiskan malam panjang bersama Natalie.


"Alkohol kadar tinggi bagi pemula sepertimu pasti akan payah, tapi jika kau memulainya dengan yang ringan itu akan membuatmu terbiasa." terang Arthur yang langsung membuat Merry mengerutkan dahinya.


"Tenang saja aku tidak akan memaksamu minum itu, aku bukan seorang pengajar kurang ajar." imbuh Arthur saat pandangan Merry nampak heran padanya.


"Tenang saja aku hanya becanda." timpal Merry sembari terkekeh.


"Baiklah aku akan coba." imbuhnya lalu memesan segelas minuman sesuai petunjuk dosennya tersebut.


Arthur nampak tersenyum miring saat Merry mulai menyesap minuman yang baru di pesannya itu.


Malam masih panjang dan masih banyak juga kesempatan untuk membuat gadis itu tak berdaya dengan sendirinya tanpa ia paksa.


Namun sepertinya malam ini kurang beruntung bagi pria itu karena pandangannya tak sengaja ke arah pintu bar di mana Alex baru saja masuk.


"Brengsek, bukannya pria itu ada di kota x kenapa bisa berada di sini ?"


"Merr, bagaimana kalau kita ke tempat lain saja ?" tawar Arthur kemudian.


"Tidak, aku suka di sini." tolak Merry karena gadis itu sedang mempunyai tujuan lain di tempat tersebut.


Arthur nampak berpikir keras sebelum Alex melihat Merry, sedangkan ia tidak mungkin memaksa gadis itu karena citranya akan buruk dan Merry pasti akan membencinya nanti.


"Baiklah, bagaimana kalau kita ke lantai dansa saja sepertinya lebih menyenangkan ?" ajak Arthur kemudian.


"Tenang saja aku akan melindungimu di sana." imbuh Athur saat Merry nampak berpikir.


"Baiklah." sahut Merry lalu beranjak dari duduknya.


Arthur segera membawa Merry ke lantai dansa yang penuh dengan pengunjung.


Paling tidak tempat ini paling aman dari pengawasan Alex yang saat ini telah duduk di ujung ruangan.


Dan ia akan memikirkan cara selanjutnya untuk memberdaya gadis itu.


"Ini sangat menyenangkan." ucap Merry seraya menggoyang badannya mengikuti irama musik yang memekikkan telinga.


"Bersenang-senanglah." ucap Arthur kemudian.


Beberapa saat kemudian Merry merasa tangannya ada yang menarik dan itu membuatnya menjauh dari dosennya tersebut.


"Artha tolong aku." teriak Merry namun suara musik yang memekikkan telinga serta banyaknya pengunjung membuat pria itu tak mendengarnya.


"Tolong lepaskan aku." mohonnya saat posisinya semakin menjauh dari Arthur dan pria asing berpakaian hoodie yang sedang memunggunginya itu terus saja menarik tangannya menjauh dari sana.