Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~271


"Apa ?" Marco langsung mengernyit mendengar pengakuan Celine.


"Aku hamil dan ini anakmu." ulang wanita itu lagi penuh harap, semoga pria itu dengan senang hati mau mengakui janin dalam kandungannya.


"Ck, kau yakin itu anakku ?" Marco langsung tersenyum sinis menatap wanita itu.


"Tentu saja, apa kau tak ingat berapa kali kita berhubungan hah ?" Celine nampak tak percaya bagaimana bisa pria itu menyangkalnya mentah-mentah.


"Kenapa kamu tidak berpikir jika itu adalah anak suamimu ?" ucap Marco, ia yakin itu bukan darah dagingnya dan ia bisa membuktikan hal itu.


"Itu tidak mungkin, bulan lalu kami hanya berhubungan sekali dan dia membuangnya di luar." terang Celine mengingat sejak 5 tahun yang lalu setiap suaminya menyentuhnya selalu membuang benihnya di luar, pria itu seakan tak rela jika ada bagian dari dirinya yang akan tumbuh dalam rahimnya.


"Apa kau pernah tidur dengan pria lain selain denganku maupun suamimu ?" timpal Marco kemudian yang tentu saja membuat Celine langsung bersungut-sungut.


"Apa maksudmu? jadi kau mengira janin ini milik pria lain? apa kau sudah lupa telah meniduriku berkali-kali dan membiarkan benihmu tumbuh di rahimku hah ?" dengusnya dengan kesal.


Marco nampak menghela napasnya sejenak, kemudian pria itu berlalu ke arah nakas di samping ranjangnya. Membukanya lantas mengambil selembar kertas lalu menyerahkan pada wanita itu.


"Baca dan pahami itu, sejak bertahun-tahun yang lalu aku di vonis infertil atau kemandulan oleh dokter. Jadi tidak mungkin aku bisa menghamilimu, kecuali kau telah tidur dengan pria lain selain aku dan suamimu." terang Marco kemudian.


Sebelumnya pria itu telah tidur dengan banyak wanita tanpa menggunakan pengaman berharap salah satu dari mereka bisa menerima benihnya dan akan tumbuh menjadi janin, namun nyatanya hingga kini tak ada satu pun wanita yang datang meminta pertanggung jawaban padanya.


Akhirnya Marco yakin jika vonis dokter adalah ketentuan yang mutlak jika ia memang mandul.


Sementara Celine yang masih mencermati selembar kertas di tangannya itu nampak tak percaya. "Tidak, ini tidak mungkin."


"Sudah jelas bukan? jadi pergilah dari sini, kau benar-benar mengganggu tidurku." gerutu Marco seraya berlalu membuka pintu apartemennya agar wanita itu segera pergi dari sana.


"Tunggu, apa kau yang telah menyebarkan video itu? apa maksudmu melakukan itu semua, apa salahku padamu hah ?" Celine yang tak terima langsung menyudutkan Marco karena hanya pria itu yang menyimpan video mereka.


"Video apa? aku tidak tahu." timpal Marco dengan santainya.


"Apa kau belum melihat berita pagi ini ?" Celine langsung menunjukkan beberapa berita perihal dirinya di ponselnya dan itu membuat Marco pura-pura terkejut.


"Secepatnya itu rupanya." lirih pria itu menanggapi.


"Apa maksudmu ?" Celine langsung memicing menatapnya.


"Ponselku hilang semalam, entah jatuh atau ketinggalan di bar aku lupa. Wanita tadi terlalu menggodaku semalam hingga membuatku melupakan segalanya." sahut Marco tanpa perasaan dan itu membuat Celine semakin kesal.


"Benar-benar ceroboh." Celine langsung mencakar dan memukuli pria itu secara membabi buta untuk melampiaskan kekesalannya, namun Marco segera mencekal tangannya.


"Pergi dari sini, atau ku panggilkan security untuk melemparmu ke jalanan !!" geramnya kemudian saat merasakan perih di sudut bibir dan sebagian pipinya akibat cakaran wanita itu.


"Aku benar-benar menyesal telah mengenalmu." Celine menatap tajam pria itu lalu segera menghentakkan kakinya meninggalkan Apartemen tersebut.


Sepanjang jalan Celine nampak meratapi nasibnya, ia benar-benar mendapatkan hukuman atas perbuatannya selama ini.


Sebelumnya ia memang pernah melakukan one night stand dengan seorang pria saat dirinya sedang mabuk dan kemungkinan besar janin yang ia kandung adalah milik pria itu.


Lantas kemana ia harus mencari pria asing itu, ia pun tak mengingat wajahnya. "Ah, sial." umpatnya kemudian, ia benar-benar ceroboh.


Saat melihat jalanan yang sepi, Celine langsung melangkah menyeberang menuju apartemennya yang selama ini ia biarkan kosong begitu saja. Namun.....


"Aaarrgghhh."


Celine berteriak saat tiba-tiba sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi menabraknya hingga membuatnya terpental jauh.


"Astaga, aku tak sengaja melakukannya." ucap seorang pria yang mengendarai mobil tersebut, tak ingin bermasalah dengan hukum pria itu kembali menancap gasnya kabur dari sana meninggalkan Celine yang nampak tak sadarkan diri.


Keesokan harinya....


"Syukurlah, kau sudah sadar Nak. Bagaimana keadaanmu, apa lebih baik ?" ucap seorang wanita paruh baya setelah putrinya itu baru tersadar dari pingsannya.


"Kemarin kamu di temukan dalam keadaan tak sadarkan diri di tengah jalan, apa seseorang telah menabrakmu ?" terang sang ibu yang duduk di kursi sampingnya itu.


"Hm." Celine mengangguk kecil setelah mengingat kejadian yang menimpanya kemarin sebelum ia tak sadarkan diri.


"Bagaimana dengannya ?" Celine nampak melirik perutnya yang masih rata itu dan itu membuat sang ibu langsung menatapnya iba.


"Tolong ikhlaskan dia Nak, dia sudah tenang di atas sana." sahut sang ibu dengan berhati-hati, berharap putrinya itu bisa menerima kematian bayi dalam kandungannya.


"Itu lebih baik, dia hanya akan mengacaukan hidupku saja." timpal Celine tanpa perasaan dan itu membuat sang ibu nampak geleng-geleng kepala, putri semata wayangnya itu memang sangat keras kepala akibat ia terlalu memanjakannya saat masih kecil.


Sementara itu Alex yang sedang berada di kantornya nampak menggeram kesal saat sebagian proyeknya jatuh ke tangan Marco.


Ia tak menyangka Elsa memberikan proyek miliknya pada pria itu. "Sebenarnya ada hubungan spesial apa di antara mereka ?" ucapnya penasaran.


"Saya kurang tahu tuan, tapi akhir-akhir ini nona Elsa dan tuan Marco sering bertemu di sebuah bar." timpal sang asisten.


"Bar ?" Alex langsung memicing.


"Benar tuan, mereka sering menghabiskan waktu bersama di sana." terang asistennya itu lagi hingga membuat Alex semakin geram.


Apa pesona Marco begitu kuat hingga membuat istrinya dan juga wanita itu terperdaya dalam rayuannya, benar-benar memuakkan.


Rasanya Alex mulai merasa krisis kepercayaan terhadap seorang wanita, nyatanya wanita yang ia anggap berbeda pun rupanya sama saja.


Hanya mempermainkan perasaannya sesuka hatinya, datang hanya untuk menggodanya dan berlalu pergi saat ia mulai terlena. Sial.


D tempat lain, Elsa yang baru sampai di sebuah bar nampak mengedarkan pandangannya mencari seseorang lalu senyumnya sedikit terbit saat orang yang ia cari sedang duduk di meja bartender di ujung ruangan tersebut.


"Apa kau menunggu lama ?" ucapnya hingga membuat Marco langsung menoleh.


"Tidak juga." timpalnya seraya menatap Elsa, lagi-lagi wanita itu berpenampilan sangat sederhana tanpa make up menghiasi wajahnya dan pakaian yang di kenakannya pun tak seseksi seperti biasanya.


Apa misi wanita itu sudah selesai? entahlah Marco hanya menebaknya, tapi melihat bagaimana wanita itu menghancurkan Celine pasti ada sesuatu yang terjadi sebelumnya.


"Aku hanya ingin berterima kasih padamu jadi minumlah sepuasmu aku yang traktir." ucap Elsa kemudian.


"Benarkah? tentu saja aku takkan menyia-nyiakan kesempatan langka ini." sahut Marco sembari mengisap sebatang rokok di tangannya.


"Jadi apa kau menerima tawaranku untuk mengembangkan proyek itu, aku yakin jika kita bekerja sama kita bisa mengalahkan proyek milik Alex bahkan proyek lebih besar seperti milik William sekalipun." tawar Marco kemudian, namun Elsa hanya menanggapinya dengan senyuman sinisnya.


"Aku tidak tertarik dan ku rasa ini hari terakhirku di sini." sahutnya lalu menyesap minumannya.


"Apa maksudmu ?" Marco langsung mengernyit tak mengerti dengan perkataan wanita itu.


"Nanti malam aku akan kembali ke Jerman dan mungkin takkan kembali ke sini lagi." sahut Elsa seraya mengedarkan pandangannya, negara yang penuh dengan cerita pilu hidupnya dan ia akan segera melupakannya.


Marco nampak menatap kesedihan yang mendalam di mata wanita itu dan ia semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi padanya.


"Apa ini semua ada hubungannya dengan Celine ?" tanyanya kemudian dan itu membuat Elsa langsung terkekeh.


"Sejak kapan kau peduli dengan urusan orang lain selain urusan yang menguntungkan perusahaanmu, tuan Marco ?" cibirnya kemudian.


"Ya kau benar." Marco langsung terkekeh lalu kembali menyesap minumannya.


Saat Elsa mengedarkan pandangannya, wanita itu tak sengaja melihat kedatangan Alex bersama asistennya.


"Apa kau mau membantuku untuk terakhir kalinya ?" ucapnya kemudian.


"Tentu saja, katakan !!" sahut Marco, namun selanjutnya pria itu langsung melebarkan matanya saat tiba-tiba Elsa mencium bibirnya.