
Mendapatkan dua kali cambukan dari William membuat Merry benar-benar tak berdaya, gadis itu nampak terkulai lemas di lantai.
William seakan tidak mengenali dirinya dan itu membuat Merry bertekad untuk menyadarkan pria itu jika yang di lakukannya selama ini adalah salah.
Pria itu harus belajar menguasai dirinya sendiri dan mengendalikan emosinya yang tak terbendung.
William bukanlah orang jahat namun entah masa lalu apa yang pria itu alami hingga membuatnya menderita penyakit mental akut seperti itu.
Dengan gontai Merry nampak bangkit, meski rasanya tulang-tulangnya hampir terlepas dari tubuhnya tak peduli pria itu menggeram dan bersiap melayangkan cambuknya lagi.
"Tatap aku Will, tatap mataku !!" ucap Merry yang kini berada di dekat pria itu.
"Ku perintahkan menjauhlah !!" hardik William saat wanita di hadapannya itu semakin mengikis jarak di antara mereka.
"Lihat aku Will, kuasai dirimu dari amarah yang sedang membelenggumu. Kau tidak boleh kalah, Lihat aku apa kau mengingatku hm ?" Merry menatap suaminya itu dengan intens, sebelah tangannya nampak meraih rahang William lalu membelainya dengan lembut.
"Kau orang baik, Will. Kendalikan dirimu ku mohon." imbuh Merry dengan lirih.
William merasa kepalanya akan meledak, kepingan masa lalu tiba-tiba melintas di otaknya.
" Anak kurang ajar, enyah dari hadapanku !!" seorang pria nampak menendang seorang anak kecil hingga terkulai di atas lantai.
"Kamu sudah mengertikan jika melawanku maka yang kau hadapi adalah ayahmu sendiri ?" timpal seorang wanita dengan sebelah tangannya berada di pinggangnya lalu sebelahnya lagi menunjuk ke arah anak kecil itu.
"Dasar bocah tak berguna." wanita itu langsung menendang anak kecil tersebut dengan keras.
Di waktu lain nampak anak kecil itu memohon ampun saat sang ibu tiri menghajarnya tanpa ampun hanya karena ia tak ingin berbagi mainan dengan kakak tirinya.
"Sudah syukur aku mengasuhmu, tahu begitu aku melemparmu saja ke jalanan." umpat wanita itu.
"Ampun mom, ampun." teriak anak tersebut saat ibunya itu tak berhenti mencambuknya.
Di kesempatan lain keluarganya nampak menertawainya dan mengejeknya saat dirinya mendapatkan nilai merah di sekolahnya.
"Lihatlah kakakmu selalu mendapatkan nilai bagus dan kau si bodoh yang selalu bikin malu kami."
"Anak tak berguna, kenapa tidak pergi ke neraka saja ikut ibumu itu ?" teriak sang ibu tiri, kemudian menyeretnya ke dalam kamar mandi lalu menguncinya dari luar.
Aaarrgghhh
William nampak memegang kepalanya, kepingan-kepingan masa lalu yang begitu menyiksanya membuat kepalanya seakan ingin pecah.
"Will sadarlah, lihat aku !!" Merry nampak menangkup kedua rahang suaminya itu.
Nampak lelehan air mata dari mata William yang sedang terpejam itu.
"Aku mencintaimu, Will." lirih Merry hingga membuat pria itu langsung mengerjapkan matanya.
"Aku mencintaimu, tolong jangan seperti ini. Aku tidak tahu masa lalu seperti apa yang kamu lalui tapi kamu harus tahu jika ada aku yang akan selalu menyayangimu." imbuh Merry lagi.
"Katakan sekali lagi ?" lirih William yang nampak tak mempercayai pendengarannya sendiri.
"Aku mencintaimu." Merry membelai pipi William dengan lembut.
"Aku mencintaimu William Smith." ulang Merry lagi yang langsung membuat luka hati William yang menganga di dasar hatinya seketika seperti tersiram oleh air es.
William nampak menggeggam tangan gadis itu yang berada di pipinya dengan perasaan yang membuncah.
"Aku juga mencintaimu." balas William hingga membuat Merry langsung memeluknya namun sekejap pria itu menjauhkan tubuh istrinya itu.
"Menjauhlah, aku bisa menyakitimu !!" perintahnya kemudian, pria itu nampak berjalan menjauh.
"Kenapa ?" Merry nampak bingung.
"Aku sedang tidak baik-baik saja honey, menjauhlah." balas William.
"Pergilah honey, aku akan sangat bersalah karena akan menyakitimu nanti." mohon William.
"Aku ikhlas Will jika itu bisa membuatmu lebih baik, percayalah kamu tidak sendiri ada aku yang akan selalu ada bersamamu. Aku mencintaimu Will, bukankah kau ingin mempunyai anak dariku hm ?" Merry berusaha meyakinkan suaminya itu, ia takut jika pria itu menahan gairahnya yang tak terbendung maka akan berakibat ke mentalnya.
William nampak membatu di tempatnya saat melihat istrinya itu tiba-tiba melepaskan pakaiannya satu persatu hingga menampakkan tubuh sintalnya yang selalu ia puja.
"Kau tidak ingin menyentuhku, hm ?" Merry terus saja mendekati suaminya itu yang nampak menahan hasratnya.
"Aku yakin kamu bisa mengendalikan dirimu." lirih Merry seraya mengalungkan tangannya di leher pria itu lalu tanpa aba-aba gadis itu langsung m3lum4t bibir suaminya itu dengan lembut.
William yang sangat berhasrat tak bisa lagi menahannya, pria itu langsung membalas ciuman istrinya dengan rakus dan sedikit kasar.
Merry nampak tersengal namun sepertinya pria itu tak ingin melepaskannya, William semakin memperdalam ciumannya. Menautkan lidahnya dan saling membelit di dalam sana.
Puas bermain-main dengan bibir istrinya, William nampak memburu leher gadis itu, mencecapnya dan menyesapnya hingga meninggal bekas merah keunguan di sana.
"Ahh, Will." Merry mendesah sakit saat pria itu m3r3m4s gundukan kenyalnya dengan sedikit kasar.
William yang sudah tak sabar langsung merebahkan gadis itu di atas meja kerjanya kemudian mengangkat kedua kakinya lalu menghentakkan miliknya hingga membuat Merry terpekik.
"Ahh, Will." teriak Merry saat suaminya itu bermain dengan kasar, tubuhnya nampak terguncang saat William menghujamnya dengan kuat.
Sungguh Merry sama sekali tak menikmati percintaannya kali ini, William terlalu kasar dan tak berperasaan bahkan pria itu nampak beberapa kali menggigit dan memukul tubuhnya.
Keesokan harinya.....
Pagi itu William mengerjapkan matanya lalu di lihatnya sang istri yang sedang tertidur pulas di sisihnya.
Pria itu nampak mengusap wajahnya saat mengingat percintaannya yang kasar dan menyakitkan semalam dengan gadis itu.
William yang tak bisa mengendalikan dirinya nampak memasuki gadis itu berulang kali hingga tak sadarkan diri.
"Maafkan aku." gumamnya seraya menatap Merry yang sedang tidur memunggunginya itu.
Kemudian William membuka selimut yang menutupi tubuh gadis itu dan ia langsung terperanjat saat melihat banyaknya luka di tubuhnya.
"Maafkan aku honey, maafkan aku." lirihnya dengan penuh penyesalan, pria itu langsung membawa istrinya itu ke dalam pelukannya dengan posesif.
"Maafkan ku." rancaunya lagi hingga membuat gadis itu terbangun.
"Aku baik-baik saja." Merry mengulas senyumnya saat melihat suaminya nampak khawatir, meski tubuhnya rasanya sakit semua.
"Aku akan segera memanggil dokter untukmu." William bergegas bangun.
"James, bawa dokter kemari !!" perintahnya setelah menghubungi asistennya tersebut.
Dan tak berapa lama nampak dokter wanita datang bersama James lalu tanpa banyak bertanya dokter tersebut langsung memeriksa dan mengobati luka di tubuh Merry.
"Bagaimana keadaannya sof ?" tanya William setelah dokter bernama sofie itu mengobati luka Merry.
Dokter tersebut nampak menggelengkan kepalanya beberapa kali, lalu mengajak William segera keluar dari kamar tersebut.
"Apa kau yang melakukannya ?" tuding dokter Sofie to the point.
William nampak mengangguk kecil dan pria itu terlihat sangat menyesali perbuatannya semalam.
"Pergilah berobat Will, ku lihat gadis itu sangat mencintaimu. Kamu tidak ingin menyakitinya teruskan ?" ujar dokter paruh baya itu.
Sementara itu di tempat lain Alex nampak terperanjat saat mendengar penuturan Arthur.
"Jadi Merry bersama William ?" ucapnya kemudian.