Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~42


Keesokan paginya Merry nampak mengerjapkan matanya saat cahaya matahari yang menyelinap melalui celah horden mengenai wajahnya.


Kemudian gadis itu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamarnya lalu berakhir ke sisih ranjangnya yang terlihat William sedang mendengkur halus di sana.


Merry langsung terperanjat saat mengingat kejadian semalam, lalu gadis itu segera bangkit dari tidurnya.


Namun kepalanya yang tiba-tiba pusing membuat gadis itu urung turun dari ranjangnya.


"Tidur sebentar, masih pagi." ucap William kemudian menarik pinggang gadis itu lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya.


Merry terlihat pasrah, sepertinya peristiwa semalam membuatnya sedikit trauma untuk membantah pria itu.


Tak berapa lama William nampak mendengkur kembali, sepertinya pria itu masih sangat mengantuk.


Merry yang menempel di dada bidang William hanya diam membisu, merasakan denyut jantung pria itu ya berdetak cepat.


Setelah merasakan suaminya sangat pulas Merry mencoba melepaskan pelukan pria itu dengan pelan agar ia bisa segera beranjak bangun.


Namun sepertinya William memeluknya dengan sangat erat hingga membuatnya mau tak mau menunggu pria itu terbangun dan pada akhirnya Merry ikut tertidur juga.


Siang harinya Merry baru terbangun saat ponselnya berdering nyaring, namun saat ia akan menjawabnya panggilan tersebut langsung berakhir.


Merry segera beranjak dari tidurnya lalu melihat layar ponselnya untuk mengetahui siapa yang telah menghubunginya.


Setelah mengirim sebuah pesan pada sang penelepon, Merry meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


Lalu menoleh ke sisihnya dan tak ada suaminya di sana, mengingat sudah siang mungkin pria itu pergi bekerja pikirnya.


Merry segera beranjak dari ranjangnya kemudian berlalu ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian gadis itu terlihat segar dengan celana pendek serta t'shirt yang membungkus tubuh rampingnya.


"Nona, saya membawakan makan siang untuk anda." ucap Hanna setelah masuk ke dalam kamar nyonyanya tersebut.


Wanita bertubuh gempal dengan pakaian pelayan itu nampak membawa nampan besar yang berisi berbagai menu makanan dan buah kesukaan Merry.


"Saya belum lapar." ucap Merry yang terlihat sedang berdiri di depan jendela membelakangi pelayannya tersebut.


"Tuan berpesan anda harus menghabiskannya nyonya, semua makanan ini sangat baik untuk rahim anda." ucap Hanna menjelaskan yang langsung membuat Merry berbalik badan menatap wanita itu.


"Sudah ku bilang aku tidak mau makan dan percuma juga aku memakannya, karena aku tidak akan mungkin bisa hamil." teriaknya namun bersamaan itu William nampak masuk ke dalam kamar tersebut.


"Bagaimana kamu bisa tahu, jika kamu tidak mungkin hamil ?" terang William yang sontak membuat Merry menelan ludahnya.


Sedangkan Hanna langsung menunduk saat melihat kedatangan sang tuan.


"Bu-bukan begitu, mak-maksudku...." Merry yang berjalan mendekati suaminya itu terlihat gugup.


William nampak memberikan kode pada pelayannya agar segera meninggalkan kamarnya tersebut.


"Katakan, apa kamu tidak ingin mengandung anakku ?" William menatap tajam gadis di depannya itu.


Merry nampak menggigit bibirnya lalu kedua tangannya m3r3m4s celananya.


"Ma-mau." sahutnya dengan pasrah.


"Bagus, sekarang makanlah !!" William langsung membawa istrinya itu untuk duduk.


"Tapi aku belum lapar." Merry nampak tak selera melihat makanan di hadapannya itu.


"Cepat makan honey, atau mau ku suapi dengan cara lain ?" ancam William yang membuat Merry langsung mengambil sendok lalu mulai memakannya.


Meski terpaksa, Merry tetap memasukkan makanan tersebut dalam mulutnya.


Saat melihat wanita itu William nampak mengangkat sudut bibirnya, namun saat istrinya balik menatapnya pria itu langsung bersikap datar kembali.


Beberapa saat kemudian semua makanan yang ada di atas meja tersebut telah pindah ke dalam perut Merry.


"Aku tahu kamu sangat suka makan jadi lain kali jangan membuat alasan tidak ingin makan." terang William menatap istrinya itu sejenak, kemudian pria itu segera beranjak dari duduknya.


"Tunggu !!" Merry langsung berdiri lalu mendekati William saat melihat punggung pria itu yang terdapat banyak luka memar seperti bekas cambukan.


"Apa kamu terluka ?" tanyanya seraya memeriksa punggung suaminya itu.


"Hanya luka kecil." sahut William.


"Luka kecil bagaimana? Ini terlihat sangat parah. Ayo aku akan mengobatimu." Merry nampak membawa suaminya itu duduk di atas sofa.


"Tunggu di sini, aku akan mengambil obat sebentar !!" imbuhnya lagi kemudian berlalu mengambil kotak obat.


William yang melihat kekhawatiran di wajah istrinya itu nampak mengangkat sudut bibirnya.


Namun pria itu langsung bersikap datar kembali saat gadis itu kembali dengan kotak obat di tangannya.


"Ini sedikit sakit tapi lukanya akan cepat mengering." ucapnya lalu mengoles salep obat pada kulit William yang terluka.


Ini kedua kalinya Merry melihat punggung suaminya terluka dan ia tidak mengetahui penyebabnya, apa suaminya sedang di siksa oleh seseorang? entahlah terlalu dini untuk menyimpulkan.


Tapi rasanya tidak mungkin jika seorang pria seperti William mendapatkan siksaan dari seseorang, bukankah pria itu seorang iblis pencabut nyawa.


"Katakan siapa yang melakukannya ?" tanya Merry setelah selesai mengobati punggung pria itu.


"Apa itu sebuah kepedulian terhadap suami, honey ?" William nampak menaikkan sebelah alisnya menggoda gadis itu.


Merry terlihat salah tingkah. "Bu-bukan begitu." ucapnya seraya beranjak dari duduknya, namun William langsung menarik tangannya hingga gadis itu terduduk di pangkuannya.


"Bukan begitu apa ?" ulang William sambil menatap istrinya itu.


"A-aku peduli sebagai sesama manusia." sahut Merry dengan cepat.


William menatap dalam istrinya itu. "Begitu juga tidak apa-apa, asal kamu tetap berada di sini berada di sisihku selamanya." ucapnya kemudian.


Merry balik menatap suaminya itu, nampak banyak sekali luka di mata pria itu.


"Kenapa ?" tanya Merry dengan lirih.


"Kenapa ?" William nampak mengernyit.


"Kenapa aku tidak boleh pergi ?" ulang Merry.


"Apa harus ada alasan ?" William menatap dalam gadis itu.


"Aku butuh alasan." terang Merry.


"Tidak semua membutuhkan alasan, honey." sahut William.


"Tapi aku ingin sebuah alasan yang membuatku yakin untuk tetap berada di sini." desak Merry.


"Ayo katakan kamu mencintaiku, karena hanya kata itu yang membuatku ingin bertahan." imbuhnya dalam hati.


"Kamu akan tetap aman berada di sini." sahut William yang langsung membuat Merry nampak kecewa.


"Memang siapa yang ingin melukaiku? bukankah kamu juga jahat, menculikku dan menikahiku dengan paksa." cibir Merry dengan kesal.


"Paling tidak aku tidak membunuhmu atau menjualmu ke hiburan malam." sarkas William yang langsung membuat Merry menelan ludahnya.


Merry akui meski William sangat kejam tapi selama ini pria itu tidak pernah melukainya bahkan sangat peduli padanya hingga membuatnya perlahan jatuh hati meski terkadang ucapan yang keluar dari bibir pria begitu pedas di dengar.


"Segera bersiap honey, aku akan mengajakmu ke suatu tempat !!" perintah William seraya menyuruh wanita itu untuk beranjak dari pangkuannya.


"Kemana ?" Merry menatap curiga.


"Suatu tempat yang pastinya kamu akan suka." sahut William seraya melangkah ke arah lemarinya.


"Benarkah, apa kamu akan membawaku ke tempat orang tuaku berada saat ini ?" tanya Merry mengikuti langkah suaminya itu.