
"Will, kamu baik-baik saja ?"
Merry melangkah mendekati sang suami yang nampak sedang menatapnya dengan wajah dingin.
Kemudian gadis itu tiba-tiba menghempaskan bobot tubuhnya begitu saja di pangkuan suaminya itu, lalu melingkarkan kedua tangannya di lehernya hingga membuat pria itu langsung terkejut.
"Apakah tubuhku terlalu berat ?" tanya Merry dengan manja dan tentu saja membuat William terkekeh dan melupakan amarahnya yang tadinya siap meledak.
"Menurutmu ?" William balik bertanya seraya mengangkat sedikit wajahnya menatap istrinya itu.
"Sepertinya akhir-akhir ini berat badanku naik." cebik Merry yang seakan tidak rela jika tubuhnya mulai bergemuk.
"Bukannya itu seksi, honey ?" William menanggapi dengan seringaian menggoda.
"Jadi kamu tak keberatan jika aku bergemuk ?" Merry balik bertanya, ia takut jika dirinya nanti hamil suaminya itu tak suka karena pasti berat badannya akan melonjak drastis.
"Sepertinya kau akan bertambah seksi dan aku tak sabar menunggu waktu itu tiba." sahut William yang langsung membuat Merry mengulas senyumnya.
"Terima kasih." Merry langsung mengecup pipi suaminya itu, tidak hanya sekali tapi berkali-kali kecupan ia daratkan di wajah pria itu.
"Ayo." ajaknya kemudian seraya menarik tangan William agar segera beranjak dari duduknya.
William yang berada dalam mood baiknya nampak melupakan segala kesalahan istrinya yang telah meminum obat pencegah kehamilan dan mungkin ia akan membahasnya nanti.
"Bagaimana jika Natalie tetap menolak dan membawa masalah kemarin ke jalur hukum ?" tanya Merry ketika mobil mereka mulai melaju, mengingat Natalie telah mengancam suaminya jika tetap meninggalkannya maka akan melaporkan dirinya dalam kasus penganiayaan.
"Apa kamu lupa siapa aku, honey ?" William balik bertanya.
"Aku ingin menyelesaikan masalah ini secara baik-baik, Will." mohon Merry.
"Kita lihat saja nanti." sahut William dengan wajah datarnya.
"Bukannya kau sudah berjanji akan belajar mengendalikan emosimu ?" Merry akan selalu mengingatkan pria itu agar tidak mengotori tangannya lagi apalagi tak lama lagi pasti dirinya akan hamil dan pria itu akan menjadi seorang ayah.
"Aku tahu itu." sahut William, pandangannya nampak lurus ke jalanan depannya itu.
Sesampainya di Apartemen Natalie, William segera menekan bel dan tak berapa lama Natalie keluar dari sana.
"Will...." serunya namun tertahan saat melihat Merry sedang berdiri tak jauh dari William.
"Mau ngapain kau kesini? apa mau melukaiku lagi dasar gadis kampungan ?" geramnya pada Merry.
"Will, kenapa kau bawa gadis kurang ajar itu kesini ?" tanya Natalie pada William kemudian.
"Tenangkan dirimu Nat, masuklah kita bicara di dalam saja." William memerintahkan Natalie untuk segera masuk ke dalam Apartemennya.
Sebenarnya William enggan membawa Merry ke Apartemen Natalie karena pasti akan berakhir ricuh namun demi membuat istrinya itu percaya mau tak mau William mengajaknya.
Lagipula tanpa ada istrinya pun ia pasti bisa membuat Natalie tak berkutik.
"Pengacaraku sedang membuat laporan dan ku pastikan tak lama lagi kau akan mendekam di penjara." terang Natalie yang langsung membuat Merry akan membuka suaranya namun William sudah menyelanya terlebih dahulu.
"Aku sudah memperingatkan mu Nat, tapi kenapa masih kamu lakukan ?" tegur William kemudian.
"Aku hanya mencari keadilan bukannya orang salah harus di adili? apa kamu tidak kasihan padaku, lihatlah gara-gara luka ini aku membatalkan beberapa pemotretan." Natalie berucap dengan nada rendah seakan ingin di kasihani oleh William.
"Laporkan saja tidak takut." ucap Merry tiba-tiba.
"Waktu itu aku hanya mendorongmu pelan tapi bagaimana bisa sampai kamu terjatuh kecuali kamu yang sengaja menjatuhkan diri." imbuh Merry kemudian.
"Kau..." Natalie langsung melayangkan tangannya ke arah Merry namun dengan sigap William segera mencekal pergelangan tangan wanita itu.
"Kenapa kamu suka sekali menyakiti istriku Nat, bukankah aku sudah memperingatkan mu sebelumnya? jangan sampai kamu kehilangan satu tanganmu hanya karena ulahmu sendiri." William mulai geram.
"Tapi dia yang mulai cari gara-gara." cibir Natalie, ia sama sekali tak takut dengan ancaman William karena ia tahu William tak akan benar-benar menyakitinya mengingat bagaimana dulu ia pernah menyelamatkan nyawa pria itu.
"James perlihatkan cctv di ruang kerja ku padanya !!" perintah William kemudian.
Di sana terlihat Natalie sedang melayangkan tamparannya pada Merry, namun Merry langsung mencekal tangan wanita itu lalu menghempaskannya.
Setelah tangannya di hempaskan oleh Merry, Natalie nampak tak jatuh namun beberapa detik kemudian wanita itu terlihat menjatuhkan dirinya ke belakangnya hingga pelipisnya terbentur ujung meja kerja William.
"I-ini...." Natalie nampak tak percaya, sebelumnya ia tak berfikir jika William akan memeriksa cctvnya.
"Ma-maafkan aku Will." ucapnya kemudian seraya mendekati William.
"Aku tidak menyangka kamu benar-benar sepicik ini, Nat. Mulai detik ini jangan pernah muncul di hadapanku dan istriku lagi atau kamu akan merasakan akibatnya." tegas William dengan menatap tajam wanita yang sudah ia kenal bertahun-tahun itu.
"Kamu tidak bisa melakukan ini padaku Will." protes Natalie, tidak muncul di hadapan William itu seperti menyuruhnya untuk pindah ke negara lain mengingat bagaimana pria itu selalu bekerja sama dengan beberapa perusahaan yang menjadikannya sebagai brand ambassadornya.
"Itu hukuman atas kebodohan mu." terang William.
"Aku tidak mau, Will. Apa kamu lupa siapa dulu yang menyelamatkan nyawamu, jika tidak ada aku mungkin kamu sudah tiada sekarang." Natalie langsung mengingatkan William tentang jasanya karena biasanya itu menjadi senjata ampuh untuk menaklukkan pria itu.
"Dan kamu juga sudah berjanji kan sebagai rasa terima kasihmu padaku, kamu akan selalu berada di sampingku." Natalie berkata dengan lembut seraya mendekati William, membawa pria itu ke masa-masa di mana ia telah menolongnya dulu.
Seketika William terdiam, dahulu ia memang pernah berjanji pada Natalie apapun yang terjadi takkan meninggalkan wanita itu.
"Kamu masih ingatkan ?" ulang Natalie lagi saat William terdiam.
Pagi itu beberapa tahun silam saat Natalie akan berangkat audisi bersama manajernya, ia menemukan seorang pria yang sedang tergeletak di semak belukar di sebuah taman.
Kemudian wanita itu dengan terpaksa membawa pria yang sedang terluka parah bahkan wajahnya yang penuh dengan darah dan sulit di kenali itu ke rumah sakit.
Namun siapa sangka pria itu ternyata adalah seorang William Smith, pebisnis kaya raya di usianya yang terbilang masih muda.
William yang waktu itu mendapatkan harta warisan dari sang kakek rupanya sangat pandai mengelolanya hingga membuatnya sukses sampai saat ini.
"Tuhan benar-benar mengirim malaikat padamu, sayang." ucap sang manajer saat tahu siapa pria yang di tolong oleh Natalie.
Natalie yang tadinya terpaksa menyelamatkan William, kini tiba-tiba merasa bersyukur karena ia bisa bertemu dengan seorang William yang tentu saja akan membuat masa depannya kelak menjadi cemerlang.
"Syukurlah kau sudah sadar, aku sangat mengkhawatirkanmu." ucapnya saat William baru sadar setelah beberapa hari mendapatkan perawatan di rumah sakit.
"Siapa kamu dan di mana ini ?" William nampak memegang kepalanya yang terasa sakit, selain mendapatkan luka tembak pria itu juga mendapatkan luka di kepalanya akibat pecahan botol yang di lakukan oleh musuh-musuhnya di sebuah club malam.
"Perkenalkan aku Natalie, aku menemukan mu di pinggir jalan beberapa hari lalu kemudian aku langsung membawamu ke rumah sakit ini." sahut Natalie.
"Terima kasih banyak." sahut William.
"Sekarang katakan apa yang kamu inginkan, akan ku berikan semua yang kamu inginkan ?" ucap William, kini pria itu nampak duduk bersandar di tempat tidurnya.
"Aku tidak ingin apa-apa, aku sebatang kara di dunia ini jadi bisakah kita berteman dekat saja." terang Natalie dengan wajah sedihnya.
"Tentu saja, mulai hari kamu adalah tanggung jawabku. Terima kasih sudah menyelamatkan ku." William mengulas senyumnya.
"Terima kasih juga." Natalie nampak bersyukur bisa mengenal seorang William.
"Maaf sebelumnya, aku sering mendengar gosip tentangmu di majalah bisnis jika kamu telah menikah tapi sepertinya kamu menyimpan pernikahanmu dengan rapat ?" Natalie mulai ingin tahu kehidupan pribadi William beberapa hari setelah itu.
"Benar, aku sudah menikah dan saat ini istriku sedang hamil." sahut William, wajah pria itu nampak datar hingga membuat Natalie bisa menebak jika pria itu tak bahagia dengan pernikahannya.
"Apa istrimu akan baik-baik saja jika suaminya harus melindungi wanita lain ?" pancing Natalie lagi.
"Tidak ada yang bisa memerintahku, apapun yang terjadi aku akan selalu melindungimu." tegas William.
"Berjanjilah !!" mohon Natalie.
"Ya aku berjanji." sahut William.
"Aku tahu kamu bukan pria pengecut Will, karena hanya pria pengecut yang akan mengingkari janjinya." ucapan Natalie sukses membuyarkan lamunan William tentang masa lalunya.
"Jadi apa kamu ingin mengingkari janjimu sendiri ?" imbuh Natalie lagi menatap pria di hadapannya itu.